
"Jean, kau jangan terlalu dekat dengan Ola."
"Kenapa?"
"Aku hanya merasa dia tidak baik untukmu. Untuk kita."
"Hm." Jean hanya menanggapi Shaka dengan deheman singkat. Saat ini mereka tengah berada di minimarket.
"Hm itu maksudnya apa?" Tanya Shaka sembari mengekori Jean mengambil segala kebutuhannya.
"Ya hm saja." Jean menjawab acuh. Tangannya kini sedang mengambil beberapa cemilan ringan.
Shaka ikut memasukkan tiga bungkus kripik kentang sekaligus. Lalu mengambil banyak bungkus mie yang terjejer di etalase yang tidak jauh dari tempat cemilan. "Aku serius."
"Aku juga serius, kenapa kau memasukkan banyak mie instant?" Jean menghentikan tangan Shaka yang terus saja memasukkan mie instant ke dalam trolinya.
"Untuk stok ketika aku main ke Apartemenmu."
"Mau apa kau di Apartemenku?"
"Kan aku bilang main. Kita bisa bermain ular tangga, monopoli, atau main ps." Ujar Shaka dengan raut berbinar. "Kau ada ps tidak?"
Jean menggeleng karena dia pun jarang berada di Apartemennya mengingat Selma yang akhir-akhir ini sangat protective. Padahal dia hanya ingin belajar mandiri, namun Selma yang begitu khawatir dengan anak-anaknya terlebih setelah perginya Zian tiga tahun yang lalu membuat sikapnya menjadi lebih protective.
"Akan ku belikan nanti."
"Terserah kau saja, dan kembalikan mie-nya. Ini terlalu banyak, Shaka!" pinta Jean karena Shaka tidak main-main saat menaruh beberapa bungkus mie dengan rasa yang berbeda-beda. Bahkan trolinya hampir penuh dengan mie milik Shaka.
Shaka menatap Jean dengan raut memohon, "Please, untuk stok di rumahmu. Kau boleh memakannya, ya?"
"Kau ini seakan kau akan tinggal di rumahku saja."
Shaka menjentikkan jarinya. "Ide bagus."
"Tidak. Kembalikan." Kata Jean tegas.
"Jeannie."
"Kembalikan, Shaka."
Melihat raut wajah Jean yang tegas, Shaka pun patuh. "Baiklah," Pria itu menaruh kembali tiga bungkus mie kembali ke etalase.
"Lagi."
Shaka menaruh satu bungkus mie.
"Lagi, Shaka. Ini masih ada lebih dari sepuluh bungkus." Kata Jean gemas. Akhirnya gadis itu sendiri yang menaruh kembali beberapa bungkus mie yang di ambil Shaka tadi.
"Eh-eh!" Shaka menahan tangan Jean. Tinggal terisisa empat bungkus mie di troli. "Sudah, ini saja, ya."
Jean berpikir menimbang, "Oke."
Shaka menghela napasnya. Jean berjalan kembali menuju rak belakang. Ingin membeli sabun mukanya yang sudah habis.
__ADS_1
"Bedak Ola tertinggal di mobilmu." Kata Jean tiba-tiba.
"Hm?"
Jean membalikkan tubuhnya menghadap Shaka, "Aku jadi penasaran kau memberikan apa padanya sampai dia gagal move on begitu."
Shaka meringis, "Aku dan dia bahkan hanya dua minggu, Jean."
"Sungguh?"
"Sungguh. Aku bahkan tidak pernah menjadikan dirinya sebagai kekasihku."
Jean mengerutkan keningnya, "Maksudmu?"
Bukannya menjawab, Shaka malah tersenyum menggoda pada Jean. "Aku jadi penasaran kenapa kau terlihat sangat ingin tahu tentang masa laluku."
Jean melongos kemudian mengambil sabun muka yang akan di belinya di rak etalase. "Aku hanya bertanya bukan penasaran!"
"Tadi kau bilang penasaran."
Jean melangkah acuh, meninggalkan Shaka di belakangnya. "Tunggu aku."
***
Jean membuka pintu unit Apartemennya di ikuti Shaka di belakang sambil membawa dua kantung belanjaan milik Jean.
Jean mengambil alih salah satu kantung plastik berisi alat kebersihan tubuhnya. "Sisanya tolong taruh di meja makan. Aku ke kamar mandi dulu sebentar." Katanya kemudian berlalu menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya.
Shaka menaruh sekantung plastik belanjaan Jean di atas meja makan. Kemudian menelusuri isi dalam Apartemen gadis itu.
Melihat sebingkai foto yang terpajang di atas buffet membuat Shaka tertarik untuk mendekat. Terpajang sebuah foto Jean yang sama persis seperti yang dimiliki Shaka. Disampingnya ada foto seorang pria tampan dewasa. Shaka mengenalnya. Pria itu adalah Zian. Mendiang Ayah Jean.
Langkah Shaka kembali menelusuri unit Jean dengan tangan yang terkadang menyentuh barang-barang antik yang terpajang di dinding.
"Arshaka!"
Teriakan melengking menggema di segala penjuru membuat Shaka terkejut dan tidak sengaja menjatuhkan secangkir kecil berbentuk lotus yang tadi tengah di pegangnya.
PYAR..
"Astaga!" Shaka meringis memegang telapak kakinya yang tidak sengaja terkena cangkir kecil yang terbuat dari tanah liat itu sebelum akhirnya pecah.
"Arshakaa!"
Panggilan melengking dari dalam kamar Jean terdengar kembali. Shaka segera bergegas menghampiri gadis itu. Urusan cangkir pecah di tinggalkan sementara olehnya.
"Kenapa, ada apa?" Shaka membuka pintu kamar mandi dengan keras membuat Jean yang berada dekat pintu, tidak sengaja kepalanya terantuk pintu dengan keras.
"Aw!" Jean meringis menunduk.
"Ada apa? Kau kenapa? Mana yang sakit?" Shaka bertanya heboh, tidak menyadari akibat kecerobohan akan sikap hebohnya.
"Bisa tidak kau buka pintu pelan-pelan?" Jean menatap Shaka sengit.
__ADS_1
Shaka membulatkan matanya melihat kening Jean memerah. "Maaf-maaf. Aku tidak sengaja, kau berteriak membuatku panik." ujar Shaka sambil mengusap-usap kening Jean.
"Sudahlah." Jean memukul telapak tangan Shaka di keningnya.
"Kenapa kau berteriak?"
Tiba-tiba sesuatu terbang menghampiri mereka. Jean buru-buru menutup pintu kamar mandi.
"WOA!"
Bukan Jean yang berteriak, tetapi Shaka. Pria berperawakan tinggi tegap itu kini tengah bersembunyi di belakang punggungnya.
"Apa yang kau lakukan?"
Shaka menunduk, menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Jean. "Bersembunyi."
Jean mendengus, "Aku memanggilmu karena meminta bantuanmu, bukan malah aku yang membantumu!"
Shaka menggeleng-gelengkan kepalanya di belakang Jean, "Aku tidak takut apapun selain kecoak terbang."
Jean berdecak, sungguh bukan keputusan yang tepat meminta tolong pada Shaka.
"Kau keluarlah. Ambilkan aku sapu." pinta Jean pada Shaka.
"Untuk apa?"
"Untuk memukulmu."
"Apa?" Shaka bertanya dengan raut terkejut.
"Untuk membunuh kecoak, Arshaka!" Jean gemas menatap Shaka. Awal ingin meminta bantuan Shaka ternyata percuma. Pria besar itu malah bersembunyi di belakang Jean yang tubuhnya lebih kecil dari Shaka.
"Jean, jangan membunuh. Tidak baik." ujar Shaka dengan raut sungguh-sungguh.
"Lalu kau mau apa dengan kecoaknya?"
"Ventilasi sudah kau buka?"
Jean menunjuk ventilasi kamar mandi yang terletak di pojok kamar mandi menggunakan dagunya.
"Sudah terbuka rupanya." gumam Shaka. "Lalu bagaimana?"
"Bunuh dia." kata Shaka mantap.
Jean memutar matanya, malas. "Kau atau aku?"
Shaka menatap Jean bingung. Dia takut dengan kecoak terbang, tapi harga dirinya sebagai pria tulen juga di pertaruhkan.
"Kita berdua." Kata Shaka akhirnya.
Jean berdecak, "Kau ambilkan sapu atau cangkir atau apapun untuk menangkap kecoak itu, dan ambilkan semprotan pembasmi serangga di laci dapur. Aku akan berjaga disini."
"Tidak. Kau saja yang keluar. Aku akan disini." Shaka dengan usaha mempertahankan harga dirinya.
__ADS_1
"Kau yakin?" Jean menatap Shaka ragu.
Tiba-tiba kecoak menghampiri kaki Shaka membuat pria itu memikik kemudian keluar dari kamar mandi bagai kilat.