
Shaka membaringkan tubuh Jean di atas Kasur dengan perlahan. Membukakan sepatu gadis itu lalu menyelimutinya sampai dada.
Shaka sejenak memperhatikan wajah Jean yang terlelap tanpa terganggu sedikit pun. Jean terlihat sangat cantik bahkan saat memejamkan ke dua matanya. Bahkan wajah berminyak karena belum sempat di basuh membuat wajah putih Jean terlihat mengkilap dan tetap cantik di mata Shaka.
Bulu mata panjang milik Jean menjadi perhatiannya saat ini. Shaka menyentuhnya pelan beberapa kali lalu tersenyum saat ke dua mata Jean mengerut tanda terganggu.
Jean memiringkan tubuhnya ke samping menghadap Shaka kemudian kembali lelap.
Sebelum pergi, Shaka menyempatkan untuk mengecup kening Jean dengan pelan lalu berbisik, “Aku mencintaimu.”
Tanpa di sadarinya, saat Shaka sudah akan menutup pintu, Jean membuka ke dua matanya sedikit. Memandang langit-langit kamarnya dengan pandangan sayu kemudian kembali memejamkan mata, kembali tertidur.
***
“Shaka, sudah makan malam?” tanya Selma saat melihat Shaka sudah turun dari lantai atas.
“Belum,” Shaka baru ingat bahwa dia dan Jean belum sempat makan malam karena menunggu Ola di rumah sakit.
“Makanlah sebentar,” ujar Selma sambil mengibaskan tangannya meminta Shaka untuk menghampirinya.
“Tapi, ini sudah sangat larut. Aku akan makan di rumah saja, Ma.” Ucap Shaka merasa tidak enak karena masih bertamu di rumah Selma selarut ini.
“Eyy… tidak baik, loh, menolak calon mertua. Lagipula siapa yang akan pulang? Kau menginaplah disini. Mama sudah mengabari Ibumu tadi.”
Belum sempat Shaka menanggapi ucapan Selma, ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.
Nyonya Besar
Kau tidak usah pulang. Menginaplah di rumah, Selma.
Pesan baru kembali muncul. Masih dari Haisa.
Nyonya Besar
Ingat Shaka, kau tidak boleh tidur satu ranjang dengan Jean.
Shaka tertegun membaca pesan terakhir Haisa.
“Pasti dari Haisa, kan? Sudah kubilang, menginaplah Shaka.” Seru Selma. “Sini, kemarilah. Makan dulu, baru kau boleh ke kamar. Mama tadi sudah meminjam piyama Eshan di kamarnya, sudah Mama letakkan di kamar tamu.”
Mau tidak mau, Shaka menyanggupi permintaan Selma. “Baiklah. Terimakasih, Ma.”
***
Jean membuka ke dua matanya dengan berat. Kantuk masih di landanya namun, matahari sudah muncul terbukti dengan sinarnya yang menyusup dari balik tirai jendelanya.
__ADS_1
Jean mendudukkan diri. Dirasanya tenggorokannya kering. Tangannya meraba nakas, meraih botol berukuran satu liter yang biasanya tersedia disana. Namun, saat mengangkat botol itu terasa ringan.
Ck, habis.
Jean yang sudah terbiasa meminum air putih setelah bangun tidur berniat untuk ke dapur. Ingin menuntaskan dahaganya sekaligus mengisi botolnya yang kosong.
Dengan langkah kaki terseok dan ke dua mata yang belum sempat terbuka, Jean menuruni tangga dengan pelan sesekali menguap.
“Pagi, Ma.” Sapa Jean dengan suara lemah saat melihat Mamanya tengah memasak di dapur.
Selma menggeleng melihat penampilan Jean yang terlihat berantakan. Jean dengan baju yang kemarin di pakai, rambut berantakan dan juga Selma yakin anak gadisnya itu belum sempat mencuci muka.
Selma jadi malu sendiri melihat anak gadisnya yang terlihat sangat berantakan, apalagi saat ini ada Shaka. Pria itu sudah bangun pagi-pagi sekali dan membantu Selma di dapur.
Kini dia sedang membersihkan buah-buahan di wastafel.
Shaka tersenyum melihat Jean yang kini tengah menegak air putih setelahnya mengisi botol yang tadi di bawanya dari kamar. Jean tampak sibuk dan sama sekali tidak menyadari kehadiran Shaka disana.
Shaka selesai membersihkan buah lalu menyerahkan pada Selma.
“Samperin dia, biar dia kaget.” Kata Selma setengah berbisik pada Shaka.
Shaka mengangguk, dia berjalan menghampiri Jean dengan pelan. Berdiri tepat di belakang gadis itu lalu berujar pelan, “Selamat pagi, Tuan Putri.”
Mendengar suara berat di telinganya sontak membuat Jean memikik kaget, “Woa!”
Shaka tertawa melihat ekspresi Jean yang baginya sangat lucu. “Hahaha…”
Jean melotot, baru menyadari ada Shaka disana. “Arshaka!” pekik Jean kesal.
“Oke-oke, aku minta maaf.” Ujar Shaka dengan masih ada sisa tawa di bibirnya.
“Bagaimana kau bisa ada disini?” tanya Jean. Dia melirik penampilan Shaka yang mengenakan piyama. Apa Shaka menginap disini?
“Terkejut karena melihat manusia se-tampan diriku pagi-pagi begini?”
Jean memutar bola matanya.
“Tenang saja, setelah kita menikah nanti kau akan melihat wajah tampanku dua puluh empat per tujuh.” Ujar Shaka masih dengan jenakanya.
Mendadak Jean ngeri mendengar perkataan Shaka. Kenapa pria ini jadi narsis begini, sih?
Jean menepuk lengan Shaka, “Aku serius.”
Shaka terkekeh. “Mau serius? Ayo, kita ke KUA sekarang.”
Jean menatap Shaka kesal.
Menyadari Jean yang sudah terlihat kesal, Shaka mengusap kepala Jean sambil merapikan rambut gadis itu yang sedikit berantakan. “Kau semalam tertidur di mobilku dan aku yang membawamu ke kamar. Mama Selma memintaku menginap karena sudah cukup larut.”
Jean beru mengingat bahwa dirinya ketiduran di mobil Shaka. Dia melihat bajunya yang saat ini masih dengan pakaian yang di pakainya kemarin.
Apa aku terlihat sangat berantakan?
__ADS_1
Ke dua pipi Jean memerah malu menyadari penampilannya.
Apa yang semalam itu mimpi?
Jean mengingat dengan jelas semalem dia mendengar seseorang berkata mencintainya. Apa dia Shaka atau hanya mimpi?
Jean menatap Shaka, memperhatikan wajah pria itu yang kini sedang minum. Ingin bertanya namun, dia malu bagaimana cara mengatakannya.
Tidak mungkin kan, dia berkata bahwa dia mendengar seseorang mencintainya dan bertanya apa pria itu Shaka atau bukan.
Shaka menyadari tatapan Jean yang tertuju padanya, menyudahi minumnya lalu bertanya, "Ada apa? Kau mengagumi wajah tampanku?"
Jean melongos. Sudahlah, lupakan dia yang akan bertanya. Biarlah jika semalam ada mimpi, kalau pun bukan Shaka pasti akan mengatakannya kembali, kan.
Wajah Jean tiba-tiba panas kembali.
"Kenapa dengan wajahmu?" Shaka bertanya yang lagi-lagi membuat Jean semakin malu.
"Kenapa wajahku?" tanyanya pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Memerah. Seperti kepiting goreng."
"Kepiting rebus, Shaka."
Shaka menjentikkan jarinya, "Maksudku itu. Apa kau menginginkan kepiting rebus?"
Kenapa pertanyaan Shaka kemana-mana, sih.
"Tidak. Aku alergi seafood." jawab Jean datar.
"Sayang sekali. Padahal seafood sangat enak." Shaka menatap Jean prihatin.
"Hm."
“Jean, cuci wajahmu. Mama yakin kau juga belum sempat gosok gigi.” Seru Selma menghentikan percakapan absurd mereka. Selma kini tengah memotong bawang, membelakangi mereka tanpa menoleh.
“Mama.”
Ting.
Ponsel di saku Jean berbunyi. Bahkan ponselnya masih berada di saku roknya.
Terdapat pesan dari Ola yang mengajak dirinya untuk keluar bersama.
Untuk apa wanita ini memintaku bertemu sepagi ini?
Melihat Jean yang seperti tengah termenung, Shaka berinisiatif bertanya,
“Siapa?”
“Ola. Dia memintaku untuk bertemu.”
Shaka mengerutkan keningnya. “Untuk apa?”
__ADS_1
Jean mengangkat bahunya, tidak tahu.