PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Tentang Zarif


__ADS_3

Eshan menutup pintu kamar rawat Jean bersamaan datangnya Gavi dari ujung lorong.


"Paman!" Eshan mengangkat sebelah tangannya, menyapa sang Paman.


"Bagaimana keadaan Jean?" Gavi langsung bertanya dengan raut penuh kekhawatiran. Pasalnya, dia baru saja pulang dari tugas luar kota. Sehingga dia tidak bisa menjenguk Jean di waktu yang tepat.


"Sudah lebih baik." Jawab Eshan.


"Bagaimana dengan Selma?"


"Mama sudah jauh lebih baik. Besok sudah boleh pulang sepertinya." Kata Eshan mengingat luka Selma yang tidak se-parah Jean. Dokter juga mengatakan perkembangan Selma cukup bagus sehingga kesembuhannya lebih cepat.


Gavi menghela napas lega, "Syukurlah. Maaf Paman baru sempat mengunjungi kalian."


Eshan mengangguk, "Tidak masalah. Tapi, Paman..." Eshan mengecilkan suaranya berniat berbisik pada Gavi. "Apa Paman yakin Kakakku dan Bang Shaka di jodohkan?"


"Iya. Memangnya kenapa?"


"Mereka seperti kekasih lama yang akan menikah." Ucap Eshan.


Gavi tersenyum tipis mendengar itu. Perjuangan Shaka mendekati Jean sepertinya tidak sulit. "Benarkah?"


Eshan mengangguk. "Mereka bahkan berciuman semalam." Ucapnya dengan suara berbisik.


"Astaga." Gavi menggelengkan kepalanya. Sudah sejauh itu rupanya hubungan atasannya dan keponakannya.


"Paman pasti kaget, kan?"


Tangan Gavi terangkat, mengusap kepala Eshan, "Kau do'akan saja yang terbaik untuk Kakakmu."


"Paman ingin menjenguk Jean dulu. Mamamu di rawat dimana?" tanya Gavi.


"Di ujung lorong sana." Eshan menunjuk salah satu pintu di ujung lorong.


Gavi mengangguk.


"Aku ke ruang rawat Mama dulu." Pamit Eshan kemudian berlalu menuju ruang rawat Selma.


Gavi membuka pintu ruang rawat Jean. Pemandangan yang dilihatnya adalah Shaka yang tengah menyisir rambut panjang Jean. Betapa manisnya pria itu.


Fokusnya kini teralih dengan kondisi kaki dan tangan Jean yang di gips. Itu berarti luka gadis itu cukup parah.


"Jean." Gavi menyapa setelah berada di dekat brankar.


"Oh, Hai. Paman." Jean menyapa dengan senyum lebarnya. Tampak ceria.


"Maaf, Paman baru sempat menjengukmu." Kata Gavi tulus sambil mendekati mereka. Berdiri di sebelah Shaka.


"Tidak apa-apa. Paman pasti sangat sibuk." Ucap Jean memaklumi karena bagaimana pun posisi Gavi sangat penting di perusahaan.


Gavi menepuk pundak Shaka, "Kau tidak bekerja?"

__ADS_1


"Aku bekerja disini." Shaka menunjuk laptop dan beberapa berkas yang berada di meja sofa.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Gavi pada Jean.


"Sudah lebih baik." Jean menjawab dengan ancungan jempol di tangannya.


Gavi membalas dengan tersenyum kemudian dia beralih pada Shaka. "Shaka, kita perlu bicara."


Shaka menyanggupi. Menaruh sisir yang di pegangnya di nakas. "Aku bicara dengannya dulu." Ujarnya pada Jean kemudian menyusul Gavi yang sudah berlalu keluar ruangan.


"Siapa dalangnya?" Tanya Gavi serius. Sebelumnya dia sudah mengetahui dari Delvin bahwa Jean dan Selma mengalami kecelakaan akibat remnya sengaja di rusak oleh seseorang.


Kini mereka tengah berdiri di dekat pintu ruangan Jean. Berbicara dengan serius di pinggir lorong yang sepi.


"Mantanku." Jawab Shaka.


"Mantanmu? Bagaimana bisa.. Ceritakan padaku."


Shaka menyenderkan tubuhnya di dinding. "Mantanku tiga tahun lalu dan empat tahun lalu."


Gavi mengerutkan keningnya, bingung. "Maksudmu dua mantanmu?"


"Ya."


"Lalu?"


"Salah satu dari mereka mendekam di rumah sakit jiwa, dan yang mencelakai Jeannie adalah mantanku yang ke dua. Mantanku yang ke dua bernama Ola dan yang ke tiga bernama Karen." Shaka mulai bercerita.


"Siapa musuhmu?"


Shaka mengangkat kepalanya. Memandang Gavi. "Paman tahu ada begitu banyak musuh di Perusahaan."


"Baiklah, siapa namanya?"


"Zarif. Delvin mengatakan padaku bahwa tidak ada karyawan di Perusahaan yang bernama Zarif. Namun, aku punya teman sewaktu SMA bernama Zarif. Dia teman dekatku." ujar Shaka mengingat teman dekatnya sewaktu bersekolah dulu. Mereka lost contact sejak Shaka memasuki Perusahaan.


Gavi diam mendengarkan.


"Delvin sudah menyuruh orang untuk mencari tahu tentang pria itu."


Gavi memijat keningnya setelah mendengar ucapan Shaka. Memang tidak mudah untuk menjadi pasangan Shaka mengingat dia adalah seorang CEO besar yang memiliki banyak musuh untuk menjatuhkannya. Mungkin ini adalah kesempatan emas dimana Shaka akan bertunangan dengan orang terkasih. Orang terkasih ini lah yang akan menjadi sumber pertahanan Shaka, dimana jika 'orang ini' jatuh maka Shaka lah yang paling akan menderita.


Dan 'orang ini' adalah keponakannya sendiri.


"Cari tahu dan selesaikan secepatnya." Tutur Gavi dengan penuh perasaan khawatir.


"Pasti, Paman. Aku akan berusaha." kata Shaka. Dia sangat paham bagaimana kekhawatiran Gavi. Keluarga terdekatnya celaka dan tengah dalam bahaya. Keluarga mana yang tidak akan khawatir.


...****************...


"Katakan."

__ADS_1


"Ola sudah berada di gudang Hutan. Dia di beri makan dua hari sekali seperti yang Bos perintahkan." Ucap Delvin.


Mereka tengah berada di Perusahaan. Tepatnya di ruangan Shaka.


Shaka kembali ke Perusahaan setelah seminggu dia absen dan menyelsaikan pekerjaannya di rumah sakit.


"Apa yang dia katakan?" Tanya Shaka.


"Ola mengatakan bahwa nama lengkap Zarif adalah Aydan Zarif. Foto yang kutunjukkan pada Ola pun benar bahwa Zarif suami Karen adalah teman dekat kita sewaktu disekolah." Ujar Delvin.


Memang Shaka, dan Delvin adalah teman lama sejak bersekolah. Bersama dengan Aslan dan Zarif. Mereka bertiga masih berhubungan baik sementara Zarif, entahlah lelaki itu menghilang bak di telan bumi.


"Ada dendam apa dia padaku, Vin?" tanya Shaka sambil merebahkan kepalanya di senderan kursi.


"Bukankah kau yang sangat dekat padanya, Bos? Kau tahu bahwa aku tidak begitu dekat dengannya mengingat kalian dulu bertetangga."


"Aku merasa tidak ada hal yang membuat kami berselisih."


Mereka sama-sama terdiam untuk sesaat. Shaka tampak berpikir mengingat ingat masa lalu.


"Aslan." Shaka menyebut Aslan dengan tiba-tiba.


Delvin menatap Bosnya tidak mengerti.


"Aslan mengenal dekat Zarif. Aku ingat mereka sering membicarakan perihal wanita dan menjadi dekat." Ujar Shaka mengingat Aslan dan Zarif memiliki minat berlebih pada seorang wanita. Sehingga membuat ke dua orang itu akrab.


"Apa perlu aku meminta Aslan kemari?"


"Hubungi dia, dan minta dia ke Perusahaanku hari ini."


...****************...


Aslan membuka pintu ruang Shaka dengan ke dua tangannya. Raut wajah ceria sangat terlihat di wajahnya.


"Halloooo everybody!"


"Jangan macam-macam di ruanganku, Aslan." ujar Shaka yang tengah memakan makan siangnya di ruangannya.


"Kebetulan sekali, aku belum makan." Aslan segera mendekat ke sofa. Duduk di sebelah Shaka dan mengambil sepotong semangka yang tersaji di piring kecil.


"Ada apa kau memanggilku kesini?" Tanya Aslan sembari mengunyah.


"Habiskan dulu." Kata Delvin yang berada di seberang Shaka.


Shaka meletakkan alat makannya. Dia sudah selesai dengan makannya.


"Kau ingat Zarif? Dimana dia sekarang?" Tanya Shaka dengan raut seriusnya.


"Kenapa kau menanyakan pria itu?"


"Dia sumber masalah celakanya Jean dan Ibu Mertuaku. Katakan padaku, kau masih berhubungan dengannya?"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2