PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Siapa Wanita Itu?


__ADS_3

“Apa kita benar-benar akan menikah seminggu lagi?”


“Sepertinya begitu. Kau keberatan?” Shaka bertanya.


Jean tampak ragu untuk menjawab. “Aku hanya berpikir ini terlalu cepat.”


Shaka mengangguk mengerti posisi Jean. Jean pasti lah akan merasa begitu mendadak, terlebih mereka sebelumnya tidak saling mengenal, apalagi saling suka. Berbeda dengan Shaka yang sudah mengenal Jean sejak lama bahkan sudah menyukai Jean tentulah dia sangat berharap pernikahan ini secepatnya dilaksanakan agar Jean segera menjadi miliknya.


“Mau di undur?” tanya Shaka.


Jean tampak berpikir sebentar, lalu menggeleng pelan. Bagaimana pun juga keputusan sudah di tangan


Ivan. Dia pun tidak menyerukan pendapat atau pun menolak saat Ayah Shaka menawarkan pernikahan yang di percepat seminggu lagi. Sudah terlambat baginya untuk meminta tanggal di mundurkan sementara dia tidak menolak sama sekali saat di depan Ivan. Mau di kemanakan wajahnya kalau dia tiba-tiba meminta tanggal untuk di mundurkan?


Ckiit..


Tiba-tiba mobil berhenti mendadak. Jean terdorong ke depan membentur kursi.


“Aw!”


“Kau baik-baik saja?” Shaka bergegas melihat kondisi kepala Jean lalu mengusapnya.


“Ada apa, Pak Nang?” Shaka bertanya dengan nada naik satu oktaf kepada Sopir.


“Maaf, Tuan. Ada seseorang yang tiba-tiba menyebrang.” Ujar Pak Nang dengan nada hati-hati.


“Dimana orangnya?”


“Masih di depan, Tuan.”


“Keluarlah.” Ujar Shaka. Pak Nang dengan gegas turun melihat si pelaku yang menyebrang sembarangan.


“Kepalamu sudah baik-baik saja?” tanya Shaka memastikan sebelum dia hendak turun.


“Aku baik-baik saja. Ayo, kita keluar.”


Shaka dan Jean sama-sama membuka pintu mobil kemudian menghampiri Pak Nang yang sepertinya tengah berbicara dengan seorang wanita.


Shaka mengerutkan keningnya melihat wanita itu yang masih terduduk di aspal. Ke dua tangannya ada lecet dan salah satu lututnya sedikit berdarah. Sepertinya wanita ini sudah jatuh lebih dari sekali.


Aku seperti mengenalnya, siapa ya?


Shaka masih berdiri mencoba mengingat-ingat, sedangkan Jean menghampiri kemudian ikut berlutut di sebelah pak Nang.


“Anda baik-baik saja, Nona?” Jean bertanya sembari matanya melihat kondisi wanita itu.


Wanita itu tidak mampu menjawab, tangannya tampak bergetar juga raut wajahnya yang terlihat ketakutan.

__ADS_1


Jean berdiri, menghampiri Shaka. “Dia terluka. Kita sebaiknya membawanya ke rumah sakit.”


“Pak Nang, bawa dia masuk.”


***


Wanita itu di bawa ke ruang IGD. Dokter mengatakan tidak perlu ada yang di khawatirkan dan hanya perlu di obati saja lukanya.


Kini Shaka, dan Jean duduk di kursi tunggu, sedang menunggu wanita itu di obati oleh perawat, sementara Pak Nang menunggu di mobil.


Shaka terlihat masih termenung, nampak berpikir sejak di mobil tadi membuat Jean yang di sampingnya menatap Shaka dengan bertanya-tanya. “Ada apa denganmu?”


Shaka mengusap jari telunjuknya di dagu. “Aku seperti mengenal wajahnya, tapi siapa ya?”


“Benarkah?”


“Iya. Aku daritadi mencoba mengingat-ingat, tetapi tidak menemukan jawabannya.” Jawab Shaka. Ke dua matanya kini menyipit memandang wanita itu yang kini sedang di pasang perban di lututnya,


“Coba kau tanya Delvin.”


“Ah, benar.” Shaka mengeluarkan ponselnya kemudian memotret wanita itu dari jauh.


Vin, Apa kau mengenalnya?


[photo]


Dia mantan ke duamu, Bos. Kalau tidak salah namanya Ola. Kau lupa?


Seperti ada bola lampu di kepalanya, Shaka baru teringat. Mantan ke duanya yang di pacarinya selama dua minggu. Pantas saja Shaka merasa wajah wanita itu seperti tidak asing.


“Siapa?” tanya Jean.


Shaka meringis, “Mantan ke duaku ternyata.” Jawabnya seraya menampilkan giginya, nyengir polos.


Jean mengerutkan dahinya. Apa mantan Shaka sebanyak itu sampai mantan ke duanya saja tidak ingat?


“Apa mantanmu sebanyak itu sampai kau tidak mengingatnya?” Tanya Jean gamblang membuat Shaka menggaruk pelipisnya bingung bagaimana menjawabnya.


Sebenarnya, saat itu Shaka tidak benar-benar menjadikan Ola sebagai kekasihnya. Kalau Shaka ingat-ingat kembali, saat itu tepatnya empat tahun yang lalu Shaka sedang mengunjungi club milik Aslan lalu Aslan mengenalkan Ola padanya disana.


Entah bagaimana kejadian detailnya Ola tiba-tiba menjadi kekasih Shaka karena permainan konyol yang tengah di main kan olehnya dan Aslan. Tentu ada Delvin disana, namun Delvin dengan kepribadiannya yang seperti kulkas lima pintu itu hanya terkekeh sedikit melihat Bosnya tersiksa.


Bagaimana tidak, Ola adalah seorang wanita malam. Walaupun Aslan memberikan informasi padanya bahwa Ola masih perawan, namun jujur saja Shaka tidak tertarik sama sekali. Kalau bukan karena permainan sialan itu, Shaka mana mau menjadikan wanita malam itu sebagai kekasih.


Ya ampun, untung hanya dua minggu.


Shaka menatap Jean yang masih dengan wajah penuh tanya padanya.

__ADS_1


“Bukan begitu. Aku hanya merasa tidak penting untuk mengingat hal yang sudah menjadi masa lalu.” Jawab Shaka.


Jean mendekatkan wajahnya pada Shaka dengan ke dua mata menyipit. “Sungguh?”


Shaka mengangguk lalu mengusap pucuk kepala Jean, “Kau cemburu?” tanyanya dengan jenaka.


Jean memundurkan tubuhnya. “Mana ada.” Sanggahnya.


Shaka tersenyum lebar melihat respon Jean. “Ada, tuh.”


“Shaka.” Panggilan dari seseorang membuat mereka menolehkan kepalanya. Tampak Ola berdiri di sana dengan sebelah lutut yang di perban dan ke dua lengannya yang di tempel plester besar.


“Kau Arshaka, kan?”  Ola kembali bertanya ingin memastikan bahwa yang di lihatnya adalah Shaka yang dia kenal.


Shaka dan Jean kompak berdiri. “Iya, aku Shaka.” Ujar Shaka.


Bisa Jean lihat ada binar di ke dua mata Ola. Atau dia salah lihat, ya?


“Bagaimana keadaanmu?” Shaka bertanya basa-basi.


“Sudah lebih baik, Terimakasih.” Ola tersenyum lebar sampai ke dua matanya menyipit. Kemudian dia melirik Jean.


“Kenalkan, Ini Jean. Calon istriku.”


Jean menaikkan alisnya saat melihat respon Ola. Senyum yang tadinya terlihat begitu lebar dan cantik saat menatap Shaka, mendadak sirna saat tatapan Ola bertemu dengannya.


“Aku Fayyola. Panggil saja, Ola. Mantan Shaka.” Kata Ola memperkenalkan diri lalu mengulurkan tangannya ingin berjabatan.


Jean tersenyum canggung menyambut uluran tangan Ola.


Apa harus memperkenalkan diri sejelas itu? Apa kau sebegitu bangganya menyebut dirimu sebagai mantan Shaka?


Mendadak Jean merasa kesal melihat Ola yang menurutnya sangat palsu ini. Ola terlihat begitu bangga sekali mengenalkan dirinya sebagai mantan Shaka kepada Jean yang notabenya sebagai calon istri.


Tunggu, apa Ola sedang mencoba membuatnya marah dan berselisih dengan Shaka karena cemburu?


Yang benar saja!


Bolehkah Jean tertawa saat ini? Ingin sekali dia berkata pada Ola bahwa Shaka bahkan sempattidak mengingat dirinya kalau saja tidak bertanya kepada Delvin.


Cih, berani-beraninya kau memancingku. Rasakan, tidak mempan, Haha…


Shaka yang sejak tadi diam di samping Jean menatap bingung Jean yang seperti sedang menahan tawa.


Dia mendekatkan bibirnya pada telinga Jean lalu berbisik pelan. “Jeannie, apa wajah Ola sangat lucu? Kenapa kau menahan tawamu?"


Astaga, Jean tidak tahan.

__ADS_1


__ADS_2