PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Suhu atau Cupu


__ADS_3

"Jadi, kau bertanya 'apa mau tambah?' ketika makanannya sudah habis?" Aslan bertanya sambil tertawa setelah mendengar cerita Shaka. Sedangkan Delvin hanya diam menikmati minuman sodanya dengan khidmat.


Saat ini mereka bertiga; Shaka, Delvin, dan Aslan sedang berkumpul di sebuah café dekat perusahaan Altair.


Aslan yang kala itu sedang menghabiskan waktu di club, mendapatkan panggilan dari Shaka karena ada hal penting, kata pria itu. Tapi faktanya, saat Aslan bertanya apa hal penting yang perlu di bicarakan, Shaka malah bertanya perihal tips-tips dan cara mendekati wanita.


Rasanya Aslan ingin sekali memukul kepala Shaka karena sudah mengganggu waktu berharganya untuk bersenang-senang hanya untuk pertanyaan tidak penting itu.


Shaka mengangguk, "Memangnya kenapa?"


Aslan menepuk pundak Shaka pelan, "Dengar, perempuan paling tidak suka membicarakan sesuatu yang mengarah pada 'berat badan'."


"Memangnya kenapa?"


"Tentu saja akan menyinggungnya! Astaga, Delvin, bos mu kadar kepintarannya hanya saat di Perusahaan saja. Aku jadi kasihan padamu, Vin." Aslan menatap Delvin iba.


"Baiklah, aku minta maaf."


"Bukan minta maaf padaku, tapi padanya! Ah, sudahlah tidak penting. Lagipula katamu, dia tidak tersinggung, kan?" Aslan bertanya memastikan.


Shaka mengangguk.


"Sini biar ku kasih tau. Langkah pertama mendekati perempuan itu, kau harus terlihat ramah namun cool. Perempuan suka sekali laki-laki cool asal jangan berlebihan. Ingat, jangan berlebihan." Aslan menunjuk wajah Shaka dengan jari telunjuk, seolah memperingati.


"Lanjutkan."


"Kedua, kau harus sering-sering memujinya. Perempuan suka sekali di puji. Seperti, 'Wah, kau hebat sekali. Tidak semua orang bisa melakukan itu, loh.', paham?" Ucap Aslan dengan nada yang di buat-buat agar menghayati.


"Ya. Lanjutkan."


"Ketiga, kau harus sedikit perhatian padanya. Seperti bertanya 'Bagaimana harimu?' dan ketika kau mendengarkan ceritanya tentang harinya dengan sabar maka kau akan mendapatkan poin plus. "


"Oke, aku paham."


"Keempat," Aslan menggantungkan kalimatnya setelah menyadari sesuatu, "Tunggu, bukankah kau memiliki mantan? Bahkan mantanmu lebih banyak dari si kulkas lima pintu ini." ucap Aslan menunjuk Delvin.


Delvin yang merasa di tunjuk, hanya diam menyimak.


"Apa hubungannya dengan mantan?" Shaka bertanya dengan raut wajah bingung.


"Tentu saja ada hubungannya, bodoh!"


Shaka diam, tidak menyahut. Masih dengan tampang bingungnya.


Aslan menghela nafas. Mencoba menetralkan emosinya yang ingin naik, "Baiklah. Berapa jumlah mantanmu, Tuan Arshaka?"


"Empat." Jawab Shaka sambil menunjukkan ke-empat jarinya.


"Kau memiliki empat mantan kenapa kau masih bertanya hal tidak penting seperti ini padaku, Arshaka!" ujar Aslan mulai menaikkan nada bicaranya. Tampaknya ia sudah habis kesabarannya.


"Dia hanya bertingkah seperti pria kanebo kering pada semua wanita, makanya tidak ada wanita yang tahan padanya." Delvin akhirnya bersuara dengan nada tenang.


Aslan yang mendengar itu menatap Delvin dengan ke dua alis di naikkan. Bukankah istilah kanebo kering mencerminkan diri Delvin sendiri?


Jadi, dua sahabatnya ini sama-sama kanebo kering?


"Astaga, punya dua teman tidak ada yang berguna." Aslan mendecak frustasi.


Shaka dan Delvin yang mendengar itu protes, "Hey!"


"Kupikir kau suhu, Shaka. Ternyata sama cupunya seperti Delvin." ujar Aslan lemas.


"Aku tidak cupu!" Delvin protes.

__ADS_1


"Kau cupu!"


"Aku tidak cupu!"


"Kau cupu, Delvin."


"Aku tidak—"


"STOP! Diam kalian. Biar aku yang cupu, kalian berdua suhu." Seru Shaka berusaha menyudahi perdebatan mereka.


Aslan dan Delvin diam, kemudian keduanya mengangguk setuju.


"Benar, kau yang cupu."


"Iya, bos yang cupu."


"Dan aku suhu."


"Aku juga suhu."


"Tidak, kau cupu Delvin. Hanya aku saja yang suhu."


"Aku tidak cupu."


"Baiklah-baiklah. Aku suhu, tapi kau tetap cupu Delvin."


"Kau—"


Demi kerang ajaib milik Spongebob! Apa ada jasa melenyapkan manusia dari muka bumi tanpa jejak dan dosa? Kalau ada, beritahu Shaka secepatnya!


****


Shaka memasuki Apartemennya dengan langkah gontai. Lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan asal. Jas yang semula ia tenteng, sudah tergeletak asal di atas karpet bulunya.


Si4l, Shaka jadi kesal lagi mengingat itu.


Shaka mengambil ponselnya di saku celana saat ia merasakan ponselnya bergetar.


Ibu Negara memanggil.


Shaka melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 21.45.


Untuk apa Ibunya menelfonnya selarut ini?


"Halo, Bu."


"Shaka, kau dimana, Nak?" tanya Ibunya di seberang sana.


"Di Apartemen."


"Kenapa tidak pulang ke rumah?"


"Kan kemarin sudah, Bu."


"Anakmu butuh dirimu, Shaka."


"Aku belum memiliki anak, Bu." Sepertinya Shaka lupa soal Aidan.


Terdengar decakan disana, "Aidan anakmu, Shaka. Kau lupa?"


Shaka akhirnya mengingat Aidan. Ia memijit keningnya pelan. Mendadak pusing kembali melanda kepalanya.


"Ah, iya Aidan." Jawab Shaka sekenanya.

__ADS_1


"Jadi kau mau pulang atau tidak, Shaka?"


"Besok saja ya, Bu. Aku lelah sekali hari ini."


Shaka berkata jujur, ia cukup lelah hari ini. Jarak dari Apartemen menuju Mansion juga cukup jauh. Walaupun ada Delvin yang siap melayani dirinya 24 jam sebagai asisten pribadi, tetap saja Shaka sudah terlanjur malas dan lelah.


"Baiklah. Kau istirahatlah, dan jangan begadang. Jaga kesehatanmu. Selamat malam, sayang."


"Selamat malam, Ibu."


Shaka menjatuhkan ponselnya ke karpet. Mendesah frustasi mengingat Aidan.


Ah, anak tidak bersalah itu.


Kalau dipikir-pikir kasihan juga Aidan. Masih bayi, sudah di buang oleh Orang tuanya. Orang tua jahat macam apa yang membuang anak se-menggemaskan itu. Lihat saja, kalau sampai Shaka tahu pelaku yang membuang bayi mungil tidak berdosa itu, akan Shaka habisi orang itu. Berani-beraninya membuang anak tidak berdosa di depan Mansion keluarganya tanpa ijin. Kalau tidak sanggup merawat, jangan membuat bayi!


Shaka mengepalkan tangannya meninju udara sembari menggeram kesal.


***


Jean menuruni tangga sambil mengikat rambutnya asal. Ia dapat melihat Gavi dan Mama sedang berbincang di dapur seraya makan malam.


Jean mengahampiri mereka, ikut bergabung makan bersama.


"Jean, kau pulang dengan apa?" tanya Gavi pada Jean yang sudah duduk di samping Mamanya.


"Diantar oleh asisten Delvin." jawab Jean sambil menyendok lauk ke atas piringnya.


Gavi mengangguk menanggapi.


"Asisten Delvin itu siapa, Nak?" tanya Selma—sang Mama.


"Asisten pribadi Tuan Shaka." Jawab Jean sekenanya.


Selma beralih menatap Gavi dengan tatapan meminta penjelasan.


"Shaka atasanku, Kak." Ucap Gavi.


"Kok bisa?"


Gavi memberikan kode pada Selma untuk bertanya pada Jean saja.


Jean yang merasa pertanyaan Selma harus dijawab, menelan makananya. "Aku bertemu dengan Tuan Shaka saat mengantar bekal Paman. Lalu berbincang sebentar dengan Tuan Shaka, dan di antar pulang oleh asisten pribadinya." Jelas Jean enteng.


"Arshaka Virendra maksudmu, Jean?" tanya Selma memastikan.


"Iya, Mama kenal dengannya?"


"Tentu saja Mama kenal. Siapa yang tidak kenal dengan Arshaka Virendra, CEO muda dan sukses di negeri ini." Kata Selma semangat. "Jadi, kalian sudah saling kenal sejak kapan?"


Jean mengernyit. Apa Mamanya sebahagia ini mengetahui dirinya memiliki kenalan seorang CEO?


"Baru-baru ini, Ma." sahut Jean.


"Ah, begitu rupanya."


"Kenapa Mama sepertinya senang sekali?" tanya Jean menelisik wajah Mamanya.


Selma mengibaskan tangannya, "Ah, biasa saja."


Jean tidak menanggapi. Kembali meneruskan makannya yang tertunda.


Sementara diam-diam, Selma melirik Gavi. Gavi hanya merespon dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


***


__ADS_2