PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Pertanyaan Selma


__ADS_3

Pintu berlapis besi itu terbuka dengan pelan. Suara nyaring dari gesekan pintu terdengar. Ruangan besar dan gelap itu menjadikan suasana sangat mencekam. Hanya ada beberapa lampu remang berwarna kuning yang menempel di sisi jeruji besi.


Shaka memasuki ruangan itu dengan wajah datar. Aura gelap kembali muncul seperti ruangan itu yang mencekam. Dia menghampiri salah satu kurungan jeruji besi yang terdapat seorang wanita disana dengan keadaan memprihatinkan.


Shaka berdiri disana. Tepat di depan wanita itu yang tengah di balik jeruji.


"Bagaimana kabarmu, Ola?" Tanyanya basa-basi.


Ola yang tengah menunduk, mengangkat pandangannya. Menatap Shaka dengan memohon, "Shaka, keluarkan aku dari sini."


"Baru seminggu disini sudah tidak tahan, ya?"


"Sepupuku berada di rumah sakit, siapa yang akan mejaganya?" Kata Ola masih memohon.


"Ada perawat disana." Shaka melipat tangannya di dada.


"Setidaknya berhenti menyiksaku! Kita bahkan pernah bersama. Aku hanya mencelakai gadis itu dan kau sudah seperti ini? Bukankah ini tidak adil?" Ola berucap marah. Tatapan matanya kini menajam dengan gurat-gurat di sekitar wajahnya.


"Kau hampir membunuh tunanganku dan kau bilang hanya? Penyiksaan ini bahkan tidak sebanding dengan gadisku bersama Ibunya yang hampir kehilangan nyawanya." ucap Shaka dengan suara pelan dan dalam. Tatapannya menghunus, manatap Ola seakan ingin menguliti wania itu.


"Dia hanya terluka dan tidak mati. Dia masih hidup! Kau lihat Karen, hidupnya hancur karenamu!" Teriak Ola dengan mata memerah. "Kalau tahu akan begini, seharusnya aku membunuh Jean langsung dengan tanganku." imbuhnya lalu tertawa sinis.


Shaka menggemeletuk giginya menahan kesal. Sebisa mungkin dia menahan amarah yang berkobar di atas kepalanya. "Penjaga!"


Dua pria besar berotot yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari Shaka bergegas mendekat. "Ya, Tuan?"


"Jangan beri dia makan lima hari." Titah Shaka lalu segera berlalu. Langkahnya berhenti tepat di samping para penjaga. "Tampar dia karena telah dengan lancang berbicara sembarangan." ujarnya dengan nada pelan menusuk.


"Baik, Tuan."


...****************...


"Orangku melapor bahwa Zarif kini berada di Kanada, Bos." Ucap Delvin seraya mengekori langkah Shaka yang tengah memasuki gedung kantor Perusahaan.


Para karyawan dengan sigap menunduk melihat sang CEO dengan asistennya baru saja memasuki kantor selepas istirahat makan siang.


Pandangan mereka menatap penasaran sang CEO yang biasanya menampilkan wajah ramah, kini berbeda sejak beberapa hari terakhir, lebih tepatnya sejak absen dan kemunculannya dengan wajah serius. Tidak ada wajah ramah seolah di sekeliling pria itu ada aura suram dan gelap.


"Segera atur jadwalku, aku akan bertemu langsung dengannya di Kanada. Kau ikut bersamaku." kata Shaka seraya memencet lift.


...****************...


"Bagaimana keadaanmu, Nak?" Selma menatap Jean dengan pandangan prihatin. Raut wajah penuh kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.


Selma sudah di perbolehkan untuk pulang sejak kemarin. Keadaannya pun sudah cukup segar dan sehat di banding beberapa hari yang lalu. Namun, baru hari ini dia sempat datang untuk menjenguk putrinya.


"Lebih baik, Ma." Ucap Jean tersenyum hangat.

__ADS_1


Selma memeluk putrinya dengan lembut. Mengusap kepalanya dengan sayang, "Maafkan, mama karena mama baru sempat menjengukmu."


"Tidak apa-apa, Ma. Dokter menyuruh Mama untuk beristirahat lebih, kan?"


Selma tidak menjawab. Wanita itu mengeratkan pelukannya. Sekelebat ingatan tentang betapa sedihnya dia ketika Zian, sang suami kehilangan nyawanya muncul di benaknya.


Tidak, aku tidak boleh berpikir macam-macam.


Selma menggeleng, mengenyahkan pikiran akan ketakutan pada orang-orang terdekatnya.


"Sudahlah, Ma. Kakak sesak napas, tuh." Ucap Eshan mencairkan suasana. Lelaki muda itu kini tengah duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya.


"Kau kapan kembali ke Amerika?" Tanya Jean setelah Selma melepaskan pelukan mereka.


"Mama maunya kapan aku kembali kesana?" Eshan balik bertanya dengan nada jenaka.


"Secepatnya." Selma berujar datar membuat Eshan memutar bola matanya kemudian berdecak, "Ck, Mama kok gitu, sih?"


Melihat respon Eshan yang menggemaskan, Selma menarik ke dua sudut bibirnya, "Bercanda, sayang. Kau boleh disini sampai kapanpun. Pindah kuliah kesini juga boleh."


"Tidak mau!" seru Eshan hampir berteriak.


Selma berdecih, "Biasa aja dong, jawabnya!"


"Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Shaka?" Tanya Selma pada Jean dengan raut penasaran.


"Baik?" Selma mengerutkan keningnya meniliti wajah putrinya. "Bukannya sangat baik? Wajahmu memerah merona seperti ini!" Tunjuk Selma pada pipi wajah Jean.


Buru-buru Jean menutup pipinya dengan tangan kirinya. "Mama!"


Selma tersenyum lembut, mengelus kepala anaknya, "Syukurlah, Mama pikir Shaka akan menjauh karena pernikahan kalian yang gagal."


"Kenapa harus menjauh kalau pernikahannya gagal?"


Selma menatap Jean memicing, "Kau sudah menyukai Shaka, kan?"


Jean menggeleng.


"Mengakulah, Jean."


"Tidak, Ma."


"Ngaku, atau Mama kelitikin?" Ancam Selma dengan ke dua tangan seperti siap menyentuh pinggang Jean.


"Mama tega kelitikin aku saat aku begini?" Jean menunjuk tangan dan kakinya yang masih di gips.


Selma mengembalikan posisi tangannya kembali, "Ah, benar. Apa sangat sakit?"

__ADS_1


"Terkadang nyeri kalau di gerakkin." kata Jean dengan menampilkan raut se-menyedihkan mungkin agar Selma lupa dengan pertanyaan sebelumnya.


"Kau jangan banyak bergerak dulu. Biar kami yang membantumu."


Jean mengangguk dengan bibir yang sengaja di majukan, seperti merajuk.


Suara ketukan pintu berbunyi, di susul dengan masuknya seorang perawat membawakan nampan makan siang.


"Terimakasih." Ucap Selma pada perawat itu lalu kemudian perawat itu berpamitan pergi.


"Kak, aku mau pisangnya, ya." Eshan mengambil pisang yang tersaji di nampan.


Plak.


Punggung tngan Eshan yang hendak mengambil pisang, di pukul oleh Selma. "Tidak boleh. Kakakmu sedang sakit."


"Biarkan, Ma. Aku tidak suka pisang." Lerai Jean.


Eshan mengambil pisang itu kembali dengan raut penuh kemenangan. Kemudian dia kembali duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya.


"Jadi, Jean... Bagaimana perasaanmu pada Shaka? Apa kau sudab menyukainya? Apa kau sudah mencintainya?" Tanya Selma dengan berbondong pertanyaan.


"Yang benar saja, Mama bertanya tiga pertanyaan sekaligus." seru Jean sambil mengacungkan angka tiga di jarinya.


"Baiklah, satu-satu. Kau sudah menyukai Shaka?" tanya Selma masih dengan raut penasarannya.


Memang ibu-ibu satu ini paling suka mencampuri urusan perasaan Jean dengan Shaka.


"Mungkin... Emm..." Jean menggantung ucapannya. Tampak seperti berpikir.


"Mungkin apa?"


"Err... Mungkin aku sudah menyukainya." Ucap Jean dengan pelan.


Selma bersorak seperti penuh kemenangan. Wanita itu bertepuk tangan dengan heboh. "Tuh, kan! Sudah kubilang kau tidak butuh waktu lama untuk menyukainya!" Serunya dengan senang.


"Lihat, Eshan! Kakakmu normal, dia menyukai laki-laki!" Kelakar Selma di selingi tawa membuat Jean menampilkan raut protes. "Mama kira aku tidak normal?!"


"Just kidding, just kidding." Selma menepuk-nepuk pundak Jean dengan raut wajah menggoda.


"Lalu bagaimana dengan Shaka?"


Pertanyaan itu lagi-lagi membuat pipi Jean merona. Sontak Selma yang melihat itu kegirangan sendiri.


Astaga, apa Mamaku bisa normal sekali saja?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2