
"Bagaimana keadaan Mama?" tanya Shaka kepada Selma.
Wanita itu sudah di pindahkan ke ruang rawat inap satu jam yang lalu. Dokter mengatakan bahwa keadaan Selma sudah stabil dan lebih baik sehingga bisa di pindahkan ke ruang rawat inap biasa.
Selma memiliki luka cukup dalam di kening dan lengannya ada beberapa luka akibat terkena pecahan kaca sehingga harus di jahit.
"Sudah lebih baik." Jawab Selma tersenyum. Kemudian dia teringat dengan putrinya. "Bagaimana keadaan Jean, Shaka?"
Shaka menepuk punggung tangan Selma yang sedang berada di genggamannya. "Keadaan Jean sudah stabil, Mama jangan terlalu khawatir, ya. Fokus untuk kesembuhan Mama saja agar bisa bertemu dengan Jean."
Ucapan penenang dari Shaka tidak membuat Selma tenang sama sekali. Wanita itu masih teringat dengan jelas bagaimana anaknya mendapatkan banyak luka dan pingsan seketika.
"Lukanya, bagaimana dengan lukanya? Mama ingat dengan jelas seberapa parahnya luka Jean. Bahkan darahnya keluar sangat banyak." Selma mulai menangis. Takut terjadi sesuatu pada anaknya. Dia teringat bagaimana dulu suaminya kecelakaan berlumuran darah di depan matanya. Sungguh, Selma sangat takut.
"Dokter sudah menangani Jean dengan sangat baik. Mama tenang, dan tetap berdo'a agar Jean segera sadar, dan pulih, ya." Shaka terus berusaha membuat Selma tenang.
Namun, Selma yang sudah terlanjur trauma dengan masa lalu, menangis sambil menjerit.
Shaka panik, dia segera memencet tombol darurat untuk memanggil perawat.
"Mama, tenang, Ma." Shaka memegang pundak Selma.
Beberapa perawat dan seorang Dokter Laki-laki dengan name-tag Zaki datang. Mereka segera menyuntikkan obat penenang pada Selma. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Selma kembali tenang dan tertidur. Kemudian Dokter Zaki memeriksa kondisi tubuh Selma.
"Bagaimana Mama saya, Dok?" Tanya Shaka pada Dokter.
"Nyonya Selma hanya mengalami syok berat. Apa sebelumnya Nyonya Selma mengalami trauma?"
Apa Mama Selma teringat mendiang Tuan Zian?
"Beliau menanyakan kondisi Jeannie yang saat ini tengah di ruang ICU. Lalu beliau menangis histeris." Shaka menjelaskan.
Dokter Zaki mengangguk. "Baiklah. Untuk saat ini jangan terlalu mengungkit kondisi Nona Jeannie. Jika Nyonya Selma menanyakan keadaannya, tenangkan dia dan jika kembali histeris, pencet tombol darurat seperti tadi."
"Baik, Dokter."
"Kami permisi."
"Terimakasih, Dokter."
Dokter Zaki tersenyum kemudian berlalu darisana bersama dengan perawat.
Kemudian Delvin datang tepat setelah kepergian Dokter Zaki.
"Bos."
Shaka mendudukkan kembali di kursi di sisi brankar. "Apa kau mendapat informasi tentang Meinka?"
"Meinka bukan nama asli. Sepertinya gabungan antara nama seseorang karena aku tidak mendapati seseorang bernama 'Meinka' di negeri ini. Para Pria itu juga memberitahu bahwa perempuan yang membebaskan mereka berwajah khas orang barat—"
__ADS_1
"Sepertimu?"
Delvin mengangguk ragu, "Ya, mungkin."
"Lanjutkan."
"Orangku menyelidikinya melalui cctv dimana mereka bertemu, lalu kami mendapatkan bahwa wanita itu tinggal di district yang tidak jauh darisini." Kata Delvin.
Shaka mengetuk jari telunjuknya di lutut. "Wanita itu bukanlah dalangnya. Dia bersembunyi di balik nama Meinka."
"Saya pikir juga begitu, Bos."
"Kau cari tahu wanita itu sampai menemukan siapa dalangnya."
"Baik, Bos."
Tiba-tiba pintu terbuka di susul dengan kedatangan seseorang.
"Mama!"
Eshan muncul dengan penampilan berantakan. Melihat kehadiran Shaka dan Delvin, buru-buru mendekati Shaka.
"Bang Shaka, bagaimana keadaan Mama?"
"Mamamu sudah dalam keadaan stabil." Ucap Shaka.
Eshan melirik Selma yang matanya terpejam. "Apa Mama belum sadar?"
Shaka meneliti penampilan Eshan yang berantakan. Pasti pria ini terburu-buru.
"Bukankah kau sedang di Amerika?"
Eshan mengusap wajahnya. "Aku langsung terbang kesini saat mendengar Mama dan Kakak kecelakaan. Oh, ya bagaimana keadaan Kakakku, Bang?"
Shaka menepuk bahu Eshan pelan. "Kau banyaklah berdo'a untuk Kakakmu, ya."
Eshan memegang lengan Shaka. "Aku ingin melihat Kakak."
Shaka menyanggupi. Dia menoleh manatap Delvin, "Vin, kau jagalah disini dulu sampai Ibuku datang. Aku akan ke ruangan Jeannie."
"Baik, Bos."
...****************...
Shaka dan Eshan kini tengah berdiri di sisi brankar Jean. Ke dua pria itu menatap Jean dengan berbeda ekspresi. Raut wajah Eshan yang paling kentara penuh dengan kesedihan, ke dua matanya memerah menahan tangis. Sedangkan Shaka yang sudah lebih dulu menumpahkan kesedihannya, sudah lebih tenang dan tegar.
"Bang Shaka, kenapa sebelah tangan dan kaki Kak Jean jadi besar begitu?" Suara Eshan bergetar. Telunjuknya menunjuk kaki dan tangan Jean yang di gips. "Dan wajahnya kenapa banyak luka gores?"
Shaka mengusap pucuk kepala Eshan yang lebih pendek darinya.
__ADS_1
"Bagaimana kejadiannya? Tolong ceritakan padaku." Pinta Eshan manatap Shaka dengan memohon.
Shaka menghela napas pelan. "Rem mobil Jean rusak saat pulang dari butik lalu saat sampai di lampu merah, tanpa bisa di cegah Kakakmu menerobosnya dan mengakibatkan bertabrakan dengan mobil lain dari lawan arah."
Eshan kembali mengusap wajahnya yang memerah. Pria itu tidak sampai meneteskan air matanya, namun mata merah itu membuktikan kesedihan mendalam.
Eshan begitu menyayangi Mama dan Jean. Dia sudah kehilangan Ayahnya, perasaan takut akan kembali kehilangan untuk yang ke dua kalinya menyelimuti dirinya hingga tubuhnya bergetar.
Shaka merangkul pundak Eshan, berusaha menyalurkan ketenangan. "Tenanglah. Mamamu dan Kakakmu akan baik-baik saja. Aku bahkan sudah mengobrol dengan Mamamu sebelum beliau tidur."
"Benarkah?"
Shaka mengangguk, "Hm. Maka berdo'alah agar mereka cepat pulih dan sehat kembali."
"Iya, Bang Shaka."
...****************...
Shaka duduk kursi samping brankar Jean. Eshan sudah keluar dari ruangan ini lima menit yang lalu, ingin menemani Selma di ruangannya, dan Shaka menemani Jean disini. Dalam keheningan dan hanya ada suara EKG.
"Jeannie, ini sudah dua hari kau tidak ingin bangun, hm?" katanya sambil menggenggam telapak tangan Jean.
Seperti mendengar perkataan Shaka, kelopak mata Jean perlahan terbuka. Mengerjap dengan pelan. Shaka yang melihat itu sontak mendekat.
"Jeannie." Panggilnya lalu bediri, mendekatkan diri pada Jean.
"Jean?"
"Sha... Shaka.." Jean besuara dengan terbata.
"Ya, aku disini."
"Shaka, tangan dan kakiku sakit." ucap Jean pelan dengan kening berkerut menahan nyeri di tangan dan kakinya.
Shaka mengecup kening Jean pelan, kemudian memencet tombol darurat agar Dokter segera datang dan memeriksa kondisi gadisnya.
"Tahan, ya. Dokter akan segera datang."
Pintu terbuka, datang Dokter Zaki dan langsung memeriksa kondisi Jean.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Dokter Zaki kepada Jean setelah memeriksa kondisi tubuhnya.
"Kaki dan tanganku sangat sakit. Kepalaku pusing seperti berputar." ujar Jean dengan suara pelan.
"Kondisimu sudah cukup membaik. Untuk saat ini jangan banyak berpikir dan melakukan aktifitas." kata Dokter Zaki, lalu beralih pada Shaka. "Saran saya, jangan tinggalkan pasien sendirian karena pasien membutuhkan seseorang untuk membantunya."
"Baik, Dokter. Saya akan selalu di sampingnya."
Dokter Zaki menepuk pundak Shaka, "Kalau ada sesuatu yang darurat segera panggil saya."
__ADS_1
...****************...