PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Monster Terbang Pt.2


__ADS_3

Tok Tok Tok


Jean bergegas membuka pintu, membuka pintu sedikit lebar menyuruh Shaka untuk masuk.


Di tangan pria itu ada sebuah cangkir kaca, sapu, dan sekaleng semprotan pembasmi hama.


"Apa yang kau bawa?" Jean menunjuk ke dua tangan Shaka yang penuh.


Shaka menunjukkan bawaannya, "Cangkir, sapu, dan semprotan pembasmi hama seperti yang kau suruh."


"Darimana kau menemukan cangkir itu?"


"Laci buffet depan."


Jean memijat keningnya, mendadak pening di rasa kepalanya. Apa Shaka memang se-konyol ini? Astaga, belum apa-apa Jean sudah pusing.


"Aku memintamu membawa cangkir untuk memerangkap kecoaknya. Kalau aku memakai cangkir kaca, nanti pecah, Arshaka." Jean menjawab denga nada di buat ramah, sedang berusaha menetralkan emosinya yang mendadak ingin naik.


Shaka menggaruk belakang kepalanya, "Kau tidak bilang, sih."


Jean tersenyum manis, masih berusaha sabar.


"Kembalikan cangkir itu ke tempatnya. Berikan sapunya padaku."


Shaka menyerahkan barang yang di minta Jean. Kemudian Jean bergerak perlahan, ancang-ancang jika kecoaknya terbang.


Shaka mengekor di belakang sambil melihat-lihat jika ada kecoak di dekatnya.


"WOAA!"


Tiba-tiba kecoak yang di cari mereka terbang menuju atas kepala Shaka membuat pria itu belingsatan tidak karuan.


Sedangkan Jean sibuk dengan sapunya. Melayangkan kesana-kesini agar kecoak tersebut pergi.


Pak!


Kecoak itu mendarat di dinding, dengan cepat Jean langsung melayangkan sapunya, menindih kecoak tersebut agar seranggga itu tidak terbang kembali kemana-mana.


"Mana cangkirnya?" seru Jean pada Shaka.


Pria itu langsung menyerahkan cangkir yang belum sempat dia kembalikan itu kepada Jean.


Jean mendengus melihatnya, dia pikir Shaka sudah mengganti cangkir kacanya dengan cup plastik, ternyata belum.


Mengambil cangkir yang di berikan Shaka, dengan hati-hati Jean menjauhkan sedikit sapunya, lalu memerangkap kecoak tersebut menggunakan cangkir yang di pegangnya.


"Semprotkan." Jean meminta Shaka untuk menyemprot kecoak yang sudah ada di dalam cangkir.

__ADS_1


Shaka mendekat, menyelipkan pipa sedotan ke dalam sela-sela cangkir yang sedikit di longgarkan oleh Jean, lalu menyemprotnya.


"Sudah, cukup." Jean meminta Shaka untuk berhenti menyemprot karena Shaka menyemprotnya dengan sangat banyak sampai airnya mengalir di dinding.


Cangkir kaca itu di biarkan sebentar sampai di rasa kecoaknya sudah pingsan atau mati.


Shaka menunggu dengan sabar dalam keheningan.


"Bagaimana kau bisa takut dengan makhluk kecil seperti ini?" Tanya Jean pada Shaka yang masih merasa tidak habis pikir pada pria itu. Tubuh saja yang besar, pada kecoak pun dia menjerit. Benar-benar.


"Dia seperti monster terbang, Jean. Kau lihat itu." Shaka menunjuk serangga itu di dalam cangkir kaca. "Bentuknya aneh dan menjijikan, bisa terbang pula."


Apa? Monster terbang? Apa Jean boleh tertawa sekarang?


"Tubuhmu bahkan lebih besar dari kecoak, Shaka."


"Tapi aku tidak terbang."


Jean mendengus mendengar ucapan Shaka. "Boleh aku memukulmu?" tanyanya kepalang gemas.


Shaka menggeleng, "Tidak. Kau hanya boleh memelukku. Kau sudah berkerja keras. Sini, aku peluk."


Shaka merentangkan ke dua tangannya, namun bukan pelukan yang dia dapat, melainkan cubitan di pinggangnya.


Jean mencubit pinggang Shaka dengan perasaan gemas sekaligus jengkel.


"Adaw! Sakit, Jeannie." Ringis Shaka sembari mengusap pinggangnya, bekas cubitan Jean.


"Kau lelah?"


Jean menatap Shaka bingung. "Lelah?"


"Kau meminta tisu untuk menyeka keringatmu, kan?" tanya Shaka dengan raut polos.


"Kecoaknya sudah mati, Arshakaaa. Aku akan membuangnya." ujar Jean penuh penekanan. Gemas sekali dengan Shaka yang menurutnya di luar nalar ini.


Bagaimana bisa Shaka menjadi CEO dengan tingkahnya yang cukup mengundang emosi ini?


Apa semua CEO di luar sana memang seperti ini? Padahal yang dia tahu seorang CEO biasanya terlihat sangat berwibawa dan pemberani. Well, itu yang biasanya sering dia baca di novelnya, sih.


Tapi Arshaka ini benar-benar di luar nalar. Jean memang tahu Shaka orang dengan tipe easy going mengingat pria itu yang sejak awal terlihat ramah padanya. Hanya dia tidak menyangka Shaka orang yang terlalu santai dan terlalu ekspresif. Walaupun dia tahu terkadang Shaka menjaga sikap padanya, namun yang di namakan sifat sejak lahir, pasti akan terungkap juga secara tidak sadar.


Mungkin Shaka memang orang yang seperti ini. Selain easy going, Shaka juga ekspresif. Entah apa lagi sifat dan sikap Shaka yang akan membuatnya terkejut lagi di kemudian hari. Semoga saja Jean tidak akan terkejut dan jantungan saat mengetahuinya.


Shaka mengambil lembaran tisu cukup banyak lalu menyerahkannya pada Jean.


Jean meraihnya lalu membuka cangkir kaca perlahan dan mengambil jasad kecoak yang sudah tak bernyawa itu. Kemudian membuangnya di tong sampah terdekat.

__ADS_1


Setelah membuang kecoak tersebut, Jean melangkah ke luar kamar mandi menuju dapur. Ingin minum menuntaskan dahaganya, meredakan rasa lelah yang sedikit di rasakannya.


Pandangannya menuju ke arah ruang tamu. Kedua matanya membola, melihat serpihan tanah liat dari cangkir berbentuk lotus ke sayangannya.


"ARSHAKA!"


Shaka segera keluar dari kamar Jean mendengar lengkingan suara gadis itu yang ke sekian kalinya.


"Apa yang kau lakukan dengan cangkir lotusku?" tanya Jean menatap Shaka tajam.


"Aku tidak sengaja menjatuhkannya saat kau berteriak." ujar Shaka terkekeh dengan canggung.


Jean memijat kening untuk ke sekian kalinya melihat tingkah Shaka yang tidak ada habisnya.


"Itu cangkir berhargaku."


"Akan ku ganti."


"Tidak akan bisa di ganti dengan apapun Arshaka! Cangkir itu pemberian Ayahku." Mata Jean memerah. Menahan air mata yang tiba-tiba menyeruak ingin keluar.


Shaka gelagapan. Dia buru-buru mendekati Jean, menggenggam sebelah tangannya. "Jeannie, maafkan aku. Aku tidak sengaja."


Pertahanan Jean luntur. Dia menangis. Merasakan kesedihan luar biasa melihat cangkir lotus kesayangannya pecah begitu saja akibat ketidaksengajaan calon suaminya.


Shaka merengkuh tubuh Jean erat. Menyesal dengan teramat sangat telah membuat gadisnya menangis. "Maaf. Maafkan aku."


Jean diam. Tidak sanggup mengucapkan apapun, hanya tangis yang kini di lakukannya. Bagaimana pun barang yang pecah tidak akan bisa di benarkan seperti semula. Kalau pun di benarkan kembali, tidak akan utuh dan bagus seperti semula.


Mendengar Jean sesegukan, Shaka mengelus punggung Jean dengan masih perasaan menyesal sangat dalam sambil terus menggumamkan kata maaf.


Beberapa saat kemudian, Jean menjauhkan sedikit tubuhnya. "Tidak apa-apa, cangkir itu ada dua. Aku masih memilikinya satu."


"Maafkan aku."


Ujaran permintaan maaf Shaka membuat dirinya kembali menangis. Walaupun cangkir lotusnya masih tersisa satu, tetapi ke duanya merupakan barang terpenting Jean dari Zian.


Shaka kembali merengkuh Jean, menenangkan gadis itu yang kembali menangis sesegukan dengan terus mengucapkan kata maaf. Hingga setengah jam kemudian, Jean terlelap di dalam pelukannya dengan wajah sembab.


***


Shaka membersihkan pecahan cangkir setelah mengangkat tubuh Jean ke kamar gadis itu. Mengumpulkannya dan meletakkannya di atas tisu lalu membuangnya ke tempat sampah di pojok.


Shaka terduduk di sofa. Mengambil ponselnya di saku. Mengetik pesan kepada seseorang.


Kau carikan aku cangkir seperti di foto yang baru saja aku kirim. Dan tolong kau selidiki Ola, wanita itu tahu tentang Aidan. Selidiki dia, dan jangan sampai kau melewatkan apapun.


Pesan langsung terbalas.

__ADS_1


Baik, Bos.


***


__ADS_2