
Ola mengerjapkan matanya. Menyesuaikan pencahayaan yang menyinari ruangan serba putih itu.
"Sudah sadar?"
Suara berat Shaka membuatnya menoleh. Pria berperawakan tinggi tegap itu datang dari arah pintu luar. Jaket yang semula di pakenya, dia lepas menyisakan kemeja dan celana bahan hitam.
"Shaka, kita dimana?" Tanya Ola belum menyadari situasinya.
Ola mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Menyadari bahwa dia kini berada di sebuah kamar mewah tepat berada di pinggir kasur.
Ola menggerakkan tubuhnya ingin menoleh ke belakang, matanya membulat saat baru menyadari bahwa dirinya tengah terikat.
"Sha.. Shaka! Kenapa aku di ikat seperti ini?" Seru Ola dengan raut wajah terkejut.
"Kau baru sadar? Dasar bodoh." Shaka berdecih sinis. Tangannya menaikkan lengan kemejanya sampai siku. Menampilkan otot-otot lengannya yang kekar.
"Shaka, kenapa kau mengikatku seperti ini? Apa salahku?" Tanya Ola dengan nada marah sekaligus panik.
"Salahmu? Apa perlu ku jabarkan?" tanya Shaka sambil menggeser kursi lalu duduk agak jauh tepat di hadapan Ola.
Ola mencoba mengingat-ingat dimana salahnya. "Apa kau marah karena aku menciummu?"
"Itu salah satunya." Shaka berucap dingin.
"Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Tapi, bukankah kita akan menghabiskan waktu bersama? Berciuman hanyalah hal kecil yang akan kita lakukan."
Shaka terkekeh, "Hal kecil kau bilang? Kau telah mengotori bibir ku, Fayyola!"
"Mengotori? Bukankah itu terlalu berlebihan?" Ola menunjukkan protesnya merasa tidak terima karena Shaka menganggap bibirnya kotor.
"Berlebihan? Tubuh kotormu bahkan hanya hal kecil di bandingkan dengan kau yang sudah berniat membunuh calon istriku." Kata Shaka. Auranya bahkan sudah menggelap dengan sorot mata yang tajam.
Ola membulatkan ke dua matanya. Tubuhnya mulai bergetar. Peluh mulai muncul di sekitar keningnya.
"A—Apa maksudmu, Shaka?" Ola bertanya dengan nada biasa berusaha membuat seolah dia tidak mengetahui apapun.
"Apa aku perlu mengatakannya lagi?"
Ola menggeleng, "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Aku tau kalau Jean masuk rumah sakit dari berita di televisi."
__ADS_1
"Delvin," Shaka memanggil Delvin yang berada di dekat pintu.
"Ya, Bos?"
"Apa ada reporter yang meliput kecalakaan tunanganku?" tanyanya.
"Aku sudah memastikan tidak ada reporter atau berita manapun yang meliput kecelakaan Nona Jean." Kata Delvin tegas.
Shaka kembali menatap Ola. "Kau mendengarnya."
"Delvin pasti salah. Aku melihat dari salah satu stasiun televisi yang menayangkan berita tentang Jean." Tukas Ola kembali.
"Kau meragukan asistenku atau kau sedang berkilah?" Tanya Shaka dengan ke dua tangan terlipat di dada.
"Nyalakan, Vin." Ucapnya pada Delvin.
Layar televisi yang berada tidak jauh di samping Ola menyala. Menampilkan sebuah rekaman cctv di depan rumah sakit jiwa Harapan Abadi. Tampak seorang wanita berpakaian serba hitam dan tertutup bersama dengan dua orang pria dewasa.
Ola membulatkan ke dua matanya melihat itu. "Itu bukan aku. Wanita itu menggunakan masker dan kacamata hitam. Bagaimana bisa kau mengira itu adalah aku?"
Layar kembali berubah, menampilkan rekaman cctv di koridor rumah sakit ketika wanita berpakaian serba hitam itu membuka masker dan kacamata hitamnya.
"Kau tidak mengelak? Padahal aku menunggumu mengelak." Ucap Shaka.
Ola terdiam dengan ke dua tangan bergetar.
"Katakan padaku, kenapa kau mencelakai tunanganku?" tanya Shaka dengan nada rendah.
Ola diam. Tidak menjawab.
"Meinka. Meinanda Karen...," Ucap Shaka. "...,Kau bersembunyi di balik nama Karen yang sedang sakit untuk mencelakai tunanganku."
"KAU TELAH MEMBUAT HIDUP SEPUPUKU HANCUR!" Ola tiba-tiba berteriak. Ke dua matanya memerah, emosi.
Shaka menaikkan alisnya. "Apa maksudmu?"
"Karen adalah sepupuku. Mantanmu setelah aku! Hidupnya hancur karenamu!" Seru Ola dengan nada bicara yang masih tinggi.
Shaka terdiam. Membiarkan Ola mencurahkan segala emosinya.
__ADS_1
"Karena kau sepupuku gila! Dia di lecehkan oleh musuhmu tepat saat dia baru putus denganmu. Pria bajingan itu mengira Karen masih menjadi kekasihmu dan melecehkannya agar kau terpuruk dan hancur. Lalu dia menikah dengan bajingan itu karena orang tuanya menuntut untuk di nikahkan oleh pria itu...,"
"...,Hidupnya berantakan karena pria itu selalu menyiksanya pagi dan malam. Siksaan fisik maupun verbal. Semakin hancur dan berantakan lagi saat dirinya mengetahui bahwa dia hamil anak pria br3ngsek itu. Dia di siksa selama kehamilannya sampai dia depresi dan kehilangan kewarasannya tepat saat pria itu meninggalkannya. Betapa malangnya hidup sepupuku. Dan itu semua karenamu, Arshaka!" Ola menatap Shaka marah. Wajahnya merah padam dengan tatapan nyalang.
Shaka diam. Mematung mencerna ucapan Ola.
"Kenapa kau diam, hah? Kau bersenang-senang dengan tunanganmu, sementara sepupuku mendekam di rumah sakit jiwa karena ulah musuhmu! Kau yang seharusnya bertanggung jawab atas ulau musuhmu! Karena kau, hidup sepupuku hancur!" Ucap Ola dengan menggebu-gebu.
"Kau tadi bertanya kenapa aku mencelakai Jean?" Ola tertawa sini, "Seperti sepupuku yang di hancurkan karena pria br3ngsek itu yang ingin menghancurkanmu, kini giliran Jean yang aku hancurkan supaya kau hancur seperti sepupuku."
Ola menggeleng, air matanya menetes. "Tapi sayang sekali, tunanganmu tidak mati. Padahal aku berharap tunanganmu mati mengenaskan, dan berakhir kau gila. Hahaha..." Ola tertawa miris.
Shaka mengepalkan tangannya mendengar perkataan Ola. Tatapan matanya menghunus tajam. "Jean tidak ada urusannya antara aku dan kalian."
"Bukankah sama seperti kau dan musuhmu? Karen tidak ada urusannya dengan kalian tetapi dia yang menjadi korban." ujar Ola sinis.
"Ah, aku masih menyayangkan kita tidak tidur bersama. Kalau kita tidur bersama pasti tunanganmu akan nangis darah lalu gila, kan?" Ola tertawa. Membuat dirinya terlihat seperti orang yang tidak waras.
Ola memalingkan wajah, menatap Delvin. "Delvin, apa kau sudah memberitahu Shaka bahwa Aidan adalah anak Karen?"
Shaka membulatkan matanya, terkejut. "Apa katamu?"
"Asistenmu sudah lama mengatahui asal usul anak angkatmu. Bukankah seharusnya kau curiga pada Asistenmu?"
Shaka menoleh menatap Delvin tajam.
"Aidan, anak yang telah kau angkat adalah anaknya Karen dan aku yang telah menyuruh orang dalam rumahmu untuk membawa bayi itu ke kediamanmu. Sepertinya Asistenmu tidak memberitahumu, ya?" Ujar Ola sinis.
"Bagaimana jika aku menyebarkan rumor bahwa CEO Perusahaan besar Altair menghamili seorang gadis sampai membuatnya hilang kewarasannya. Sepertinya menarik."
Mendengar itu, Shaka kembali memusatkan perhatiannya kepada Ola. "Lakukanlah." Ucapnya tenang.
Ola terkekeh sinis, "Serius? Haha.. Sepertinya kau tidak benar-benar mencintai tunanganmu, ya? Jelas sih, tunanganmu sekarang sudah cacat. Tidak berguna dan sebaiknya di buang."
Shaka masih berusaha tenang mendengar tunangannya di hina.
"Lakukanlah. Sebelum itu, kau bersiap-siap hidup selamanya di dalam jeruji besi."
...****************...
__ADS_1