
“Bagaimana kabar Aidan?” Jean bertanya sembari ikut mengambil cemilan dari dalam toples yang di pegang Shaka.
“Baik. Bayi itu semakin hari semakin gempal.” Kata Shaka dengan tatapan menerawang mengingat Aidan yang semakin hari semakin menggemaskan.
“Gempal?”
Shaka mengangguk. “Hm. Aku sampai bingung Ibu memberinya makan apa sampai bayi itu semakin berat saja setiap harinya.”
Mendengar kata ‘bayi itu’ yang di ucapkan Shaka, Jean mencubit perut Pria itu. “Kau menyebutnya ‘bayi itu-bayi itu’, dia anakmu Shaka.”
Shaka sontak meringis, memegang perutnya yang terasa nyeri. “Aw!”
“Tapi, kan, aku benar dia bukan anakku.” Gumam Shaka sangat pelan. Walaupun begitu, Jean masih dapat mendengarnya dengan baik.
“Apa?” Jean memecingkan matanya.
Shaka yang tidak menyadari bahwa Jean mendengar gumamannya, bertanya kembali dengan nada ketus. “Apa?”
“Tadi kau bilang Aidan bukan anakmu?”
Shaka menatap Jean terkejut, “Kau mendengarnya?”
“Iya.”
Shaka tersenyum sumringah seolah tidak terjadi apapun, berusaha mengalihkan pembicaraan. “Wah! Kau sangat hebat, Jean. Aku bahkan berucap dengan sangat pelan. Telingamu benar-benar luar biasa.” Shaka mengacungkan ke dua jempolnya.
Sedangkan Jean menampilkan raut wajah datarnya. “Aku serius, Shaka.”
“Sabarlah, empat hari lagi kita akan menikah.”
Jean menatap Shaka dengan raut seriusnya. “Arshaka.”
Mendapatkan tatapan intimidasi dari calon istrinya, Shaka melipat bibirnya ke dalam lalu menegapkan posisi duduknya. Sepertinya ini sudah saatnya dia bercerita tentang Aidan. Padahal Shaka ingin asal usul Aidan hadir di keluarga Altair di ketahui oleh Jean ketika mereka sudah menikah nanti. Tapi, sepertinya sekarang pun tidak buruk dan tidak ada bedanya. Bagaimana pun Jean akan menjadi istrinya dalam waktu dekat, dan sudah seharusnya gadis itu untuk tahu.
“Aidan bukan anak kandungku. Bayi itu di temukan di depan pintu rumahku oleh Ibuku.” Shaka mulai bercerita.
“Orang-orangku sudah berusaha untuk mencari tahu keberadaan orang tua Aidan, namun sampai sekarang mereka belum menemukan titik terang apapun.”
“Bukankah penjagaan keamanan rumahmu cukup ketat?”
Shaka mengiyakan, “Memang benar. Saat itu sebagian satpam sedang mengerjakan sesuatu di belakang untuk membenahi kebun bunga milik Ibuku, dan selebihnya berjaga di depan dan sesekali berkeliling. Penjagaan yang minum membuat mereka lengah ...,”
__ADS_1
“ … Jarak dari pagar depan menuju depan pintu rumahku pun cukup jauh, namun tidak ada satu pun cctv yang menangkap wajah wanita itu membuat kami kesulitan untuk melacaknya.”
Jean menegakkan tubuhnya, “Bukankah wanita ini terdengar seperti orang yang paham tentang seluk beluk rumahmu? Kau tidak curiga bahwa wanita itu adalah orang yang berasal dari lingkunganmu?”
Shaka mengangguk, “Awalnya aku pun sempat mencurgai orang dalam rumahku. Aku sudah memeriksa semua pelayan di rumahku dan mengintrogasi mereka, namun aku tidak menemukan apapun.”
Jean terdiam. Sibuk dengan pemikirannya.
Shaka menatapnya. Menelisik raut wajah Jean. “Kau keberatan dengan adanya Aidan di antara kita?”
Jean menggeleng, “Tidak sama sekali. Aidan sangat menggemaskan.”
“Kau bahkan belum lulus, Jean.”
“Untuk itu boleh aku meminta satu permintaan?” tanya Jean dengan raut wajah berharap.
“Hm, Apa?”
“Dua minggu lagi aku sudah akan sidang skripsi, sampai saat itu bolehkah Aidan di rumah keluargamu dulu? Maafkan aku. Aku hanya takut akan lalai menjaga Aidan.” Jean menundukkan wajahnya merasa tidak enak.
Shaka mengerti maksud gadis itu, dia mengelus kepala gadis itu yang tengah menunduk. “Aku mengerti. Akan aku bicarakan dengan Ibuku.”
“Apa Ibumu akan marah dan kecewa padaku?” Jean menatap Shaka hati-hati. Sungguh, dia sudah memikirkan perihal ini matang-matang. Dia takut Ibu Shaka akan mencapnya sebagai menantu tidak berguna karena menolak mengurus Aidan, padahal kondisi lah yang membuatnya mau tidak mau meminta hal itu walaupun dia pun sangat merasa tidak enak kepada keluarga Shaka.
“Terimakasih.”
****
Shaka memasuki Mansion pukul delapan malam. Dia langsung menuju dapur karena ingin menyegarkan tenggorokannya yang kering. Dari dapur, terlihat Haisa, Gavi, dan Aidan kecil tengah berada di ruang tengah dengan Aidan berada di pangkuan Gavi. Ada sosok Talita juga disana dengan perut besarnya.
Shaka menghampiri mereka, “Kak Tita kapan sampai rumah?”
“Sore tadi. Kau habis darimana?” Tanya Talita membuat Shaka bingung ingin menjawab apa.
“Dari kantor.” Jawab Shaka berusaha tenang. Dia menundudukkan dirinya di samping sang Ayah.
“Lembur lagi?” tanya Gavi.
“Iya.”
Aidan mungkin menyadari kehadiran Papanya, menatap Shaka dengan mengedip-ngedipkan matanya lucu. “Hai, jagoan. Sini, ku gendong.”
__ADS_1
Shaka baru saja ingin meraih Aidan, Haisa menghentikannya, “Eits.”
“Kenapa?” Shaka menatap Haisa bingung.
“Kau habis dari luar. Jangan pegang bayi, mandi dulu yang bersih sana.” Ujar Haisa mengingatkan.
Shaka sepertinya lupa bahwa sudah beberapa kali Haisa melarang dirinya untuk memegang Aidan sebelum dia mandi dan bersih karena habis dari luar. Shaka jadi ingat, kala itu dia protes merasa sang Ibu menuduhnya kotor dan bau sehingga tidak boleh menyentuh Aidan. Namun, ketika Haisa menjelaskan bahwa bisa saja Shaka dari luar membawa ‘sesuatu’ akhirnya pun dia menurutinya. Walaupun dia sangat yakin bahwa perkataan Ibunya itu hanyalah mitos.
“Iya, aku akan mandi.” Kata Shaka lemas. Dia beralih menatap Talita, “Zeny tidak ikut, Kak?”
“Ikut. Dia di atas sedang asik bermain bersama Ayahnya.” Kata Talita menunjuk lantai atas dimana kamarnya berada.
Mendengar itu, Shaka langsung bergegas menuju lantai dua tempat dimana kamar Talita berada sebelum wanita itu tinggal di rumah suaminya.
Pria itu mendorong pintu kamar Talita yang sedikit terbuka. Tampak pemandangan bak kapal pecah tersaji disana. Shaka yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tinggal menunggu saja suara lengkingan Talita nanti ketika mendapati kamarnya berantakan.
“Zeny Citranti.” Panggil Shaka pada anak gadis berumur tiga tahun, di hadapan anak itu ada seorang pria dewasa yang tidak lain adalah Rendra, ayah Zeny.
“Pamaan!” Zeny langsung bangkit dan berlari menghampiri Shaka dan masuk ke dalam pelukan pria itu.
“Zeny rindu paman.” Kata Zeny di dalam gendongan Shaka.
“Paman juga merindukan keponakan Paman yang cantik paripurna ini.” Kata Shaka, “Apa Mas Rendra juga merindukanku?” Imbuhnya.
Rendra mendengus sambil berjalan mendekati Shaka. “Bagaimana kabarmu?”
“Sangat baik.”
Rendra terkekeh mendengar ucapan Shaka yang riang. “Kudengar kau akan menikah empat hari lagi. Kenapa dadakan sekali? Kebelet kawin, huh?”
“Benar sekali.” Shaka malah mengiyakan dengan antusias. “Ngomong-ngomong bagaimana rasanya kawin?”
“Kau akan tahu nanti.”
“Apakah enak?”
Rendra mengangguk dengan smirknya. “Sangat. Kau akan ketagihan nanti setelah mencobanya.”
Mereka sepertinya lupa bahwa ada Zeny di pelukan Shaka.
“Paman, Ayah, apa itu kawin? Zeny mau mencobanya.” Kata Zeny menatap ke dua pria di hadapannya bergantian membuat ke dua pria dewasa itu melongo.
__ADS_1
*********