
BRAK
"JEAN!"
Seorang gadis berperawakan tinggi dengan rambut pendek sebahu memasuki ruang rawat inap Jean dengan tergesa-gesa. Kepalanya celingukan mencari keberadaan Jean.
"Tidak perlu berteriak, Kayana. Aku disini."
Orang yang di carinya muncul dari dalam kamar mandi menggunakan pakaian santai. Di pelukannya terdapat seragam pasien yang di kenakannya semalam.
Kayana langsung bergegas menghampiri Jean, "Kenapa kau bisa disini? Mana yang sakit?" Dia bertanya heboh.
Jean menaruh baju pasien di keranjang dekat kamar mandi. "Aku sudah baik-baik saja. Hanya kelelahan."
"Benarkah?"
Jean merentangkan tangannya memperlihatkan kondisinya yang baik-baik saja. "Lihat. Aku oke."
Kayana dengan raut wajah masih menujukkan rasa ragu, akhirnya mengangguk pelan.
"Mana ponselku?" Jean menyodorkan tangannya meminta.
"Belum kunyalakan." ucap Kayana sambil menyerahkan ponsel Jean.
Jean menyalakan ponselnya dan menunggu sesaat.
Kayana yang masih merasa ragu, memperhatikan wajah Jean dengan lekat. "Bagaimana kau bisa sampai di bawa ke rumah sakit?"
Jean tersenyum, mengerti betul sifat sahabatnya. Jika masih ragu, Kayana akan bertanya terus-menerus sampai dia puas dengan jawabannya.
"Sebentar, aku ingin menghubungi seseorang."
Dilihatnya Jean menunduk fokus pada ponselnya, Kayana mencebik. Duduk di atas brankar di sebelah gadis itu.
"Nomor yang ada tuju sedang di alihkan. Silahkan—"
Satu, dua, tiga kali Jean menghubungi Shaka namun tidak ada jawaban dari pria itu.
Apa dia sibuk ya? Padahal ini kan sudah jam makan siang.
Baru saja Jean akan memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket, ponselnya berdering.
Arshaka memanggil.
"Halo."
"Halo, Jean. Bagaimana keadaanmu?" Terdengar suara Shaka diseberang sana.
"Aku baik-baik saja. Tuan, apa kau sibuk?"
"Hei, kemarin kau berani memanggilku tanpa 'Tuan', kenapa kembali memanggilku seperti itu. Jangan terlalu formal padaku, panggil Shaka saja."
"Baiklah," Jean menurut. "Emm.. Shaka, bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik."
Kayana mengernyit mendengar nama Shaka. Apa Shaka yang Jean maksud adalah Arshaka yang Ezar ceritakan kemarin?
__ADS_1
"Bagaimana dengan para pria itu?" tanya Jean dengan nada hati-hati. Takut Shaka kembali emosi mengingat kejadian semalam.
Ketahuilah, Kayana diam. Namun, telinganya mendengarkan dengan cermat.
"Mereka sedang di kantor polisi."
Jean menghela napas, lega.
Shaka di seberang sana terkekeh. Sepertinya pria itu mendengar helaan napas Jean. "Apa kau pikir aku akan membunuh mereka?" suara Shaka terdengar jenaka disana.
"Bu.. Bukan begitu,"
"Aku mana sempat membunuh mereka sementara kau pingsan sambil memelukku, Jean?"
Sontak ke dua pipi Jean memerah mendengar kata 'pelukan'. Astaga, apa saat itu dia terlalu implusif?
Berdehem sekali, berusaha menetralkan rasa gugup yang tiba-tiba melandanya lalu dia berucap, "Terimakasih telah membawaku ke rumah sakit."
"Iya. Maaf aku belum sempat menjenguk."
"Tidak. Maksudku, tidak apa-apa. Aku sudah baik-baik saja. Bahkan sekarang aku sudah di perbolehkan pulang." Jean menjelaskan.
"Baiklah, aku akan mengunjungimu akhir pekan nanti. Kau bilang ada yang ingin kau bicarakan denganku, kan?"
"Iya."
"Aku akan menghubungimu kembali nanti. Aku tutup, ya. Sampai jumpa."
"Sampai jumpa."
Jean menjauhkan ponselnya dari telinga. Kayana di sebelahnya dengan segera bergeser, mendekatinya lalu berkata, "Jelaskan."
Mendengar suara Kayana yang begitu dekat dengan telinganya, membuat Jean sontak terkejut.
Kayana menggenggam ke dua tangan Jean sambil di gerakkan ke kanan-kiri. "Jelaskan padaku, Jean. Aku yakin semalam sesuatu terjadi padamu."
"Iya-iya. Akan aku jelaskan, berhenti dulu."
Kayana dengan sigap melepaskan genggaman tangannya kemudian diam menyimak mendengar cerita Jean.
"Jadi kau hampir di lecehkan dan di kejar oleh para pria hidung belang, lalu kau hampir tertabrak mobil Shaka dan berakhir kau di tolong olehnya lalu kemudian pingsan?" Kayana bertanya ingin memperjelas.
"Kurang lebih seperti itu."
"Kau juga menunggu Shaka di kafe dalam waktu tiga jam lebih?" Kini nada bicara Kayana sudah naik satu oktaf.
"Iya."
Kayana menatap Jean takjub, "Waah! Bagaimana bisa kau menunggu selama itu tanpa kepastian?"
Sejujurnya, Jean pun bingung. Saat itu dia hanya berpikir akan menunggu Shaka karena dia percaya pria itu pasti akan datang walaupun terlambat. Sialnya, ponselnya tertinggal di rumah Kayana dan dia tidak bisa mendapatkan kabar satu pun dari Shaka sehingga dia terus menunggu tanpa kepastian, sampai kafe tutup.
"Shaka yang kau bicarakan ini, Arshaka Virendra yang Ezar ceritakan kemarin, kan?"
Jean mengangguk.
Kayana berdecih, "Cih, pantas kau rela menunggunya hingga tiga jam lebih." ujarnya menatap Jean tidak habis pikir.
__ADS_1
Jean yang mengerti ucapan sahabatnya itu dengan cepat mengelak, "Bukan seperti itu."
"Lalu apa?"
"Saat itu aku ada sesuatu hal penting yang ingin di bicarakan dengannya." Jean berusaha menjelaskan.
Kayana melipat tangannya di dada. Memandang Jean dengan pandangan menelisik, "Kau... Ada hubungan apa kau dengannya?"
Jean menggeleng cepat,
Sudah terlanjur curiga, Kayana semakin curiga saja melihat respon Jean. "Katakan, kau ada sesuatu dengannya, kan?"
Jean menggaruk pelipisnya, bingung ingin memberitahu Kayana tentang perjodohannya dengan Shaka atau tidak. Karena bagaimana pun, dia masih meyakini bahwa perjodohan itu belum pasti alias main-main.
Padahal kenyataannya tidak, Jean.
"Aku belum bisa mengatakannya sekarang. Tunggu sampai semuanya jelas, aku janji akan memberitahumu." kata Jean.
"Kenapa sampai seperti itu? Hubunganmu dengan Shaka serumit itu, ya?" Kayana masih dengan rasa curiganya.
"Bukan begitu, Kay. Pokonya aku akan memberitahumu saat waktunya tepat. Sudah, jangan bertanya lagi."
Jean menyerah, kehabisan kata-kata.
Kayana yang mendengar itu, mendengus. Dia pun tidak memaksa Jean lagi untuk menjelaskan. Tampaknya memang hubungan Shaka dan Jean cukup rumit. "Baiklah. Ingat, aku akan menagih janjimu."
"Ya, ya. Aku akan menjawabnya kalau aku pun sudah mendapatkan jawabannya."
***
"Kosongkan jadwalku untuk akhir pekan ini. Aku tidak ingin ada rapat dadakan atau apapun itu." Perintah Shaka pada Delvin. Saat ini mereka baru saja keluar dari restaurant Jepang, baru saja selesai meeting bersama client disana.
"Baik, Bos."
Delvin berjalan di samping Shaka menuju basement.
"Bagaimana perkembangan kasus mereka?" tanya Shaka setelah masuk ke dalam mobil.
"Sedang di urus oleh pengacaraku."
"Aku ingin mereka di hukum dengan seberat mungkin bagaimana pun caranya." kata Shaka sambil melonggarkan dasinya.
"Akan di usahakan, Bos."
"Aku tidak ingin mendengar jawaban tidak meyakinkan seperti itu."
"Baik, Bos. Aku akan segera menghubungi hakim agar mereka di berikan hukuman seberat-beratnya." ujar Delvin.
"Bagus."
Shaka menyeringai. Biar mereka di hukum seberat mungkin karena sudah berani menyentuh gadisnya. Kalau perlu saat mereka keluar dari sel, Shaka akan kembali menghabisi mereka dengan ke dua tangannya.
Tidak ada yang tahu sisi gelap Arshaka Virendra. Semua orang hanya tahu Shaka adalah CEO yang baik, sopan, dan ramah. Bahkan terkadang terlihat begitu easy going terhadap para karyawannya.
Ketahuilah bahwa Shaka dari luar memang terlihat petakilan, juga cengegesan. Namun, ketika dia di sentuh, terlebih 'milik' nya di sentuh, Shaka akan berubah 180 derajat, dan tentu tidak akan pernah melepaskan mangsanya begitu saja.
***
__ADS_1