
----------
Tempat latihan di dekat kota.
"Wah... Ada apa ini?" (???)
"Ada latihan tempur antar prjurit." (???)
"Ini moment yang sangat langkah." (???)
"Benar sekali." (???)
Seluruh orang datang kesini untuk melihat latihan mereka, sebenarnya ini adalah pertaruhan. 50 prajurit kerajaan melawan 4 ketua regu yang sudah aku latih secara khusus. "Ini menarik."
"50 prajurit melawan 4 pasukan biasa, apa latihan ini hanya sebuha lelucon." (???)
Mereka semua mulai bergerumu membicarakan tentang hal yang akan terjadi ini. "Ini adalah pertempuran, semuanya akan terjadi jika rencana yang dibuat sudah sesuai dan memenuhi harapan." Aku ingin melihat, dari sekian banyak strategi perang yang aku bagikan. Strategi mana yang akan mereka gunakan.
"Apa yang 4 prajurit itu lakukan?"
"Strategi itu, ya." Para ketua regu itu berbaris dan membagi menjadi 2 kelompok dan menjaga agar kelompok mereka tidak berdekatan satu sama lain.
Jika seperti ini, mereka memiliki 2 strategi yang bisa mereka pakai, dan aku rasa strategi yang manapun mereka pilih itu sangat cocok dengan keadaan saat ini.
Karena ini adalah sebagai latihan, senjata yang mereka gunakan adalah pedang kayu dan tidak ada perisai ataupun baju pelindung yang mereka gunakan. Itu bertujuan agar ada keadilan dalam latihan ini, meskipun para ketua regu itu kalah jumlah.
"MULAI!" Dengan aku memulai aba-aba. Para prajurit mulai bertarung.
HYAAA!!!
Seperti yang aku duga, para prajurit kerajaan maju tanpa membuat sebuah rencana terlebih dahulu (bar-bar). "Serang, mereka hanya ber-4. Kita akan menang dengan mudah." (prajurit) Mereka terlihat sangat yakin karena menang jumlah, tapi mungkin hal ini juga akan menjadi pelajaran penting untuk mereka nantinya.
Para ketua regu itu hanya menunggu, dan prajurit kerajaan mulai terbagi menjadi 2 bagian karena jarak antara kelompok ketua regu berjauhan satu sama lain. "Ho, jadi rencana itu yang mereka pakai." Rencana kelompok nomer 2, seperti itulah nama yang aku berikan. Rencana ini hanya melibatkan beberapa orang saja, dan juga memerlukan kerjasama team yang sangat baik karena itulah yang paling penting dalam keberhasilan rencana ini.
Ctakk
Adu pedang pun terjadi, salah satu dari ketua regu menangkis serangan yang datang sedangkan sisanya menyerang dengan sangat cepat. Dan itu dilakukan secara bergantian.
Ctakk ctakkk ctakkk
Satu persatu pasukan kerajaan mulai tumbang. "Serang, serang, kalahkan mereka mereka hanya ber-4." (prajurit) Kerjasama pasukan kerajaan sangat kurang, itu yang membuat mereka tidak bisa menjatuhkan lawan yang hanya ber-4 itu.
"Sungguh mengecewakan." Melihat hal ini, aku masih sangat penasaran kenapa kerajaan ini bisa berkembang. Padahal cara bertarung mereka saja seperti ini. (bar-bar)
----------------
Setelah cukup lama.
Seluruh pasukan kerajaan tumbang, dan para ketua regu masih berdiri dengan gagahnya. "Hmp.." Aku menghampiri para pasukan kerajaan. "Kalian kembalilah ke istana, dan sebaiknya kalian berlatih lebih keras lagi. Jika seperti ini terus, aku tidak yakin kerajaan ini akan mampu bertahan jika ada perang besar yang akan datang." Setelah mengatakan itu, aku langsung pergi menuju ke tempat yang sudah di janjikan. Dan para ketua regu itu mengawasiku dari kejauhan dan tidak akan mengangguku seperti yang pasukan kerajaan itu lakukan.
__ADS_1
------------
"Nah, itu tuan putri. Tuan putri!!"
Aku berlari menuju ke asal suara itu. "Ha, ha, ha... M-Maaf, aku terlambat. Aku ada sedikit masalah tadi." Ini sedikit terlambat dari apa yang kami jadwalkan.
"Tuan putri tidak perlu meminta maaf, kami tau tuan putri pasti masih memiliki pekerjaan yang harus anda lakukan. Bisa datang kesini saja sudah membuat kami senang."
"B-Begitu."
"Iya. Kalau begitu, tuan putri. Anda ingin pergi kemana dulu?"
"Eh, aku?" Ini tidak sesuai dengan apa yang mereka katakan tadi. "Bukannya tadi kita sudah membuat rencananya. Kita ikuti rencana itu saja, lagipula aku tidak memiliki rencana apapun."
"Begitu. Baiklah, pertama kita akan pergi ke kafe dan minum teh bersama."
"YA!!"
"Oh ya, ngomong-ngomong. Aku belum tau siapa nama mereka semua." Dari 4 gadis ini, aku tidak mengenal satupun dari mereka, dan bahkan nama merekapun aku tidak tau. "Sudahlah, aku tanyakan nanti saja."
------------------
Kafe
Kami sampai di tempat kafe yang sederhana. "Maaf ya tuan putri, kami mengajak anda ke tempat kecil seperti ini."
"Tidak masalah." Ini untukku tidak terlihat kecil, meskipun begitu arsitektur bagunan kafe ini begitu unik. "Tempat ini sangat begus."
"Rine, kau mau pesan apa?"
"Aku pesan ini saja."
"Kalau begitu aku ini? Kalian?"
"Aku ini."
"Ini sepertinya enak, aku pesan ini saja."
"Tuan putri, apa anda ingin memesan seuatu?"
"Eh, tunggu dulu." Melihat mereka sangat senang berada disini, aku jadi tidak fokus. "Emm... Ini saja." Sebuah es krim, aku tak tau kenapa itu bisa ada di buku menu ini. Tapi karena kelihatannya enak tidak ada salahnya mencobanya.
"Baiklah, permisi kami ingin memesan."
----------------
"Baiklah, pesanan anda akan segera siap sebentar lagi." Pelayan itu pergi.
Dan aku rasa ini adalah waktu yang cukup tepat untuk berkenalan secara langsung dengan mereka. "Eh..." S-Sial, aku tak tau harus berbicara apa.
__ADS_1
"Tuan putri, ada apa?"
"Eh... Aku, aku..." Kata-kata yang sudah ada di mulutku tidak bisa keluar.
"Ada apa tuan putri?"
"Aku, ingin berkenalan dengan kalian." Ha... Akhinya apa yang ingin aku katakan terucap juga.
"Eh? Berkenalan dengan kami? Tapi, bukannya kami sudah..."
"Ria, kita belum memperkenalkan diri pada tuan putri."
"Ah, aku baru ingat."
"Aku juga. Maafkan kami tuan putri."
"Tidak masalah, lagipula setiap orang pasti sering melakukan kesalahan. Kalau begitu, aku akan memperkenalkan diri terlebih dahulu." Aku menarik nafas cukup panjang lalu membuangnya secara perlahan. "Namaku adalah Iona L. Thowrn, kalian bisa memanggilku Iona."
"Memanggil anda seperti itu, tapi kami ini hanya-..."
"Aku tidak peduli dengan status kalian, karena kalian adalah teman pertamaku aku ingin lebih akrab dengan kalian."
"Putri Iona saja, apa boleh?"
"Putri Iona, ya. Sepertinya tidak buruk juga." Lagipula masih ada nama Iona yang disebutkan, itu masih lebih baik dari pada dipanggil tuan putri. "Baiklah, tidak masalah."
"Baiklah, putri Iona. Namaku Ria, aku hanyalah anak dari tukang roti."
"Aku tidak ingin mendengar tentang pekerjaan orang tua kalian, aku hanya ingin tau nama kalian." Aku merasa akan menyakitkan jika merekan juga mengatakan profesi orang tua mereka.
"M-Maafkan aku, tuan putri." (Ria)
"Tidak apa-apa."
"Kalau begitu, tuan putri. Perkenalkan, namaku adalah Rine. Aku sangat senang bisa menjadi teman putri Iona." "(Rine)
"Ya, aku juga."
"Selanjutnya aku. Tuan putri, perkenalkan namaku Lysia."
Ternyata gadis yang mengajakku pergi ketempat ini adalah Lyisa. "Lyisa, senang berkenalan denganmu." Sambil tersenyum aku mengatakan hal itu.
"Sofia, sekarang giliranmu."
"Ah... B-Baik. Namaku Sofia, senang berkenalan dengan anda tuan putri."
"Ya, aku juga. Senang berkenalan denganmu." Ria, Rine, Lysia dan juga Sofia. Mereka ber-4 adalah teman gadis pertamaku di luar istana dan teman pertamaku juga baik di dunia ini ataupun dunia sebelumnya, aku harap dengan begini Iona juga bisa merasakan apa yang aku rasakan. Dan mungkin saja, dengan kesenangan yang nanti akan aku rasakan Iona tertarik untuk kembali ke tubuhnya dan aku bisa kembali dengan tenang.
Hari ini, aku tak tau kalau akan ada hal yang besar akan terjadi. Dan ini, sangat menyebalkan.
__ADS_1
See you on the next Chapter....