PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Calon Ayah Mertua


__ADS_3

“Sebelumnya aku ingin bertanya, apa kau tau Shaka memiliki anak?”


Raut wajah serius Ivan membuat jantung Jean semakin berdebar.


Sepertinya Ivan tidak menyukai basa-basi yang dimana membuat Jean semakin gugup.


“Iya, saya tahu.”


“Kau tidak keberatan sama sekali menjadi istri sekaligus ibu dari anak Shaka?” Tanya Ivan lagi.


Pertanyaan Ivan saat ini sama seperti pertanyaan Kayana semalam. Bagaimana pun Jean bukan hanya menjadi istri Shaka tetapi akan menjadi ibu dari anak Shaka. Mengurus bayi bukanlah hal mudah. Terlebih Jean belum memiliki pengalaman sama sekali untuk mengurus anak, terlebih bayi yang pasti harus mengasuh dengan lebih membutuhkan perhatian dan ketelitian.


Pertanyaan yang di lontarkan Ivan terkadang memang dipikirkan olehnya bahkan sebelum Kayana dan Ivan bertanya. Terkadang di saat seling, Jean memikirkannya, dan selalu gagal mendapatkan jawaban. Namun, setelah semalam Kayana memberikan nasihat kepadanya dan juga Jean yang sudah terlanjur setuju memenuhi perjodohan ini akhirnya dia mendapatkan jawabannya.


Dan jawaban Jean adalah yakin. Jean yakin akan mengurus anak Shaka dengan baik seperti halnya seorang ibu kandung.


“Tidak, Tuan.” Jawab Jean


Terasa di punggung tangannya, jempol Shaka bergerak. Mengusap punggung tangan Jean agar gadis itu lebih rileks.


Terlihat Ivan mengerutkan alisnya, “Kau yakin?”


“Iya, Tuan. Saya yakin dan akan berusaha menjadi istri dan ibu yang baik untuk Aidan.” Kata Jean dengan tatapan dan raut wajah meyakinkan.


Tampak Ivan terdiam sebentar. Seperti tengah mencari keseriusan di wajah Jean. Kemudian tersenyum tipis. “Baiklah. Dua minggu lagi kau akan menikah dengan Shaka.” Katanya lalu kembali menyeruput kopinya.


Ke dua bola mata Jean hampir saja keluar saat mendengar kata 'dua minggu' yang di lontarkan oleh Ivan.


Bagaimana bisa secepat itu? Aku memang sudah yakin akan menikah dengan Shaka. Tapi aku belum menyiapkan diriku dengan baik.


Jean rasanya ingin protes karena waktu pernikahannya begitu cepat. Sedangkan Shaka daritadi hanya diam menyimak. Kini pria itu malah memainkan jari telunjuknya di atas telapak tangan Jean yang terbuka.


“Atau satu minggu lagi? Bagaimana menurutmu, Shaka?”


Pertanyaan Ivan membuat Shaka menghentikan aktifitasnya, dan semakin membuat Jean terpojok.

__ADS_1


Dia sudah sangat kaget mendengar kata ‘dua minggu’ sekarang malah di majukan menjadi satu minggu. Jean ingin pingsan saja rasanya.


“Aku ikut Ayah saja.” Jawaban Shaka terdengar tidak membantu sekali. Padahal tadi Jean berharap Shaka akan memilih dua minggu.


Ya, lebih baik dua minggu daripada seminggu, kan.


Jean mengatupkan telapak tangannya sehingga jari telunjuk Shaka berada dalam genggamanya. Tatapan mata Jean menajam, seolah menyerukan ke-protesannya. Sayangnya, pria dengan julukan kanebo kering itu sama sekali tidak paham. Malah tersenyum lebar sambil bertanya, “Kenapa?”


Jean memejamkan ke dua matanya, menyerah. Baiklah, dia akan mengikuti saran Ivan. Bagaimana pun, calon Ayah mertuanya masih tampak mengerikan di matanya, walaupun saat ini Ivan terlihat santai.


“Kau keberatan, Jean?”


Pertanyaan Ivan membuat Jean menoleh, kembali menatap Ivan sambil tersenyum lebar. “Tentu saja tidak, Tuan.”


Ivan menaruh gelas kopi yang sedari tadi di pegangnya, “Bagus. Lebih cepat lebih baik, kan.”


Jean hanya mampu menjawab dengan tersenyum canggung.


Sementara Jean yang terlihat seperti di introgasi, Shaka kembali asik dengan kegiatannya. Yaitu, bermain-main dengan telapak tangan Jean.


“Kau sudah bertemu dengan anak Shaka?”


“Apa yang kau pikirkan saat pertama kali mengetahui Shaka memiliki anak?” Tanya Ivan.


Pertanyaan Ivan memang masih menjadi pertanyaan juga di benak Jean. Saat itu dia tidak terlalu memikirkannya, dan lebih banyak memikirkan perihal masa depannya ketika menjadi istri Shaka nanti. Di tambah dengan skripsi yang masih belum rampung menjadikannya melupakan perihal Aidan. Padahal pertimbangan soal Aidan lah yang seharusnya Jean pikirkan dengan matang-matang.


Namun, tentu saja pertanyaan-pertanyaan perihal anak Shaka masih ada di benaknya.


Bagaimana Shaka bisa memiliki anak? Sedangkan yang dia ketahui Shaka belum menikah sama sekali. Apa Shaka menghamili seorang wanita?


Pertanyaan-pertanyaan itu lah yang sampai sekarang belum mendapatkan jawaban satu pun di benaknya. Kendati dia tidak sempat menanyakan kepada Selma, dan juga dia tidak berani bertanya kepada Shaka. Takut akan menyinggung pria itu.


Sepertinya bukan hanya Ivan yang menunggu jawabannya, Shaka pun sama. Walaupun jari pria itu tidak berhenti dari aktifitasnya, tetapi telinganya mendengarkan dengan baik.


Namun, sepertinya Jean tidak mampu menjawab apapun. Yang dipikirkannya adalah dia lebih baik diam daripada perkataannya salah.

__ADS_1


“Kau pasti kaget, ya?” Imbuh Ivan karena melihat Jean hanya diam, atau tidak berani untuk menjawab.


Jean dengan ragu menganggukkan kepalanya pelan.


Ivan mengangguk. Kini pandangannya beralih kepada putranya yang sedari tadi asik sendiri. “Coba, kau tanyakan kepadanya.” Ujar Ivan karena sejujurnya dia ingin melihat bagaiman respon putranya tentang Aidan.


Hening untuk beberapa saat sampai suara berat Shaka terdengar.


“Apa asal usul Aidan membuatmu terganggu, Jean?” Shaka mendogak menatap tepat di manik mata Jean.


Jean menggeleng pelan.


“Aidan adalah anakku. Terlepas dari rahim mana Aidan berasal, itu tidak penting karena dia hanya putraku. Cucu dari Tuan Ivan dan Nyonya Haisa.”


Ivan tersenyum mendengar ucapan Shaka. Putra tengilnya itu sudah menerima Aidan dengan baik, bahkan menyebut Aidan sebagai putranya.


Pada awalnya saat Haisa berkata akan menyerahkan Aidan kepada Shaka, Ivan sedikit khawatir mengingat tingkah tengil Shaka. Melihat dari kacamata Ivan dan Shaka, putranya itu hanyalah anak bungsu yang masih belum dewasa dengan sempurna.


Padahal, kata ‘dewasa’ bukan berarti sikap seseorang harus selalu serius dan berpikiran kritis dan rasional. Tidak, bukan begitu. Setiap orang memiliki sisi dewasanya masing-masing, tentu dengan porsi dan tempat yang berbeda-beda.


Begitupula dengan Shaka. Shaka memang petakilan, tengil dan terlihat kurang serius. Namun, itu lah yang menjadikan Shaka menarik. Shaka serius pada waktunya, dewasa pada waktunya, dan bercanda pada waktunya.


Bukankah hidup tidak harus melulu serius?


Sayangnya, Ivan dan Haisa tidak melihat hal itu.


Bagi mereka, Shaka tetaplah putranya yang manja dan terkadang susah di atur. Maka dari itu lah, Haisa menyerahkan Aidan kepada Shaka dan memaksa Shaka untuk segera menikah.


Demi melihat putranya dewasa.


***


Pukul 5 sore. Sudah waktunya untuk Jean pulang. Shaka yang menawarkan. Bukan maksudnya mengusir Jean, Shaka hanya merasa tidak enak membawa anak gadis orang keluar tanpa berpamitan langsung kepada Orang Tuanya, walaupun Shaka sudah menghubungi Selma. Namun, tetap saja tidak baik bagi seorang pria membawa seorang gadis sejak pagi hingga malam.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil yang di kendarai oleh seorang sopir.

__ADS_1


“Apa yang mengganggu pikiranmu? Katakan padaku, Jean.” tanya Shaka ketika Jean hanya melihat keluar. Terlihat termenung.


Jean menoleh. “Apa kita benar-benar akan menikah seminggu lagi?”


__ADS_2