PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Cintailah Aku Pelan-Pelan


__ADS_3

"Apa menurutmu menyakiti tunanganku adalah jalan pintasmu untuk menghancurkanku?" Shaka berdecih, "Ya, kau benar. Aku hampir hancur karena tunanganku terlibat kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Tapi, kau seharusnya berpikir siapa yang akan hancur. Aku... Atau kau?"


"Jangan lupakan bahwa kau yang bertanggung jawab atas penderitaan sepupuku!" Seru Ola dengan nada tingginya.


"Apa aku yang menyuruh musuhku untuk mencelakai sepupumu? Atau apa kau punya bukti bahwa 'pria itu' adalah musuhku?" tanya Shaka dengan sorot mata tajam.


Gigi Ola bergemeletuk. Semakin marah dan panas tubuhnya mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Shaka. "Ada karyawanmu bernama Zarif. Dia! Dia adalah suami Karen! Dia yang telah menghancurkan hidup sepupuku! Dia musuhmu!" Ola berteriak penuh emosi.


Shaka menatap Ola sambil berpikir mengingat-ingat. Apakah ada karyawannya yang bernama Zarif. "Delvin,"


"Tidak ada karyawan di perusahaan yang bernama Zarif, Bos. Aku sudah memastikannya." kata Delvin.


"TIDAK MUNGKIN! Pria itu jelas-jelas musuhmu di perusahaan dan berniat menjatuhkanmu dari posisimu sekarang!" Seru Ola membuat Delvin kembali berpikir mengingat-ingat.


"Bos." Delvin mendekati Shaka lalu berbisik di telinganya.


Shaka menoleh kembali menatap Ola setelah mendengar bisikan Delvin. "Kurung dia di gudang."


Ola membulatkan matanya, terkejut.


"Baik, Bos."


"Kau bereskan sisanya, aku pergi." Ucap Shaka kemudian berlalu meninggalkan Ola dengan raut wajah panik dan ketakutan di wajah wanita itu.


"Tunggu! Arshaka! Berhenti! ARSHAKA!"


Shaka tidak mengubris teriakan Ola, dia tetap acuh dan pergi dari kamar itu bersama dengan Delvin yang mengikuti di belakang.


"Urus dan bawa wanita itu ke gudang Hutan. Bawa dia dengan tenang tanpa ada keributan." Ucap Delvin kepada para anak buahnya yang sedari awal berjaga di depan pintu. Sementara Shaka sudah berlalu pergi menyerahkan sisanya pada Delvin.


Aslan yang tengah duduk di salah satu sofa, menghampiri Delvin ketika melihat pria itu berjalan sendiri dari arah kamar. "Ada apa antara Ola dan Shaka? Kenapa dia sampai menyewa kamar disini? Jangan bilang Ola dan Shaka..." Aslan menggantungkan ucapannya, sebelah tangannya menutup mulutnya dengan pandangan tidak percaya.


Delvin yang melihat itu menampar pipi Aslan dengan pelan. "Buang pikiran konyolmu."


Aslan mengembalikan raut wajahnya kembali normal. "Memangnya apa yang aku pikirkan?"


"Pikir sendiri." Ucap Delvin kemudian berlalu.


"Woi, Delvin! Kau belum menjawab pertanyaanku!" Seru Aslan berteriak.


Delvin melambaikan sebelah tangannya tanpa berbalik.


...****************...


Shaka sampai di rumah sakit Jean pukul satu dini hari. Keadaan lorong rumah sakit tampak sepi, hanya ada dia dan beberapa perawat yang tengah berjaga malam.


Shaka membuka ruang rawat Jean dengan perlahan. Tidak ingin sampai membangunkan gadis itu mengingat waktu sudah dini hari.

__ADS_1


Jean tengah tertidur di atas brankarnya, dan Eshan yang tertidur di sofa.


Shaka mendekat, berjalan dengan pelan menghampiri Jean dan duduk di kursi sebelah brankar. Dia meraih telapak tangan gadis itu, kemudian mengecupnya dengan lembut.


"Shaka..."


Suara pelan itu membuat Shaka yang tengah menunduk, mengangkat kepalanya. Menatap Jean yang terbangun menatap dirinya.


"Tidurlah lagi." Shaka bangkit. Mendudukkan diri di sisi kasur Jean yang kosong lalu mengusap kepalanya.


"Aku terbangun satu jam yang lalu dan tidak bisa tidur."


"Baiklah, ingin makan sesuatu?" Tawar Shaka.


Jean menggeleng, "Kau habis darimana?"


Shaka membalas tersenyum, "Apa kau sudah merindukanku?"


Mendengar itu, membuat Jean melayangkan tangannya memukul punggung tangan Shaka pelan, "Aku serius."


"Aku juga serius, Jeannie."


Mereka terdiam. Jean memperhatikan penampilan Shaka. Rautnya terkejut mendapati punggung tangan yang tadi dia pukul, ada memar disana.


"Ini kenapa?" Jean mengangkat tangan Shaka.


"Bukan apa-apa."


"Tidak."


Jean memicingkan matanya, menatap Shaka curiga.


"Sungguh." Shaka berucap dengan bersungguh-sungguh.


Memar di punggung tangannya dia dapatkan saat keluar dari klub malam Aslan. Tidak bisa menahan emosinya, dia menonjok tembok klub dengan penuh emosi sehingga tangannya menjadi memar dan sedikit ada darah disana.


"Tanganmu harus segera di obati, Shaka. Lihat, ini ada darahnya." kata Jean dengan raut khawatir.


"Nanti akan ku obati." Ucap Shaka. Dia melepaskan genggaman tangannya dari Jean, kemudian naik mengusap pipi Jean dengan lembut.


Dia teringat tentang alasan Ola mencelakai Jean dan Selma yang tidak lain adalah karena dirinya. Meskipun 'musuh' yang di maksud oleh Ola belum jelas dan pasti, namun alasan Ola adalah karena dirinya.


Jean dan Selma terluka cukup berat karena dirinya. Apalagi dengan kondisi tangan dan kaki Jean yang di gips. Pasti membutuhkan waktu dan terapi yang lama untuk ke sembuhan gadis itu.


"Jeannie." Panggil Shaka pelan.


"Iya?"

__ADS_1


"Maafkan aku." Ucap Shaka. Raut wajah menyesal sangat kentara di wajah Shaka.


Jean merasa bingung karena pria itu tiba-tiba meminta maaf kepadanya. Ada apa? Apa Shaka membuat kesalahan?


"Maaf untuk?"


Shaka menatap Jean dalam. Menyelam di dalam ke dua manik mata gelap milik Jean. "Semuanya."


"Hm?" Jean mengerutkan keningnya. Tidak mengerti.


Tidak mendapatkan jawaban yang jelas, Shaka memajukan wajahnya. Menempelkan bibirnya di atas bibir Jean. Menggerakkan bibirnya pelan, menyesap bibir atas dan bawah milik Jean bergantian.


Jean menyambut, dan menutup ke dua matanya. Mengikuti gerakan bibir Shaka dengan pelan.


Mendapatkan balasan dari Jean, membuat Shaka meringsek. Semakin mendekati gadis itu dan memperdalam lum4tannya.


"Lidah." Ucap Shaka serak setelah menjauhkan wajahnya sedikit.


Jean tidak mengerti apa maksud Shaka, dia hanya menampilkan raut bingungnya. Baru saja dia ingin bertanya, Shaka kembali membungkam bibirnya. Menerobos masuk lidahnya untuk selanjutnya menyapa dan membelit lidah Jean. Mengeksplor bagian dalam dari mulut gadis itu.


Jean yang semula kaget, menegang kaku merasakan benda tak bertulang itu menyapa indra pengecapnya. Dia memejamkan matanya saat merasakan Shaka menekan tengkuknya ingin memperdalam.


Suara kecapan di dalam ruangan sunyi itu mengalahkan suara mesin EKG di sebelah brankar. Jean pasrah. Mengikuti dan merespon permainan Shaka dengan amatir.


Suara kecapan cukup nyaring terdengar di susul berakhirnya kegiatan mereka. Napas mereka saling beradu dengan ke dua pipi yang memerah.


"Jeannie." Shaka bersuara pelan sambil mengusap bibir Jean yang basah.


"Hm?"


"Aku mencintaimu." Ucap Shaka kemudian menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Jean. Menyandarkan kepalanya disana dengan helaan napas lelah.


Jean tidak membalas. Dia masih sedikit syok setelah kegiatan mereka tadi, di tambah dengan ungkapan cinta pria yang tengah bersandar di bahunya ini.


"Jean, kau marah?" tanya Shaka dengan suara yang tenggelam di kulit Jean. Bagaimana tidak, pria itu benar-benar menempelkan seluruh wajahnya di kulit gadis itu sehingga suaranya terdengar sengau.


"Marah untuk?"


"Yang tadi."


Jean terdiam ragu menjawab. Dia tidak marah. Hanya saja kaget mendengar ungkapan Shaka yang tiba-tiba. Sejujurnya, Jean menyukai Shaka, namun belum sampai tahap dimana dia mencintai pria itu.


"Aku sama sekali tidak marah." katanya sembari mengusap kepala Shaka.


"Terimakasih. Tapi, Jean..." Shaka menggantungkan kalimatnya.


"Ya?"

__ADS_1


"Datanglah dan cintailah aku pelan-pelan, ya?"


...****************...


__ADS_2