
“T-Tuan putri, apa yang anda katakan. Kenapa kau memakai tuduhan palsu untuk menyelamatkan dirimu sendiri.” (Perdana mentri)
‘He, lumayan juga, tapi itu masih kurang.’ Aku perlahan mendekat kearah perdana mentri itu. Dan setelah itu aku membisikkan sesuatu padanya. Dan tepat saat itu wajahnya menjadi pucat. ‘Binggo, tebakanku benar.’
Yang aku bisikkan adalah. ‘Prajurit Atrin yang akan menyerang kerajaan ini hari ini, mereka semua sudah pulang lo. Kau tidak bisa kemana-mana lagi.’ Hanya dengan melihat ekspresinya aku sudah tau. Lagipula, sedari awal jika memang area militer dilarang untuk dimasuki anggota kerajaan ayah tidak mungkin akan mengantarkanku kesana. Dan yang lebih penting, prajurit yang ada disana terlihat tidak pernah mengetahui peraturan ini dan jika mereka tau mereka pasti akan melarangku masuk meskipun aku adalah seorang putri raja.
Dan lagi, insiden naga itu aku yakin ada sangkut pautnya dengan perdana mentri ini. “Laren, Famus, Drik. Bawa dia kepenjara dan introgasi dia, lakukan apapun hingga dia mau membuka mulutnya. Tapi ingat, jangan sampai membunuhnya.”
“Baik.” Mereka ber-3 membawa mentri itu seakan membawa tahanan.
‘Makanya, jangan macam-macam denganku.’
Gubrakkk. Sfx : Jatuh.
‘Eh? Ada apa ini?’ Tiba-tiba saja aku terjatuh, dan pandanganku mulai menghitam, tubuhku juga tidak bisa digerakkan. ‘Ha.. sepertinya aku akan memanfaatkan waktu ini untuk istirahat.’ Aku menurutinya, rasa lelah ini. Aku perlahan menutup mata, dan aku tak tau apa yang terjadi setelah itu.
Sementara itu.
Beberapa lama setelah kejadian itu. Sebuah kurungan rahasia.
“Gwaaaaahhhh!!!!!”
“Hee. Cepat katakan, cepat katakan apa yang kau sembunyikan, cepat beritahu. Jika tidak, kau akan hidup dalam kesakitan lo... (nada menakutkan)” (Famus)
“Ini balasanmu karena sudah mempermalukan komandan.” (Dirk)
“Aaaaaaaargggg!!!!” Entah siksaan macam apa yang Famus dan Dirk berikan pada perdana mentri itu.
Setelah cukup lama setelah itu.
“Dirk, Famus. Apa yang kalian dapatkan?” (Laren)
“Informasi yang sedikit mengejutkan.” (Dirk)
“Huh?”
Mereka mulai menjelaskan pada Laren, apa yang mereka dapatkan dari perdana mentri itu.
Beberapa saat kemudian.
“Itu... Jika memang benar seperti itu, kita harus segera memberitahu komandan tentang hal ini.”
“Laren, saat ini komandan.” (Dirk)
“Benar juga.”
“Sebaiknya kita memberitahu komandan tentang hal ini saat kondisinya membaik saja.”
“Ya, baiklah.”
Sementara itu dikamar.
‘Ha, ini menyebalkan.’
__ADS_1
“Bagaimana? Bagaimana keadaan putriku.” (Ibu) Meskipun tidak bisa melihatnya, tapi aku bisa mendengar suara ibu yang sangat mengkhawatirkanku. Atau lebih tepatnya Iona.
Entah kenapa, aku merasa iri dengannya karena ia sangat dikhawatirkan oleh orang tuanya. ‘Enak ya, jika punya orang yang mengkhawatirkanmu.’ Entah kenapa perasaan ini muncul kembali, perasaan ingin diperhatikan. ‘Haa. tidak ada gunakanya memikirkan itu, aku sudah mati dan perasaan seperti itu tak seharusnya muncul pada diriku.’
‘Kenapa ini.. apa yang sebenarnya terjadi padaku…’ Sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. ‘Perasaan apa ini..’ Perasaan yang seharusnya tidak pernah aku rasakan, sesuatu yang sudah lama sekali aku buang dan aku kembali mengingatnya. ‘Aku, memang yang terburuk.’ Rasa sedih yang sudah lama aku pendam, muncul disaat seperti ini.
Beberapa hari setelah itu.
Tubuhku perlahan mulai pulih, dan setidaknya aku bisa beraktifitas seperti biasa mulai hari ini.
“Iona, waktunya sarapan.” (Risa)
“Risa-oneesama.” Risa masuk kedalam kamarku sembari membawa makanan.
“Nah, ayo buka mulutmu. Aaaa.”
Setelah itu setelai makan.
“Risa-oneesama, terimakasih karena sudah merawatku selama beberapa hari ini.” Karena ayah dan ibu disibukkan oleh urusan kerajaan, mereka berdua hanya sesekali menjenggukku. Dan yang merawatku selama aku terbaring disini adalah Risa.
“Kau tak perlu berterimakasih, ini sudah menjadi tugasku untuk menjagamu. Lagipula kau adalah adik kesayanganku yang manis, mana mungkin aku meninggalkanmu.”
Mendengar hal itu, aku sedikit merasa senang. “Risa-oneesama, terimakasih.”
“Ya, sama-sama.”
Sore hari, area militer, markas khusus
Karena tubuhku sudah sedikit membaik, aku langsung pergi menuju ke markas untuk mendengar informasi apa yang mereka dapatkan dari perdana mentri itu.
“Komandan, apa kau sudah baik-baik saja?” (Dirk)
“Ya, aku baik-baik saja. Oh ya, Grild apa lukamu sudah sembuh?”
“Terimakasih sudah mengkhawatirkan saya, lukanya sudah sembuh. Tapi dokter bilang untuk mengurangi aktifitas agar pemulihannya lebih cepat.” (Grild)
“Begitu. Oh ya, aku ingin tau informasi apa yang sudah berhasil kalian dapatkan dari perdana mentri itu.”
“Saya akan memberitahunya.” (Famus)
Setelah cukup lama mendengarkan.
“Jadi memang benar, ya. Dia dalam dibalik semua kekacauan yang terjadi beberapa hari yang lalu.”
“Iya.” Kejadian naga yang memakan hewan ternak, naga yang tiba-tiba saja muncul dan menyerang kerajaan, dan juga serangan tiba-tiba pasukan Atrin. Itu semua memang sudah direncanakan oleh perdana mentri itu. Kemungkinannya memang benar jika perdana mentri itu sudah bekerja sama dengan kerajaan Atrin.
“Apa ada hal lain yang kalian dapatkan selain informasi itu?”
“Untuk saat ini hanya itu yang bisa kami dapatkan darinya, saat kami ingin mencaritahu lebih jauh lagi perdana mentri itu sudah pingsan.”
“Pingsan?” Aku tak tau siksaan apa yang mereka berikan sampai bisa membuatnya pingsan. Tapi... “Apa ada orang yang menjaga tempat ditawannya perdana mentri itu?”
“Disana ada 3 prajurit yang menjaganya, dan juga 3 prajurit lainnya sebagai cadangan.”
__ADS_1
“Hanya segitu.” Jumlahnya sangat sedikit, itu membuatku sedikit khawatir.
“Komandan, apa ada masalah?”
“Laren, Famus. Pergilah ke tempat perdana mentri itu ditahan.”
“Komandan, ada apa? Kenapa tiba-tiba?”
“Cepat, pergi.”
“Baik.” Mereka berdua pergi.
“Komandan, apa ada masalah?” (Dirk)
“Ini hanya perkiraanku saja, tapi dia bisa menyiapkan rencana besar seperti itu. Pasti dia juga dibantu oleh orang lain.”
“Jadi menurut anda, ada orang lain selain perdana mentri yang terlibat dalam hal ini?”
“Ya.” Membangunkan naga yang tertidur itu bukan hal yang mudah, dan lagi... Sampai bisa mengendalikan naga untuk menyerang kerajaan ini.
Meskipun sedikit, aku bisa ingat dengan ingatan yang dimiliki naga yang aku sentuh waktu itu. Meskipun tidak begitu jelas, tapi di dalam ingatannya ia terlihat dikendalikan oleh seseorang bersama dengan 2 naga lainnya. Dan untuk naga yang memakan ternak, itu pasti upaya untuk membuatku bingung dalam memilih rencana. ‘Siapa, siapa yang membantu perdana mentri itu.’ Jika hanya dia sendiri, aku sangat yakin kalau rencana sebagus itu tidak akan bisa dilakukan dengan mulus seperti itu.
Beberapa lama setelah itu.
Famus dan Laren kembali. “Famus, Laren, apa yang kalian dapatkan?”
“Maaf komandan, tapi sepertinya ada seseorang yang membunuh perdana mentri itu.” (Laren)
“Perdana mentri dibunuh?”
“Ya, sepertinya makanan yang disediakan untuknya diracuni.”
‘Cih, ini merepotkan.’ Dengan terbunuhnya perdana mentri, aku tidak bisa mendapatkan informasi lain lagi. Mereka juga pasti juga tidak ingin informasi mereka bocor, oleh karena itu mereka melakukan hal ini.
Kali ini adalah kesalahanku, aku terlambat menyadarinya. Jika saja aku bisa menyadarinya lebih awal, pasti dia tidak akan terbunuh.
“Komandan?” (Laren)
“Komandan, sebaiknya anda tidak perlu memikirkannya. Anda baru saja sembuh, anda harus lebih memperhatikan kesehatan anda. Kesehatan anda lebih penting daripada apapun.” (Dirk)
“Terimakasih atas perhatiannya.” Untuk beberapa hari kedepan, aku harap tidak ada masalah yang terjadi. “Grild, Laren, Famus, Dirk. Untuk sementara waktu aku tidak akan datang kemari dulu.”
“Baik.” Mereka terlihat menerimanya.
“Kalian ber-4, tolong awasi aku secara diam-diam.”
“Baik.”
“Kalau begitu, kalian bisa pergi.” Mereka ber-4 pergi.
Beberapa lama setelah itu.
Aku menatap langi-langit. ‘Haa. Iona, biarkan aku istirahat, ya. Setidaknya selama aku berlibur dari kegiatan militer ini.’ Aku tak tau Iona akan melakukannya atau tidak, tapi aku harap dia membiarkanku beristirahat selama beberapa hari saja. Aku sangat lelah dengan semua ini.
__ADS_1
Aku perlahan mulai menutup mataku. ‘Iona, sisanya aku serahkan padamu. Selamat tidur.’ Aku harap aku mendapatkan tidur yang cukup untuk saat ini, dan aku juga berharap jika tidak ada kejadian yang tiba-tiba saja terjadi karena itu akan sangat merepotkan. Aku tertidur, dan saat itupula Iona menggantikan posisiku. Entah apa yang akan dilakukan olehnya saat ini, aku tidak ingin mengetahuinya. Yang aku inginkan hanya istirahat.