PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Kejelasan


__ADS_3

"Selamat pagi wahai penghuni rumah Avveroes!"


Selma, Gavi, dan Jean yang sedang sarapan menolehkan kepala mereka ke arah sumber suara.


"Apa yang kau lakukan disini anak badung?" Seruan bernada tajam Selma lontarkan kepada Eshan.


Eshan, si pelaku kegaduhan menampilkan cengiran polosnya. Pria dua puluh tahun itu menghampiri Selma dengan sedikit berlari. "Mama masih marah padaku, ya?"


Selma tidak menjawab.


"Maafkan aku, Ma. Aku harus melakukan apa supaya Mama tidak marah padaku?" Eshan menampilkan wajah sedihnya dengan berlebihan. Jean yang melihat mendadak ngeri sendiri.


"Kembali sana ke apartemen kakakmu."


"Tidak mau, disana membosankan. Aku merindukan Mama." Eshan memelas.


Selma tidak menjawab, malah asik menghabiskan makanan di piringnya yang masih tersisa.


Merasa tidak mendapatkan jawaban, Eshan beralih memandang Gavi dan Jean. "Paman, Kak Jean, bantu aku bujuk Mama, dong." ujarnya dengan nada frustasi, pasalnya ini sudah tiga minggu Selma mendiamkannya sedangkan satu minggu lagi Eshan akan kembali ke Amerika. Melanjutkan kuliahnya.


Gavi dan Jean kompak mengangkat bahu, tidak dapat membantu apapun, karena mereka paham bagaimana sifat Selma. Tidak mudah di bujuk, hanya dengan Zian almarhum Sang Ayah yang dapat mudah membujuk Mamanya.


Eshan yang tidak mendapatkan bantuan dari Paman maupun Kakaknya merasa semakin murung.


"Yasudah kalau Mama masih marah padaku. Jangan lama-lama marahnya ya, Ma. Seminggu lagi aku kembali ke Amerika, aku sayang Mama." Eshan berkata lesu. Hendak berbalik kembali ke Apartemen Jean. Namun, belum sempat ia melangkah, telinganya di tarik dengan keras oleh Selma.


"Aaa! Mama..." Eshan meringis kesakitan.


"Mau kemana kau anak badung?"


"Tadi kan Mama menyuruhku kembali ke Apartemen."


"Berani kau keluar, telinga kamu Mama potong."


"Jangan, aduh.. Mama, sakiit."


Eshan masih meringis, bahkan telinganya sudah memerah akibat tarikan Selma yang tidak main-main.


"Lepas, ya, Ma." bujuk Eshan dengan raut wajah memelas.


Selma melepaskan tarikannya. Sontak Eshan langsung memegang telinganya yang masih berdenyut nyeri.


"Sarapanlah, lalu kembali ke kamarmu." kata Selma.


Eshan tersenyum bahagia mendengar ucapan Selma. "Mama sudah memaafkanku?"


"Kalau kau kembali melakukannya, tidak akan ada maaf untukmu."


Eshan langsung memeluk tubuh Selma. Sungguh, ia sangat merindukan Mamanya ini. "Terimakasih, Mama. Mamaku memang terbaik dan cantik walaupun terkadang seperti singa betina, tetapi aku tetap sayang Mama."


Tidak sadar akan ucapannya seperti menabur garam di atas luka, jeweran telinga kembali di dapatkan Eshan.

__ADS_1


"Apa kau bilang?!"


"Aduh.. Aduh, Mama. Kenapa menarik telingaku lagi?"


Jean berdecak melihat kelakuan Eshan yang tidak habis pikir. Baru saja Selma melunak, sudah di buat emosi lagi. Sementara Gavi yang sudah biasa melihat pertengkaran antara Kakak dan keponakannya merespon biasa saja, menghabiskan sisa makanannya seolah tidak terganggu sedikit pun.


Tiba-tiba terdengar bel berbunyi dari depan.


Melihat sebentar kondisi Selma dan Eshan yang masih ribut, Jean menggelengkan kepalanya lalu bangkit dan berjalan melihat tamu.


Shaka berdiri di depan pintu rumahnya dengan setelan santai sembari menenteng sekantung plastik berisi kue buatan Haisa. Tersenyum ramah menyapa Jean.


"Shaka? Kupikir kita akan bertemu pukul sebelas?"


"Apa aku tidak boleh datang lebih awal?" tanya Shaka balik.


"Eh, tentu saja boleh. Mari masuk." Jean mempersilahkan Shaka untuk masuk.


"Sudah sarapan?"


Shaka mengangguk kemudian duduk di sofa tamu.


Pendengaran Shaka menangkap keributan dari dalam. Jean pun mendengar. Tampaknya pertengkaran antara Selma dan Eshan masih belum berakhir. Jean jadi merasa tidak enak pada Shaka.


"Sebentar, ya."


Buru-buru Jean pamit lalu menghampiri Selma untuk menyudahi pertengkaran mereka. "Mama."


"Diamlah, Jean. Mama sedang menghukum anak badung ini. Berani-beraninya mengatai Mama, singa betina!"


"Ma, berhenti, Ada Shaka di depan." ujar Jean yang langsung membuat Selma melepaskan jewerannya pada Eshan.


Eshan kembali mengusap telinganya yang kini semakin memerah, "Siapa Shaka?" tanya Eshan.


Raut wajah Selma yang awalnya emosi, mendadak berubah 180 derajat menjadi ceria. "Calon menantuku disini? Kenapa kau baru mengatakannya, Jean?"


"Aku-" belum sempat Jean menjawab, Selma sudah pergi ke depan.


"Kakak, siapa Shaka?" tanya Eshan kembali karena pertanyaan sebelumnya di abaikan.


"Temanku." jawab Jean singkat kemudian berlalu darisana, menghampiri Shaka dan Selma di depan.


Eshan menatap Gavi seolah bertanya, Gavi lagi-lagi hanya mengangkat bahu.


***


"Nak Shaka, ada apa pagi-pagi kemari?" Sapa Selma dengan ceria seraya menghampiri Shaka.


Shaka hanya membalas dengan tersenyum sopan. "Pagi, Ma."


Selma mendudukkan diri di seberang Shaka, "Jangan-jangan kau sudah ingin melamar, Jean?"

__ADS_1


Pertanyaan Selma yang tidak terduga membuat Shaka kelabakan. Jean yang baru saja datang mendengar ucapan Mamanya yang ngawur menghela napas. "Ma, ada yang ingin ku bicarakan dengan Shaka." Jean menjelaskan.


"Apa diam-diam kalian sudah mengatur tanggal pernikahan?" Selma bertanya semakin kemana-mana.


"Ma." Jean memperingati Mamanya untuk berhenti. Namun, Selma seolah tidak mau mengerti, malah semakin bertanya. "Apa Mama salah?" tanyanya dengan raut wajah polos menatap Jean dan Shaka bergantian.


"Baiklah-baiklah. Mama hanya bercanda, tidak usah tegang gitu." Selma berkata riang seolah pertanyaannya tadi bukanlah apa-apa.


Shaka merespon dengan tertawa canggung.


"Baiklah, kalian bicara saja. Mama ke dalam dulu." Selma yang mengerti mereka butuh privasi, mengundurkan diri.


Setelah Selma pergi, keadaan canggung menyelimuti Shaka dan Jean.


"Kita bicara di taman belakang, ayo."


***


"Kau sudah sehat?" Shaka bertanya basa-basi.


Kini mereka duduk bersebelahan di kursi taman belakang rumahnya.


"Sudah." Hampir seminggu berlalu, tentu saja keadaannya sudah membaik. Apalagi dengan pengawasan Selma.


"Malam itu, maaf aku datang sangat terlambat. Ada rapat mendadak yang tidak bisa ku tinggal." ucap Shaka dengan nada menyesal.


"Tidak apa-apa, lagipula aku juga salah karena meninggalkan ponselku di rumah temanku sehingga aku tidak bisa menghubungimu." jelas Jean berusaha membuat Shaka tidak terlalu merasa bersalah.


Shaka mengangguk.


Jean mengigit bibirnya, ingin membahas perjodohan. Namun, ia bingung ingin memulai darimana.


"Kau ingin membahas perihal perjodohan?" Tanya Shaka seolah paham kebingungan Jean.


"Iya."


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


Shaka sangat paham Jean tentang kejanggalan di hati dan pikiran Jean pasti tentang kejelasan perjodohan mereka.


Jean menegakkan punggungnya dengan posisi tubuh menghadap Shaka, "Perjodohan itu, maksudku Ibumu dan Mamaku benar-benar menjodohkan kita?"


Shaka tersenyum tipis menatap Jean. Benar, dugaannya. Gadis itu masih meragu. "Menurutmu dengan Mamamu yang bertanya seperti tadi, apakah perjodohan ini tidak serius?"


Jean menggaruk pelipisnya.


"Katakan, Jean."


"Aku hanya merasa ini terlalu mendadak." ujar Jean.


Wajar Jean merasa perjodohan ini terlalu mendadak, apalagi dengan Selma yang mengatakan sambil bergurau. Maka dari itu ia berniat bertanya pada Shaka agar lebih jelas.

__ADS_1


"Aku paham. Bagaimana denganmu, apa kau keberatan?"


Jean membisu.


__ADS_2