PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Dendam


__ADS_3

"Jeannie!"


Seruan itu membuat Jean yang tengah mengobrol dengan Haisa menoleh terkejut. Gadis itu duduk bersandar di kepala ranjang.


Shaka dengan penampilan rambut yang sedikit acak-acakan menarik perhatiannya.


Apakah Pria ini lari tadi?


Shaka melangkah, mendekati Jean dengan langkah besar. Langsung memeluk tubuh gadis itu dengan erat, melupakan bahwa tubuh gadisnya masih banyak luka.


"Aakhh..."


Shaka segera melepaskan pelukannya, tersadar setelah mendengar Jean meringis.


"Maaf, maafkan aku. Mana yang sakit?" Pria itu bertanya panik sambil meneliti tubuh Jean.


Jean menepuk telapak tangan Shaka di lengannya, "Tidak apa-apa...," Tangannya menunjuk rambut Shaka yang sedikit berantakan. "..., Kau berlari?"


Pria itu segera merapikan rambutnya, "Ah, Iya."


"Ekhem..."


Deheman seseorang membuat atensi Shaka teralihkan. Dia menatap sang Ibu yang kini berada di belakangnya.


"Eh, Ibu." Shaka menampilkan cengiran polosnya menatap sang Ibu yang sempat di lupakannya.


"Dimana Delvin?" tanya Haisa karena tidak melihat adanya Delvin. Dia curiga Shaka membawa mobilnya sendiri mengingat putranya itu ketika sedang dalam kondisi 'genting' seperti sedang kehilangan akal. Menyetir dengan ugal-ugalan walaupun dia sudah memperingatinya, tetap saja Haisa tidak sepenuhnya percaya pada putranya itu.


"Dia di luar."


Haisa menghela napas, lega.


"Yasudah, Ibu mau pamit dulu. Aidan di rumah hanya bersama dengan Ayahmu. Ibu takut Ayahmu kualahan." ucap Haisa pada Shaka.


"Iya, Bu."


"Jean, Ibu pamit, ya. Kau baik-baiklah dengan anak ini." ucap Haisa berpamitan. Jean membalas dengan tersenyum, "Iya, Bu. Hati-hati, ya."


"Ibu akan membawa Delvin pulang. Kasihan anak itu sudah kerja dari pagi sampai larut seperti ini belum juga pulang." Haisa mengeluarkan kunci mobil dari tas kecilnya. "Ini kalau kau ingin pulang."

__ADS_1


Shaka menerima kunci itu. "Hati-hati, Bu."


Haisa mengangguk, kemudian berlalu dari sana. Tersisa Jean dan Shaka dalam keadaan hening.


Shaka mendekati Jean dan mendudukkan diri di sisi kasur brankar yang kosong. Tangannya terangkat, mengusap kepala Jean. "Sudah makan?"


"Sudah." Jawabnya, kemudian dia tiba-tiba teringat bahwa hari ini seharusnya adalah hari pernikahannya. "Shaka..."


"Hm?"


"Hari ini..." Ucap Jean menggantung.


Shaka tersenyum mengerti apa yang akan di ucapkan oleh Jean. "Tidak apa-apa."


"Tapi undangan dan—"


Secepat kilat, Shaka mendaratkan bibirnya di atas bibir Jean. Mengecup dengan mesra. "Tidak apa-apa, Jean. Kita bisa menikah kapan saja."


Jean terdiam. Masih dalam rasa terkejutnya setelah bibirnya bersentuhan dengan bibir Shaka.


Wajahnya kian memerah menyadari first kiss-nya di ambil oleh Shaka. Pria yang seharusnya sudah menjadi suaminya hari ini. Mengingat itu kembali, membuat raut wajah Jean meredup. Segala sesuatu tentang pernikahannya sudah hampir selesai, pasti ada banyak kerugian, belum lagi mungkin saja ke dua orang tua Shaka akan marah atau kesal karena pernikaha yang seharusnya terjadi ini, tidaklah terjadi dan mengalami kerugian besar karena kecerobohannya.


Melihat raut wajah Jean meredup, Shaka jadi berpikir yang tidak-tidak. Apa gadisnya ini tidak suka bibirnya dia kecup?


"Shaka, Maaf karena aku pernikahan kita harus gagal. Ke dua orang tuamu pasti marah atau kesal karena aku, ya?" Ujar Jean pelan dengan kepala menunduk.


Mendengar ucapan Jean, Shaka menggeleng pelan. "Tidak sama sekali. Apa tadi Ibuku memarahimu?"


Jean mengangkat kepalanya, menatap ke dua mata Shaka yang berjarak hanya lima centi.


"Tidak. Tapi kerugian—"


Shaka memajukan wajahnya, menempelkan bibirnya pada bibir Jean. Kali ini pria itu bukan hanya menempelkan, tetapi juga menggerakkannya dengan pelan. Menyesap bibir atas dan bawah dengan bergantian.


Jean yang semula kembali kaget, kini menutup ke dua matanya. Membiarkan Shaka melakukan apapun dengan bibirnya. Pria itu seolah sedang menyurahkan seluruh perasaannya pada gadisnya melalui ciumannya kali ini. Begitu lembut dan hati-hati.


Shaka menjauhkan wajahnya, menempelkan keningnya dengan kening Jean. "Jangan terlalu banyak berpikir. Fokuslah dengan kesembuhanmu. Kerugian atau apapun itu tidak berarti di bandingkan dengan keselamatan dan kesehatanmu."


Mendengar ucapan Shaka membuat Jean ersentuh. Dia mengingat kembali saat dimana kejadian saat dirinya dan Selma terjebak di dalam mobil yang remnya rusak. Betapa mengerikannya situasi kala itu.

__ADS_1


Mata Jean terasa perih, air matanya menyeruak ingin keluar. Jean melingkarkan satu lengannya ke leher Shaka. Memeluk pria itu dan menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher dan pundaknya.


Shaka mengelus punggung Jean lembut. Terkejut mendengar isakan gadis itu. "Ada yang sakit, hm?"


Jean menggeleng di dalam pelukan Shaka. "Aku ingin bertemu Mama."


"Nanti, ya. Kondisi Mama Selma belum pulih sepenuhnya."


"Hm."


Usapan di punggung Jean masih terus Shaka lakukan. Menenangkan gadis itu dengan lembut.


...****************...


Di salah satu bangsal rumah sakit jiwa di kota, terdapat seorang wanita tengah duduk di atas brankar dengan boneka di pelukannya. Tepat seperti tengah menimang-nimang bayi.


Ola berdiri tidak jauh darisana. Memandang orang yang dulu sangat dekat dengannya bagai perangko, mendadak kehilangan kewarasannya saat dia menemuinya setelah sekian lama.


Karen disana dengan penampilan yang cukup menyedihkan, tubuh kurus seperti tidak terurus, kehilangan kewarasannya saat dirinya mengalami hal yang sangat mengerikan hingga depresi dan jiwanya sudah tidaklah sehat seperti dulu.


Karen adalah sosok wanita yang cantik, tinggi, semampai. Wajah khas orang timur tengah membuatnya terlihat sangat menonjol. Yakin sekali siapa pun Pria pasti akan terpesona dengannya karena kecantikan yang dimilikinya.


Sayangnya, kecantikannya tidaklah membuatnya seberuntung itu, dia harus mengalami tragedi memilukan selama beberapa tahun terakhir di tangan suaminya sendiri.


Ola yang mengingat itu, meneteskan kembali air matanya. Kepalan tangannya mengerat melihat Karen tengah menimang boneka berpenampilan perempuan dengan sangat lembut dan hati-hati layaknya bayi manusia asli.


"Ola, kau sudah datang. Lihatlah, anakku sudah tenang. Dia lucu sekali, kan? Semalaman dia rewel dan tidak bisa tidur." Karen berkata dengan wajah bahagia. Seolah dirinya adalah manusia paling bahagia di muka bumi karena telah membuat anaknya berhenti menangis.


Ola menanggapi dengan tersenyum. Dia mendekati Karen, "Kau sudah makan?"


"Sudah." Jawab Karen acuh, dengan tatapan masih mengarah pada boneka di gendongannya. "Aku juga sudah memberinya makan tadi sebelum dia tertidur. Lihatlah, sekarang dia tertidur dengan nyenyak."


Air mata kembali menetes di pelupuk mata Ola melihat kondisi Karen tidak juga membaik setelah di rawat disini setelah beberapa bulan.


"Kenapa kau menangis? Janganlah menangis keras-keras, ya. Nanti anakku terbangun." Kata Karen dengan nada pelan hampir berbisik.


Ola mengangguk, segera menghapus air mata yang membasahi pipinya dengan perasaan sedih dan bersalah. Kalau saja hubungannya dengan Karen tidak renggang dua tahun lalu mengakibatkan dirinya pindah ke kota lain, pasti mereka masihlah tinggal dan menghabiskan waktu bersama. Tidak akan ada kejadian mengerikan yang terjadi pada Karen karena ada dia di sisinya.


Mengingat itu semua, membuat Ola kembali marah. Perasaan benci kembali menggerogoti hatinya.

__ADS_1


Karen, aku akan membalaskan dendammu pada pria itu. Pria itu harus menderita melebihi penderitaanmu sekarang.


...****************...


__ADS_2