
Sore hari tepatnya pukul lima, Shaka dan Jean dalam perjalanan pulang menuju kediaman Avveroes. Dua jam yang lalu,Selma menyuruhnya untuk segera kembali. Dan disinilah mereka berada dalam perjalanan pulang ditengah gerimis hujan sore itu.
"Apa mataku masih terlihat bengkak?" Jean memajukan wajahnya sedikit agar Shaka bisa melihatnya dengan jelas.
Shaka menoleh sebentar lalu kembali memusatkan perhatian pada kemudinya. "Sudah lebih baik."
"Benarkah?" Jean berkaca menggunakan kaca yang terdapat di bedak padat miliknya. "Padahal sudah ku kompres menggunakan sendok dingin." gumamnya pelan.
Melihat bedaknya sendiri, Jean teringat dengan bedak yang di tinggalkan Ola di mobil Shaka. Dia menunduk ke bawah, mencari-cari dimana bedak Ola di tinggalkan oleh wanita itu. Jean melihat-lihat di dashboard mobil, namun tidak di temukannya.
"Mencari apa?" Tanya Shaka.
"Bedak Ola."
"Ada di laci dashboard. Aku menemukannya saat di basemant tadi." Ujar Shaka. Saat mengambil mobil di basemant dia tidak sengaja melihat benda berbentuk bulat berwarna putih di bawah kursi penumpang. Shaka yang kala itu penasaran, memungutnya dan menyadari bahwa benda itu adalah bedak padat yang kemungkinan milik Ola seperti yang dikatakan Jean kemarin.
Jean membuka laci dashboard dan mendapati bedak padat berkemasan warna putih gading. "Dia benar-benar sengaja meninggalkannya, ya." gumamnya.
"Hm."
"Menurutmu alasannya apa?" tanya Jean.
"Bisa saja bedak itu benar-benar tertinggal di mobilku." ucap Shaka yang tampak berusaha positive thinking.
Jean yang memang sudah terlanjur curiga tidak bisa berpikir positif seperti Shaka. Terlebih Jean paham dengan jelas perubahan wajah Ola dan tingkah laku Ola yang terlihat aneh. Jangan lupakan Jean yang sebentar lagi akan lulus psikolog. Dia tentu mempelajari tentang manusia, mencakup perilaku dan juga jiwa yang mempengaruhi perilaku tersebut.
Bukannya Jean berprasangka buruk pada Ola, namun bagaimana bisa Jean tidak berprasangka buruk pada wanita itu jika perubahan Ola terlihat begitu jelas terlebih di depan matanya.
Suara ponsel Shaka yang tergeletak di dashboard memecah keheningan.
"Tolong angkat."
Jean menurut, mengambil ponsel Shaka lalu menggeser tombol hijau di layar. "Speaker." titah Shaka.
Jean menurut lalu memencet tombol speaker.
"Halo, bos." sapa Delvin dari seberang sana.
Jean mendekatkan ponsel Shaka ke hadapan pria itu sambil terus memeganginya.
"Ya."
"Kau sedang dimana? Aku ingin membahas tentang Ola dan Karen."
"Bicaralah." ucap Shaka tanpa niat menyembunyikan apapun dari Jean.
"Aku mendapatkan informasi bahwa Karen adalah sepupu Ola yang sebelumnya tinggal di Kanada. Awalnya mereka berhubungan baik, namun entah kenapa sejak dua tahun yang lalu hubungan mereka renggang tepatnya setelah bos menjalin hubungan dengan Karen."
"Lanjutkan."
__ADS_1
"Karen dimasukkan ke rumah sakit jiwa oleh Ola sendiri dua bulan yang lalu."
"Baiklah. Kita bahas lebih lanjut besok di kantor."
"Baik, bos."
Sambungan mati. Shaka menyadari tatapan Jean yang terarah padanya dengan raut penuh tanda tanya. Shaka menginjak pedal rem dengan perlahan saat di depannya rambu lalu lintas berwarna merah.
Shaka tesenyum tipis melihat Jean masih dengan raut bingungnya, "Kepalamu penuh, ya?"
Jean menetralkan ekspresinya, kemudian berucap. "Apa kau senang menjalin hubungan dengan wanita yang masih satu silsilah keluarga?"
Ucapan Jean sontak membuat Shaka terkekeh. "Aku tidak tahu bahwa mereka masih dalam satu silsilah keluarga, Kau mendengarnya juga tadi, kan."
"Jadi, Karen mantanmu ke berapa?"
"Tiga."
Jean mengangguk mulai berspekulasi bahwa ada pertengkaran keluarga memperebutkan satu pria.
"CLBK." gumam Jean pelan.
Shaka mulai menjalankan kembali mobilnya. "Hm?"
"Cinta lama belum kelar."
"Siapa?"
Shaka tertawa sinis, "Aku bahkan tidak pernah menyukainya."
"Lalu untuk apa kau berpacaran dengannya?" Tanya Jean penasaran. Pasalnya Shaka selalu mengelak jika dia berbicara tentang hubungan kasih antar pria itu dan Ola di masa lalu seolah Shaka hanya bermain-main dan tidak pernah menganggap serius. Seperti playboy.
"Ceritanya panjang. Aku akan menceritakannya saat kita sudah menikah nanti." jawab Shaka sekenanya.
"Apa hubungannya dengan ketika sudah menikah? Bukannya sama saja?" Tanya Jean yang sudah sangat ingin tahu.
Shaka hanya tersenyum tipis, cerita yang akan dia ceritakan adalah tidak jauh pasti ada sangkut pautnya dengan Jean mengingat alasan konyolnya berganti-ganti wanita adalah untuk mencari pengalaman saja.
"Nanti, ya." ucap Shaka dengan nada lembut seraya mengelus puncak kepala Jean.
***
Selma membuka pintu rumah ketika terdengar suara bel dari pintu depan. "Kalian sudah sampai. Ayo, masuk dulu."
Jean melangkah masuk diikuti Shaka di sebelahnya. Sampai di ruang tamu, Selma membalikkan tubuhnya menghadap mereka berdua.
"Kalian belum makan, kan? Makan malam dulu, ya." tawar Selma. Pandangannya mengarah pada ke dua mata putrinya yang terlihat aneh, seperti membengkak. "Ada apa dengan ke dua matamu, Jean?"
Dengan cepat Jean mengusap kelopak matanya, "I-ini-"
__ADS_1
"Shaka, kau membuat Jean menangis?" Tuduh Selma menatap tajam Shaka. Berpikir mungkin Shaka menyakiti putrinya hingga membuat ke dua mata putrinya terlihat bengkak seperti ini. Selma yakin, Jean tidak menangis dalam waktu yang sebentar.
"Bukan seperti itu, Ma."
"Kami menonton film bersama. Jean menangis karena filmnya sangat menyayat hati." Shaka membantu menjelaskan.
Tatapan tajam itu melembut, berganti menatap Jean dengan raut tidak habis pikir. "Menonton film rupanya. Anak ini memang kalau menonton film seolah dirinya sendiri yang menjadi pemeran wanita. Ck,ck,ck." Selma berdecak.
Shaka dan Jean merespon dengan tertawa canggung mengingat ada banyak kejadian yang terjadi kemarin sampai hari ini.
"Yasudah, ayo masuk dulu. Ada Gavi di dalam."
Mereka mengikuti langkah Selma menuju dapur. Tiba-tiba muncul Gavi dengan membawa sebotol es yang Jean yakini adalah es kopi susu.
"Hai, keponakan Paman." Gavi menyapa. "Oh, Ada Shaka juga."
Shaka menunduk sedikit, menyapa dengan sopan.
Gavi menyodorkan botol yang berisi es kopi susu itu pada Jean yang langsung di seruput oleh gadis itu. "Paman habis dari luar?"
"Iya." Jawabnya sembari berjalan menuju meja makan.
"Tidak beli martabak?" Jean duduk di seberang Gavi.
"Paman mana tahu kau akan pulang sore," ujar Gavi lalu menyeruput minumnya. "Jadi, Shaka kau sudah menentukan tanggal?" tanyanya pada Shaka.
"Minggu depan, Paman." kata Shaka yang duduk di sebelah Jean.
Selma yang tengah menaruh beberapa lauk di meja makan di bantu dengan Bi Tuti;satu-satunya pembantu di rumah itu, menatap Shaka dengan sumringah. "Secepat itu? Wah, kalian sudah sangat tidak sabar, ya?"
Shaka dan Jean tersenyum malu menanggapi.
"Kemarin-kemarin Jean seperti orang kalang kabut mendengar akan di jodohkan. Sepertinya sekarang malah dengan senang hati, ya." Goda Selma pada Jean yang di balas pelototan oleh gadis itu.
"Bukan seperti itu-maksudku.." ucap Jean terbata, tampak bingung bagaimana merespon ucapan sang Mama.
"Kalian bahkan sudah bermalam bersama."
Gavi bersorak, "Wah, sudah sejauh itu? Walaupun kalian berdua akan menikah, tetapi kalian masih tidak di perbolehkan tidur bersama, loh."
"Tidak. Kami tidak tidur bersama." sahut Jean cepat.
"Benarkah."
Jean mengangguk.
"Lalu Shaka tidur dimana?" Tanya Selma.
"Dia di sofa depan ruang tamu." Kata Jean.
__ADS_1
"Ya ampun, kasihan sekali calon menantuku ini. Sabar, ya, Nak." Selma mengusap kepala Shaka dengan sayang yang di balas senyuman tipis oleh Shaka.