PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Maaf, Jeannie


__ADS_3

Delvin mendekati Shaka setelah menutup sambungan telfonnya. Kemudian berbisik di telinga Shaka.


Tatapan mata Shaka kembali menghunus tajam menatap ke dua Pria yang kini sedang di tahannya. Langkahnya mendekati mereka sembari menyesap rokok lalu menghembuskan napas sekaligus membuang asap dari hidung dan mulutnya.


"Kalian masih mengingat perkataanku tadi?"


Ke dua Pria itu mengangguk, "Iya, Tuan."


"Jika kalian berbohong, kalian siap untuk apa?" Shaka bertanya mengulang perkataannya tadi.


"Si-siap untuk mati, Tuan." ujar mereka serempak.


"Bagus." Shaka menjentikkan jarinya. "Aku tanya sekali lagi, wanita yang menghubungi kalian memberitahu namanya sendiri, Meinka?"


"Iya, Tuan. Dia memberitahu kami namanya sendiri bahkan sebelum kami bertanya."


"Oke." Shaka membuang puntung rokoknya lalu menginjaknya.


"Kurung mereka di bawah tanah. Siksa mereka dan beri mereka makan satu kali sehari." ujar Shaka pada para penjaga disana.


"Tuan, Tuan! Mohon ampuni saya, Tuan maafkan saya."


"Tuan jangan seperti ini. Saya mohon bunuh saya saja. Tolong jangan siksa saya."


Shaka menarik sudut bibirnya, tersenyum smirk. "Hei, gadisku dan Ibunya bahkan masih belum sadar dari koma. Bagaimana mungkin aku membunuh kalian semudah itu? Bukankah aku sudah mengatakannya bahwa kalian bahkan tidak pantas untuk hidup atau pun mati."


BRUK


Kursi salah satu dari mereka terjatuh karena mereka yang ingin bersujud.


"Tuan maafkan saya, Tuan. Ampuni saya."


"Kau bahkan tidak pantas untuk ku berikan ampun." ujar Shaka sambil berlalu. Tiba-tiba Shaka berhenti, berbalik menatap mereka sambil tersenyum. "Ah, ya. Tentang keluarga kalian, tenang saja, aku akan merawat mereka dengan baik." ucapnya dan berlalu pergi dari sana.


"Tuan! Tuan! Ampuni saya, Tuan!"


Delvin mendekati mereka. "Kalian tahu beliau siapa?"


Ke dua Pria itu menunduk, tidak tahu.


"Dia Arshaka Virendra Altair. Pengusaha nomor satu di negeri ini dan termasuk jejeran orang berkuasa di negeri ini. Kalian salah telah berani menyentuh miliknya."

__ADS_1


Mereka semakin tertunduk merasa penyesalan paling dalam sepanjang hidup mereka. Mereka bahkan tidak mencari tahu siapa target yang akan mereka sentuh. Bodoh memang, karena pekerjaan mereka sebenarnya hanyalah preman yang suka menganggu gadis-gadis dan juga pencuri. Mereka yang awam dalam kejahatan pembunuhan, hanya melaksanakan tugas dan mendapatkan uang, tidak peduli siapa target yang akan mereka hadapi.


"Maafkan kami, kami terpaksa menerima tawaran ini karena penghasilannya sangat besar."


"Tidak, kau bukan hanya tergiur karena penghasilannya. Katakan sejujurnya."


"Tidak. Hanya itu, Tuan."


"Katakan, maka kalian akan bebas."


Mereka terdiam sebentar untuk menimbang-nimbang. Tergiur dengan kata 'bebas' yang di lontarkan oleh Delvin. Lalu akhirnya mereka berkata, "Benar, kami berniat membalas dendam kami kepada Tuan Shaka karena membuat kami di penjara dan tidak bisa mencari uang untuk kebutuhan istri dan anak di rumah."


Delvin diam-diam mendengus mendengar itu. Beruntung tidak ada Shaka disini, jika ada tentu para Pria ini akan langsung mati di tempat.


"Siapa yang mengeluarkan kalian?"


"Nona Meinka." Jawab mereka tanpa ragu.


Delvin mengangguk mengerti, "Baiklah, kalian akan bebas."


Mereka mengehmbuskan napasnya, lega.


"Setelah napas kalian tidak tersisa lagi." Imbuh Delvin membuat mereka membulatkan ke dua matanya terkejut, merasa telah di bohongi. "A-Apa? Tuan, Anda-"


***********


Shaka memasuki ruang ICU dengan menggunakan pakaian steril. Tertegun menatap Jean di depan matanya berbaring dengan gips membalut lengan dan kakinya.


Dia berjalan pelan, seolah takut membuat gadis itu terbangun dari tidur pulasnya. Pandangannya menatap wajah gadis itu dengan lekat. Ada sedikit luka goresan di pipi sebelah kiri dan keningnya yang di balut perban.


Tangan Shaka terangkat dengan gemetar, menyentuh kulit wajah Jean seringan bulu, takut wajah gadisnya akan terluka karena sentuhannya.


"Jeannie." Suara Shaka berbisik memanggil Jean.


"Mama Selma baru saja tersadar dari masa kritisnya. Kau juga cepatlah sadar, hm? Aku merindukanmu."


Setitik air mata Shaka tiba-tiba turun. Mendapati seseorang yang di kasihi sedang terbaring tak berdaya siapapun pasti akan merasakan kesedihan tak terkira.


Mereka baru saja bertemu dan akan melangsungkan pernikahan dalam beberapa hari lagi, dia tidak menyangka akan ada kejadian mengerikan seperti ini. Shaka mulai menyalahkan dirinya, seharusnya dia hadir saat fitting baju, seharusnya dia bolos kantor demi menemani calon istrinya, seharusnya dia memberikan penjagaan ketat mengingat Jean adalah calon istri seorang CEO besar mengingat siapa pun bisa berusaha menyakiti keluarga dan kerabatnya untuk kepentingan politik kantor yang kotor.


Sungguh, Shaka menyesal terlebih dia belum mengetahui alasan pasti kecelakaan ini bisa terjadi. Apakah ada sangkut paut dengan dirinya, atau ada seseorang yang dendam pada calon istrinya.

__ADS_1


Shaka menangis, merasakan penyesalan mendalam mengingat tidak bisa menjaga calon istrinya dengan baik. Pria itu merasa dia telah lalai bahkan sebelum Jean resmi menjadi istrinya.


Apakah aku pantas menjadi calon suaminya? Aku bahkan telah lalai menjaga calon istriku.


Shaka menunduk, mencium telapak tangan Jean pelan lalu berbisik, "Jeannie, maafkan aku."


...****************...


"Ke dua pelaku telah kami tangkap dan di kurung di gudang tengah hutan. Selain karena ada yang menyuruh, alasan lain mereka melakukannya karena dendam pada Bos yang telah memasukkan mereka ke penjara terkait kondisi malam itu."


"Kau awasi ke dua pelaku tersebut, dan buka mulut mereka. Gali informasi sekecil apapun. Dan kau juga tetap awasi Shaka, jangan sampai putraku melakukan hal di luar batas."


"Baik, Tuan."


Sambungan telfon terputus.


Di luar ruangan, tepatnya di depan pintu kaca, Gavi menatap putranya yang menangis di atas telapak tangan Jean.


Gavi tahu Shaka memiliki perasaan yang halus. Putranya itu walaupun terkadang terlihat sembrono dan masa bodoh, tetapi dia tahu, Shaka memiliki hati seperti Haisa yang mudah tersentuh.


Haisa mendidik putranya dengan sangat baik sehingga Shaka tumbuh menjadi seseorang dengan kepribadian yang baik. Gavi bukannya tidak tahu tentang sisi gelap Shaka yang lain. Delvin selalu melapor padanya apa yang Shaka lakukan jika itu memang penting untuk di laporkan pada Gavi.


Selama ini Gavi hanya bungkam dan memantau semuanya di belakang. Terkadang dia diam-diam membantu mengurus kekacauan dengan campur tangan Delvin agar putranya tidak terkena masalah di kemudian hari. Gavi membiarkan Shaka menghukum orang-orang yang mengganggu dirinya, asal tidak di luar batas dan memang pantas untuk di dapatkan oleh si Pelaku.


Tiba-tiba tepukan di bahunya terasa. Haisa sendiri disana.


"Bagaimana keadaan Shaka?" tanya Haisa.


"Dia menangis." kata Gavi.


"Ya ampun, dia sangat mencintai Jean, ya." Haisa berdiri di samping Gavi seraya menatap Shaka dari luar.


"Ya. Dia putramu. Perasaannya halus seperti dirimu." Gavi merangkul pundak Haisa.


"Apa didikanku terlalu berlebihan sehingga perasaannya sangat halus? Shaka bahkan tidak pernah terlihat marah, dan selalu bertingkah petakilan. Sangat berjiwa bebas."


Gavi tersenyum tipis mendengar ucapan Haisa.


Ya. Di depan keluarga, anakku tidak pernah terlihat marah. Dia begitu pintar menyembunyikan dan menahan kemarahannya dengan baik.


"Nanti kau coba hibur Shaka. Sepertinya dia sedang menyalahkan dirinya sehingga membuatnya menangis seperti itu."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2