PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Tentang Zarif Pt.2


__ADS_3

"Kau ingat Zarif? Dimana dia sekarang?" Tanya Shaka dengan raut seriusnya.


"Kenapa kau menanyakan pria itu?" Tanya Aslan bingung sebab Shaka tiba-tiba bertanya tentang teman lama mereka.


"Dia sumber masalah celakanya Jean dan Ibu Mertuaku. Katakan padaku, kau masih berhubungan dengannya?"


Mendengar itu, Aslan menegakkan tubuhnya."Tunggu, kenapa bisa dia?"


"Dia suami Karen. Mantanku dua tahun yang lalu." kata Shaka.


"Apa?" Aslan berkata terkejut.


"Jadi kapan kau terakhir berkomunikasi dengannya?" Tanyanya tidak sabaran.


"Err... Sepertinya lima tahun lalu." Kata Aslan ragu. Karena sudah cukup lama dirinya bertemu dengan Zarif.


Shaka memijat pelipisnya. Berarti sudah lama sekali Aslan dengan Zarif tidak berkomunikasi sama seperti dirinya.


"Apa dia pernah berbicara tentangku?" Tanya Shaka menatap Aslan.


"Membicarakan yang bagaimana maksudnya?"


"Kau paham maksudku."


Aslan berpikir-pikir. Mulai mengingat-ingat. "Ah, dia... Aku ragu ingin memberitahu perihal ini padamu. Tapi, karena tunanganmu dan mertuamu celaka, maka aku akan memberitahumu."


"Dulu sewaktu sekolah, kau tahu kan aku sering bermain bersama dia dan teman-teman dekatnya di kelas tanpa melibatkan kalian. Bukannya aku tidak ingin mengajak kalian, tetapi setiap aku meminta untuk mengundang kau dan Delvin, Zarif selalu menolak." Kata Aslan memulai bercerita, mengenang masa lalu.


Shaka mengerutkan keningnya, "Tetapi aku merasa bahwa kami cukup dekat."


Aslan mengangguk menyetujui, "Aku pikir juga begitu. Kau dan Zarif cukup dekat, namun setelah ku ingat-ingat lagi. Dia menolak ke hadiran kalian sejak SMA tingkat akhir."


"Alasannya?"


"Aku tidak tahu alasannya. Tapi, yang pasti Zarif mulai belajar mati-matian di sekolah dan menghindar dari kalian berdua."


Shaka merenung berpikir. Zarif menghindar darinya dan Delvin.. Apa alasannya?


Kenapa hanya mereka berdua namun, dengan Aslan tidak.


"Setelah kelulusan, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Kau dan dia masih berhubungan, apa dia tidak pernah memasukkan kami ke dalam pembicaraan kalian?" tanya Shaka.


"Tidak. Dia masih sama seperti dulu. Jika aku memintanya untuk mengajakmu dan Delvin, dia akan menghindar atau pun menolak secara tidak langsung." Jelas Aslan lagi. Mengingat memorinya ketika lima tahun yang lalu.


"Dimana dia sekarang?"


"Ku dengar dia kuliah di Jepang. Lima tahun lalu, terakhir aku bertemu dengannya pun di Jepang." Kata Aslan.


Shaka diam menyimak. Sementara Delvin, sedari tadi pria itu bungkam. Menyimak dengan baik.

__ADS_1


"Aku tidak pernah mendengar sama sekali bahwa dia menikah dengan mantanmu. Harusnya dia mengundangku, ya. Bagaimana pun kami dulu cukup dekat." Ucap Aslan lalu berdecak sambil menggelengkan kepala.


Shaka menatap Aslan sengit, lalu berdecih, "Dia tidak akan mengundangmu karena dia pun terpaksa menjadi mempelai."


Aslan menampilan raut bingung, "Eh? Apa maksudmu?"


Shaka bercerita pada Aslan secara garis besarnya bahwa dia lah menjadi alasan Ola untuk membalas dendam padanya melalui Jean.


"Begitu, ya... Aku tidak menyangka bahwa Ola bisa melakukan hal kejam seperti itu." guman Aslan.


Shaka beralih menoleh pada Delvin, "Vin, kau cari Zarif sampai ketemu dan cari tahu latar belakang atau apapun tentangnya. Terlebih saat menjadi suami Karen."


"Oke, Bos." Sahut Delvin menyanggupi. Dia meraih tablet, lalu jarinya sibuk mengotak-atik disana.


Aslan meringis, melihat ketanggapan Delvin pada Shaka. "Cepat sekali kau meresponnya tanpa protes."


Delvin menanggapi dengan mengangkat bahunya acuh.


"Aku pergi menemui Jean." kata Shaka.


Delvin segera bangun, karena dia yang akan mengantar Shaka.


"Kau tidak perlu ikut. Aku bawa mobil sendiri." Shaka meraih jas kantornya yang tergantung di pojok ruangan.


"Aku ikut." Seru Aslan tiba-tiba.


"Di rumah. Aku kesini menggunakan bus."


Delvin yang tengah minum, tersedak. "Apa? Kau naik bus? Kau?" tunjuknya di dada Aslan dengan pandangan tidak percaya.


"Iya, kenapa?" tanya Aslan dengan wajah polos.


"Hartamu sudah habis, ya? Jangan-jangan mobilmu sudah kau jual?" Sahut Shaka sambil mengancingkan jasnya.


Aslan terkekeh, tiba-tiba wajahnya memerah. Seperti tersipu. Delvin dan Shaka yang melihatnya merasa ngeri sendiri. "Kau waras?" Tanya Shaka.


"Tentu saja! Aku nebeng, ya." Seru Aslan dengan raut berseri.


"Kau ikut Delvin saja. Aku sibuk."


...****************...


Shaka mendorong engsel pintu ruang rawat Jean. Di tangannya ada sekeranjang buah dan beberapa makanan ringan untuknya dan Jean.


"Astaga!" Shaka mengelus dadanya. Terkejut melihat ada Aslan dan Delvin disana tengah berbincang dengan Jean.


"Sedang apa kau disini?" Tanya Shaka melotot.


"Tentu saja menjenguk tunangan temanku. Kau jahat sekali tidak mengajakku untuk kesini, padahal kita baru saja bertemu." Ucap Aslan dengan gerutuan yang malah terlihat menyebalkan di mata Shaka.

__ADS_1


Shaka berjalan mendekat. Menaruh bawaannya di meja sofa, lalu berjalan menghampiri Jean. Mencium kening gadis itu sekilas membuatnya memerah malu.


"Aw, so sweet." Aslan mencibir dengan berlebihan.


"Sudah berbincang dengan Jean, kan? Silahkan pulang." Ujar Shaka mempersilahkan teman-temannya pulang karena dia sudah rindu dan ingin menghabiskan waktu berdua dengan gadisnya.


"Ya ampun. Aku bahkan disini belum satu jam, loh." Aslan berujar sambil menampilkan raut pura-pura sedih.


Melihat itu, Jean mengusap lengan Shaka. "Tidak baik mengusir tamu. Temanmu berniat baik ingin menjengukku, kan."


"Tapi—"


"Tuh, dengarkan tunanganmu. Tidak baik mengusir tamu." Ujar Aslan lalu bangkit menuju sofa, duduk di samping Delvin. Pandangannya tertuju pada sekantung berisi snack ringan.


"Aku minta, ya" Katanya lalu mengambil salah satu snack kentang dan membukanya.


"Tidak boleh!"


Aslan menghentikan gerakannya. "Yah, terlanjur."


Shaka berdecih lalu mendudukkan diri di kursi yang semula di duduki oleh Aslan. Tepat di sebelah brankar.


"Apa hari ini ada keluhan?" Tanyanya pada Jean.


"Tidak ada. Aku baik-baik saja." Jawab Jean sambil tersenyum.


"Mau makan sesuatu?"


"Emm.." Jean melirik buah yang di bawa oleh Shaka. "Aku mau apel."


Tanpa babibu, Shaka berdiri mendekati nakas. Mengambil buah apel yang berada di keranjang buah lalu pergi menuju wastafel.


"Hei, Jean." Panggil Aslan.


"Iya?"


"Apa dia bisa mengupas apel?" tanya Aslan dengan menunjuk punggung Shaka yang tengah mencuci dua buah apel.


Jean mengangguk, "Bisa. Bahkan dia mengupasnya dengan rapih. Kenapa memangnya?"


Aslan menatap takjub, "Sungguh? Woa!"


Shaka kembali membawa buah apel yang sudah bersih. Dia mengambil piring kecil lalu mengupasnya dengan pisau buah.


"Kau benar-benar sudah bisa memegang pisau rupanya, ya." Ujar Aslan pada Shaka. Mengingat dulu, Shaka tidak pandai memegang pisau untuk mengupas atau memotong sesuatu. Pasti ada saja yang terluka jika pria itu memegang pisau.


"Tentu saja. Kenapa? Kau ingin aku mengupasmu?"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2