
Menempuh waktu yang cukup lama untuk sampai di Kanada. Shaka bersama dengan Delvin, dan Aslan menaiki pesawat jet pribadi untuk segera sampai disana.
Menurut informasi yang di dapatkan oleh Delvin, Zarif kini berada di ibu kota Kanada membuka usaha bar yang cukup terkenal di negera tersebut.
Pukul 9 malam ketika mereka sampai dan mendarat dengan selamat di negara tersebut.
"Ingin istirahat lebih dulu atau langsung menemui Zarif, Bos?" tanya Delvin pada Shaka. Mereka baru saja keluar dari pesawat dengan Shaka memimpin jalan.
"Ke hotel dulu, aku ingin bersih-bersih." kata Shaka.
"Kau tidak bertanya padaku, Vin?" Aslan buka suara. Pria itu tepat berada di sebelah Delvin.
"Aku tidak bertanya pun kau akan mengekor, kan?"
Aslan menjentikkan jarinya, "Setidaknya basa-basi lah sedikit padaku."
Mereka bertiga akhirnya menuju hotel yang telah di pesan oleh Delvin. Kamar mereka saling bersebelahan.
"Satu jam lagi kita bertemu disini." Kata Shaka di depan pintu.
"Satu jam?" Aslan bertanya dengan melongo.
"Kau tahu jelas aku tidak ingin berlama-lama disini." kata Shaka seraya memasukkan tangannya ke dalam saku.
"Tapi satu jam bukankah terlalu singkat? Bagaimana kalau kita bertemu Zarif besok saja?" Aslan masih dengan ketidak setujuannya. Ada ransel besar di punggungnya.
"Kau boleh tidak ikut, Aslan. Aku bahkan tidak mengajakmu kesini."
Aslan berdecak. Memang dia yang mengajukan diri untuk ikut serta. Mungkin kesempatan untuk jumpa rindu dengan teman lama.
"Kau ini kejam sekali, sih. Oke, satu jam aku akan siap disini."
"Oke."
Mereka pun akhirnya memasuki kamar hotel masing-masing. Shaka yang berniat hanya ingin mandi dan bersih-bersih memang tidak membutuhkan waktu yang lama. Delvin pun sama. Lain lagi dengan Aslan, pria itu begitu heboh berada di kamarnya. Mandi dengan kilat, memakan cemilan yang sengaja di bawa olehnya di ransel yang dia bawa, lalu rebahan.
Ya, Aslan memang pria yang tidak bisa lepas dari kasur. Pria itu menghabiskan waktu lima belas jam sehari untuk sekedar rebahan dan tidur mengingat usaha yang dia jalani tidak seperti Shaka yang memegang kendali perusahaan besar.
__ADS_1
Satu jam pun berlalu, Aslan yang kala itu baru memejamkan mata selama lima belas menit segera terbangun dengan wajah kusut.
Mendengar bel berbunyi, dia segera bangkit dan berjalan menuju pintu. "Baru bangun, huh?" Tanya Delvin. Pria bule itu sudah siap dengan setelan jas santai berwarna abu. Sedangkan Shaka berdiri menyandar di pilar dengan jaket kulit hitam.
Aslan mengangguk lesu. "Dia mau menculik siapa?" Aslan menunjuk Shaka dengan dagunya. Memang pria itu berpenampilan cukup mencolok, dari bawah sampai atas berpakaian warna hitam. Belum lagi dengan topi baseball hitam yang melekat di kepalanya.
"Sedang bermain peran menjadi penjahat." Ucap Delvin pelan yang hanya di dengar oleh Aslan.
Aslan terkekeh mendengar itu.
"Cepatlah." Ujar Shaka mengintrupsi mereka.
"Sebentar, aku cuci muka dulu." Aslan pun segera berlalu masuk kembali ke kamar untuk segera mencuci muka.
...****************...
Mereka bertiga memasuki bar milik Zarif yang terletak tidak jauh dari hotel tempar mereka menginap. Tempat dengan pencahayaan minim dan lagu bergenre mellow menyapa indra pendengaran mereka.
Mereka berjalan ke pojok ruangan, dimana tempat temu janji mereka dengan Zarif.
Tampak Zarif disana tengah berbincang dengan seseorang yang sepertinya seorang bartender dari pakaian yang di kenakan lelaki itu.
Mereka pun duduk di depan Zarif sedangkan sang bartender segera pergi darisana.
"Sudah lama sekali ya tidak berjumpa." Zarif mulai menyapa dengan santai.
Aslan menyahut dengan tertawa, "Wah, kau terlihat berbeda ya, Rif." ucap Aslan dengan pandangan takjub. Bagaimana tidak, Zarif yang mereka kenal dulu seorang pria dengan tubuh kurus tinggi dan rambut pendek cepak. Ada kacamata menghiasi wajahnya. Sekarang, Zarif terlihat berbeda 180 derajat. Pria itu terlihat maskulin dengan tubuh berotot dan rambut mullet. Kacamata yang menghiasi wajahnya pun tidak ada.
"Semakin dewasa penampilan pun akan berubah, kan." Sahut Zarif seraya bersalaman dengan Aslan dan Delvin. Pandangannya menatap Shaka yang tengah duduk dengan menyender sembari menatap Zarif dengan pandangan serius.
"Arshaka? Apa kabarmu?" Zarif bertanya dengan pandangan sedikit canggung karena cara pandang Shaka yang terlihat menusuk. Tangannya terulur mengajak bersalaman dengan Shaka.
Sadar Zarif menyapa dengan canggung dan pandangan yang menelisik, Shaka buru-buru merubah mimik wajah dan tatapannya menjadi bersahabat. "Hai, bro. Aku baik, bagaimana denganmu?" ucapnya sembari tersenyum ramah. Raut wajah konyol yang sempat menghilang sejak kecelakaan Jean, kembali muncul.
"Syukurlah, aku baik-baik saja." Zarif menyahut dengan senyum lebar. "Kau masih yang paling tampan di antara mereka, ya." kelakar Zarif memecah suasana.
"Kau pikir aku tidak tampan, huh? Kami bahkan memiliki wajah khas masing-masing." Ujar Aslan menunjuk wajah Shaka, dan Delvin.
__ADS_1
Memang wajah mereka berbeda dengan ciri khas masing-masing. Shaka khas wajah asia, Delvin wajah khas orang barat, sedangkan Aslan khas wajah orang timur tengah. Zarif sendiri keturunan Kanada-Amerika jelas memiliki wajah khas orang barat.
"Ya, ya, baiklah. Kau tidak berubah rupanya, ya." Ujar Zarif dengan tawa. Dia membuka sebotol sampagne lalu menuangnya di gelas. "Jadi, sudah umur dua puluh enam tahun, siapa yang sudah berkeluarga?"
Mendengar pertanyaan Zarif, membuat emosi Shaka seakan muncul. Menikah—keluarga. Shaka mengingat kembali tujuan mereka kesini untuk bertanya dengan langsung perihal Karen.
"Aku tentu saja belum. Apalagi Delvin," ujar Aslan merangkul Delvin di sampingnya.
Delvin tidak menaggapi, dengan acuh meminum segelas sampagne yang telah di tuangnya.
"Ah, apa julukan Delvin... Aku sedikit lupa." Zarif bertanya dengan kening berkerut.
"Kanebo kering." sahut Aslan.
"Ah, benar. Hahaha.." Zarif tertawa dengan Aslan.
"Kudengar kau sudah menikah, Rif?" Shaka bertanya setelah diam mendengarkan.
Zarif menoleh, menatap Shaka. Senyum di wajahnya mendadak pudar perlahan. "Kau mendengarnya darimana?"
"Seseorang kenalan bisnisku di Kanada." Jawab Shaka.
"Benar. Aku sudah menikah dua tahun lalu. Istriku saat ini tengah di rumah mengurus anakku." jawab Zarif dengan raut wajah kembali ramah.
"Kau bahkan sudah memiliki anak?" Aslan bertanya dengan melongo. Delvin segera mencubit pinggang Aslan memberi peringatan jika saat ini tengah dalam mode serius.
Mendapat cubitan itu, Aslan segera kembali bersikap normal. Tetapi dengan kadar keingintahuannya, dia tetap bertanya, "Kau bertemu istrimu disini? Apa dia warga Kanada juga?"
"Iya, dia berkebangsaan Kanada." sahut Zarif lalu meminum sampagne-nya.
"Apa dia cantik?"
"Tentu saja. Bahkan anak kami tampan."
"Wah, aku jadi ingin bertemu mereka. Undang kami ke rumahmu, dong!"
Shaka di ujung hanya diam. Menyimak percakapan antusias Aslan dan Zarif. Biar Aslan menjadi pionnya untuk saat ini agar kecurigaan Shaka pada Zarif tidak tercium oleh pria itu.
__ADS_1
Shaka akan diam sampai saat dimana dia akan menyerang dengan perlahan.
......****************......