PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Meinka?


__ADS_3

Shaka berdiri di depan jendela ruang ICU. Memandang presensi yang masih tertidur di brankar dengan sebelah tangan dan kaki yang di gips.


"Jeannie." Shaka menggumam pelan memanggil gadis itu.


Jean terlihat begitu tenang dalam tidurnya seolah tidak ada yang terjadi. Shaka teringat beberapa jam sebelum dia mendengar bahwa calon istrinya kecelakaan, dia bahkan sangat mendamba dan ingin segera menikahinya secepat mungkin.


Betapa Shaka sangat menyukai dan mencintai Jean dengan seeganap hatinya.


Dia merogoh ponselnya di saku, yang beberapa waktu lalu di berikan oleh anak buahnya.


Shaka membuka chat terakhir dari Selma.


Mama Selma


Nak Shaka, lihatlah sekarang Jean jadi tinggi dan cantik. Kau harus menyimpan ini ya, jangan sampai di hapus, loh.


[Photo]


Shaka tersenyum tipis membaca pesan itu kembali dan melihat Jean disana yang terlihat sangat cantik. Selma mengatakan bahwa Jean jadi tinggi, dan cantik. Padahal gadis itu cukup tinggi dan wajahnya bahkan sangat cantik.


Shaka terkekeh pelan. Namun, tiba-tiba ke dua matanya terasa panas dan memerah. Air matanya mendadak ingin keluar.


Beberapa menit sebelum dia menginjak kakinya di rumah sakit, dia masih berbincang dengan Delvin tentang bagaimana dia sangat menginginkan pernikahan ini, tentang bagaimana dia sangat mencintai Jean dan akan berjuang untuk meraih cinta gadis itu dengan sungguh-sungguh.


Semua seolah semu saat tiba-tiba kabar buruk datang. Shaka tidak ingin memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk tentang Jean. Dia percaya bahwa gadisnya kuat, bahwa calon istrinya adalah gadis tangguh dan tidak akan menyerah.


"Jeannie, aku menungumu, sayang." Lirih Shaka pelan dengan pandangan menatap Jean lurus.


Beberapa saat kemudian, Delvin datang berlari dengan tergesa.


"Bos, anak buahku sudah berhasil menangkap mereka."


"Kita kesana."


...****************...


Shaka berdiri menyandar di tiang dengan tatapan mata tajam menatap dua orang yang kini terlihat tengah di ikat di kursi. Pria berpakaian seperti preman yang di kenalinya saat kejadian malam itu ketika Jean di kejar oleh beberapa Pria kini tengah berada di hadapannya.


"Lama tidak berjumpa, ya." Shaka berbicara dengan nada biasa saja terkesan santai, tatapan tajam di matanya meredup. Seolah tengah berbicara dengan kerabat bukan lawan.


"Kalian hanya berdua, dua nya lagi kemana?" tanya Shaka masih dengan nada ramah, namun malah terdengar menyeramkan bagi mereka. Seolah Shaka adalah bom waktu yang akan meledak kapan saja.

__ADS_1


Ke dua Pria itu tidak menjawab.


"Jawablah." Kata Shaka.


Lagi-lagi mereka bungkam. Walaupun raut wajah mereka terlihat biasa, namun sejujurnya mereka sungguh merasa ketakutan. Mereka baru menyadari bahwa Pria yang berada di hadapannya ini bukanlah orang sembarangan. Di lihat dari ruangan yang kini tengah menyekap mereka adalah gudang tidak terpakai di tengah hutan, dengan begitu banyak pengawal mengelilingi mereka. Membuat aura membunuh begitu kuat seolah Shaka adalah orang besar yang begitu berpengaruh di negeri ini.


Well, memang begitu kenyataannya.


"Jawab atau mati." Suara tegas dan rendah Delvin terdengar. Pria bule ini lebih terlihat menyeramkan di bandingkan dengan Shaka yang saat ini terlihat biasa saja. Delvin dengan perawakan tinggi besar dan wajah tegas khas eropa terlihat sepuluh kali lipat lebih menyeramkan di bandingkan dengan Shaka.


"Me-mereka tidak ikut." Jawab salah satu Pria preman itu dengan terbata.


"Alasannya?"


"Mereka sa-saat ini sudah pulang ke kampung halaman masing-masing." Jawab Pria itu lagi.


Shaka melipat ke dua tangannya di dada. "Oh ya, bagaimana kalian bisa keluar dari penjara?..."


"..., Kalian tahu, aku sudah menyusun rencana jika kalian keluar dari penjara aku akan menghabisi kalian tanpa jejak seolah kalian tidak pernah ada di dunia."


Shaka memang masih berucap dengan nada kelewat santai, namun saat di kalimat terakhir dia berucap membuat ke dua bulu kuduk ke dua Pria yang tengah terikat itu naik, was-was, dan ketakutan semakin mendominasi.


"Rupanya kalian ingin lebih dulu mati di tanganku, ya. Bagus sekali."


"Katakan, siapa yang menyuruh kalian?" Shaka bertanya dengan nada rendah.


"Tidak ada."


Dua pengawal mendekati mereka. Mencondongkan pistol ke arah belakang kepala mereka.


Ke dua tubuh Pria itu bergetar, menyadari ada sesuatu yang menyentuh belakang kepala mereka.


"Katakan." Ulang Shaka lagi.


"Kami menjawab atau tidak, tidak akan ada bedanya. Kami pasti akan mati." Salah satu Pria berambut gondrong yang sedari tadi diam berucap.


Shaka mengambil satu bungkus rokoknya dari dalam saku. Mengambil satu batang lalu menyalakannya.


"Apa kau merokok?" Tanya Shaka setelah menghisap batang rokoknya.


Ke dua Pria itu bungkam.

__ADS_1


Shaka kembali memasukkan bungkus rokoknya ke dalam saku. Sebelah tangannya di masukkan ke dalam saku, tangan yang lainnya memegang puntung rokok yang sesekali dia hisap.


Shaka mendudukkan diri di kursi yang berada di tengah.


"Kau tahu siapa gadis yang kalian lukai?"


"Dia calon istriku, cintaku, dan duniaku."


"Kalian tahu sebesar apa kesalahan kalian? Salah satu dari kalian merobek baju gadisku, kalian ku jebloskan ke penjara. Bagaimana dengan saat ini, saat gadisku bahkan hampir kehilangan nyawanya. Bukan hanya gadisku, ada calon mertuaku juga."


"Bukankah kalian bahkan tidak pantas hidup atau pun mati?"


Shaka membuang asap rokoknya ke depan wajah para Pria itu.


"Aku berikan satu kesempatan kalian untuk menjelaskan atau keluarga kalian akan ku musnahkan." ujar Shaka membuat ke dua Pria itu membulatkan ke dua matanya terkejut. Tidak menyangka bahwa Shaka akan melibatkan keluarganya.


"Jangan Tuan, Anakku masih bayi. Kumohon, jangan Tuan. Ampuni kami."


"Tuan, ampuni kami. Kami bersalah, tolong ampuni kami. Mereka tidak tahu apapun. Hukumlah kami saja."


Mereka memohon dengan raut wajah panik dan khawatir.


"Maka, katakan dengan jelas. Siapa dan apa alasan kalian menyakiti gadisku, dan calon mertuaku?"


Hening. Belum ada yang ingin menjawab.


Tarikan pelatuk dari pistol yang di todongkan pada mereka berbunyi membuat mereka semakin panik.


"Tu-tuan. Kami dihubungi oleh seorang wanita untuk mencelakakan seseorang dengan imbalan delapan puluh juta. Kami sungguh tidak mengetahui bahwa Nyonya yang akan menjadi target kami. Saya bersungguh-sungguh, Tuan." Seru Pria itu. "Maafkan saya, Tuan. Ampuni saya." kepala Pria itu menunduk dalam.


"Siapa?" tanya Shaka.


Mereka ragu menjawab.


Pistol semakin di tekan ke kepala mereka membuat mereka semakin menunduk.


"No-nona Meinka."


Shaka menatap Delvin yang langsung di pahami oleh Pria itu. Dia langsung menghubungi seseorang untuk segera mencari tahu tentang wanita bernama Meinka.


"Kalau sampai kalian ketahuan berbohong padaku satu kata saja, aku akan memberikan kalian pilihan. Mati di tanganku atau mati di tangan Pria bule disana."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2