
"Buka mulutmu."
Jean membuka mulutnya saat Shaka menyodorkan sesendok makan berisi bubur nasi.
"Apa kepalamu masih pusing?" Tanya Shaka.
Jean menggeleng, "Tidak, sudah lebih baik."
Shaka kembali menyuapi Jean dengan sabar.
"Bagaimana keadaan Mama?"
"Beliau sudah sadar dari kemarin."
Jean menghela napas, "Syukurlah." Ucapnya bersyukur. "Apa lukanya parah?"
"Tidak separah dirimu." Ujar Shaka sembari menyeka sudut bibir Jean.
Gadis itu teringat bahwa dia kecelakaan karena rem mobilnya yang tiba-tiba rusak. "Shaka, rem mobilku tiba-tiba rusak. Padahal saat berangkat mobilku dalam keadaan baik-baik saja."
"Aku sudah menemukan pelakunya. Aa.."
Jean membuka mulutnya, "Benarkah?"
"Hm."
"Siapa?"
"Dua orang yang pernah mengejarmu malam itu." Kata Shaka sambil terus menyuapi Jean.
Jean mengerutkan keningnya, "Bukankah mereka di penjara?" tanyanya mengingat Shaka pernah berkata padanya bahwa para Preman itu di masukkan ke penjara olehnya.
"Ada yang membebaskannya. Aku masih belum menemukan siapa dalangnya."
Jean termenung sebentar, lalu dia bertanya, "Jadi mereka di suruh seseorang untuk mencelakaiku?"
"Iya."
"Apa motifnya?" Tanya Jean semakin penasaran.
Shaka tersenyum tipis. Tangannya terangkat mengusap puncak kepala Jean, "Kau jangan terlalu banyak berpikir, ya. Biar aku yang akan mengurus mereka."
"Tapi—" Belum sempat Jean menyelesaikan ucapannya, perutnya mendadak merasakan mual yang hebat. Tangannya langsung membekap mulutnya.
"Jeannie.. Kenapa?" Shaka mendekati Jean, memegang lengan kiri gadis itu. "Mana yang sakit?"
"Aku... Ugh... Mual." Ucap Jean terbata. Kepalanya mendadak pusing, perutnya mual tidak tertahankan. Tanpa bisa di cegah, bubur yang semula mengisi perutnya menyeruak keluar membasahi baju dan selimutnya.
"Jeannie..." Shaka segera memencet tombol darurat. Lalu bergegas menopang tubuh Jean yang ambruk ke dalam pelukannya tanpa rasa jijik.
Seorang Dokter dan beberapa perawat datang dengan tergopoh. Mengambil alih tubuh Jean dari pelukan Shaka dan segera merebahkan gadis itu di kasur.
Mereka mulai memeriksa kondisi tubuh Jean.
"Tuan, silahkan anda menunggu di luar. Kami akan memeriksa kembali kondisi Nona Jeannie." Kata Perawat itu.
__ADS_1
Shaka menurut, dia segera keluar agar Dokter dan para Perawat tidak terganggu akan kehadirannya.
Pria itu mendudukkan diri di kursi tunggu tepat di seberang pintu ruang ICU. Menunggu Dokter dengan perasaan gelisah.
"Bos." Delvin datang menghampiri. Duduk di sebelah Shaka.
"Ada apa?" Tanya Shaka yang langsung mengetahui maksud ke datangan Delvin.
"Mengenai Meinka—"
"Shaka!" Lengkingan suara seseorang menghentikan obrolan mereka. Ola datang dengan tergopoh mendekati mereka.
"Ku dengar Jean kecelakaan. Bagaimana keadaannya?" tanyanya dengan raut wajah khawatir.
"Sedang di periksa di dalam." Kata Shaka pendek. Tatapan matanya mengarah pada Delvin. Memberikan isyarat bahwa obrolan mereka akan di lanjutkan nanti.
Delvin mengangguk mengerti.
Ola mendudukkan dirinya di sisi sebelah Shaka yang lain. Pria itu kini berada di tengah-tengah antara Delvin dan Ola.
"Aku khawatir sekali padanya. Walaupun kami baru berteman, tetapi kami sudah cukup dekat." Kata Ola.
Shaka diam, tidak menyahut.
"Kau pasti lebih khawatir, kan? Padahal tinggal beberapa hari lagi kalian akan menikah. Tapi musibah menghampiri Jean yang malang."
Ola masih terus berbicara sementara Shaka di sampingnya mengepalkan tangannya.
"Kau yang sabar ya, Shaka. Banyaklah berdo'a. Aku pun akan membantu untuk mendo'akan kesembuhan Jean." Kata Ola terdengar sungguh-sungguh.
Delvin di sisi lain sebelah Shaka tersenyum miring mendengar ucapan Ola. Betapa manisnya mulu busuk Ola.
Sejujurnya, Delvin mengetahui sisi buruk Ola sejak empat tahun yang lalu. Wanita itu begitu manipulatif. Apalagi saat ini, saat wanita itu kembali setelah sekian lamanya tidak bertemu. Terlihat begitu berbeda dengan penampilan dulunya. Dulu, Ola masih menutupi tubuhnya dengan rapi walaupun terkesan pendek, sekarang lihatlah. Wanita itu datang ke rumah sakit menggunakan gaun yang sangat pendek. Di atas paha. Delvin bahkan yakin, jika wanita itu menunduk sedikit, ********** akan terlihat.
"Ku dengar Jean kecelakaan bersama dengan Ibunya?" Tanya Ola lagi.
"Ya."
"Bagaimana keadaannya?"
"Sudah membaik."
Tangan Ola terangkat, mengusap punggung Shaka. "Syukurlah, kau tetap teguh dan sabar, ya."
Shaka diam. Merasak tidak nyaman punggungnya di sentuh oleh Ola tanpa seijinnya.
Shaka membiarkan beberapa saat, namun tangan Ola masih terus berada di punggungnya. "Singkirkan tanganmu."
"Oh, Maaf." Ola menjauhkan tangannya dengan terpaksa dengan tersenyum canggung.
Hening.
Mereka saling terdiam sambil menunggu Dokter menangani Jean di dalam. Setengah jam berlalu. Dering ponsel Delvin memecah keheningan mereka. Pria bule itu bergegas menjauh, untuk melakukan panggilan dari para anak buahnya.
"Shaka, bagaimana dengan kondisi Jean?" Ola memulai pembicaraan dengan Shaka setelah keheningan berlangsung cukup lama.
__ADS_1
"Kau akan melihatnya nanti." Kata Shaka dengan tatapan lurus menatap pintu.
"Ku dengar dia menerobos lampu merah. Apa benar begitu?"
Shaka melirik Ola. "Ya."
"Bagaimana bisa Jean melanggar lalu lintas?" Ola bertanya dengan raut terkejut.
"Dia tidak sengaja. Ada yang merusak rem mobilnya." Jawab Shaka
"Astaga, apa kau sudah menyelidikinya?"
"Ya. Aku sudah menangkap pelakunya." Kata Shaka tanpa menatap Ola.
Tanpa di sadari oleh mereka, Delvin yang sudah selesai melakukan panggilan menatap mereka dari jauh sambil bersandar di dinding. Terutama Ola, saat Shaka berkata bahwa dia sudah menangkap pelakunya. Delvin merasa ada yang aneh dengan raut wajah Ola.
"Baguslah. Kau harus menghukum mereka karena sudah berani mencelakakan calon istrimu." Seru Ola.
Delvin menaikkan alisnya mendengar seruan wanita itu.
"Ya, aku sudah menghukum mereka. Dan akan mencari tahu siapa dalangnya. Apa kau mengenal seseorang dengan nama Meinka?" tanya Shaka sembari menatap Ola.
Mendapatkan pertanyaan itu, Ola mengerjap, "Aku tidak kenal dengan seseorang bernama Meinka."
"Benarkah?"
Ola mengangguk cepat, "Nama itu terlalu asing ya, kan?"
Shaka mengangguk, "Menurutku pun begitu. Apa nama itu seperti gabungan antara nama seseorang, ya?"
Delvin tersenyum kecil melihat Bosnya. Pasti Shaka merasakan hal mencurigakan dari Ola sehingga Shaka terang-terangan bertanya kepada wanita itu.
"Sepertinya begitu." Ucap Ola terdengar canggung.
Tiba-tiba ponsel Ola berbunyi. "Maaf, aku akan mengangkat telfon dulu."
"Silahkan."
Ola segera menjauh dari sana. Delvin mendekat, duduk di samping Bosnya.
"Bos mencurigai Ola?"
"Ya. Kau juga mencurigainya, kan?" Tanya Shaka menatap Delvin.
"Orangku mengatakan bahwa Ola sempat bertemu dengan ke dua Preman itu. Mereka mendapatkan cctv tidak jauh dimana Ola bertransaksi pada para Pria itu."
Mendengar itu, Shaka menghela napasnya. Kecurgiaan pada Ola semakin menguat.
"Kau selidiki Ola lebih lanjut."
Delvin mengangguk patuh, "Bos, kenapa kau bertanya tentang Meinka pada Ola?"
Ke dua tangan Shaka menopang di pahanya, "Aku sengaja memberitahu dan bertanya padanya karena ingin melihat responnya. Ola bukanlah wanita dengan sikap tenang, dia adalah wanita yang gegabah. Kita lihat, bagaimana dia akan bertindak nanti."
...****************...
__ADS_1