PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Tentang Ezar


__ADS_3

Shaka menggulir layar tablet dengan serius. Saat ini ia sedang berada di mobil dalam perjalanan menuju Perusahaannya. Laju mobil berhenti saat lampu merah. Shaka yang sedari tadi menunduk, mengangkat kepalanya. Menatap keluar jendela mobil.


Tatapannya menajam saat penglihatannya menangkap Jean sedang bercengkrama sembari tertawa bersama seorang pria di dalam bus.


"Siapa dia, Vin?" Shaka bertanya pada Delvin tanpa mengalihkan pandangannya.


Delvin mengikuti arah pandang Shaka. "Teman satu kampus Nona Jean, Bos."


"Siapa?"


"Bos sudah mengenalnya. Dia Ezar. Teman sekaligus sahabat Nona sejak di bangku SMA." kata Delvin mengingatkan.


"Ezar? Bukankah pria itu dulu bertubuh tambun? Wajahnya juga berbeda! Kau pasti berbohong padaku!" tuduh Shaka.


Shaka yang memang mengetahui sedikit circle pertemanan Jean, merasa jika Delvin berbohong. Ezar mana yang Delvin maksud? Bahkan wajah yang kata Delvin 'Ezar' terlihat lebih tampan daripada Ezar yang Shaka kenal.


"Saya mana berani, Bos." sanggah Delvin atas tuduhan Bos tengilnya itu.


"Lalu?"


"Ezar mengalami penurunan berat badan sekitar lima bulan yang lalu. Wajah yang dulunya tembam, sekarang menjadi lebih tirus karena penurunan berat badannya."


"Apa iya?"


"Iya, Bos."


"Aku masih tidak percaya, tuh." Shaka masih dengan pendiriannya.


Delvin menghela nafas sabar.


"Apa saya harus mencari tau siklus perubahan Ezar dari lima bulan yang lalu sampai saat ini, Bos?"


Shaka terlihat berpikir sebentar. "Boleh juga."


Delvin menengok ke belakang, menatap bosnya dengan terkejut. "Untuk apa, Bos? Bos tidak percaya pada saya?"


"Akhir-akhir ini aku memang terkadang tidak percaya padamu."


Delvin kembali menatap ke depan saat mobil kembali berjalan. "Seperti stalker saja." gumamnya pelan yang ternyata masih bisa di dengar oleh Shaka.


"Kau bilang apa barusan?!"


"Tidak ada, Bos."


"Cari tau siklus perubahan berat badan Ezar sejak lima bulan yang lalu sampai detik ini."


Delvin diam. Dia hanya menggangguk mendengar penuturan Shaka.


Kenapa Shaka sekarang terlihat posesif pada Jean. Padahal, dulu Shaka tidak terlalu ingin tahu urusan Jean. Baginya, status Jean adalah yang terpenting;memiliki kekasih atau tidak.


Shaka hanya sesekali bertanya ketika pria itu kedapatan melihat Jean bersama pria lain. Selain kekasih, Shaka tidak terlalu memusingkan pertemanan Jean karena dia sendiri sudah cukup sibuk mengurus Perusahaannya.


Sekarang, kenapa Shaka bahkan meminta Delvin mencari tahu perihal tidak penting seperti ini? Untuk apa Shaka memusingkan perubahan berat badan Ezar kalau Shaka sendiri tau jati diri Ezar yang sebenarnya.


Delvin pusing memikirkannya. Apa nanti Shaka akan menanyakan semua daftar nama teman Jean di kampusnya?

__ADS_1


"Kau berani mengabaikanku, Khairan Delvin?"


"Maafkan saya, Bos. Saya akan segera mencari tahu siklus perubahan Ezar." Delvin membungkuk sopan.


"Bagus."


Ya, lebih cepat percakapan ini selesai atau Shaka akan semakin menjadi.


"Ikuti mereka." tutur Shaka.


"Kita ada rapat satu jam lagi, Bos." Delvin mengingatkan.


"Mundurkan."


Delvin mengangguk. "Ikuti bus itu." Perintah Delvin pada sopir di sampingnya.


***


Tujuan Jean dan Ezar ternyata Panti Asuhan Kasih Bunda. Mobil Shaka berhenti tidak jauh darisana. Untuk sesaat, Shaka memperhatikan Jean dari dalam mobil. Bagaimana Jean menyapa dan berinteraksi dengan anak-anak disana, lalu menyapa Ibu Panti dengan ramah.


Ah, kalau melihat Jean seperti itu aku jadi ingin segera menjadikannya istriku sekaligus ibu yang akan mengurus anak-anakku kelak.


"Aku mau Altair menjadi donatur tetap untuk Panti ini. Kau atur, Vin." kata Shaka lalu membuka pintu mobil.


"Baik, Bos." Delvin pun ikut keluar. Mengikuti Bosnya yang kini tengah berjalan menghampiri Jean dan Ezar.


"Selamat Pagi." Delvin mengambil alih menyapa Ibu Panti.


Ibu Panti yang menyadari kedatangan tamu asing, menunduk sopan. "Pagi, Tuan."


"Nyonya bisa bicara sebentar? Ada yang ingin saya bicarakan." Kata Delvin.


Sementara Shaka tidak ikut masuk. Ia membiarkan Delvin mengurus semuanya. Kemudian ia beralih menatap Jean dan Ezar yang sedang saling lirik.


"Hai. Kita bertemu lagi, Jean." Sapa Shaka basa-basi.


Jean tersenyum sopan. "Tuan Shaka."


"Kalau tidak salah, ini pertemuan ketiga kita, ya."


"Emm... Sepertinya begitu." Jean menjawab canggung.


"Kenapa kita selalu bertemu, ya? Apa ini yang disebut takdir?"


Takdir apanya! Aku bahkan selalu berdo'a agar tidak bertemu denganmu lagi, Tuan.


"Saya menantikan pertemuan-pertemuan kita selanjutnya." Seru Shaka dengan senyum cerah.


Tidak!


Jean tersenyum tipis menanggapi ucapan Shaka. Kemudian ia melihat Shaka melirik Ezar, seolah minta di perkenalkan. "Tuan perkenalkan, dia teman saya. Ezar."


Tanpa bisa di cegah, Shaka meneliti penampilan Ezar dari atas sampai bawah.


Jadi dia benar Ezar, ya.

__ADS_1


Ezar saat ini terlihat tinggi tegap. Tidak seperti dulu. Yang Shaka ingat, Ezar dulu bertubuh tambun. Sekarang yang di hadapannya jelas terlihat seperti orang lain. Tubuh Ezar yang dulu tambun menjadi kekar. Bahkan kalau di bandingkan dengan Shaka, Ezar jauh lebih berotot.


Bukan berarti Shaka tidak ada ototnya. Shaka berotot sesuai porsi standar orang kebanyakan. Sedangkan Ezar, lebih besar. Atau, bisa dibilang tubuh Ezar seperti bodyguard di film-film laga.


Jean dan Ezar yang menyadari tatapan mata Shaka yang seperti menelisik penampilan Ezar, merasa tidak nyaman.


"Tuan?" panggil Jean.


Shaka tersenyum, mengulurkan tangannya pada Ezar, "Arshaka."


Ezar menyambut uluran tangan Shaka, bersalaman. "Saya Ezar, Tuan."


"Sedang apa kalian berdua disini?" Tanya Shaka.


"Kami memang setiap minggu datang kemari, Tuan." Kata Jean.


"Berdua saja?"


"Biasanya sih bertiga. Teman saya yang satunya tidak bisa hadir." Jelas Jean. "Kalau saya boleh tau, Tuan sedang apa disini?"


"Saya akan menjadi donatur tetap di Panti ini." Shaka menjelaskan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling Panti.


"Begitu rupanya."


Perbincangan basa-basi itu berakhir dengan kedatangan Delvin.


Delvin menghampiri Shaka kemudian membisikkan sesuatu yang tentu saja tidak di dengar oleh Jean dan Ezar. Kemudian Shaka pamit, "Saya pamit. Kapan-kapan saya akan mentraktir kalian makan. Sampai jumpa."


Shaka pun berlalu dari sana diikuti Delvin di belakangnya.


Ezar menyenggol lengan Jean, "Dia Arshaka Virendra, CEO muda yang sedang hangat dibicarakan itu, kan?"


Jean mengangguk dengan mata yang tidak lepas menatap kepergian Shaka. Sedangkan Ezar sudah melongo takjub, "Wah! Aku tidak menyangka akan mendapatkan pengalaman seberharga ini. Ya Tuhan, dia Arshaka, Jean! Kenapa kau tidak pernah cerita padaku kalau kau kenal dengan seorang CEO besar." seru Ezar masih dengan rasa takjubnya.


"Kau ini berlebihan sekali, sih!" Jean memukul lengan Ezar sambil berlalu.


"Jean!"


Sementara itu di dalam mobil Shaka.


"Benar katamu. Pria di bus tadi, Ezar, Vin." kata Shaka.


"Sudah percaya pada saya, Bos?"


Shaka tidak menjawab, dia malah menggosok jari telunjuknya di dagu. "Tapi kenapa wajahnya sangat berubah, ya. Apa dia operasi wajah?"


"Sepertinya tidak, Bos. Sebenarnya wajahnya tidak berubah. Hanya lemak di pipinya yang menghilang."


"Benarkah?"


"Iya, Bos." Tiba-tiba Delvin mengingat perintah Shaka yang memintanya untuk mencari tau siklus perubahan berat badan Ezar. "Bos, apa perintah untuk mencari sikulus data perubahan berat badan Ezar masih perlu?"


"Tentu saja."


"Untuk apa, Bos?"

__ADS_1


"Aku penasaran bagaimana pria itu bisa berubah hampir 180 derajat dari terakhir kali kulihat."


Sabar, Delvin. Sabar.


__ADS_2