
Beberapa hari berlalu.
“Iona, Iona. Kau ada didalam?” (Risa) Sejak hari itu, Iona sama sekali belum meninggalkan kamarnya. “Iona, jika kau memiliki masalah katakan saja padaku. Aku akan membantumu.” Pintu kamar terbuka, dan perlahan Risa mulai masuk kedalam kamarnya.
“I-Iona.” Melihat keadaan Iona, Risa terlihat begitu sedih. “Iona..” Perlahan Risa mendekat ke arah Iona yang sedang berada di tempat tidurnya dan memeluknya. “Kau begitu tersiksa, aku mohon jika ada yang bisa aku lakukan katakan. Aku akan melakukan apapun agar kau kembali seperti biasanya.”
“Ri-sa-oneesama… M-maaf membuatmu cemas.” Iona terlihat begitu kelelahan, dan terlihat begitu tersiksa akan sesuatu.
“Iona, aku mohon. Katakan, apa yang sedang kau alami. Aku mohon, jangan membuatku semakin mencemaskanmu.”
“Aku baik-baik saja.”
“Mana mungkin setelah melihatmu seperti itu aku akan percaya dengan apa yang kau katakan. Aku mohon, aku tidak sanggup jika melihatmu seperti ini.”
“M-maafkan aku… Aku tidak bisa mengatakannya.”
“Iona, jangan keras kepala! Aku mohon, bicaralah padaku. Aku pasti akan membantumu.”
“Risa-oneesama..” Perlahan air mata Iona muli menetes. “A-aku, aku…” Iona menceritakannya, kejadian demi kejadian yang sudah ia alami dan juga pertemuannya dengan Ari. Meskipun sempat tidak percaya, tapi setelah mendengar keseluruhan ceritanya Risa mulai sedikit mempercayainya.
Beberapa lama setelah itu.
“Jadi, dia orang yang selama ini kau sukai?” Iona hanya mengangguk. “Jadi selama ini dia berada didalam dirimu, dan kadang menggantikan posisimu. Seperti itu?” Iona kembali mengangguk. “Baiklah, aku akan mencoba yang terbaik untuk membantumu. Kau ingin bertemu dengannya lagi, kan. Maka aku akan mencobanya, jadi kau jangan bersedih lagi.”
“Risa-oneesama, terimakasih.”
“Untuk membedakan antara kau dan dia, bagaimana kalau kau memanggilku dengan panggilan yang berbeda.”
“Huh?”
“Seperti kakak, atau semacamnya. Itu supaya aku tidak keliru membedakanmu dengan orang yang berada didalam dirimu.”
“Risa-oneesa… Maksudku, kak Risa.”
“Itu lebih baik, kalau begitu. Kau harus beristirahat, aku akan mencoba untuk melakukan yang terbaik untukmu.”
“Terimakasih, kak Risa.”
“Tidak masalah. Kalau begitu, aku pergi dulu.”
Beberapa hari berlalu.
Dihari libur sekolah.
Kamar Risa.
“Ini sulit, sangat sulit. Tapi, aku harus melakukannya.” Sebuah projek baru yang sudah dimulai oleh Risa ‘Penghubung’ sebuah sihir yang bisa digunakan untuk bisa menjelajahi alam bawah sadar, dengan begitu Iona dapat bertemu dengan Ari. Tapi, karena masih kekuarang informasi dan juga pengetahuan tentang pengubung itu sendiri, maka projek Risa terhambat. “Ahh, ini gagal. Aku harus mengulanginya lagi. Ini sudah yang ke 20 kali. Tapi, aku tak boleh menyerah. Ini demi Iona.”
Sementara itu.
“Komandan, keadaan anda sepertinya sudah lebih baik dari sebelumnya.” (Dirk)
“Begitukah?”
“Anda terlihat lebih bersemangat hari ini, berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Saya harap anda tetap seperti ini, dalam keadaan yang prima.”
“Terimakasih.”
__ADS_1
“Komandan, ada yang ingin saya sampaikan.” (Laren) Laren tiba-tiba saja masuk kedalam ruangan kerja Iona.
“Ada apa? Apa ada masalah?”
“Saat beberapa prajurit sedang berpatroli di hutan dekat dengan wilayah kita, mereka menemukan sebuah bekas perkemahan. Sepertinya ada bandit yang sedang berkemah kemarin malam.”
“Apa ada pergerakan aneh lain, selain hal yang kau temukan itu?”
“Untuk saat ini tidak ada hal lain selain hal itu.”
“Kalau begitu awasi saja, jika ada sesuatu yang mencurigakan segera lakukan sesuatu.”
“Baik.” Laren pergi.
“Oh ya komandan, ada hal yang ingin saya laporkan.” (Dirk)
“Apa itu?”
“Ini tentang gadis yang anda temukan dihutan beberapa bulan yang lalu.”
“Gadis itu, ya.” Gadis yang pernah Ari selamatkan saat ingin menyelamatkan Risa.
“Iya.”
“Bagaimana dengan keadaannya?”
“Dia baik-baik saja, tapi…”
“Apa ada masalah?”
“Huh? Apa yang terjadi?”
“Saya juga kurang begitu mengerti, tapi sepertinya para penduduk terlihat membenci gadis itu.”
“Jika seperti itu, pindahkan dia kearea kita.”
“Komandan, apa anda serius?”
“Menambah 1 orang tidak akan mengurangi penghasilan area kita, lagipula siapa tau dia juga bisa membantu.”
“Baiklah, akan saya lakukan.”
“Kalau begitu bagus.” Dirk pergi, dan setelah beberapa saat kemudian. Iona tersenyum dan terlihat begitu senang. “Sepertinya aku sudah sedikit mirip dengannya.” Melakukan hal yang biasa dilakukan oleh Ari, saat ini Iona sudah bisa mengurus hal yang lebih rumit. Meskipun begitu dia masih memiliki batasan yang tak bisa ia lewati, dan harus menyerahkannya pada Ari.
Beberapa bulan berlalu.
Sekolah kerajaan.
“Putri, bagaimana dengan hasil ujianmu?” (Lysia)
“Wah, luar biasa. Kau mendapatkan nilai sempurna lagi.” (Rine)
“Putri, kau sangat hebat.”
“Terimakasih.”
Sementara itu, di sebuah tempat.
__ADS_1
‘Ah, ini menyebalkan.’ Entah sudah berapa lama, aku tak pernah merasakan hal ini lagi. ‘Apa yang orang mati sepertiku… Ha, aku harap aku mendapatkan tempat yang cocok saat aku sudah pergi nanti.’ Setidaknya aku hanya mengharapkan hal itu, tidak lebih. Sebuah tempat yang cocok untukku.
Dan ditempat lain.
Akademi.
“Putri Risa, prestasimu akhir-akhir ini menurun. Apa kau mengalami masalah?” (Pengajar)
“Maaf, saya akan memperbaikinya.” Karena projek yang dilakukan oleh Risa, membuat konsentrasinya menurun terutama dalam bidang akademik. “Saya izin untuk kembali, ada hal yang ingin saya lakukan.” Risa pergi.
“Padahal dia anak yang sangat berbakat, tapi kenapa akhir-akhir ini dia menjadi seperti itu. Apa yang sudah terjadi padanya?”
Beberapa lama setelah itu.
Kamar Risa.
“Ahh, aku gagal lagi.” Penghubung yang Risa buat menggunakan sihir miliknya selalu gagal bekerja. “Ha, ini melelahkan. Ini sudah yang ke 70 kalinya aku gagal. Bagaimana caranya?”
“Kak Risa, apa kau ada didalam?”
“Huh? Iona..” Risa bergegas menuju ke pintu. “I-Iona, ada apa?”
“Aku mendapatkan surat, dan sepertinya surat ini untukmu.”
“B-Begitu, terimakasih.”
“Kak Risa, kau terlihat sangat lelah. Apa yang kau lakukan?”
“T-Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya sedang mengerjakan tugas saja, kau tak perlu khawatir.”
“Begitu. Oh ya kak Risa, kapan aku bisa bertemu dengannya?”
“Eh, sepertinya untuk itu. Aku butuh waktu sedikit lebih lama lagi, tapi tenang saja. Saat sudah selesai aku pasti akan membuatmu bertemu dengannya. Aku janji.”
“Kak Risa, terimakasih.” Iona sangat bahagia mendengar hal itu, dan setelah itu ia pergi.
“Ha, apa yang harus aku lakukan? Ini bahkan sangat sulit untukku.” Tapi, karena Risa melihat Iona yang begitu senang ia kembali melanjutkan penelitiannya. “Setidaknya aku harus bisa melakukannya.”
Beberapa hari setelah itu.
“Komandan, kami menemukan beberapa bangkai hewan di hutan dekat dengan pemukiman.” (Dirk)
“Segera selidiki.”
“Baik.” Dirk pergi.
“Ha, baru bangun dan langsung dihadapi oleh beberapa masalah.” Iona kembali membangunkanku disaat masalah yang benar-benar tidak bisa ia tangani muncul. ‘Apa yang sebenarnya para petinggi inginkan.’ Para petinggi kembali ingin memberikanku sebuah wilayah, tapi karena saat ini aku masih mengurusi beberapa hal aku tidak begitu mempedulikannya. ‘Jika dibiarkan terus menerus, ini akan cukup berbahaya bagi reputasi pasukanku.’ Setidaknya aku tak ingin menambah pekerjaan lagi.
Sore hari.
“Iona, bagaimana keadaanmu?” (Risa)
“Risa-oneesama, aku baik-baik saja.”
“O-onesama, ya. Kalau begitu, aku pergi dulu. Jika kau butuh sesuatu katakan saja padaku.”
“B-Baik..” Aku tak tau kenapa, tapi sepertinya ada sesuatu yang aneh yang sudah terjadi padanya. ‘Apa yang sudah Iona bicarakan disaat aku tertidur.’
__ADS_1