PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Keadaan Jean


__ADS_3

Suara ketukan sepatu berlarian terdengar di sepanjang lorong rumah sakit. Langkah mereka terhenti di depan pintu ruang operasi. Ada dua orang polisi yang menunggu disana. Mereka segera bangkit saat melihat keberadaan Shaka.


“Selamat Sore, Tuan Shaka.” Polisi itu menyapa. “Benar bahwa anda adalah wali dari Nona Jeannie?”


“Saya calon suaminya.” Kata Shaka dengan napas masih tersenggal akibat berlari.


“Baiklah. Nona Jeannie terlibat kecelakaan karena menerobos rambu lalu lintas sehingga mobilnya tertabrak dari sisi sebelah kanan. Menurut saksi, tidak ada tanda-tanda adanya rem saat mobil akan mendekati rambu lalu lintas yang saat itu sedang merah. Dugaan kami saat ini adalah bahwa mobil Nona Jeannie mengalami kerusakan rem atau biasa kita sebut rem blong.” Salah satu Polisi menjelaskan.


“Bagaimana mungkin! Mereka berangkat dari butik dalam keadaan baik-baik saja!” Shaka hampir berteriak mendengar bahwa mobil calon istrinya tiba-tiba mengalami kerusakan rem.


“Untuk itu, Tuan. Kami akan menyelidikinya lebih lanjut.” Kata Polisi itu. “Karena Tuan sudah berada disini, kami pamit ingin kembali ke TKP untuk penyelidikan.”


Ke dua polisi itu pun pergi meninggalkan Shaka yang semakin cemas. Mendengar bahwa rem mobil Jean rusak, dia semakin pusing. Dipikirannya saat ini adalah, Kenapa? Siapa? Siapa yang dengan tega mencelakakan calon istri dan mertuanya.


“Delvin, kau cari tahu dan selidiki sampai ke akar siapa dalang di balik ini. Kau cari pelaku yang merusak remnya dan berikan padaku. Aku akan menghukumnya langsung dengan ke dua tanganku sendiri.” Ujar Shaka dengan nada rendah. Raut wajahnya menggelap. Tanda pria itu begitu marah.


“Baik, Bos.”


Pintu ruang operasi terbuka. Beberapa Perawat berlarian entah kemana. Shaka menghentikan salah satu Perawat.


“Bagaimana kondisi pasien bernama Jeannie, Sus?” tanya Shaka. Raut kekhawatiran terpampang jelas di wajahnya.


“Pasien kekurangan darah. Kami sedang mengambilnya di bank darah. Permisi.” Pamit Perawat itu ketika mendapati Perawat lainnya sudah membawa beberapa kantung darah. Mereka segera kembali ke ruang operasi.


Napas Shaka masih memburu. Raut panik, cemas, khawatir tergambar dengan jelas di wajahnya. Langkahnya mondar-mandir dengan gusar.


Delvin di sampingnya menyentuh pundak Shaka. “Duduk, Bos. Tenangkan dirimu.”


“Bagaimana aku bisa tenang sementara calon istriku sedang berjuang di dalam.” Ujar Shaka dengan nada naik satu oktaf.


“Maka kau harus tenang dan berdo’a untuk keselamatannya. Aku yakin dia akan baik-baik saja.” Kata Delvin kembali menenangkan Shaka. “Duduklah, Bos.”

__ADS_1


Shaka akhirnya duduk di kursi tunggu, di sebelah Delvin. Pria itu berusaha menghela napas pelan berusaha menormalkan detak jantung dan napasnya yang memburu.


Lorong yang semula sepi kembali terdengar suara ketukan sepatu berjalan. Tampak Haisa, dan Gavi berjalan mendekati mereka. Ada Aidan di dalam pelukan Haisa. Sepertinya mereka terburu-buru dan tidak sempat pulang untuk menitipkan Aidan di rumah.


“Bagaimana keadaan mereka, Shaka?” tanya Gavi langsung saat mereka sampai di hadapan Shaka.


Melihat Shaka yang diam dengan ke dua tangan bergetar, Delvin mengambil alih menjawab, “Nyonya Selma sudah berada di ruang ICU. Kami belum sempat menjenguknya karena Nona Jean sedang di operasi.”


“Bagaimana kejadiannya?”


“Ada kerusakan di mobil yang Nona Jean kendarai. Di duga ada seseorang yang berniat mencelakakan Nona Jean dan Nyonya Selma karena mobil Nona Jean masih baik-baik saja saat berkendara menuju butik.” Delvin menjelaskan.


Haisa, dan Gavi yang mendengar itu sontak terkejut. Mereka tidak menyangka ada seseorang yang berniat jahat kepada keluarga Jean. “Kau selidiki lebih dalam. Jangan sampai ada yang terlewatkan.” Perintah Gavi kepada Delvin.


“Baik, Tuan.” Delvin segera menyingir, melaksanakan perintah Bos dan Tuan Besarnya untuk segera menyelidiki kasus kecelakaan Nona Jean.


Gavi mendekati Shaka yang tengah menunduk. Menepuk pundak anaknya, memberi kekuatan. “Kau jangan panik. Banyak-banyak berdo’a untuk ke sembuhan mereka.”


Haisa mendekati Shaka. Menatap prihatin anaknya yang tampak berantakan.


“Shaka, mau menggendong Aidan? Tangan Ibu pegal.” Haisa mendekati Aidan pada Shaka.


Pria itu menurut. Dia mengambil alih Aidan ke dalam pelukannya. Kini bayi itu sudah berada di pangkuannya. Seperti mengetahui kondisi sang Papa, tangan mungil Aidan menyentuh pipi Shaka sambil tersenyum gemas sambil sesekali terlonjak di pangkuannya.  Melihat itu Shaka tidak bisa menahan senyumnya menyadari Aidan begitu senang berada di pangkuannya.


Selma tersenyum melihat putranya tampak lebih tenang setelah memeluk Aidan. Memang itu tujuan Haisa ketika memberikan Aidan pada Shaka. Wanita itu tahu hubungan putranya dan Aidan sudah cukup dekat karena Shaka sering sekali bermain bersama Aidan ketika ada waktu luang di rumah. Pria itu bahkan sudah seperti Ayah sungguhan karena sudah paham bagaimana cara menyuapi, memberikan minum, dan terkadang tertidur bersama di kamar Shaka.


Selang waktu satu jam mereka menunggu, dan Aidan sudah tertidur di pelukan Shaka. Dokter berjenis kelamin Pria keluar bersama beberapa perawat di belakangnya.


“Wali Nona Jeannie?”


“Saya, Dok.” Shaka menyahut, lalu bangkit mendekati Dokter dengan Aidan yang tertidur dengan kepala bersandar di pundaknya.

__ADS_1


Haisa mendekati putranya, mengambil alih Aidan ke dalam pelukannya.


“Nona Jeannie sudah melewati masa kritisnya. Sisi kepala sebelah kanannya ada gumpalan darah akibat benturan keras. Ada keretakan di bahu, lengan, dan kaki sebelah kanan Nona Jeannie. Beruntung Nona Jeannie segera di bawa ke rumah sakit mengingat lukanya yang cukup fatal. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, mohon keluarga membantu Nona Jeannie karena untuk sementara waktu lengan dan kakinya akan sulit untuk di gerakkan.” Jelas Dokter.


Shaka tertegun mendengar penjelasan dokter. Mengetahui seberapa parah luka Jean berarti kecelakaan itu terjadi dengan cukup kencang.


“Baik, Dokter. Kami akan senantiasa merawatnya dengan baik.” Ujar Haisa kepada sang Dokter.


Brankar berisi Jean melewati mereka dengan beberapa Perawat mendampinginya.


“Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat ICU di karenakan kondisi kepalanya belum stabil. Kami permisi dulu.” Dokter pun pamit mengikuti brankar Jean yang menuju ruang ICU.


“Tuan Gavi, Bos.” Delvin mendekati Tuan Gavi, dan Shaka yang masih berdiri kaku. “Saya mendapatkan rekaman cctv di depan butik.”


Delvin mendekatkan ponselnya yang tengah menampilkan keadaan di depan butik sebelum mobil Jean tiba disana.


“Nona Jean tiba di butik pukul sebelas siang. Benar dugaan bahwa mobil Nona Jean sengaja di rusak.” Ucap Delvin.


Memang benar karena saat ini rekaman menampilkan ada dua pria berpakaian serba hitam dengan topi dan masker tengah menyabotase mobil Jean. Keadaan yang tidak terlalu ramai membuat keadaan semakin menguntungkan bagi para Pria itu karena tidak ada yang akan mencurigai mereka.


Tiga jam kemudian, Jean memasuki mobil tepat pada pukul 14.30 dan tidak menyadari adanya kejanggalan pada mobilnya, Jean mengendarainya dengan seperti biasa.


“Bagaimana dengan pelakunya?” tanya Gavi menatap Delvin.


“Motor pelaku tidak jauh dari butik, terletak di sebuah gang kecil. Kami sudah melacaknya, dan motor tersebut seperti mengarah ke suatu tempat yang tidak asing bagi orang-orangku.”


“Kemana?”


“Rumah Sakit Jiwa Harapan Abadi.”


***********************

__ADS_1


__ADS_2