PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Tunangan


__ADS_3

"Bos, Karen benar-benar kehilangan kewarasannya dan sedang di rawat di rumah sakit jiwa itu."


Shaka berdiri menyender di sisi pintu ruang rawat Jean. Wanita itu sudah di pindahkan ke ruang rawat inap satu jam yang lalu.


"Kau yakin?"


"Ya." Jawab Delvin yakin.


Shaka mengangguk, menunduk dan termenung sebentar lalu mengangkat pandangannya menatap Delvin lurus. "Malam ini buat janji temu dengan Ola di klub Aslan."


"Baik, Bos."


...****************...


Shaka mengernyit saat merasakan pergerakan di genggaman tangannya. Dia mendongak, menegakkan badan menatap Jean dengan mata sayu.


"Jean..."


"Shaka, maaf aku mengganggu tidurmu. Aku ... Lapar." ucap Jean pelan. Dia terpaksa menarik tangannya yang di genggam Shaka untuk meraih nampan makanan, karena tangan sebelah kanannya tidak bisa dia gerakkan dengan leluasa.


Shaka melihat ada nampan berisi makanan di atas nakas. Dia segera meraih itu. "Biar aku suapi."


Jean tidak menolak karena dia pun sepertinya akan kesulitan makan dengan satu tangan.


Dia membuka mulutnya saat sendok yang di pegang Shaka di sodorkan di depan bibirnya.


"Kalau mau muntah, katakan padaku." ujar Shaka sambil mengaduk bubur di mangkuk yang di pegangnya.


"Iya." Kata Jean. Pandangannya menatap Shaka. Memperhatikan penampilan pria itu yang agak berantakan. Bahkan kantung mata Shaka masih terlihat.


"Shaka." Panggil Jean.


"Hm?"


"Apa kau lelah?" Tanya Jean pelan. Sejujurnya, dia merasa tidak enak karena pria itu selalu berada di sampingnya. Merawat dan membantunya dengan begitu telaten.


Shaka menaikkan alisnya, "Tidak."


Tangan Jean terangkat, menyentuh kantung mata Shaka yang agak menghitam. "Kau kurang istirahat."


Shaka meraih tangan itu, lalu mengecupnya. "Bukankah aku baru saja tertidur?"


"Tapi tidur disini pasti tidak nyaman. Tidurlah di rumah." Pinta Jean dengan nada lembutnya.


"Kalau aku di rumah, kau disini bersama siapa?"


"Ada perawat. Aku akan memanggil perawat jika butuh sesuatu. Ada Eshan juga kan." kata Jean.


"Eshan merawat Mama Selma. Bik Tina tidak bisa terus berada di sisi Mama Selma." Ucap Shaka mengetahui jalan pikiran Jean.


"Tapi—"


Shaka menutup bibir Jean dengan telunjuk, "Apa kau tidak suka ada aku disini?"


"Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin merepotkan siapapun." ucap Jean menunduk.


Melihat itu, Shaka meraih jaketnya yang tergeletak di sofa. Mengambil sesuatu dari sana.

__ADS_1


Sekotak beludru berwarna hitam.


Shaka membukanya, lalu mengeluarkan satu cincin milik Jean dan memakaikannya di jari gadis itu. "Pakaikan." Tutur Shaka pada Jean.


Jean dengan kebingungan mengambil cincin yang ukurannya lebih besar lalu memasangkannya pada jemari Shaka.


"Saat ini kita bertunangan. Kau tidak perlu merasa tidak enak dan sungkan padaku. Ketika kau sembuh nanti, aku akan segera menikahimu."


Jean tertegun. Menatap lurus pada ke dua mata Shaka. Untuk sesaat, mereka saling bertatapan dalam keheningan. "Shaka..."


Shaka memajukan wajahnya. Mencium kening Jean dengan lembut.


Aku mencintaimu, Jeannie.


...****************...


Pukul sembilan malam Shaka akan bergegas pergi menuju klub malam Aslan sesuai janjinya.


Jean sudah tertidur setelah berbincang dengan Shaka dalam waktu yang tidak sebentar. Membicarakan banyak hal yang tidak Shaka ketahui tentang gadis itu begitu pun sebaliknya.


Pria itu mendekat, mengecup kening Jean pelan sebelum bergegas pergi dari sana.


"Aku tinggal sebentar." Pamit Shaka pada Aslan


"Hati-hati, Bang." Ucap Aslan.


Shaka menepuk pundak Aslan lalu segera pergi darisana menuju klub Aslan. Sebelumnya, dia sudah meminta Aslan untuk menjaga Jean sementara Selma di jaga oleh Bik Tina.


Satu jam kemudian, Shaka sudah sampai di klub malam Aslan. Dia segera masuk ke dalam, mencari keberadaan Ola di tengah keramaian dunia malam.


"Oi," Seseorang menepuk pundaknya. Aslan disana berdiri di dekat meja bartender.


Shaka melirik sebentar. Pandangannya kembali mencari sosok Ola.


"Cari siapa?" Tanya Aslan.


"Ola."


"Mau apa kau dengan wanita itu? Bukankah kau sudah memiliki calon istri?" Tanya Aslan bingung karena setaunya, Shaka akan segera menikah dengan sang pujaan hati. "Ah, aku lupa. Jeanmu itu sedang sakit, ya? Bagaimana keadaannya?"


"Dia sudah lebih baik."


"Bos." Delvin datang menghentikan percakapan mereka.


"Wanita itu disana." Tunjuk Delvin.


Shaka menatap Delvin dan mengarahkan matanya pada Aslan. Pria bule itu paham, dia mengangguk.


Shaka segera menghampiri Ola. Wanita itu tengah duduk di salah satu meja agak pojok. Sendirian dan sedang meneguk segelas jus.


"Shaka." Ola tersenyum lebar mendapati Shaka duduk di seberangnya.


"Sudah lama?"


Ola menggeleng cepat, "Tidak. Aku juga baru datang."


Shaka menyenderkan tubuhnya di sofa, menatap Ola dengan datar.

__ADS_1


"Ada apa kau memintaku bertemu disini?" tanya Ola masih dengan raut sumringah.


"Hanya ingin berbincang denganmu."


Senyum miring Ola terbit.


Pria ini mengajak wanita lain keluar saat calon istrinya sedang di rawat. Apakah dia ingin mencari pelarian?


"Bagaimana keadaan Jean?" Tanya Ola.


"Baik." Jawab Shaka singkat.


"Seharusnya kemarin hari pernikahamu, ya. Sayang sekali." Ola menampilkan wajah prihatin. "Sabar, ya. Shaka."


Shaka mendengus pelan. Tentu tanpa Ola sadari.


"Ingin minum?" Shaka menawarkan yang langsung Ola setujui. "Boleh."


Shaka memanggil pelayan lalu memesan sebotol wine.


Tiba-tiba Ola bangkit, mendudukkan diri di samping Shaka dengan posisi sangat berdempetan. Shaka menggeser tubuhnya sedikit.


"Kau ingat, saat pertama kali kita bertemu juga disini. Di meja ini." Ujar Ola membuka kenangan masa lalu.


"Kau tiba-tiba menyatakan cinta padaku di depan teman-temanku." Ola kembali bercerita dengan antusias. Bahkan lengannya dengan berani memeluk lengan Shaka.


Shaka membiarkan demi melancarkan rencananya.


"Itu sangat hebat Shaka!" Ola bercerita tentang masa lalu yang sama sekali tidak di pedulikan oleh Shaka. Sampai saat seorang pelayan membawakan sebotol wine beserta gelasnya, Ola masih terus bercerita.


Pelayan itu menuangkan wine di dalam gelasnya. Ola yang masih terus bercerita dengan antusias tidak menyadari bahwa pelayan itu memasukkan sesuatu ke dalam gelas Ola dengan persetujuan anggukan samar dari Shaka.


Pelayan itu pergi, Shaka meraih gelas di hadapannya lalu meminumnya. Memancing Ola untuk ikut minum bersamanya.


Berhasil. Ola meraih gelas itu lalu meminumnya tanpa kecurigaan sama sekali.


"Shaka, apa kau mengajakku kesini untuk kembali padaku? Wanitamu saat ini tengah sakit, dan mungkin saja cacat." Ucap Ola dengan nada mendayu-dayu. Kemudian dia meminum kembali winenya sampai habis.


Shaka mengepalkan tangannya mendengar perkataan Ola. Dia harus menahan dirinya agar rencananya berjalan mulus.


"Bagaimana kalau malam ini kita menghabiskan waktu bersama?" Tanya Ola antusias.


Shaka menatap Ola, menampilkan senyumnya. "Boleh."


Mendengar jawaban Shaka, Ola semakin senang. Tanpa di duga oleh Shaka, Ola mengecup bibirnya sekilas.


"Ayo, bagaimana kalau di hotel?" Ola bertanya tanpa menyadari gigi Shaka yang sudah bergemeletuk menahan marah.


Delvin yang tengah mengawasi, hanya bisa terdiam melihat tindakan Ola yang di luar batas.


"Baiklah, Ayo." Kata Shaka lalu bangkit dari duduknya.


Ola berdiri dengan semangat membayangkan malamnya akan indah bersama sang mantan. Namun, sebelum Ola melangkah, rasa pusing yang hebat di kepalanya membuat tubuhnya oleng dan terjatuh pingsan, tergeletak di atas sofa.


Shaka menatap lurus Ola yang tergeletak di atas sofa tanpa niat membantu. Dia melirik Delvin,


"Kau bawa dia ke kamar."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2