
Shaka membuka ke dua matanya saat dia merasa sesuatu mengganggu penglihatannya yang terpejam. Sinar matahari sudah menerobos masuk ke dalam dengan gorden yang sudah tersingkap sedikit.
Shaka mengerjapkan ke dua matanya menghalau sinar lalu menguap. Dia melirik tubuhnya, mendapati selimut berwarna biru terang membalut tubuhnya.
Semalam Shaka tidak pulang. Dia menginap dan tertidur di sofa. Dia pikir mungkin Jean yang menyelimutinya semalam.
Pria itu bangkit, berjalan dengan terseok menuju kamar mandi berniat membasuh wajahnya, namun langkahnya terhenti saat mendapati Jean dengan apron hitam tengah memasak di dapur.
Shaka menghampirinya dengan ragu. Takut-takut Jean masih marah terkait kemarin.
Menyadari seseorang mendekat, Jean menoleh dan tersenyum pada Shaka.
Shaka tersenyum balik, "Pagi."
"Pagi."
Shaka mendekat, berdiri di belakang Jean, "Masak apa?"
"Nasi goreng ayam cabe hijau." Jawab Jean tanpa menoleh. "Basuh wajahmu dulu. Gosok gigi baru ada di lemari kaca."
Shaka menurut, meninggalkan Jean lalu menyibukkan diri di kamar mandi dekat dapur. Pria itu berjalan dengan kemelut di benaknya.
*Dari ra*ut wajahnya terlihat biasa saja, masih marah tidak, ya...
Dua puluh menit kemudian Shaka selesai dengan urusannya di kamar mandi. Pria itu menuju dapur lalu duduk di tepat berhadapan dengan Jean.
Di meja makan sudah tersedia dua piring nasi goreng, timun yang sudah di potong, dan dua gelas air putih.
"Kau belum makan?" tanya Shaka ketika mendapati nasi goreng di piring Jean masih utuh.
"Aku menunggumu."
Shaka tertegun, "Makanlah."
Jean mengangguk lalu memakan nasi goreng buatannya dengan khidmat. Shaka pun melakukan hal yang sama. Ini pertama kalinya dia memakan makanan yang di buat gadis itu, dan jujur rasanya sangat enak. Menurutnya, ini masakan ke dua setelah Ibunya yang dirasanya paling enak.
"Apa tidak enak?" tanya Jean saat melihat Shaka terdiam dengan mulut penuh tanpa mengunyah.
Shaka mengerjap, memandang Jean lalu menggeleng, "Ini enak. Sangat enak."
"Sungguh?"
Shaka mengangguk cepat sambil mengunyah lalu menelannya.
Mereka makan di selimuti dengan keheningan. Mereka sama-sama sibuk dengan sarapan paginya.
__ADS_1
"Jeannie." Shaka bersuara.
"Hm?"
"Kau masih marah padaku?" cicit Shaka pelan.
"Marah kenapa?"
"Soal cangkir lotusmu."
Jean mendongak, menatap Shaka. "Aku hanya sedih, tapi tidak apa-apa."
"Maafkan aku." ujar Shaka pelan.
Jean hanya diam tidak menanggapi membuat Shaka yang hatinya masih terasa berat, merasa tidak enak. Ini pertamakalinya hubungan mereka terlihat sangat canggung setelah hampir dua bulan, dan penyebabnya adalah karena ulah Shaka sendiri.
Dilihatnya Jean sudah selesai dengan sarapan paginya.
"Kalau kau sudah selesai makan, bawa piringnya padaku." Setelah mengucapkan itu, gadis itu bangkit menuju wastafel untuk membersihkan piring dan peralatan masak yang kotor.
Shaka menghabiskan sarapannya, meminum air dengan cepat kemudian menghampiri Jean seraya membawa piring kotornya.
Jean yang kala itu sedang fokus mencuci tersentak kaget saat merasakan perutnya di peluk dari belakang di susul sebuah piring kotor yang di letakkan di wastafel.
"Katakan padaku aku harus apa untuk menebusnya?" Suara berat Shaka terdengar di sisi telinga kirinya.
"Kau masih marah padaku, kan?"
"Tidak. Lepaskan."
Bukannya di lepaskan, Shaka malah mengeratkan pelukannya, "Tidak akan sebelum kau memaafkanku."
Jean menaruh spons pencuci piringnya, lalu menatap Shaka, "Aku sudah memaafkanmu."
"Benarkah?"
"Iya."
Shaka mengernyit melihat raut wajah Jean yang tidak berubah. Masih datar, tidak seperti biasanya. "Wajahmu kenapa masih seperti ini?"
"Kenapa dengan wajahku?"
"Datar seperti aspal." Jawab Shaka asal.
Mendengar jawaban Shaka yang kembali memancing emosinya, Jean menatap Shaka tajam, "Aku tarik ucapanku tadi. Aku belum memaafkanmu." ucap Jean yang tentu saja membuat Shaka gelagapan.
__ADS_1
"Tidak bisa begitu, dong. Aku salah apa lagi?" Seru Shaka polos tidak menyadari kesalahannya.
"Kau pikir sendiri! Sana, pergi! Jangan peluk-peluk aku lagi." Usir Jean sembari melanjutkan kegiatan mencuci piringnya yang tertunda.
Namun, Shaka tidak mengindahkan usiran Jean. Pria itu masih dalam posisinya. "Jangan begitu, aku minta maaf."
"Memangnya kau tahu salahmu dimana?" tanya Jean sengit.
"Memecahkan cangkir tembikarmu, kan?"
Jean mendengus, rupanya Shaka tidak menyadari ucapan yang di lontarkannya tadi saat menyebut Jean seperti aspal.
Jean tentu sebagai wanita merasa tersinggung. Apa-apaan wajahnya di samakan dengan aspal. Aspal kan hitam, tidak rata, tidak mulus, dan kadang berlobang. Apa wajah Jean seburuk itu sampai di samakan dengan aspal?
Cih, berani-beraninya menyebut wajahku seperti aspal. Apa wajahku seburuk itu, hah?
Jean menggerutu di dalam hati, menyalurkan emosinya melalui wajan, menggosoknya dengan kencang hingga Shaka yang melihat itu merinding sendiri.
Perlahan, Shaka melonggarkan pelukannya. Menjauh dan mundur dengan perlahan dari tubuh gadis itu.
Jean saat ini terlihat sangat menyeramkan, seperti singa betina yang siap mengamuk. Padahal jelas-jelas semalam gadis itu masih terlihat baik-baik saja dan masih meresponnya dengan baik walaupun terkadang terlihat geram dan gemas.
Apa aku melakukan kesalahan lagi? Tapi yang mana?
Shaka yang masih merasa tidak melakukan apapun yang membuat Jean emosi, bingung sendiri. Apa yang membuat Jean terlihat sangat marah sampai wajan itu menjadi pelampiasannya?
Shaka melangkah menuju sofa, berniat mendudukkan diri disana. Sebelum itu, dia melipat selimut yang di pakainya semalam lalu meletakkannya di pojok.
Tidak sengaja pandangannya terarah pada kalender di dinding. Ada lingkaran merah di dua tanggal terakhir. Shaka mendekat sambil berpikir lingkar merah untuk apa itu.
Ada catatan kecil di lingkaran awal bertuliskan 'Haid.'
Astaga, jadi Jean sedang berdarah, pantas saja gadis itu terlihat begitu mengerikan. Shaka tahu betul tentang perubahan hormon, dan mood yang di alami seseorang yang sedang menstruasi, karena dia pun memiliki seorang kakak perempuan.
Mengingat Talita, wanita beranak dua itu kalau sedang menstruasi moodnya bukan ampun. Terkadang marah-marah tidak jelas, lalu tidak lama akan menangis. Biasanya kalau Talita seperti itu, Shaka yang akan menjadi tumbalnya. Apapun yang di lakukan Shaka terlihat salah di mata Talita.
Apa Jean akan seperti kakak, ya? Marah-marah tidak jelas saat berdarah. Tadi saja aku tidak salah dia marah lagi padahal katanya dia sudah memaafkanku.
Shaka masih dengan percaya dirinya bahwa dia tidak melakukan kesalahan apapun lagi, merasa bahwa Jean marah dengannya karena efek menstruasi yang tengah di jalaninya.
Shaka hanya tidak paham bahwa terkadang Talita marah padanya karena memang sifat tengil Shaka yang terkadang membuat emosi siapa saja menjadi naik seketika, hanya saja kebetulan saat itu Talita sedang menstruasi jadi tidak mudah mengendalikannya.
Begitu juga dengan Jean saat ini.
Jean bukan orang yang mudah emosi, dia orang yang biasanya tenang. Hanya saja, terkadang memang efek 'berdarah' tidak bisa di kendalikannya, membuatnya mudah tersulut emosi.
__ADS_1
Shaka tentunya sebagai seorang pria tidak paham, begitu juga dengan pria asing di luar sana yang terkadang memaklumi sifat seorang wanita yang mudah berapi-api saat haid dan tidak menyadari kesalahannya padahal belum tentu seperti itu. Bisa jadi mereka berapi-api karena memang kalian para lelaki melakukan kesalahan, bukan berarti wanita ketika masa itu hanya marah-marah tidak jelas seperti yang selama ini di salah pahami oleh kaum pria.
Topiknya sensitif banget, ya.. Hehe