
Siang hari, jam istirahat.
“Putri Iona, bagaimana kalau sepulang sekolah nanti kita.” (Sofia)
“M-Maaf, tapi sepulang sekolah nanti aku ada urusan.”
“Begitu.”
“Maaf, ya.”
“T-Tidak, putri tidak perlu minta maaf, aku lupa kalau putri adalah orang yang sibuk.”
‘Sibuk, ya.’
“Kalau begitu putri Iona, bagaimana kalau akhir pekan apa bisa?” (Lysia)
“Ya, baiklah.”
Beberapa saat kemudian.
Pangeran Lucy kembali dari kantin. “Tunggu sebentar, ya.” Iona yang masih berbicara dengan temanya memutuskan untuk segera menghampiri Lucy.
“Putri menghampiri pangeran Lucy, apa jangan-jangan mereka…” (Ria)
“Sttt. Jangan asal bicara, putri pasti memiliki alasan.” (Rine)
“Pangeran Lucy.”
“Putri Iona, ada apa?”
“Bisa kau ikut denganku nanti sepulang sekolah.”
“Huh? Kemana? Markas? Tapi hari ini aku...”
“Begitu, kau tidak bisa, ya. Tapi bagaimana lagi, kau juga seorang pangeran kau pasti juga sibuk.”
“Eh, b-bukan seperti itu. Ahhh, baiklah aku akan ikut.”
“(tersenyum) Terimaksih.” Setelah mengatakan itu Iona kembali ke tempat teman-temannya.
“Putri, apa yang anda bicarakan dengan pangeran?” (Lysia)
“L-Lysia, apa yang kau bicarakan.” (Ria)
“Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan apa yang aku tanyakan.”
“Tuan putri, ada apa? Apa ada yang lucu?” (Ria) Mendengar apa yang ditanyakan oleh Lysia membuat Iona sedikit tertawa.
“Ah. Tidak, maaf aku dan pangeran Lucy tidak seperti yang kalian pikirkan.”
“Eh?! Benarkah? Tapi, aku rasa putri dan juga pangeran itu cocok.”
“Putri Iona, apa anda tidak menyukai pangeran Lucy?” (Sofia)
“Benar juga, aku penasaran.” (Rine)
“Eh? Kenapa tiba-tiba kalian bertanya seperti itu?”
“Kau dan pangeran sangat cocok, jadi aku rasa kalian berdua mungkin sudah dijodohkan.” (Ria)
“Tidak tidak tidak, kami tidak terikat ikatan seperti itu.”
“Hmm, padahal aku rasa kau dan pangeran itu sangat cocok menjadi pasangan.”
“Tuan putri, apa yang kau suka dari pangeran Lucy?” (Rine)
“Ehhh…” Iona terlihat kebingungan harus menjawab apa. ‘Ari, aku minta maaf.. aku mohon bantu aku.’
“Huh?” Aku terbangun secara paksa lagi, dan kemungkinan sesuatu yang buruk sudah terjadi. ‘Haa, padahal aku masih ingin beristirahat lebih lama lagi.’
“Nee putri, jawablah.” (Sofia)
“Huh?” Ini sedikit berbeda dengan apa yang aku bayangkan. ‘Dimana sesuatu yang buruknya?’ Aku terbangun di sekolah.
“Putri Iona.”
“Ahh. M-Maaf, apa tadi yang ingin kalian tanyakan?”
“Kami tadi bertanya, apa yang kau sukai dari pangeran Lucy..”
“Huh?”
“Putri Iona.”
“Hmmm, tidak ada.” Aku tak tau awal mula pembicaraan ini dimulai, jadi aku mengambil inisiatif untuk segera mengakhiri pembicaraan ini.
“Ehh, tapi kau dan pangeran Lucy terlihat cocok.” (Sofia)
“Putri, apa benar tidak ada hal yang membuatmu tertarik dengan pangeran Lucy? Bukankah pangeran Lucy itu tampan.” (Lysia)
“Kalian, ingat ini baik-baik. Aku dan Lucy tidak memiliki hubungan apapun, dan aku harap kalian dapat memahaminya.”
“Lucy, putri menyebut pangeran langsung dengan namanya.”
__ADS_1
“P-Putri.”
‘Ahh, sepertinya aku sudah melakukan suatu kesalahan.’
Sore hari sepulang sekolah, gerbang.
“Ha, akhinya selesai juga.” Palajaran yang membosankan, dan Iona kembali menyerahkan masalah yang dibuat olehnya padaku. Prisipku sepertinya tidak akan berpengaruh padanya. Dan lagi... “Kemana dia, ini sudah lebih dari 15 menit.” Aku sedang menunggu Lucy disini, tapi dia belum muncul juga.
Beberapa menit setelah itu.
“Putri Iona, maaf membuat anda menunggu.” (Lucy)
“Kau lama, apa yang sebenarnya kau lakukan?!”
“Huh?! Kau, jangan-jangan putri Iona yang satunya.”
“Hee… Jangan mengalihkan pembicaraan, kau sudah membuang-buang waktuku!"
“Ahhh. M-maaf, tadi ada anak laki-laki dikelas yang membica-, maksudku sedang membahas sesuatu yang penting dan entah kenapa aku juga terseret masuk kedalam pembicaraan itu.”
“Dan karena asik mengobrol kau lupa kalau sudah ada janji.”
“Ahhh, begitulah.”
“Haaa. Sudahlah, ini sudah terlambat. Kita harus bergegas.”
“Baik.” Kami langsung menuju ke area militer markas khusus.
Beberapa lama kemudian, area militer markas khusus.
“Komandan.” (Laren) Pasukan yang ada disini tidak berlatih karena takut hal itu akan menganggu naga yang ada dibelakang markas ini.
“Pangeran Lucy?” (Dirk)
“Oh ya, sebelumnya aku ingin memperkenalkannya. Sebelumnya karena insiden naga aku tak sempat memperkenalkannya. Tapi,aku yakin kalau kalian pasti sudah tau dengannya, tapi akan aku perkenalkan sekali lagi. Dia adalah pangeran mesum. Lucy Groem.”
“Hey, bisa tidak memperkenalkanku dengan cara yang lebih baik dari itu.”
“Memang itu kenyataannya.”
“Lalu komandan, kenapa pangeran Lucy datang kemari lagi?” (Laren)
“Mulai hari ini, dia adalah asistenku.”
“Asisten, pangeran!!” Mereka semua terlihat terkejut dengan apa yang aku katakan.
“Apa ada masalah?”
“T-Tidak, jika itu pilihan komandan kami akan menerimanya.” (Dirk)
“Huh? Kemana?”
“Sudah, ikut saja. Oh ya, dan untuk kalian. Aku ingin kalian mengawasi sekitar, aku tak ingin ada orang lain yang melihat kalau ada naga di markas ini.”
“Naga?” (Lucy)
“Baik.” Mereka pergi, dan beberapa menit setelah itu.
Dibelakang markas khusus.
“Ah...” Aku menyumbat mulutnya untuk menghentikan teriakannya.
“Sttt, kau ingin melihat naga ini bangun dan memakanmu.”
“M-Maaf.”
“Pelankan suaramu.”
“B-Baik.” Naga ini memang benar tertidur di belakang markas.
Aku perlahan mendekat ke arahnya.
Grap.
Lucy memengang tanganku. “Putri, apa yang kau pikirkan. Dia itu adalah naga…”
“Ya, dia memang naga. Siapa yang bilang kalau dia itu adalah kucing?”
“Bukan itu maksudku, tapi apa kau tidak takut?”
“Takut? Naga ini tengah tertidur, mau memukul kepalanya pun dia tidak akan terbangun.”
“Tapi...”
“Sudahlah.” Aku menghempaskan tangannya dan membuat tangannya melepaskanku.
“Putri.”
Tok tok tok. Sfx : pukul.
Aku memukul kepalanya, entah kenapa aku menyukai sensasi saat memukul kepala naga ini. “Putri. Ekornya, ekornya bergerak.” (Lucy)
Aku meliat ekornya bergerak, tapi itu tidak menandakan kalau naga ini akan bangun. “Lucy sini, ini asik lo.” Aku berbicara seperti itu sembari memukul-mukul kepala naga yang keras ini.
__ADS_1
“T-Tapi...”
“Kau penakut, sudahlah. Eh, tunggu sebentar.”
“Putri, ada apa?”
‘Aku lupa dengan alasanku kemari sembari mengajak Lucy.’ Aku mencoba untuk mengingatnya. “Ahh. Benar juga.” Aku mengingatnya, alasanku adalah untuk menyuruh naga ini pergi. Karena jika tidak begitu, para pasukanku tidak bisa berlatih karena suara saat pasukanku berlatih itu cukup ribut.
Tok tok tok.
Aku kembali memukul kepalanya, naga itu perlahan membuka sedikit matanya. “Naga, bisa kau pindah dari sini.” Ia hanya mengibaskan ekornya. ‘Sepertinya dia tidak ada niatan untuk pergi dari sini. Jika seperti itu, ini akan cukup merepotkan.’
“P-Putri, sudah cukup. Sebaiknya kita cari cara lain saja.”
“Hmm, sudahlah. Aku tak akan bisa menemukan cara lain. Biarkan saja dia tidur disini.”
“Haa!! T-tunggu dulu, apa kau berniat untuk membiarkannya begitu saja?”
“Naga ini tidak mendengarkanku meskipun aku sudah memukul kepalanya, jadi apa lagi yang harus aku lakukan?”
“Tapi, dia itu naga lo.”
“Iya, siapa yang bilang dia itu kucing.”
“Bukan itu maksudku. Dia adalah naga, dan dia bisa saja menghancurkan kerajaan ini dengan mudah seperti yang terjadi sebelumnya.”
“Tapi, saat ini dia tidak bergerak dan sepertinya dia disini hanya menumpang saja.”
“Putri, kenapa kau bisa tenang disaat seperti ini?”
“Tidak ada alasan untukku panik, lagipula panik tidak akan menyelesaikan masalah.”
“I-Itu, memang benar...”
“Ha, sudahlah. Jika naga ini merasa terganggu, biarkan saja. Dia yang memilih tempat ini untuk menjadi tempatnya beristirahat, jika dia terganggu dia pasti akan pergi dengan sendirinya. Lagipula dia sudah pernah membantuku, jadi aku anggap ini sebagai balasan dari bantuan yang ia berikan padaku.”
“Bantuan?”
“Tidak ada apa-apa, lupakan saja. Ayo kita kembali, ada masalah yang lebih penting dari naga ini.”
“Masalah yang lebih penting?”
“Ayo kembali.” Aku memutuskan untuk kembali, dan masalah tentang naga ini aku anggap selesai.
Markas, ruang rapat.
Aku, Lucy dan juga ke-4 ketua regu berkumpul disini. “Ketua, apa naganya sudah...” (Famus)
“Untuk naganya, kalian bisa biarkan saja. Bilang pada pasukan yang lain untuk berlatih seperti biasa.”
“T-Tunggu komandan, tapi bagaimana jika kita sampai mengganggu naga yang tidur itu?”
“Tenang saja, jika itu terjadi mungkin naga itu akan mencari tempat yang lebih tenang lagi.”
“B-Begitu...”
“Lalu komandan, ada perihal apa anda memanggil kami?” (Dirk)
“Famus, Laren, Dirk, Grild. Bagaimana dengan 200 pasukan yang kalian rekrut, apa kalian sudah mendapatkannya?”
“Iya, kami sudah mendapatkannya.”
“Kalau begitu, bisa aku minta data tentang 200 pasukan yang kalian rekrut.”
“Baik.” (Laren) Laren menyerahkan sebuah kertas yang berisi informasi mengenai 200 pasukan yang mereka rekrut padaku.
Beberapa menit setelah itu.
“Hmm.. cukup bagus.” Dari data yang aku dapatkan dari Laren, dari 200 orang itu aku bisa memastikan kalau ada sekitar 10 orang yang memiliki keahlian yang berguna. Data yang mereka siapkan cukup lengkap dan itu memudahkanku untuk memilah prajurit terbaik pilihan mereka.
Coret, coret, coret.
“Komandan, apa ada masalah?” (Dirk)
“Ahhh, tidak ada.” Aku mencoret 10 nama yang aku rasa memiliki potensi lebih dibandingkan dengan yang lain. “Laren, Dirk, Famus, Grild. Latih 10 orang yang sudah aku coret namanya itu dengan pelatihan khusus yang pernah aku berikan pada kalian.”
“T-Tunggu komandan, apa anda yakin?” (Grild)
“Komandan, bukankah latihan itu terlalu berat untuk mereka.” (Famus)
“Apa yang kalian katakan. Aku tidak menyuruh mereka untuk melawan naga, aku hanya menyuruh mereka melakukan latihan yang sama seperti yang pernah kalian lakukan.”
“Meskipun begitu, saya rasa latihan itu cukup berat untuk mereka yang baru pertama kali menjalaninya.” (Laren)
“Haa. Kalau begitu terserah kalian saja. Jika kalian ingin menurunkan tingkat pelatihannya tidak masalah, tapi tetap latihannya harus seperti apa yang pernah aku berikan pada kalian.”
“Baik.”
“Dan untukmu Lucy.”
“Huh? Aku?”
“Kau adalah asistenku, jika kau hanya berdiam diri disana kau hanya akan dianggap sebagai pembantu saja bukannya seorang asisten.”
__ADS_1
“Ahhh, benar juga.”
“Haa, kau itu.” Aku melihat kea rah para ketua regu. ‘Sepertinya urusan mereka sudah selesai, waktunya ke masalah utamanya.’ 1 hal lagi yang harus aku selesaikan, dan masalah ini sangat-sangat serius. Bisa jadi masalah ini bisa membawa dampak besar pada kerajaan ini selanjutnya. “Ha, baiklah.”