
Jean memasuki kafe, lalu mencari keberadaan Ola.
Ola meminta bertemu di kafe yang tidak jauh dari Perusahaan Altair. Ada yang ingin di bicarakan, kata wanita itu. Jean menyanggupinya walaupun masih menerka-nerka, untuk apa mantan Shaka ini memintanya untuk bertemu. Terlebih mengingat kondisi lutut dan ke dua tangan Ola yang terluka seakan ada hal yang sangat penting dan darurat yang harus di bicarakan sehingga wanita itu memaksa untuk bertemu tidak peduli bagaimana kondisinya.
Melihat sekeliling untuk mencari keberadaan Ola, akhirnya dia menemukan presensi wanita itu di pojok dengan kaca besar sebagai dinding.
“Nona Ola.” Sapanya ketika sudah berada di depan wanita itu.
“Silahkan duduk, Jean.” Ola tampak tersenyum menyapa, mempersilahkan Jean untuk duduk di depannya. “Jangan memanggilku terlalu formal. Panggil Ola saja.” Imbuhnya.
“Baiklah.”
“Mau pesan makanan?”
“Tidak usah. Aku sudah makan sebelum berangkat kesini.”
“Baiklah, pesan minum saja, ya.”
Belum sempat Jean menjawab, Ola lebih dulu memanggil pelayan.
“Mau minum apa Jean?”
Jean tampak berpikir sebentar sebelum menjawab, “Strawberry macchiato.”
Pelayan itu mengangguk lalu berpamitan dengan sopan.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Jean basa-basi.
“Sudah membaik, ini hanya luka sedikit. Tidak terlalu serius.” Jawab Ola.
Mereka sama-sama terdiam. Sampai pelayan datang dan memberikan pesanan Jean.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” Jean bertanya sambil membuka sedotan lalu mengaduk-aduk minumannya.
Ola tampak sedikit merenggangkan tubuh kemudian memandang seisi kafe. “Oh iya, aku hampir lupa. Bedakku tertinggal di mobil Shaka, aku minta tolong kau beritahu dia, ya. Aku tidak memiliki nomor ponselnya.”
Jean tersenyum tipis mendengar alasan klasik yang di lontarkan oleh Ola. Jean bahkan bisa menebak bahwa wanita ini masih belum melupakan kisah lamanya bersama Shaka. Apa dia harus memberitahu Shaka, ya? Sepertinya akan menarik.
“Kenapa kau tidak langsung mengambilnya? Tuh, kantornya tinggal menyebrang.” Jean menunjuk gedung Altair menggunakan dagunya.
Ola masih dengan wajah ramahnya menjawab, “Kau tau kan tidak sembarang orang bisa bertemu Shaka. Maka dari itu aku meminta bantuanmu.”
“Ah, iya. Benar juga. Baiklah nanti aku akan memberitahunya.”
“Terimakasih, Jean.”
“Iya.”
“Kalau boleh tahu kau bertemu dengan Shaka sejak kapan, Jean?” tanya Ola dengan raut sangat ingin tahunya.
“Kira-kira dua bulan yang lalu atau lebih, ya. Entahlah aku tidak mengingatnya dengan jelas.”
Ola tampak terkejut mendengar bahwa Jean dan Shaka baru bertemu dua bulan yang lalu. “Secepat itu?”
“Ya?”
__ADS_1
“Maksudku, kalian baru mengenal selama dua bulan lalu langsung akan menikah?” tanya Ola memperjelas kalimatnya.
“Memang cepat sekali, ya. Aku juga bingung kenapa secepat ini kami akan menikah.” Jean berujar santai sambil menyeruput minumnya yang membuat raut ramah di wajah Ola luntur seketika.
“Apa… kalian di jodohkan?” Ola bertanya ragu, namun dengan penuh rasa ingin tahu.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Jean balik bertanya.
“Setahuku Shaka tidak mudah di dekati oleh wanita. Meskipun pria itu memiliki beberapa mantan, tetapi hubungan mereka tidak ada yang bertahan lama.”
“Benarkah?”
Ola mengangguk kemudian menyender di punggung kursi seraya melipat ke dua tangannya di dada. “CEO seperti dirinya hal yang biasa kalau dia memiliki beberapa wanita untuk bermain-main.”
Jean diam saja mendengarkan.
“Kau berhati-hatilah.” Kata Ola lagi.
“Untuk?”
“Aku pernah mendengar Shaka sempat berhubungan dengan sekretarisnya walaupun sebentar. Shaka saat ini memiliki anak kan? Dengan Shaka yang sering bergonta-ganti wanita, kau tidak curiga dan ingin tahu darimana anak itu berasal?” ucap Ola tampak berusaha memprovokasi Jean.
Jean menaikkan alisnya.
“Kau tahu Shaka memiliki anak?” tanya Jean frontal.
Ola tampak tertawa pendek yang malah membuat Jean curiga. “Bukankah tidak ada yang tidak tahu tentang Shaka?”
Cukup masuk akal. Dengan latar belakang yang sangat bagus, media memang selalu ingin tahu dan meliput berita tentang kehidupan Shaka.
Lantas, darimana Ola mengetahui tentang Shaka yang memiliki anak?
***
Jean memasuki mobil Shaka. Setengah jam yang lalu pria itu menawarkan diri untuk menjemput Jean di kafe.
Shaka membantu Jean memasangkan seatbelt. “Mau langsung pulang?”
“Aku ingin ke Apartemenku.”
Shaka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Kau punya unit Apartemen?” tanya Shaka basa-basi padahal Shaka pun tahu dimana gedung Apartemen Jean dan di unit berapa gadis itu tinggal.
“Iya. Sebelum itu boleh mampir ke minimarket?”
Shaka mengangguk, “Oke.”
Jean menatap Shaka menimbang-nimbang ingin bertanya perihal Aidan atau tidak.
“Ada apa?” tanya Shaka yang menyadari tatapan Jean.
“Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Silahkan.”
__ADS_1
Jean memiringkan tubuhnya menghadap Shaka, “Apa media mengetahui tentang Aidan?”
“Tidak.”
Jean terdiam berpikir. Lalu darimana Ola tahu tentang Aidan?
“Kenapa kau bertanya tentang Aidan?”
“Ola mengetahui kau memiliki anak. Kau yakin media tidak ada yang tahu?”
Shaka memelankan lajur mobilnya, kemudian menepikan mobilnya di pinggir jalan yang lumayan sepi.
“Katakan, dia berbicara apa saja padamu?” tanya Shaka dengan raut wajah serius.
“Jeannie.” Shaka menggenggam tangan Jean karena gadis itu hanya diam menunduk.
“Dia berkata bahwa kau sering bergonta-ganti wanita. Emm…” Jean melipat bibirnya ke dalam.
“Apalagi?”
“Katanya kau dulu sempat berhubungan dengan sekretarismu.”
“Lanjutkan.”
“Dia juga bertanya padaku apa aku tidak curiga dan ingin tahu tentang Aidan.” Ujar Jean menatap Shaka ragu.
“Lalu apa jawabanmu?”
Jean menggeleng, “Aku bertanya darimana dia tahu kau memiliki anak, dan dia menjawab kalau semua orang tahu tentangmu. Maka dari itu aku bertanya padamu, apa kau mempublikasikan Aidan atau tidak.”
“Aku tidak pernah mempublikasikan Aidan dan tidak akan pernah sampai usia Aidan cukup untuk publik mengenalnya sebagai anakku. Aku yakin kau tahu dunia perkantoran itu seperti apa. Sangat berbahaya jika wajah anakku terekspos di media.” Ujar Shaka.
Jean mengangguk mengerti. “Lalu darimana dia tahu?”
Shaka menatap Jean dalam. “Apa kau ingin tahu darimana Aidan berasal?”
“Setelah mendengar perkataan Ola, sejujurnya… iya.”
“Sebelumnya, aku ingin menjelaskan bahwa aku memang memiliki beberapa mantan dan itu hanya empat. Tidak seperti yang Ola jabarkan seakan aku adalah pemain wanita.”
“Lalu hubunganmu dengan sekretarismu itu—”
“Aku tidak pernah menjadikan bawahanku sebagai kekasih. Entah bagaimana Ola bisa berbicara seperti itu. Percayalah padaku, hm?” Shaka memotong perkataan Jean dan memandang gadis itu penuh harap.
“Baiklah. Lalu tentang Aidan?”
Shaka menghela napas. “Aidan bukan anak kandungku.”
“Hm?”
“Aku belum pernah menikah dengan siapa pun. Kau yang pertama dan akan menjadi yang terakhir.”
***
Hai, readers. Apa kabar? Semoga kalian dalam keadaan baik-baik saja ya..
__ADS_1