
Ceklek
Pintu terbuka tepat ketika Jean selesai memencet sandi Apartemennya. Shaka lebih dulu masuk di susul Jean di belakangnya.
Pria itu lebih dulu melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah lalu meletakkan salah satu plastik berukuran besar di ruang tengah. Dia menuju dapur lalu meletakkan plastik lain yang berukuran sedang di pantry. Sementara Jean masih berdiri di dekat pintu, belum melepas sepatu ketsnya dan tampak memperhatikan Shaka yang kesana-kemari seolah ini adalah rumahnya sendiri.
“Sedang apa, Jeannie? Masuklah anggap saja rumah sendiri.” Ujar Shaka dari dapur.
Jean mendengus mendengar itu. Bukankah harusnya dia yang mengucapkan itu?
Sudahlah, ini Shaka. Jean sudah cukup beradaptasi dengan tingkah kekonyolan Shaka yang terkadang membuatnya terheran-heran.
Dia melepaskan sepatunya lalu menggantinya dengan sandal rumah. Dilihatnya Shaka sibuk mengeluarkan isi di dalam plastik. Ada begitu banyak mie instant dengan rasa yang berbeda-beda.
“Mie?” ucap Jean seraya menghampiri Shaka.
“Iya.” Kini Pria itu sedang Menyusun mie miliknya di Kitchen Set.
“Kenapa banyak sekali Shaka? Kau ingin berjualan atau apa?” tanya Jean tidak habis pikir. Bahkan satu laci di Kitchen Set-nya tampak akan penuh.
“Untuk stok.” Shaka menaruh satu bungkus mie di barisan paling ujung.
“Stok apanya?! Kenapa tidak kau taruh di rumahmu?”
Shaka menampilkan raut wajah melasnya, “Nyonya Haisa tidak memperbolehkanku untuk makan mie.”
Jean menaikkan alisnya seolah tidak percaya.
Melihat raut wajah Jean yang seperti tidak mempercayainya, Shaka menggenggam lengan gadis itu. Jangan lupa dengan raut wajah memelasnya. “Pleas, ya.”
“Kenapa kau dilarang makan mie oleh Ibumu?”
Bola mata Shaka berlarian, bingung ingin menjawab apa. Pasalnya, Haisa melarangnya untuk makan mie instant di karenakan hampir setiap hari dia memakannya dengan tanpa sepengetahuan Haisa ketika dini hari.
“Karena mie instant tidak baik untuk kesehatan.” Jawab Shaka kalem.
Telunjuk Jean mengarah pada Shaka, “Itu kau tau!”
“Tapi aku suka.” Gumam Shaka pelan.
Jean menghela napas mendengar itu. Dia jadi teringat ketika mereka di minimarket beberapa waktu lalu. Pria itu juga memohon untuk membeli mie instant dalam jumlah yang banyak. Dia merasa sia-sia saat itu melarang Shaka dan mengembalikan mie kalau berakhir dengan Shaka sendiri yang akan membelinya kembali.
“Baiklah.” Ujarnya pada akhirnya. Karena bagaimana pun semua mie itu tidak dapat di kembalikan. Entah Shaka akan sesering apa ke Apartemennya dengan pria itu yang menyetok mie sebanyak itu.
Senyum lebar penuh kebahagiaan terbit di wajah Shaka. Raut memelasnya sirna sudah mendengar Jean memperbolehkannya untuk menaruh begitu banyak mie instant di laci Kitchen Set. “Terimakasih, calon istri.” Shaka merentangkan tangannya ingin memeluk Jean,
__ADS_1
“Satu minggu sekali.”
Shaka menurunkan tangannya yang terbuka dengan perlahan, raut wajahnya juga yang semula tampak seperti matahari mendadak seperti ada awan gelap, “Kok gitu?”
“Karena mie instant tidak baik untuk Kesehatan.” Kata Jean kalem.
“Dua kali.”
“Satu.”
“Dua.”
“Satu.”
“Habis dua itu tiga, Jeannie. Bukan satu.” Shaka mengoreksi seolah mereka sedang berhitung.
Jean memutar bola matanya, “Oke, dua. Tidak lebih.”
“Terimakasih, Jeannie.” Shaka memeluk Jean dengan perasaan bahagia luar biasa. Lebih baik dua kali seminggu daripada tidak sama sekali. Karena kalau dia makan di luar pun, Delvin pasti akan melapor kepada Haisa. Sampai Shaka bingung, Delvin ini asisten pribadinya atau Ibunya. Makadari itu, setelah satu tahun dia tidak memakan mie instant ke sukaannya, dia hanya bisa mengandalkan Apartemen Jean sebagai persembunyiannya.
***
Jean keluar dari kamarnya dengan tangan yang aktif menggosok rambutnya yang basah. Dia baru saja keramas setelah menghabiskan mie rebus yang di buatkan oleh Shaka. Tentu dengan resep buatan Shaka.
Pria itu kini sedang duduk di karpet bulu tepat di depan televisi ruang tengah. Tangannya memegang stick yang dia ketahui benda itu adalah stick PlayStation.
“Tentu saja. Aku kan sudah bilang akan sering main di Apartemenmu.” Kata Shaka tanpa menolehkan pandangannya dari televisi.
“Kukira kau orang sibuk.”
“Sibuk. Aku sangat sibuk.” Ucap Shaka. “Namun, tidak ada salahnya kan aku melepas penat dengan bermain game? Aku terkadang muak melihat tumpukan kertas seharian.”
Jean tertegun.
Benar, tidak ada salahnya. Shaka adalah seorang Direktur Utama yang pastinya sangat sibuk dan pasti cukup memusingkan untuk mengurus Perusahaan besar. Shaka sudah di didik sejak remaja menjadi penerus keluarga dan sudah memulai memasuki Perusahaan tepat di umurnya yang ke dua puluh tahun.
Dia pernah mendengar dari Gavi beberapa waktu lalu tentang Shaka yang bercita-cita ingin menjadi penyanyi dan calon suaminya itu rela melepas impiannya demi Perusahaan besar milik keluarganya.
Jean pikir pasti akan sangat melelahkan menjadi Shaka. Pria itu hanyalah anak muda yang di tuntut untuk menjadi pria dewasa di bawah tekanan politik kantor. Ada perasaan simpati menyusup ke dalam hatinya melihat Shaka yang begitu kuat dan tetap dengan sifatnya yang easy going seolah dia adalah Pria yang memiliki hidup sesuai keinginannya dan begitu menikmati hidunya dengan bebas.
Tanpa sadar, dia mengulurkan tangannya menyentuk pucuk kepala Shaka membuat Pria itu menoleh.
Jean yang sadar akan Tindakan impulsifnya pura-pura menarik helaian rambut Shaka. “Ada kotoran di rambutmu.”
“Benarkah?” Shaka menyentuh rambutnya. “Masih ada.”
__ADS_1
Jean menggeleng, “Sudah tidak ada.”
Shaka kembali meletakkan stick PS-nya. “Kau bertemu Ola tadi?”
“Iya.”
“Dia tidak berbicara yang tidak-tidak, kan?”
“Seperti apa?” Jean menyandarkan punggungnya di kaki sofa.
Shaka mengerutkan keningnya, “Tentang masa laluku mungkin.”
“Sedikit.”
Shaka memperbaiki duduknya, “Apa?”
“Tentang bagaimana awalnya kalian bertemu.”
“Hany aitu?”
“Iya.”
Shaka mengangguk pecaya.
“Kenapa kau sangat ingin tahu apa yang kubicarakan dengan Ola?” tanya Jean memandang Shaka dengan raut penasaran.
Pria itu memandang Jean sesaat, lalu berkata. “Waktu itu aku pernah melarang kau untuk tidak terlalu dekat dengan Ola. Aku memiliki kecurigaan pada wanita itu.”
“Kenapa?”
Shaka menaikkan bahunya, “Entahlah, bagiku dia terlihat mencurigakan. Apa kau tidak meraskannya?”
“Aku hanya menilai dari sikap dan sifatnya, jadi aku belum memastikan dengan benar. Hal yang ku pastikan adalah bahwa wanita itu memang benar CLBK.” Kata Jean santai.
Shaka berdecak, “Cih, CLBK apanya! Aku dengannya bahkan hanya dua minggu.”
“Dua minggu? Secepat itu?”
“Iya. Kau pikir saja, CLBK darimananya kalau hubunganku dengannya hanya seperti numpang lewat.” Ucap Shaka sambil meraih toples berisi kue kering.
“Mungkin dia salah satu fans-mu.”
“Bisa jadi. Bagaimana pun aku ini, kan memiliki wajah tampan rupawan.” Kata Shaka dengan menampilkan senyum percaya diri.
“Ya. Kau sangat tampan rupawan paripurna.” Ujar Jean dengan nada datar.
__ADS_1
***********