PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Poong Wonho?


__ADS_3

"Kau sudah mendapatkan sesuatu tentang Ola?"


"Ada sesuatu yang aneh tentang Ola, bos."


"Katakan."


"Wanita itu mendatangi rumah sakit jiwa tadi pagi."


"Siapa yang dia kunjungi?"


"Seorang wanita. Kau mengenalnya, bos."


Shaka menaikkan sebelah alisnya, "Siapa?"


"Karen. Mantan bos yang ketiga."


Shaka menatap pantulan wajahnya di cermin. Saat ini dia sedang berada di kamar mandi seraya berbicara dengan Delvin di ponsel.


"Karen yang mana? Aku tidak ingat."


Delvin di seberang sana menghembuskan napasnya berat. Dunia bosnya ini memang hanya ada Prismiranti Jeannie seorang sehingga semua mantannya pun mudah sekali untuk pria itu lupakan seolah tidak ada arti apapun.


"Akan aku kirimkan fotonya nanti."


"Ya. Kirimkan padaku segera. Kau terus pantau pergerakan Ola dan cari tahu tentang wanita beranama Karen. Kenapa dua mantanku itu bisa saling berhubungan."


"Baik, bos."


Shaka menutup telfonnya. Memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya lalu membuka pintu untuk keluar darisana.


Langkahnya menuju ruang tamu. Shaka dapat melihat punggung Jean disana tampak menonton televisi sambil mengunyah sebungkus snack kentang milik Shaka.


Sebentar, ada yang aneh.


Ada suara sesegukan seseorang yang seperti tengah menangis.


Shaka buru-buru mendekati sofa. Benar saja, gadis itu tengah menangis sesegukan dengan masih terus melahap keripik kentangnya.


Berbagai spekulasi berkeliaran di benak Shaka. Apa Jean menangis karena dirinya lagi?

__ADS_1


"Jeannie, ada apa?" tanya Shaka pelan. Kini dia sudah duduk tepat di sebelah Jean.


Jean menunjuk layar televisinya, lalu berbicara dengan suara terbata. "Poong Wonho mati."


Shaka mengerjap, "Poong apa?"


"Poong Wonho, Shaka." seru Jean menunjuk layar televisinya. Shaka mengikuti arah telunjuk Jean menuju ke layar televisi. Pria itu akhirnya paham bahwa gadis ini menangis karena tontonan drama koreanya.


"Kenapa dengan si Poong?" Tanya Shaka.


"Dia-dia mati. Bahkan Na Bora baru mengetahuinya setelah dua puluh tahun kemudian. HUAAA..."


Shaka gelagapan mendengar tangisan Jean yang semakin kencang. Walaupun dia tidak paham dengan jalan cerita film yang kini tengah di tonton oleh Jean, Shaka mencoba mengerti. Gadis ini tengah dalam masa haid, dan mungkin saja filmnya sangat menyahat hati hingga membuat tangsinya tak terkontrol. Jadi, yang hanya bisa di lakukannya hanyalah mengelus punggung Jean dengan sabar.


"Sudah, berhentilah menangis."


"Kau tidak paham, Shaka! Mereka bahkan belum sempat beradegan romantis, huaaa!!" Jean kembali menangis sesegukan.


Shaka menggeleng melihat Jean kini sedang membuang ingusnya dengan tisu. Ada banyak tisu berhamburan di lantai dan sofa. Dia jadi berpikir, apakah sesedih itu filmnya?


Jean kembali menangis saat melihat adegan dimana pemutaran video lawas sang pria di dalam film yang sedang di tonton oleh si wanita. Tampak begitu menyayat hati sampai membuat air mata Jean mengalir deras.


Shaka dengan setia menemani Jean sambil sesekali membantu membersihkan hidung dan pipi gadis itu menggunakan tisu dan tangannya. "Sshh.. Sudah, jangan terlalu keras. Nanti dadamu sakit." ujarnya.


"Kemari." Shaka merentangkan sebelah tangannya ke belakang punggung Jean yang langsung di sambut oleh gadis itu.


Entah karena hormon dan mood gadis itu yang tengah berantakan, dia dengan nurut menenggelamkan wajahnya di dada bidang Shaka dengan masih sesegukan. Pria itu hanya diam dengan tangan yang aktif mengelus punggung dan kepala Jean berusaha membuat gadis itu tenang.


"Mau minum dulu?" tawar Shaka, namun tidak mendapatkan jawaban dari gadis itu.


"Jeannie?"


Hening.


Shaka menunduk melihat ke dua mata Jean memejam dengan kelopak mata yang basah. Mungkin karena terlalu lelah menangis atau terlalu nyaman bersandar di dada Shaka, Jean dengan mudah sekali tertidur.


Sebelum membawa Jean menuju kamar gadis itu, Shaka lebih dulu mengeringkan kelopak dan bulu mata Jean yang basah menggunakan tisu.


Melihat Jean dengan wajah kemerahan, dengan hidung yang memerah seperti tomat dan juga pipi yang lembab terlihat sangat menggemaskan dan cantik di mata Shaka. Menurutnya, Jean dengan tampilan polos seperti ini atau pun dengan make up yang terkadang di gunakan oleh gadis itu, Jean tetaplah sangat cantik.

__ADS_1


Untuk ke sekian kali yang tidak akan bisa terhitung olehnya, jantung Shaka berdegub kencang melihat wajah Jean kini sudah sedekat ini dan berada di pelukannya masih lah hal yang tidak terbayangkan akan terjadi secepat ini olehnya. Dulu, Shaka hanya bisa menatap Jean dari jauh, dan sekarang bahkan gadis itu berada di pelukannya dan bersandar di dadanya.


Shaka pikir akan ada perjalanan panjang untuk mengejar cintanya, namun hanya dalam waktu singkat Jean sudah sedekat ini dalam jangkauannya. Tentunya dengan bantuan sang Ibu tercinta, Haisa. Begitu cintanya Shaka kepada Ibunya itu.


Shaka mengecup kepala Jean dengan sayang kemudian menggendong dan membawa gadis itu menuju kamarnya.


***


Pukul dua siang Jean terbangun dari tidurnya dengan kepala pening dan kelopak mata yang berat akibat banyak menangis. Jangan lupakan dia yang semalam menangis karena tembikarnya pecah, di tambah film yang tadi siang dia tonton. Betapa beratnya matanya saat ini.


Jean menuruni ranjangnya kemudian keluar dari kamar menuju dapur. Indra penciumannya langsung menangkap harum luar biasa enak. Rupanya Shaka disana tengah melahap semangkuk mie rebus berukuran besar. Jean yakin Shaka tidak hanya memakan satu bungkus mie melihat betapa besarnya mangkuk itu.


"Kau lapar? Kemarilah dan makan bersamaku. Aku memasak tiga bungkus mie sekaligus." ujar Shaka ketika melihat Jean berdiri tidak jauh darinya.


Jean mendekat, mengambil mangkuk kecil kemudian duduk di sebelah Shaka.


Pria itu menggeser mangkuk mienya, berbagi pada Jean. Melihat kelopak mata Jean yang masih sembab dan bengkak, tangannya reflek menyentuh salah satu kelopak mata gadis itu. "Apa terasa mengganjal?"


Jean mengangguk sembari menyeruput mienya. "Jangan menangis lagi. Hari ini kau sudah banyak menangis."


Lagi-lagi Jean hanya mengangguk. Rasa lapar di perutnya sudah meronta-ronta, jadi dia lebih memilih fokus mengisi perutnya yang keroncongan lebih dulu.


"Kau menambahkan apa di dalam mienya?" tanya Jean karena merasakan mie buatan Shaka berbeda.


"Aku menambahkan perasan jeruk limau, dan tomat. Apa kurang enak?"


Jean menggeleng, "Tidak. Ini sangat enak. Aku mau tambah lagi."


Jean yang memang menyukai rasa asam dari jeruk nipis, langsung jatuh cinta dengan mie buatan Shaka. Sepertinya kedepannya dia akan membuat mie seperti yang Shaka buat.


Shaka menggeser mangkuknya ke depan Jean. "Untukmu saja. Aku sudah makan banyak tadi."


Seperti mendapat jatah makan lebih, Jean tersenyum senang. "Terimakasih." ucapnya lalu makan dengan lahap.


"Pelan-pelan, nanti tersedak." ujar Shaka memperingati.


Tiba-tiba Jean mengusap-usap kelopak matanya. "Ah, mataku berat sekali."


"Tidak apa-apa, kau sembab pun cantik."

__ADS_1


Jean menatap Shaka sengit, "Jadi maksudmu kemarin-kemarin aku tidak cantik?"


Oke, sepertinya Shaka salah ucap lagi.


__ADS_2