
Jean mematut dirinya di depan cermin. Memoles wajahnya sebaik mungkin, pakaian yang di kenakannya pun pakaian yang menurutnya sangat sopan. Jean bahkan hampir menghabiskan waktu setengah jam untuk mencari pakaian tersebut agar penampilannya terlihat bagus di depan Ayah Shaka nanti.
Tidak, bukan hanya Ayah Shaka karena Shaka akan membawanya ke Mansion besar keluarga Altair. Kemungkinan bukan hanya ke dua orang tua Shaka yang berada disana. Siapa tahu ada Kakek, Nenek, Buyut, Kakak perempuan Shaka yang di ketahuinya sudah menikah, Tante, Om, Bibi, Paman.
Sungguh, Jean terlihat rendah diri sekarang padahal biasanya dia tipikal orang yang penuh percaya diri.
Apa bertemu dengan calon mertua sangat menggugupkan seperti ini? Bagaimana kalau Ayah Shaka tidak menyukaiku? Tuan Ivan memang memberikan restu padaku, seperti kata Shaka saat itu, tetapi Tuan Ivan belum pernah sekali pun bertemu denganku. Bagaimana jika saat bertemu denganku, Tuan Ivan tidak menyukainku?
Jean jadi berpikir yang tidak-tidak.
Tiba-tiba Jean teringat perkataan Kayana semalam. Semalam dia dan Kayana memang membicarakan tentang perjodohannya dengan Shaka. Tentang betapa pentingnya sebuah restu, juga sikap kepada mertua.
Kayana bilang, tipe mertua itu bermacam-macam. Ada yang baik dan penyayang, ada juga yang memberikan restu tetapi membuat sang menantu tersiksa dengan membuatnya kerepotan meminta ini-itu. Jean bukannya berprasangka buruk kepada ke dua orang tua Shaka.
Tetapi, Jean tidak salahkan memikirkan hal ini kembali? Apalagi yang dia tahu Tuan Ivan berkepribadian dingin dan otoritas, bagaimana jika Jean di perlakukan dengan tidak baik seperti di novel-novel yang dia baca?
Tidak. Tidak mungkin seperti itu. Shaka saja yang anaknya sangat ramah dan sering tersenyum. Pasti pria itu menuruni salah satu sifat Ayahnya, kan?
***
Membutuhkan waktu satu jam untuk Jean bersiap-siap. Tentu dengan kemelut di benaknya yang tidak ada habisnya.
Jean menuruni undakan tangga. Menemukan Shaka kini sedang duduk di sofa ruang keluarganya sambil memainkan ponselnya.
“Biar aku yang maju, kau jaga di belakang.” Suara berat Shaka terdengar.
Jean mendekati pria itu. Dia tertegun sejenak. Rupanya Shaka tengah asik bermain game bersama teman onlinenya.
“Aslan, kau jangan bertingkah. Sudah kubilang biar aku saja!” Shaka terdengar kesal.
Jean berdiri tidak jauh dari Shaka. Memperhatikan sebentar Shaka yang masih asik dengan dunianya kemudian menghampiri pria itu.
“Shaka.” Panggilnya.
“Tunggu, sebentar.” Ujar Shaka tanpa menoleh.
Baiklah, Jean akan menunggu Shaka selesai dengan gamenya. Dia mendudukkan diri di sebelah Shaka.
Hening.
“Aku pamit ke teman-temanku dulu, ya.” Ucap Jean.
Shaka tidak menjawab. Jean yang mengerti pria itu sedang asik dengan dunianya, memilih berjalan menuju halaman belakang saja. Bertemu dengan teman-temannya yang sepertinya masih di belakang karena dia mendengar suara Eshan tertawa disusul dengan teriakan Kayana dan Ezar yang seperti tengah bergurau.
“Kayana.” Panggil Jean.
__ADS_1
Kayana menoleh. Diikuti Ezar dan Eshan.
“Mau kemana, Kak?” Eshan bertanya. Memang adiknya ini sejak dulu selalu yang paling awal bertanya ketika mendapati Jean berpakaian rapih.
“Ke rumah Tuan Ivan.” Jawab Jean.
“Maksudmu Ayah Shaka?” Kayana bertanya, di jawab anggukan oleh Jean.
“Bertemu calon mertua rupanya, ya.” Ucap Eshan menggoda Jean. Entah darimana adiknya itu sudah mengetahui bahwa Jean akan menikah dengan Shaka, apa dari Selma atau dari mulut Shaka sendiri.
“Aku pamit. Maaf meninggalkan kalian di rumahku.”
Ezar merangkul pundak Jean. “Pergilah. Ada adikmu disini yang akan menemani kami.”
“Baiklah. Kalau kalian akan pulang, jangan lupa kabari aku.”
“Oke.”
Setelah berpamitan kepada teman-teman beserta adiknya, Jean kembali ke ruang keluarga.
Tampak Shaka masih menunduk bermain ponsel. Tampaknya pria itu belum selesai dengan gamenya.
Sepuluh menit kemudian.
“Yes!” Shaka berseru dengan sambil mengepalkan tangannya ke atas. Game berakhir dengan Shaka sebagai pemenang.
“Sejak kapan kau disini?” tanyanya masih dengan raut terkejut.
“Sekitar lima belas menit yang lalu. Sepertinya.”
Shaka merubah raut wajahnya menjadi lebih tenang. “Maaf, aku terlalu fokus sampai tidak menyadari keberadaanmu.”
“Tidak apa-apa.”
“Kita berangkat sekarang?”
Jean mengangguk.
“Ah, dimana Mama Selma? Aku belum bertemu dan meminta ijin padanya.” Tanya Shaka karena memang sejak dia masuk ke rumah Jean, tidak menemukan Selma dimana pun.
“Mama pagi-pagi sekali sudah pergi ke sanggar senam. Kemungkinan akan pulang siang hari.” Jean menjelaskan.
“Begitu, ya. Baiklah aku akan menghubunginya nanti untuk berpamitan.” Kata Shaka seraya berjalan menuju pintu depan.
“Iya.”
__ADS_1
***
Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di Mansion keluarga Altair.
Jean tertegun sejenak. Merasa pertama kalinya dia melihat Mansion sebesar ini.
Rumah dengan gedung berukuran besar dengan tiga lantai dan halaman yang sangat luas. Bahkan jarak dari pagar menuju rumah besar itu lumayan jauh. Belum lagi dia di manjakan dengan pemandangan alam yang sangat menyejukkan mata di sepanjang jalan sejak mereka memasuki pagar.
Jadi Mansion itu seperti ini, ya.
Jean masih tertegun dengan pandangan menuju ke luar jendela mobil. Tidak menyadari Shaka sudah menghentikan mobilnya.
“Jean. Ayo turun.” Panggil Shaka karena yang dilihatnya Jean masih diam saat dia sudah melepaskan seatbelt.
“Ah, iya.” Jean tersadar, buru-buru membuka seatbelt yang melingkari tubuhnya kemudian menarik nafas dalam. Mendadak dia merasakan deguban jantungnya yang berdebar.
Shaka tersenyum melihat kegugupan Jean. Lalu turun dari mobil lebih dulu diikuti Jean.
“Ayo.”
Shaka mengulurkan tangannya, meraih telapak tangan Jean lalu menggenggamnya erat. Mereka berjalan menaiki undakan tangga sebelum akhirnya pintu besar rumah Shaka terbuka. Tampak beberapa pelayan menyambut ke datangan mereka sembari berbaris saling berhadapan.
Tinggal karpet merahnya saja belum di bentangkan.
Jean menahan senyumnya, entah kenapa hal itu membuatnya tersenyum geli. Sejenak, dia melupakan akan bertemu Ivan yang sejak tadi di khawatirkannya, sampai akhirnya suara bariton menyadarkannya kembali ke realita yang harus di hadapinya.
“Kau sudah kembali.”
Ivan berjalan dengan sambil menyeruput kopinya dengan santai. Melewati mereka lalu duduk di salah satu sofa di ruang tamu.
“Kalian, duduklah.”
Jean dan Shaka duduk di seberang Ivan. Bisa di rasakan oleh Shaka, telapak tangan Jean yang basah.
“Ini Jean?” Ivan bertanya memandangi Jean.
Jean langsung berdiri, menyapa Ivan dengan sopan. “Selamat pagi, Tuan Ivan.”
Shaka yang melihat itu terkekeh. Betapa Jean sangat terlihat gugup saat ini.
Ivan mengibaskan tangannya, menyuruh Jean kembali duduk. “Duduklah, santai saja.”
Jean mendudukkan diri kembali dengan perlahan. Masih dengan raut wajah gugup.
Dua orang pelayan datang menaruh beberapa cemilan serta minuman dingin.
__ADS_1
“Sebelumnya aku ingin bertanya, apa kau tau Shaka memiliki anak?” Tanya Ivan dengan raut wajah serius.