PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Salting


__ADS_3

"Mama serius akan menjodohkan aku dengan Shaka?"


Terhitung sudah empat kali Jean bertanya seperti itu pada Mamanya sejak kepulangan Shaka.


Jean jelas masih belum terima dengan keputusan sepihak Mamanya itu. Yah, walaupun Jean sempat menyetujuinya, tapi kan saat itu dia hanya bercanda.


"Ayo, tanya sekali lagi, Jean. Maka Mama akan memberimu satu loyang penuh kue buatan Ibu Shaka." Selma malah berkata nyeleneh yang membuat Jean mendesah frustasi.


"Ma, aku sedang serius."


"Mama juga, Jean." ujar Selma sambil memotong kue pemberian Haisa. "Ini, cobalah. Kue buatan Ibu mertuamu sangat enak."


"Benarkah?"


Jean yang memang dasarnya sangat menyukai kue apalagi ada krimnya, langsung goyah.


Selma menyuapkan sepotong kue yang di pegang langsung oleh tangan Selma ke mulut Jean.


"Enak, kan?"


Jean mengangguk antusias. "Eum. Sangat enak."


"Nah, jika kau menikah dengan Shaka, Mama jamin kau akan sering memakan kue buatan Haisa. Perlu kau tau Jean, Haisa suka sekali membuat kue seperti ini."


Mendengar nama Shaka, Jean seolah kembali ke realita. Bukankah dia tadi ingin mengajukan protes tentang perjodohan antara dirinya dengan Shaka?


"Mama sengaja kan, mengalihkan topik pembicaraan?"


Selma tertawa pendek, "Mana ada! Memang benar kuenya enak kan? Kau bahkan mengakuinya."


Jean yang merasa tidak akan mendapat jawaban yang 'benar' dari Selma, memilih pergi saja darisana dan kembali melanjutkan mengerjakan skripsinya.


Bertepatan saat Jean bangkit dan ingin berlalu darisana, Gavi datang sambil menenteng sekantung plastik martabak manis.


Martabak manis adalah makanan favorite Jean setelah Kue. Apalagi rasa coklat kacang. Namun, Jean yang sudah telanjur badmood memilih berlalu menuju kamar saja. Tidak mempedulikan martabak manis yang aromanya bahkan sudah tercium sangat enak di indra penciuman Jean.


"Halo, Paman." Jean menyempatkan menyapa Gavi lalu melongos menaiki tangga menuju kamarnya.


"Ada apa dengannya?" Tanya Gavi pada Selma.


Gavi mendudukkan diri disebelah Selma.


"Biasa, merajuk."


"Kenapa?


Mengalirlah cerita Selma tentang Shaka saat kedatangan pria itu bersama Ibunya.


"Dia tidak curiga sedikit pun?" tanya Gavi


"Tidak. Dia hanya tidak mempercayai tentang dirinya yang akan di jodohkan dengan Shaka."


"Sungguh?"


Selma mengangguk sambil mengunyah Kue di mulutnya. "Aneh, kan?"


Gavi mengangguk.


Jean yang mereka tahu adalah orang tipikal yang selalu waspada pada hal sekecil apapun. Seharusnya, Jean sedikit curiga dan bertanya pada Selma mengingat kepribadian gadis itu. Namun, Jean bahkan tidak bertanya apa alasan Selma menjodohkan Jean. Walaupun yang Jean tau Selma melakukan tindakan itu karena curiga pada Jean tentang orientasi seksualnya. Tetapi, Jean seolah percaya, padahal saat itu Selma berkata tidak serius.


***


Jean membanting tubuhnya di atas kasur. Niat mengerjakan skripsi sementara ia tunda. Kepalanya masih penuh, berkemelut memikirkan ini-itu. Terutama tentang Shaka.


Sepertinya dia harus bertemu Shaka untuk membicarakan semuanya.


Sebentar, dia kan tidak punya nomor Shaka.


Paman. Ya, Paman pasti punya nomor Shaka. Mereka sepertinya cukup dekat.


Buru-buru Jean bangkit dan bergegas keluar kamar. Turun menuju lantai bawah, dimana Gavi dan Selma masih berbincang di ruang keluarga.

__ADS_1


"Paman, paman!" panggil Jean heboh.


"Kenapa Jean? Mau martabak, ya?" Tebak Gavi lalu menyodorkan sepotong martabak ke depan Jean.


"Nanti saja. Paman punya nomor Shaka, kan? Aku mau minta."


Gavi diam, saling melirik pada Selma.


"Untuk apa?" tanya Gavi.


"Kau sudah merindukannya, Jean?" tanya Selma menambahkan.


Jean memutar bola matanya.


"Cepatlah, Paman. Mana nomornya?" Jean mendesak.


Gavi mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya. Lalu mengirim nomor Shaka ke nomor Jean.


"Ck, ck, ck, sudah tidak sabar mendengar suaranya, rupanya. Tenang saja sayang, bulan depan kau akan mendengar suaranya setiap hari." ucap Selma terus menggoda Jean.


Jean mengabaikan ucapan Selma yang melantur.


"Terimakasih, Paman."


Selma tidak terima di abaikan oleh Jean. "Jean, kau mengabaikan Mama?"


Jean dengan cepat mengecup pipi Selma. "Aku mencintai Mama."


"Cintai Shaka juga, ya, Jean."


Jean segera melesat pergi kembali menuju kamarnya tanpa membalas ucapan Selma. Sebelum perkataan Selma semakin melantur tidak jelas lebih baik ia melarikan diri.


***


"Halo."


"Halo, Tuan Shaka, ini Jeannie."


Uhuk.. Uhuk..


"Tuan, kau baik-baik saja?"


Sial, kenapa aku harus tersedak segala, sih?!


Shaka berdehem beberapa kali sebelum berucap, "Ada apa, Jean?"


"Maaf Tuan, jika aku mengganggu waktumu,"


Tidak, Jean. Kau sama sekali tidak pernah mengangguku. Aku bahkan rela memberikan semua waktuku untukmu.


Shaka mulai monolog di lubuk hati dengan hiperbolanya.


"Tidak apa-apa." ujar Shaka berusaha tenang dengan suara dibuat dalam dan berat.


"Bisakah besok kita bertemu?"


Sudah ada kata kita, ya...


Shaka jadi tersenyum salah tingkah sendiri. Sayangnya, Jean tidak tahu hal itu. Kalau tahu, sudah di pastikan Jean akan menertawainya dengan terpingkal-pingkal.


"Bisa." Sangat bisa.


"Tuan ada waktu pukul berapa? Biar saya yang akan menyesuaikannya."


Jean sepertinya paham Shaka bukan orang sembarangan yang dapat mudah di minta untuk bertemu mengingat posisi Shaka di Perusahaan.


"Bagaimana kalau pukul tujuh malam?"


Sejujurnya, Shaka bahkan tidak mengetahui jadwal besok apakah ada rapat mendadak atau tidak.


Ah, biarlah. Urusan rapat belakangan, Jean lebih penting.

__ADS_1


"Dimana?"


"Kau yang tentukan. Aku akan datang menyusul."


"Baiklah, besok akan aku kabari. Aku tutup ya, Tuan. Selamat malam."


"Selamat malam."


Tut...


Panggila terputus. Shaka tersenyum menatap layar ponselnya. Merasa tidak yangka Jean akan menghubunginya lebih dulu. Dan, ucapan selamat malam itu...


Ya ampun, sepertinya Shaka akan tidur nyenyak malam ini.


Sementara Delvin yang sejak tadi berada di sofa, menatap Shaka dengan pandangan ngeri bercampur geli.


Apa manusia yang sedang jatuh cinta mendadak gila seperti Shaka?


Tidak, Delvin merasa tidak seperti Shaka saat dia dengan mantannya dulu. Oh ya, Delvin hampir lupa jika pria itu Arshaka. Satu-satunya Bos paling tengil yang Delvin kenal semasa hidupnya.


***


Keesokan harinya, pukul 22.30


Shaka berkali-kali melirik jam di pergelangan tangannya. Ia sudah terlambat tiga jam tiga puluh menit dari waktu yang ia janjikan dengan Jean.


Shaka sama sekali tidak berniat tidak menepati janji, tapi rapat mendadak harus di laksanakan dan Shaka tidak bisa absen atau di gantikan oleh Delvin karena rapat tersebut menyangkut proyek besar perusahaannya. Ada masalah internal yang harus segera di selesaikan, mau tidak mau semua dewan direksi berkumpul dan membahas masalah tersebut sampai tuntas. Sementara malam semakin larut dan ponsel Jean tidak bisa di hubungi.


"Kita tutup acara rapat kali ini. Terimakasih—"


Belum selesai kalimat itu selesai di ucapkan, Shaka sudah lebih dulu pergi darisana.


Delvin membungkuk sopan sebagai permintaan maaf kepada para dewan direksi atas sikap Bosnya. Kemudian Delvin segera menyusul Shaka memasuki lift.


"Hubungi dia lagi."


Delvin mencoba menghubungi Jean untuk yang ke sekian kalinya.


"Tidak aktif, Bos."


"Bagaimana situasi di café?"


"Sudah tutup setengah jam yang lalu, Bos."


"Sial!" Shaka baru saja ingin meninju dinding lift saat ia merasa ponselnya bergetar.


Jean?


Tebakannya salah. Yang memanggilnya adalah nomor yang tidak di kenal.


"Halo."


"Halo Shaka, ini Mama Selma. Apa kau sedang bersama Jean?"


Shaka dengan ragu menjawab, "Tidak, Ma."


"Jean belum kembali sejak pagi, dan tidak biasanya Jean tidak memberi kabar. Mama khawatir sekali, juga Gavi saat ini sedang berada di luar kota. Mama minta tolong cari Jean ya, Shaka?" Terdengar suara Selma sangat khawatir.


Shaka memejamkan mata, menyesal.


Dimana Jean sekarang? Kenapa belum pulang?


"Baik, Ma. Mama tenangkan diri di rumah, nanti Shaka akan kabari secepatnya."


"Terimakasih, Shaka."


Panggilan terputus.


"Cari dimana Jean dimana pun. Lacak keberadaan ponselnya dan sisir semua lokasi yang berdekatan dengan kampus Jeannie dan juga rumahnya."


***

__ADS_1


__ADS_2