
Melihat Shaka yang tengah berbisik di telinga Jean, membuat Ola merasakan panas di dadanya. Bahkan sejak tadi dia sudah merasakan panas saat Shaka mengenalkan Jean sebagai calon istri.
Jujur saja, Ola sangat terkejut saat Shaka mengenalkan wanita di depannya ini sebagai calon istri Shaka karena Ola sangat paham Shaka tidak mudah di dekati oleh seorang wanita. Dulu saja, hubungan Shaka dengannya hanya bertahan selama kurang dari sebulan.
Saat itu, Ola pikir Shaka memiliki kelainan karena selama masa hidupnya, dia tidak pernah di tolak oleh pria satu pun. Kebanyakan dari para pria itu bahkan ada yang sampai mengejar-ngejar dirinya dengan rela menyerahkan apapun demi mendapatkannya.
Tubuhnya tinggi, seksi, wajahnya juga cantik, pakaiannya modis mengikuti trend. Ola sampai harus bertanya pada Delvin tentang kenapa Shaka memutuskannya dan apa kekurangannya tapi Ola tidak mendapatkan jawaban apapun dari Delvin, dan dia memilih menyerah sesuai keinginan Shaka.
Namun, melihat Shaka yang terlihat berubah dalam tiga tahun ini membuat hasrat Ola ingin memiliki Shaka kembali muncul. Saat ini Shaka terlihat jauh lebih tampan dan tentu saja sudah sangat sukses dan mapan.
Tiba-tiba terdengar suara dering telfon dari ponsel Shaka.
“Sebentar, ya. Mamamu telfon.” Shaka pamit dengan wajah tersenyum hangat pada Jean yang lagi-lagi membuat Ola seperti kalang kabut.
Dulu, Shaka bahkan tidak pernah tersenyum seperti itu padanya, dan di depan wanita ini Shaka terlihat begitu lembut. Apa-apaan?!
“Mari duduk dulu.” Jean mempersilahkan Ola untuk duduk.
Ola mendudukkan diri di sebelah Jean. Untuk sesaat mereka sama-sama diam.
“Ngomong-ngomong kau calon istrinya Shaka?” Tampak Ola memulai pembicaraan.
“Iya.”
“Kapan kalian akan menikah?” tanya Ola.
“Minggu depan.” Jawab Jean dengan ramah meskipun dia mengetahui dengan jelas wanita di sebelahnya ini kentara sekali tidak menyukainya.
Ola terlihat menampilkan senyum lebar. “Wah, sebentar lagi, ya. Kenapa Shaka tidak memberitahuku.”
Tentu saja dia tidak memberitahumu. Mengenalmu saja dia tidak ingat.
Jean hanya tersenyum tipis menanggapi.
“Kau harus mengundangku, ya.” Ujar Ola dengan raut masih terlihat seolah dia ikut berbahagia Jean akan menikah dengan Shaka.
“Iya. Aku akan mengundangmu nanti.”
Kemudian Ola menyodorkan ponselnya. “Boleh aku meminta nomormu? Aku akan menghubungimu supaya kau tidak lupa mengundangku.”
Jean dengan ragu mengambil ponsel yang di sodorkan oleh Ola. Mengetik nomornya disana lalu memberikannya kembali kepada Ola.
“Terimakasih.” Ucap Ola tersenyum hangat.
Shaka muncul langsung mengambil tas kecil Jean yang terletak di kursi sebelah yang di duduki Jean. Pria itu mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh Jean. “Ayo pulang. Sudah akan larut.”
Ola melirik genggaman tangan mereka. Hatinya kembali memanas cemburu. Tampak lagi-lagi merasa di kalahkan oleh Jean karena Shaka tidak pernah memperlakukan Ola se-romantis itu membuat Ola semakin ingin merebut Shaka.
“Nona Ola, ingin pulang bersama kami?” Jean bertanya yang memancing tatapan protes dari Shaka.
Jean hanya harus merasa peduli pada Ola melihat penampilan Ola yang sangat tidak baik. Lagipula anggap saja sedang bertanggung jawab karena sudah membuat Ola hampir tertabrak dan juga terluka.
__ADS_1
Ola yang mendapatkan tawaran menggiurkan seperti itu mana mungkin menolak. “Boleh kalau tidak keberatan.”
“Oke.”
Jean menarik tangan Shaka meminta pria itu untuk mengikutinya sementara Ola berjalan denga agak tertatih di belakang.
“Apa yang kau lakukan, Jean?” Shaka bertanya pelan.
“Anggap saja sedang bertanggung jawab.”
“Tapi kita bisa memesankannya taksi.” Shaka masih dengan rasa protesnya.
“Kurang sopan, Shaka.”
“Dimananya yang kurang sopan, Jeannie?”
“Hush, diamlah. Nanti dia dengar.” Jean akhirnya meminta Shaka untuk diam meskipun pria itu masih menunjukkan rasa tidak terimanya.
Tidak jauh dari mereka, Ola memandangi dua insan di depannya dengan tatapan tajam. Menyakisikan bagaimana mereka berjalan berdempetan sambil berbicara pelan.
Ingin rasanya Ola memisahkan mereka karena membuat pandangannya terganggu.
Sebelah sudut bibir Ola sedikit naik, tersenyum sinis.
***
“Terimakasih sudah mengantarku.” Ola berterimakasih dengan sopan karena sudah di antarkan sampai di depan rumahnya.
“Sama-sama, Nona. Kami pergi dulu, sampai jumpa.” Pamit Jean lalu memasuki mobil.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Shaka masih dalam posisinya. Merebahkan diri di punggung kursi dengan ke dua mata terpejam.
Ting.
Suara ponsel Jean terdengar. Shaka membuka matanya sedikit, melihat siapa yang
menghubungi gadisnya malam-malam begini.
“Siapa?”
Jean menatap Shaka, "Kau terbangun?"
"Aku tidak tidur. Siapa itu?"
“Ola.” Jawab Jean.
“Kau bertukar nomor padanya?”
“Iya. Dia memintamu untuk mengundangnya.” Jawab Jean sambil menaruh ponselnya ke dalam tas selempangnya.
Shaka menegakkan tubuhnya, “Dia mengatakan apa saja?”
__ADS_1
“Tidak ada, hanya bertanya kenapa kau tidak memberitahunya bahwa kau akan menikah.”
“Dih, memangnya dia siapa?” Shaka berdecih.
“Mantanmu, kan.”
“Aku bahkan tidak menganggapnya sebagai mantanku.” Gumam Shaka.
“Tapi kau tadi menyubutnya mantanmu.”
Shaka meggeleng, “Kejadiannya rumit dan konyol.”
Jean menatap Shaka dengan raut penasaran.
Shaka yang merasa gemas melihat wajah Jean yang terlihat sangat penasaran itu, mencubit pipi gadis itu gemas. “Jangan disini, aku akan menceritakannya nanti.”
Shaka merentangkan sebelah tangannya meminta Jean untuk bersandar di dadanya, “Tidurlah sebentar, kau terlihat lelah.”
“Aku tidak mengantuk.” Kata Jean namun tetap merebahkan dirinya, bukan di dada Shaka melainkan di lengan Shaka. Agak menjauh sedikit dari tubuh Shaka.
“Baiklah, kau tidak mengantuk.”
Butuh waktu satu setengah jam untuk mereka sampai di rumah Jean karena mereka harus putar arah dari rumah Ola.
Shaka tersenyum tipis mendapati Jean kini terlihat tertidur dengan kepala yang sudah bersandar di dadanya.
Shaka melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul sepuluh malam.
“Pak Nang, tolong bukakan pintu.”
Pak Nang dengan segera turun dari mobil kemudian membukakan pintu mobil di sebelah Shaka.
Shaka turun dari mobil dengan hati-hati dengan ke dua tangan merengkuh Jean, mengangkat tubuh Jean ke dalam gendongannya.
Pintu pagar sudah terbuka lebar. Shaka berjalan lurus memasuki halaman rumah Jean.
Pintu rumah Jean yang terbuka sedikit membuatnya ragu apakah masuk saja atau memencet bel, sedangkan ke dua tangannya sedang sibuk.
Akhirnya dia memilih memasuki rumah Jean, “Permisi,”
Selma yang memang sedang berada di ruang tamu, langsung menghampiri Shaka.
“Ada apa dengannya Shaka?” Selma langsung bertanya dengan panik mengira putrinya kembali pingsan seperti dulu.
“Tertidur. Maaf Ma, Shaka sembarangan masuk.”
“Tidak apa-apa. Masuklah, bawa Jean ke kamarnya.”
Shaka mengangguk. Belum sempat Shaka melangkah, Selma sudah lebih dulu menahan. "Kau yakin kuat membawanya ke atas?"
Shaka terkekeh, "Tubuh Jean ringan, Ma. Mama tenang saja."
__ADS_1