
“Kalian pulanglah. Ini sudah larut. Jean ingin tidur.” Kata Shaka berniat mengusir teman-temannya yang sudah berada disana selama empat jam.
Mereka ini betah atau memang ingin tinggal disini, sih.
“Tapi snack-nya belum habis.” Ujar Aslan menunjuk snack pilusnya. Snack Shaka yang ke-empat yang di habiskan oleh pria itu.
“Kau bahkan hampir menghabiskan semua cemilanku, Aslan!” Seru Shaka tidak terima, kemudian pandangannya tertuju pada Asistennya. “Kau juga, Vin! Apa aku menyuruhmu untuk makan?”
“Saat ini aku temanmu, bukan Asistenmu.” Ucap Delvin dengan nada datar seperti biasa.
Shaka menutup mata menahan kesal. Waktu berharga berdua antara dia dan Jean terbuang karena kehadiran teman-temannya ini. “Pokonya kalian pulang.”
“Apa kau sudah akan tidur, Jean?” Aslan bertanya pada Jean yang sedari tadi diam. Tengah menyeruput susu strawberry yang di belikan oleh Shaka.
“Aku…”
Belum sempat Jean menjawab, Shaka lebih dulu memotong. “Aku menyuruhnya untuk tidur. Kalian pulanglah. Jam besuk sudah akan habis!”
Aslan terkekeh. “Oke-oke.”
“Yuk, Vin. Sudah di usir oleh tuan rumah kita seharusnya pulang, kan?” Ujar Aslan pada Delvin. “Padahal dia sendiri tamu, ya..” imbuhnya pelan pada Delvin.
“Sampai jumpa, Jean. Cepat sembuh, ya. Kanebo kering ini sudah kebelet kawin.” Kelakar Aslan membuat wajah Jean bersemu merah.
Shaka berdecak. “Pergi sana!”
Delvin menarik lengan Aslan paksa. Sudah malas melihat tingkah konyol sahabatnya itu.
“Akhirnya mereka pulang.” Monolog Shaka sehingga Jean meliriknya, “Tidak baik seperti itu, loh.”
“Mereka terlalu berisik, dan lihat! Cemilanku habis tinggal satu.” Gerutu Shaka sembari menunjuk satu bungkus kecil sosis siap makan.
Jean melihat itu terkekeh, “Makanlah. Disini ada kantin kan, kau bisa membeli cemilan disana.”
Shaka masih dengan mulut mencibir mengambil sosis itu. Membukanya dengan jengkel lalu memakannya. “Kau mau?” tawarnya.
Jean menggeleng, “Aku sudah kenyang.” Katanya sambil menunjuk sebotol susu strawberry yang sudah habis.
Tidak sampai lima menit, sosis yang hanya tinggal sisa satu itu sudah habis. “Kan, habis.”
“Ah, aku ingin bertanya.” Seru Jean.
Shaka membersihkan tangannya yang kotor dengan tisu. “Apa?”
“Kalian sepertinya sangat akrab.” Ujarnya mengingat bagaimana interaksi Shaka dengan teman-temannya seperti bersama teman lama.
__ADS_1
“Kami berteman sejak sekolah menengah.”
“Begitu…”
Shaka menggeser kursinya. Mendekat pada Jean. “Kenapa? Apa yang dua cecenguk itu katakan padamu saat aku tidak ada?”
Jean menggelengkan kepalanya. “Tidak ada. Aku hanya merasa mereka lucu.” Ucapnya dengan senyuman.
“Siapa?”
“Aslan dan Delvin...,” Jean menggantungkan kalimatnya, “,… apa aku boleh menyebut nama mereka seperti itu saja?”
“Kenapa tidak boleh?”
Jean menjawab dengan tersenyum. Kemudian dia mengingat sesuatu, “Shaka, apa kau sudah mencari tahu dalangnya?”
Untuk sesaat, Shaka memandangi Jean sambil bepikir. Apa dia harus berkata yang sebenarnya…
“Sudah.”
“Siapa?”
“Fayyola.”
Shaka bangkit. Menaikkan selimut Jean sampai dada. “Iya. Apa ini mau kuturunkan?” Tanya Shaka menunjuk kepala ranjang. Seperti tengah berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Nanti dulu. Ceritakan dulu bagaimana Ola bisa menjadi dalangnya.” Ucap Jean menahan lengan Shaka yang sudah berada di sisi brankar. Berniat menurunkan kepala ranjangnya.
Shaka menundudukkan diri di sisi kasur yang kosong. Memandang Jean dengan sendu. “Ola dan sepupunya berniat membuatku hancur melalui dirimu. Maafkan aku.”
Mendengar itu membuat Jean menatap Shaka dengan bingung. Dia membasahi bibirnya. “Ceritakan lebih jelas. Kumohon.”
Mengalirlah cerita dari mulut Shaka tanpa ada yang di kurangi atau di lebihkan. Bagaimana pun Jean perlu tahu karena dia sendiri pun tidak berniat untuk merahasiakannya. Karena dia pikir, lebih baik Jean mendengar dari mulutnya sendiri daripada dari orang lain.
“Maafkan aku.” Ucap Shaka di akhir. Menundukkan kepala masih dengan tatapan sendu.
Untuk sesaat, Jean termenung. Mencerna semua kalimat yang di ceritakan oleh Shaka dengan baik.
“Jeannie.” Panggil Shaka dengan mengusap pipi gadis itu membuatnya menoleh.
“Maafkan aku karena telah membuatmu seperti ini.”
Melihat raut wajah Shaka yang seperti tengah menyesal, Jean mengusap kepala Shaka. “Ini bukan salahmu.”
Shaka mendongak menatap Jean.
__ADS_1
“Sepertinya kita memang berjodoh. Tuhan tidak membiarkan kau yang di sakiti sendirian, namun melibatkan aku juga. Bukankah ini terdengar sweet?” Kelakar Jean berusaha membuat Shaka tenang.
Pria itu memeluk Jean. Menenggelamkan wajahnya di pundak gadis itu. “Bukankah seharusnya kau marah padaku karena telah menyebabkan kau dan Mama Selma celaka? Bagaimana bisa kau seperti ini?”
Jean tersenyum di dalam pelukan Shaka. “Ingin menyalahkanmu memang aku akan mendapatkan apa? Toh, ini sudah terjadi. Lagipula bukankah kita bertunangan? Sepasang tunangan harus berjuang bersama mengalami suka dan duka sebelum mencapai pernikahan.” Jean mengelus punggung Shaka. “Satu langkah lagi kita akan menikah. Aku memiliki calon suami yang hebat. Semangatlah, dan berjuanglah untuk kita berdua.”
Shaka tersenyum lebar mendengar penuturan Jean. Begitu bersih hati gadisnya. Shaka pikir, Jean akan memaki dan mencacinya karena telah membuat dirinya dan satu-satunya orang tua yang dimilikinya celaka. Dua hari ini dia terkadang pusing dan bingung memikirkan bagaimana dia akan memberitahu Jean soal Ola dan Karen, takut sekali membuat Jean marah dan kecewa. Namun, setelah mendengar jawaban Jean, akhirnya dia bisa bernapas dengan lega.
Kecupan di leher Jean mendarat dengan mesra. “Terimakasih. Terimakasih banyak, sayang.”
Mendapatkan kecupan serta ucapan mesra dari sang tunangan membuat wajah Jean sontak memerah. Beruntung Shaka tidak dapat melihatnya.
Masih dengan senyum malunya, Jean menjawab dengan anggukan pelan. “Hm.”
Shaka melepas pelukannya. Ke dua tangannya memegang pundak gadis itu. “Ingin tidur?”
Kenapa mendengar Shaka bertanya seperti itu membuat pikiranku kemana-mana.
Jean menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan pikiran absurdnya.
Shaka yang melihat itu sontak mengartikan dengan arti yang lain. “Lalu kau ingin apa, ini sudah sangat larut,”
“Eh, bukan. Maksudku, i-iya, aku ingin tidur.”
Kenapa aku jadi terbata begini, sih.
Jean menggerutu dalam hati menyadari sikapnya seperti orang yang tengah salah tingkah.
Shaka tersenyum. Pria itu menyadari bahwa gadisnya ini tengah salah tingkah. “Jadi kau mau atas atau bawah?”
Jean melotot, “Hah? Apa?”
Pria itu terkekeh melihat ekspresi Jean yang terkena pancingannya. “Kau ini berpikir apa? Maksudku, ini mau di turunkan atau kau ingin tidur seperti ini?” Katanya sambil menunjuk posisi Jean yang setengah duduk bersandar di kepala ranjang.
Seperti tengah tertangkap basah, Jean buru-buru menormalkan ekspresinya. “Turunkan.”
“Oke, turun.”
Setelah posisi kepala ranjang sudah lurus. Shaka membenarkan selimut sampai dada Jean. Mengecup kening gadis itu lembut dan berbalik. Melangkah menuju sofa dan membaringkan tubuhnya disana.
Jean memperhatikan itu. Memandangi segala kegiatan Shaka sampai pria itu terpejam dengan selimut di tubuhnya.
Arshaka, maaf. Aku akan berusaha mencintaimu.
***********
__ADS_1