
Pagi hari.
"Ah, ini sangat sulit."
"Aku tidak bisa mengenainya."
"Aku tidak sanggup lagi."
Disini, yang aku dengar adalah suara keluhan dari para prajurit yang sedang mengikuti latihan dariku. "Tak kusangkan kalian bahkan tidak sanggup mengikuti latihan seperti ini." Hampir seluruh dari mereka terlihat sangat kelelahan karena pelatihan yang aku buat ini.
"Kami tidak mungkin bisa mengenainya."
"Ha?! Apa yang kalian katakan?"
"Target itu bergerak sangat cepat, sebelum panah kami sampai target itu sudah berpindah."
"Yaampun, aku tak menyangka para prajurit memanah ini tidak bisa mengenai target yang bergerak. Aku jadi penasaran dengan cara mereka bertarung selama ini, dan bagaimana cara mereka memenangkannya. Itu yang paling aku penasaran."
"Maaf tuan putri, sepertinya pelatihan ini terlalu sulit untuk kami." (Grild)
"Ha!!" Mendengar kata-kata itu dari Grild, entah kenapa menyulut emosiku. "Omong kosong apa yang kau katakan, jika kalian tidak bisa mengenai target bergerak itu bagaimana cara kalian selama ini memenangkan pertempuran. Menyerang secara bersamaan?" Mereka tidak menjawab. "Woy woy, serius."
"Hah, palingan kau juga tidak akan bisa mengenaiknya."
"Hooo. Begitu, ya." Entah kenapa ucapan salah satu prajurit itu membuatku sedikit emosi.
"Stttt, jaga ucapanmu. Maafkan dia tuan putri, nanti saya akan memberikannya hukuman."
"Aku akan memperlihatkan pada kalian semua, bagaimana cara memanah yang benar." Aku mengambil busur yang tergeletak di tanah dan juga 1 anak panak. "Ini cukup sulit." Meskipun ini terlihat susah, tapi yang membuatku kesulitan bukan itu melainkan. Hal lain, aku tidak kuat untuk menarik anak panah ini. "Ha, ha.... Ini sangat melelahkan. Tapi..." Jika aku tidak melakukan hal ini, para prajurit ini akan terus menuntutku.
"Mulai." Target mulai di gerakkan, dan hal pertama yang aku lakukan adalah melihat gerakannya. "Sudah kudapatkan, sekarang tinggal timing yang pas..." Aku menunggu beberapa detik, dan. "Sekarang."
Swuuuutt
Timing dan juga analisis gerakan target sudah tepat, dengan begitu target yang bergerak sekalipun pasti akan terkena olehku.
"H-Hebat." Anak panahku berhasil mengenai tepat di tengah-tangah target, dan karena itu mereka jadi kagum padaku. Tapi aku...
"Ha, ha, ha... Ini sangat melelahkan." Aku yang tidak biasa melatih tubuhku tiba-tiba saja beraktifitas seperti ini, sudah jelas kalau aku kelelahan.
"Anda sangat luar biasa tuan putri."
"T-Terima kasih." Dengan begini, aku yakin kalau para prajurit akan terus mencoba. Dan jika ada sesuatu yang mereka tidak tau, aku harap mereka menanyakannya padaku. Setidaknya dengan begitu mereka pasti akan bisa melakukan seperti apa yang aku lakukan barusan. "Oh ya, bagaimana dengan prajurit biasa?"
"Sepertinya mereka juga mengalami kesulitan."
__ADS_1
"Begitu." AKu berdiri, dan segera menuju ke tempat prajurit biasa."Sepertinya hari ini akan jadi hari yang melelahkan untukku."
-------------------
"Ahhh!! Kakiku!!"
"Aku tidak sanggup berdiri lagi."
"Siapa saja, tolong aku!!"
"Ahh... Dasar orang-orang lemah." Pelatihan yang aku gunakan untuk para prajurit biasa ini adalah, cara untuk menangani serangan musuh dan memanfaatkannya untuk menyerang balik. "Dan hal semudah itupun tidak bisa mereka lakukan dengan benar. Mereka sangat payah."
"I-Itu tuan putri."
"Tuan putri, tolong berikan latihan yang lebih mudah lagi untuk kami."
"Haaa..." Dan kali ini, mereka kembali menyulut emosiku. "Prajurit macam apa kalian, latihan ringan seperti ini saja kalian sudah menyerah."
"Tapi tuan putri, kami baru pertama kali latihan seperti ini."
"Hooo... Begitu. Kalau begitu, aku akan menunjukkan caranya pada kalian." Aku mengambil 2 pedang kayu. "Ini cukup ringan, mungkin karena terbuat dari kayu. Jika dari logam aku mungkin akan kesulitah untuk mengangkatnya." Lalu, aku memberikan 1 pedang kayu itu ke seorang prajurit yang tidak terlihat kelelahan. "Ambil dan gunakan itu, aku akan menunjukkan caranya."
"T-Tapi tuan putri."
"Lakukan apa yang aku perintahkan."
----------
"Kau bisa mulai menyerangku sekarang."
"Baik."
"Bacot!!"
Prajurit itu mulai menyerangku. "Serangan atas, ya." Ia memulai dengan serangan vertikal, aku menahannya, lalu sedikit mundur untuk membuatnya kehilangan keseimbangan dan kemudian. Aku maju lalu berbalik menyerang.
Dakk
Aku menyerangnya secara horizontal tepat ke arah perutnya. Tapi. "Aww... Tanganku terasa sangat sakit karena menahan serangannya."
"H-Hebat."
"Kau hebat tuan putri."
"Anda sangat hebat."
__ADS_1
"Tuan putri, apa anda baik-baik saja?"
"Y-Ya, aku baik-baik saja. Sedikit istirahat mungkin keadaanku akan membaik."
Karena faktor kelelahan, aku memutuskan untuk sedikit beristirahat sambil melihat latihan mereka.
--- Cukup lama setelah itu ----
"Oh, ada yang berhasil." Aku melihat salah satu dari mereka berhasil melakukannya. Dan itu menyulut semangat para prajurit lainnya. "Sepertinya disini sudah selesai." Aku memutuskan untuk kembali melihat prajurit pemanah.
"Tuan putri, anda mau kemana?"
"Melihat latihan prajurit pemanah." Aku lansung berjalan menuju ke tempatnya.
------------
"Disini tidak buruk juga." Mereka yang ada disini hampir seluruhnya sudah bisa mengenai target bergerak itu.
Karena yang akan menjadi kuncian di rencana ini adalah pasukan pemanah, aku harus menyiapkan lebih banyak latihan khusus lagi untuk mereka.
"Ha, sebaiknya aku harus segera kembali." Tubuhku sudah berkeringat dan aku sudah cukup lama berada disini. "Grild."
"Ada apa tuan putri?"
"Lanjutkan latihan ini sampai mereka semua berhasil, dan jika masih ada yang belum berhasil. Jangan berhenti."
"Baik."
-------------
Kamar
"Haa, ini sangat menyegarkan." Setelah mandi rasanya sangat menyegarkan. "Aku harus memperbaiki peta itu, dan membuat porsi latihan lagi untuk para pasukan pemanah itu. Ini sangat merepotkan. Iona, apa kau mau menggantikanku? Agh... M-Maaf, aku hanya bercanda. Aku akan menyelesaikan apa yang aku mulai."
"Eh... Ini." Aku hampir saja melupakannya, denah ruang aula. "Aku harus kembali mengeceknya." Setelah mengganti pakaian, aku langsung menuju ke ruang aula. Dan ternyata, mereka sudah selesai. Tapi, dengan begini semuanya terlihat sangat jelas.
Karena tidak ada siapapun disini, aku mengubah sedikit letak tempat yang bisa membuat nyawa ayah, ibu, paman dan bibi dalam bahaya.
------
"Huft, akhirnya selesai juga." Tapi, ini membuat tubuhku kembali berkeringat. "Sudahlah." Aku mengubahnya agar ini tidak terjadi seperti yang mereka rencanakan.
--------
"Ahh, segar." Aku kembali melihat denah ruang aula. "Untuk masalah ini, aku rasa aku bisa bilang selesai. Tapi..." Aku berpindah melihat ke arah peta hutan. "Peta hutan utara, ya." Aku membuat peta hutan utara bukan karena tanpa alasan.
__ADS_1
Kerajaan Ruens berada di bagian utara, dan jika surat yang aku lihat itu benar maka pasti kerajaan Ruens akan menyerang dari hutan utara. Oleh karena itu aku membuat peta ini. "Iona, maaf, ya sudah membuat tubuhmu berjuang sejauh ini." Ini pertama kalinya aku baraktifitas seberat itu, dan jika aku sangat kelelahan saat ini itu sangat wajar. "Besok aku mungkin akan melakukannya lagi, jadi. Jika kau tidak suka aku melakukan hal ini, kau bisa ambil tubuhmu dan... Agh.. M-Maaf, aku minta maaf. Agh... I-Iona berhenti menyakitiku. Agh.. A-Aku tidak akan berkata seperti itu lagi, aku janji." Seketika tidak ada reaksi lagi. "Ha..." Aku berbaring di atas kasur. "Sepertinya, aku akan tidur sebentar."
See you on the next Chaper....