
“Jadi, kau akan menikah dengan Shaka. Arshaka yang itu?” Ezar bertanya dengan raut terkejut.
Saat ini Ezar, dan Kayana tengah berada di rumah Jean. Mereka semalam menginap disana. Kayana menginap di kamar Jean, sedangkan Ezar tidur di kamar tamu.
Mereka saat ini baru saja selesai berolahraga pagi lalu mengistirahatkan diri di taman belakang rumah Jean.
Ada karpet terbentang di teras belakang, mereka mengistirahatkan diri disana.
“Iya, Arshaka yang itu.” Jawab Jean kalem.
“Bagaimana bisa?”
“Tentu saja bisa. Jika kau yang menikah dengan Shaka baru tidak bisa.” Kayana ambil alih membalas.
Ezar mencebik. “Aku tidak menyukainya, tahu.”
“Aku tidak bilang kalau kau menyukainya, tahu.” Balas Kayana.
Sudah seperti kebiasaan, Ezar dan Kayana memang terkadang suka sekali berdebat hal-hal sepele. Dan biasanya peran Jean adalah berdiam diri dan hanya menonton sebelum akhirnya memisahkan mereka jika keadaan sudah terlihat tidak kondusif.
"Tapi kau seperti seakan mengatakan bahwa aku menyukainya."
Ck, mulai, deh.
Jean hanya bisa menggeleng melihat Ezar dan Kayana kembali adu mulut.
"Nah, berarti kau salah paham. Aku kan tidak mengatakan seperti itu ya, Jean?"
Oke, Kayana sudah mulai mencari sekutu.
Sayangnya, Jean tidak berniat memihak siapa pun. Biarlah mereka sibuk berdua, nanti juga akan diam sendiri. Lebih baik dia membuka jaketnya karena tubuhnya mulai terasa gerah dan lengket. Menyisakan bra sport di tubuh atasnya.
Dilihatnya Kayana dan Ezar masih betah dengan perdebatannya, Jean memilih masuk menuju dapur. Ingin mengambil cemilan serta air dingin untuk teman-temannya.
Berjalan santai menuju dapur, Jean membuka kulkas kemudian menegak sebotol air dingin. Tidak menyadari bahwa ada presensi asing disana tengah berada di meja makan bersama adiknya.
Eshan bersama orang itu menoleh memandangi Jean bahkan sejak dia memasuki dapur dengan kepala menunduk.
"Kak." panggilan Eshan berhasil membuat Jean menoleh. Sontak saja membuat ke dua bola mata Jean melebar menyadari ada Shaka disana.
__ADS_1
"Kau! Bagaimana bisa kau disini?" Jean menunjuk Shaka dengan raut terkejut. Sedangkan sang empu hanya diam menatap Jean.
"Tentu saja masuk dari depan pintu lah, Kak. Memangnya bagaimana lagi?" Eshan yang menjawab.
Jean masih dengan raut terkejutnya beralih menatap sang adik. "Kau juga. Bukankah semalam kau bermalam di Apartemenku?"
"Aku kesini tadi pagi saat Kakak jogging. Oh ya, kata Mama ada Mba Kay sama Bang Ezar. Dimana mereka?"
"Disini."
Suara bass membuat atensi mereka teralihkan. Tampak Ezar datang tanpa Kayana.
"Bang Ezar!" Eshan menyapa riang.
"Lama tidak berjumpa, Eshan." Ezar menyahut santai seraya menepuk puncak kepala Ezar.
Tidak ada yang menyadari tatapan ke dua mata Shaka menajam saat melihat kedatangan Ezar dari halaman belakang rumah. Bagaimana tidak, Jean dengan celana training dan bra sport begitu santai berada di tengah-tengah mereka, seolah mereka sama seperti Jean.
Jean dengan kulit bersih yang terkena keringat membuat kulitnya terlihat mengkilap dan bersinar. Garis kurva di sekitar lehernya membuktikan bahwa gadis itu begitu kecil dan kurus, di tambah pusar kemerah-merahannya yang terlihat kecil. Shaka yang melihat itu saja sudah panas dingin, apalagi ada Ezar yang notabenya orang asing. Yah, walaupun Shaka yakin Ezar tidak akan tertarik dengan Jean, tetapi tetap saja Shaka tidak sudi membagikan pemandangan yang seharusnya hanya di lihat olehnya. Bukan pria asing.
Ingat, Shaka adalah calon suami Jean. Sedangkan Ezar hanya seorang teman.
"Ada Tuan Shaka juga. Apa kabar, Tuan?" Ezar mengulurkan tangannya. Shaka dengan raut tersenyum paksa menyambut uluran tangan Ezar tanpa menjawab sapaan Shaka.
"Baru saja." Jawab Shaka pendek.
"Jean, botol dan cemilannya aku bawa, ya. Kayana menunggu di belakang." Kata Ezar kemudian berlalu.
"Aku ikut, Bang." Eshan berlari mengekori Ezar.
Setelah kepergian mereka, Jean mendudukkan diri di kursi sebelah Shaka. "Sudah sarapan?"
Shaka menunjuk piringnya yang kosong. Jean mengangguk mengerti bahwa Shaka baru saja menghabiskan sarapannya bersama Eshan karena ada dua piring kosong disana.
"Mandilah," ujar Shaka.
Jean yang salah mengartikan ucapan Shaka mengendus bau tubuhnya. "Apa aku bau?"
Shaka menatap Jean, masih dengan tatapan tajamnya. "Tidak. Aku takut kau nanti akan masuk angin."
__ADS_1
Jean yang baru menyadari penampilannya tertegun sejenak. Jujur saja, Jean tidak menyadari bahwa penampilannya saat ini hanya memakai bra sport. Dengan Ezar, Jean sudah terbiasa karena dia sangat yakin Ezar tidak akan tertarik dengannya apalagi dengan tubuhnya, namun dengan Shaka, bagi Jean, Shaka masihlah orang asing walaupun kenyataannya pria itu adalah calon suaminya. Jean hanya masih belum terbiasa dengan kehadiran Shaka.
"Ah, maafkan aku. Aku tidak sadar."
"Jeannie."
"Hm?"
Shaka melembutkan tatapannya, "Boleh aku meminta satu hal?"
"Apa?"
"Bisakah kau jangan berpenampilan seperti ini lagi di depan pria lain?" pinta Shaka.
"Kenapa?" Jean bertanya dengan suara pelan.
"Aku tidak suka. Kelak kau hanya boleh begini di depanku, tidak di depan pria lain."
Jean menatap Shaka sambil mengedipkan matanya lucu. "Tapi Ezar bukan pria lain."
Shaka menghela napasnya. "Ezar memang temanmu, tapi dia seorang pria." Kini tatapan Shaka terlihat menuntut.
Walaupun Jean masih berpikir apa alasan Shaka melarangnya menggunakan pakaian terbuka seperti ini di depan Ezar, namun dia akhirnya mengangguk. Toh, Shaka adalah calon suaminya. Mungkin Shaka tidak menyukai Jean berpenampilah terbuka di depan pria selain dirinya. Jean pikir, kalau pun Jean di posisi Shaka mungkin dia akan melarangnya seperti itu juga.
"Baiklah. Aku tidak akan berpenampilan seperti ini lagi."
Shaka tersenyum. Tangannya terangkat, mengusap kepala Jean. "Bagus. Mandilah, lalu sarapan. Kita akan ke rumahku. Ayahku ingin bertemu denganmu."
Jean membulatkan ke dua matanya. "Tuan Ivan?"
"Kenapa kau terkejut? Bukankah sebelumnya kau menanyakan tentang restu ayahku? Kau bisa menyapanya dengan benar nanti." ucap Shaka sembari merapihkan anak rambut di kening Jean.
"Tapi aku belum mempersiapkan diri." kata Jean pelan. Bertemu Ivan memang adalah suatu kehormatan baginya. Siapa yang tidak mengenal Ivan, ayah Shaka. Ivan terkenal dengan predikat pengusaha paling sukses di negeri ini sebelum Shaka meggantikan posisi sang Ayah. Rumor bahwa Ivan merupakan seseorang dengan kepribadian dingin serta berjiwa tegas dan otoritas membuat nyalinya sedikit menciut.
Shaka mengusap pelipis Jean yang sedikit berkeringat. "Kau hanya bertemu dengan ayahku, bukan presiden."
Jean menggigit bibir bawahnya. "Tetap saja. Ini sangat mendadak."
Shaka menyentuh bibir bawah Jean agar tidak di gigit oleh gadis itu lagi. "Tenanglah, ada aku, hm?"
__ADS_1
Akhirnya, Jean mengangguk. "Baiklah, aku bersiap dulu."
Shaka tersenyum menanggapi. Kemudian Jean bangkit menuju kamarnya di lantai satu.