PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Perjodohan?


__ADS_3

Jean memasuki rumahnya, menghampiri Mamanya yang tengah bersantai. Sedang menonton film sambil ngemil.


"Bagaimana kondisi anak-anak Panti, Jean?" tanya Selma.


"Baik, Ma. Aku sudah menyampaikan salam Mama pada Ibu Panti." Jean mencomot kacang yang berada di pangkuan Mamanya.


"Adikmu masih di Apartemenmu?"


"Masih."


"Anak badung itu benar-benar."


Kemudian mereka hening. Sama-sama fokus menatap layar.


"Jean, Mama mau tanya, deh." Selma tiba-tiba bersuara.


"Apa, Ma?"


"Mama sepertinya belum pernah melihatmu bersama laki-laki lain selain Ezar. Kau normal, kan, Nak?"


Jean melongo. Tercengang mendengar pertanyaan Mamanya.


"Mama ini kalau bertanya yang benar sedikit, dong."


"Mama serius, tau. Lagian dimana pertanyaan Mama yang salah?"


"Mana ada orang tua yang bertanya seperti itu pada anaknya, Ma?" Jean menepuk jidatnya.


Selma mengangkat bahunya, "Habisnya kau tidak pernah membawa pria satupun yang dikenalkan pada Mama. Jangan-jangan kau tidak punya mantan, ya?"


Jean menggeleng acuh.


"Tuh, kan. Apa salahnya Mama bertanya seperti tadi coba?" Selma menggerutu.


Jean tidak menanggapi ucapan Selma. Ia memilih pura-pura fokus menatap layar tv di depannya daripada menanggapi ucapan Mamanya yang tidak masuk akal itu.


"Jean, kalau Mama jodohkan dengan anak teman Mama mau tidak?" tanya Selma.


"Mau, kalau tampan dan kaya raya tajir melintir tujuh turunan." Jawab Jean asal.


Selma terdiam menatap wajah putrinya dengan takjub. "Wah, harga pasarmu rupanya benar-benar buruk ya, Jean. Padahal anak Mama ini cantik rupawan sampai Mama terkadang bingung anak siapa kau ini."


Lalu Selma sibuk dengan ponselnya. Mengetik sesuatu yang Jean tidak ketahui apa.


"Apanya yang harga pasar Mamaku tercinta?!" Jean menatap Selma gemas. Mamanya ini kenapa, sih? Salah makan atau salah obat?


"Jean, Mama sudah beritahu calon besan kalau kau mau di jodohkan dengan anaknya. Sepertinya minggu depan mereka akan kemari." kata Selma seraya menunjukkan layar ponselnya ke depan wajah Jean.


A-apa? Jadi itu tadi sungguhan?


"Mama apa-apaan sih! Aku tidak mau di jodohkan, Ma." seru Jean menatap Selma protes.


"Eits, sudah Mama rekam loh, Jean. Kau tidak bisa menolaknya."


Sungguh, Jean benar-benar hanya asal menjawab saat Selma bertanya perihal perjodohan. Tidak menganggapnya serius sama sekali.

__ADS_1


Selma menepuk-nepuk pundak Jean, "Sudah kau terima saja, Anakku. Mama pastikan kau tidak akan menyesal Mama jodohkan. Seperti katamu, Mama pastikan dia tampan dan kaya raya tajir melintir tujuh turunan."


Jean menatap Selma tidak percaya.


Apa yang harus Jean lakukan pada Mamanya ini?


***


Sementara di lain tempat, Shaka saat ini tengah berada di Mansion Altair. Ia di hubungi oleh Ibunya beberapa saat lalu saat di perjalanan pulang menuju Apartemennya.


Aidan kangen Shaka, kata Ibunya. Padahal bayi itu belum bisa bicara. Akal-akalan Ibunya yang tidak masuk akal sama sekali. Mau tidak mau, Shaka memutar haluan menuju Mansion Altair.


"Shaka, perhatikan Aidan. Jangan meleng!" Seru Haisa dari dapur. Wanita itu sedang membuat kue bersama para maid.


"Iya, Bu." Sahut Shaka.


Shaka yang sudah di ajari cara menggendong bayi, mulai terbiasa. Kini, di pelukannya ada Aidan. Shaka menatap bayi itu dengan serius.


"Hei, Aidan." ujar Shaka pelan pada Aidan.


Aidan mengedipkan matanya.


"Apa kau tau bahwa kau bernama Aidan?" Shaka bertanya nyeleneh.


Aidan tampak menggeliat dengan suara yang terdengar seperti 'eung'.


"Hei, bayi. Kau sedang meresponku, kan? Ayo, respon aku lagi." kata Shaka masih dengan suara pelan sambil mengusap-usap pipi Aidan.


Namun Aidan malah memejamkan matanya. Sepertinya Aidan merasa nyaman di pelukan Shaka sehingga dia mudah tertidur.


Shaka malah menepuk-nepuk pipi Aidan dengan telunjuknya. Berhasil membuat Aidan mengerjapkan matanya.


"Aku tau pelukanku memang nyaman, tapi kau jangan tidur dulu."


Shaka masih terus berbicara pada Aidan seolah bayi itu mengerti setiap ucapan yang di lontarkannya. Ia terus membujuk Aidan agar terjaga.


"Yah, malah tidur lagi."


Aidan terlihat memejamkan matanya dengan rapat. Dengan wajah yang bersandar di dada bidang Shaka.


Haisa yang melihat itu dari dapur tersenyum kecil. Haisa tau, putranya itu menyukai anak kecil. Maka bukan hal yang sulit meminta Shaka untuk menjaga Aidan. Apalagi Aidan bayi laki-laki yang tampan dan menggemaskan. Siapapun akan tertarik dengan bayi mungil itu.


Haisa jadi teringat saat pertama kali ia menemukan Aidan di depan pintu. Entah bagaimana bisa Aidan berada disana, padahal keamanan rumahnya cukup terjamin walaupun saat itu satpam sedang tidak berjaga di depan, dan jarak dari gerbang menuju pintu rumahnya juga cukup jauh.


Haisa yang pertamakali melihat Aidan bahkan langsung tertarik dan menyukai Aidan. Haisa sampai sekarang masih tidak habis pikir bagaimana bisa orang tua Aidan tega membuang Aidan yang sangat menggemaskan itu.


"Aidan sepertinya tau kau akan menjadi Ayahnya, Shaka." ujar Haisa seraya menghampiri Shaka.


Shaka mencebik mendengar Ibunya melontarkan kata 'ayah' padanya.


"Kau sudah menemukan calon untuk menjadi istrimu?" Haisa duduk di samping Shaka.


"Tidak semudah itu mencari wanita, Bu." Shaka menepuk punggung Aidan pelan saat bayi itu menggeliat.


"Cih, Ibu dengar kau bahkan memiliki beberapa mantan kekasih." Ucapan Haisa terdengar meledek.

__ADS_1


"Soal itu, aku hanya bermain-main." gumam Shaka.


Haisa menatap Shaka tajam.


Shaka yang menyadari tatapan Haisa, melipat bibirnya ke dalam.


Ups, sepertinya aku salah bicara.


"Bagaimana hubunganmu dengan Jean?"


Shaka sontak terkejut mendengar pertanyaan Ibunya. Bagaimana Ibunya bisa mengenal Jean?


"Ibu tau Jean?" tanya Shaka pelan.


Haisa mengangguk. "Tentu saja. Dia gadis yang kau gilai sejak kau masih remaja, kan?"


"Ba... Bagaimana Ibu bisa tau?"


Sial, ia bahkan terbata.


"Apa, sih, yang tidak Ibu tau tentang dirimu, Shaka? Ibu bahkan tau kau putus dengan mantan terakhirmu di pinggir jalan."


Tolong, siapapun tutupi wajah Shaka sekarang juga. Wajah hingga telinganya sudah memerah malu.


Pasti Delvin, si pengkhianat itu.


Shaka baru saja akan merencanakan hukuman apa untuk Delvin saat Ibunya kembali berbicara,


"Mau ibu bantu?" tawar Haisa dengan suara berbisik, kedua alisnya di naik-turunkan. Menggoda Shaka.


Shaka menatap Ibunya ragu. Namun, ia mendekatkan kepalanya juga pada Ibunya lalu ikut berbisik, "Bagaimana?"


Haisa menyodorkan ponselnya. Shaka menerima dengan sebelah tangan masih memeluk Aidan.


Shaka tampak serius melihat apa yang tertera di layar ponsel Haisa. Kemudian raut wajahnya terkejut sekaligus takjub.


"Bagaimana?" Haisa bertanya dengan menampilkan seringaiannya. Seolah dia telah menawarkan ide yang sangat brilliant.


Shaka tampak ragu, "Apa Ayah tau?"


"Urusan Ayah, biar Ibu yang urus." sahut Haisa mengibaskan tangannya, mengentengi.


Shaka terdiam, sedikit ragu dengan ide Ibunya.


Haisa yang merasa Shaka berpikir cukup lama, merasa tidak sabaran. "Sudahlah, lagipula Jean sudah menerimanya. Syukur kau yang dijodohkan dengannya. Coba kau pikirkan, jika Ibunya Jean menjodohkan putrinya dengan pria lain. Apa kau yakin kau tidak akan menangis darah?"


Meskipun ucapan Ibunya terkesan hiperbola, tetapi tidak dipungkiri Shaka pun menyetujui ucapan Ibunya. Sepertinya Shaka termakan umpan Haisa.


Haisa tersenyum misterius. Ia sangat yakin Shaka akan menyetujui idenya mengingat Shaka yang sangat menyukai Jean.


"Baiklah. Aku serahkan pada Ibu dan Ayah."


Nah, kan.


Betapa polos dan naifnya anakku, ini.

__ADS_1


__ADS_2