
Seminggu berlalu.
Selma tidak pernah sekalipun membahas perihal perjodohan. Jean pikir, mungkin saat itu Selma hanya bergurau dengan temannya sehingga Jean pun merasa tenang dan tidak memusingkan hal itu lagi.
Lagipula tidak pernah sedikit pun terpikirkan olehnya bahwa Selma akan menjodohkannya dengan pria asing karena alasan Jean yang tidak pernah mengenalkan satupun pria pun kepada Selma sebagai kekasih. Konyol sekali.
Jean yang sedang melakukan kegiatan rutin weekend-nya dengan berolahrga pagi, mendudukkan dirinya di bangku taman. Mengistirahatkan diri sebentar.
Tiba-tiba pandangannya menangkap sesosok pria tidak asing yang berada di seberangnya. Pria itu mengenakan pakaian santai walaupun setelan jas masih melekat di tubuhnya. Di depan pria itu ada troli bayi. Jean menyipitkan pandangan, berusaha agar pandangannya jelas.
Itu Arshaka, kan? Sedang apa pria itu disana?
Terlalu lama memperhatikan Shaka, ia sampai tidak sadar bahwa Shaka pun menyadari keberadaan Jean di seberangnya.
Bisa dilihat olehnya saat ini Shaka melambaikan tangan ke arahnya. Jean sedikit gelagapan, merasa seperti tertangkap basah oleh Shaka karena sejak tadi ia memperhatikan pria itu.
Jean akhirnya menghampiri Shaka untuk sekedar menyapa. "Pagi, Tuan Shaka."
"Pagi. Duduk lah." Shaka mempersilahkan Jean duduk di sebelahnya.
Jean pun mendudukkan diri di samping Shaka, lalu menatap bayi yang berada di dalam troli.
Berbagai macam pertanyaan dan spekulasi bermunculan di kepala Jean. Siapa bayi itu?
"Tuan, apa dia keponakanmu?" Jean bertanya ingin tahu.
Shaka menggaruk belakang kepalanya. Tampak bingung ingin menjawab apa. "Bisa dibilang begitu."
Jean yang merasa tertarik, mendekatkan diri pada Shaka agar ia bisa melihat lebih jelas bayi itu. "Siapa namanya?"
"Aidan."
"Lucunya..."
Jean tidak menyentuh Aidan, namun Shaka dapat melihat binar di kedua mata gadis itu.
"Ngomong-ngomong, Tuan kenapa bisa ada disini?"
"Aku dan Ibuku sedang berkunjung ke rumah teman Ibuku." jawab Shaka.
Aidan memasukkan jempol kecilnya ke dalam mulut, Shaka dengan sigap menghalaunya.
"Kau sedang berolahraga?"
Jean mengangguk.
Shaka melihat jam di pergelangan tangannya lalu menatap Jean, "Ingin kembali bersama?"
"Ayo." Jean memimpin jalan. Shaka tersenyum kemudian menyusul Jean sambil mendorong troli.
__ADS_1
Kalau dilihat-lihat, mereka tampak seperti sepasang Suami-Istri muda yang tengah memiliki anak. Shaka sebagai Ayah yang baik tengah mendorong troli anaknya, sedangkan Jean sebagai Ibu menemani Shaka.
Shaka tersenyum miring.
Tunggu Aidan, sebentar lagi kau akan punya Mommy.
Shaka bukannya tidak tahu Jean tinggal di sekitar sini sebab saat ini pun Ibunya sedang berada di rumah gadis itu. Shaka dan Ibunya tiba di rumah Jean saat Jean sudah tidak ada di rumah, sebab itu Jean tidak tahu bahwa tujuan mereka saat ini sama. Yaitu rumah Jean sendiri.
Langkah mereka berhenti saat tiba di depan gerbang rumah Jean. Jean yang tentu saja tidak mengetahui tujuan mereka sama, berpamitan pada Shaka. "Aku sudah sampai. Sampai jumpa, Tuan Shaka."
Shaka mengerutkan dahinya, "Ini rumahmu? Ibuku juga sedang berada disini." kata Shaka. Tentu dengan akting pura-puranya.
"Benarkah?"
Shaka menunjuk mobilnya yang terparkir di dekat gerbang. "Itu mobilku."
Jean awalnya terlihat bingung, namun akhirnya ia mempersilahkan Shaka untuk masuk.
***
"Sudah kembali, Nak Shaka?"
Suara sambutan Selma menggema di ruangan itu. Ada wanita paruh baya di seberang Selma.
Apa wanita itu Ibu Shaka?
"Kalian kembali bersama?" Tanya Selma pada Shaka.
"Kami bertemu di Taman, Tante." Jawab Shaka sopan. Kemudian ia duduk di samping Haisa. Aidan sudah di ambi alih oleh Haisa sejak tadi.
"Ini Jean?" tanya wanita di seberang Selma, yang Jean yakini sebagai Ibu Shaka.
"Halo, Tante." Sapa Jean sopan.
"Wah, kau terlihat lebih cantik dan dewasa dari yang terakhir saya lihat." ujar Haisa.
Memangnya kapan mereka bertemu?
Sebab Jean merasa ini pertamakalinya mereka bertemu. Walau begitu, Jean tetap berterimakasih atas pujian yang di lontarkan Haisa. "Terimakasih."
"Masuk Jean. Mandilah dan ganti bajumu." ujar Selma pada Jean yang langsung di turuti oleh Jean. Jean segera berpamitan dan bergegas menuju kamarnya di lantai dua.
"Boleh aku menggendongnya, Haisa?" Ujar Selma ingin menggendong Aidan. Haisa menyerahkan Aidan ke dalam pelukan Selma.
"Uuuh.. lucunya.." Selma kepalang gemas melihat Aidan.
"Berapa usianya?"
"Dua bulan." Jawab Haisa.
__ADS_1
Selma menatap Aidan iba. "Jadi, kau sudah mengurus identitas Aidan?"
"Aku akan menjadikan Aidan anak angkat Shaka. Untuk sekarang Aidan di rawat olehku sampai Shaka memiliki istri nanti." jelas Haisa.
Selma mengangguk.
Sementara Shaka diam mendengarkan interaksi Haisa dan Selma. Sejujurnya, Shaka bahkan tidak mengetahui bahwa Ibunya berteman baik dengan Selma.
Haisa jelas tidak pernah berkumpul dengan Ibu-ibu sosialita. Haisa lebih suka di rumah. Memasak dan terkadang belanja untuk sekedar refreshing. Belum lama ini juga Ibunya itu berlibur dengan Ayahnya dalam kurun waktu yang cukup lama. Sekitar dua bulan. Lalu, bagaimana Haisa bisa mengenal Selma?
"Jadi, kapan Shaka akan melamar Jean?"
Pertanyaan dari Selma membuat Shaka kembali dari alam bawah pikirnya. Ah, benar. Pernikahan. Apa Jean sudah mengetahui tentang Shaka yang akan memiliki anak.
"Masalah Aidan tidak perlu di pikirkan, Nak Shaka. Serahkan semuanya kepada Mama. Biar Mama yang akan urus. Jadi, kau pikirkan saja kapan akan melamar Jean." ujar Selma. Selma tau, Shaka ragu sebab ada Aidan di antara mereka.
"Siapa yang akan melamar siapa, Ma?" Suara Jean membuat atensi mereka teralihkan padanya.
Jean sudah kembali dengan wajah segar dan pakaian santainya.
"Tentu saja kau, Jeannie." Selma menunjuk Jean.
"Aku?"
"Hei sayang, mau Mama putar kembali rekamannya agar kau mengingatnya?" Selma mencoba mengingatkan.
Jean masih dengan wajah syoknya menatap Selma tidak percaya. Jadi, ketenangan Jean selama seminggu kemarin tidak berarti apa-apa?
"De.. dengan siapa, Ma?" tanya Jean masih menatap Selma dengan raut wajah yang sama, syok.
Jean bahkan sampai tidak sadar mendudukkan dirinya di samping Shaka dengan posisi yang sangat dekat. Lengan mereka bahkan saling bersentuhan.
"Tentu saja dengan Nak Shaka."
Jean seolah baru sadar dari rasa terkejutnya saat pandangannya beralih pada Shaka di sampingnya dengan posisi yang sangat dekat. Buru-buru Jean menggeser duduknya, sedikit menjauh dari Shaka.
"Kau..." tunjuknya pada Shaka.
Shaka hanya diam, menatap Jean dalam.
"Bukankah kau beruntung akan menikah dengannya. Kau juga akan mendapatkan bonus loh, sayang."
Jean menoleh menatap Selma.
"Taraa...!" Selma menodongkan sedikit bayi yang ada di pelukannya. "Dia anak Shaka, namanya Aidan. Kau bukan hanya akan menjadi istri Shaka, tetapi juga Ibu dari Aidan." ujar Selma antusias.
APA?!
Jean ingin pingsan sekarang juga.
__ADS_1