
Jean berkali-kali melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.15 itu berarti dia sudah menunggu Shaka selama hampir dua jam lebih.
Padahal saat itu Jean datang dengan berlari karena dia pikir dia terlambat. Namun, saat sampai disana, Jean tidak menemukan Shaka dimana pun.
Jean masih duduk termenung. Makanan yang dia pesan baru saja habis, karena terlalu lama Jean memutuskan untuk makan lebih dulu, dan sampai sekarang pun Shaka tidak muncul.
Sejujurnya, Jean merasa sangat lelah dan sedikit pusing. Sedari pagi sudah banyak kegiatan yang dia lalui. Mulai dari bimbingan bersama dosen kampus dan juga mampir ke rumah Kayana yang jaraknya tidaklah dekat. Sialnya, ponsel Jean tertinggal di rumah Kayana sehingga dia tidak dapat menghubungi Shaka dan hanya bisa menunggu pria itu.
Detik demi detik pun berlalu. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.20.
"Permisi Nona, mohon maaf sebentar lagi kami akan tutup." ujar seorang Pelayan perempuan dengan ramah.
"Baiklah." Jean mengedarkan pandangannya sebentar. Keadaan kafe sudah sangat sepi. Hanya tersisa dirinya dan juga beberapa pelayan sedang membereskan beberapa meja di pojok.
"Terimakasih atas kunjungan anda. Selamat malam, Nona."
Jean mengangguk sembari tersenyum kemudian berlalu darisana.
Apa dia sibuk? Kenapa tidak memberitahuku sejak awal? Kalau saja ponselku tidak tertinggal...
Keadaan malam yang sudah larut membuat jalan sekitar kampusnya terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang berlalu lalang.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Jean sampai di halte. Keadaan halte itu sepi, hanya dirinya seorang. Ia memeriksa jam di pergelangan tangannya.
Apa masih ada bus beroperasi jam segini, ya?
Lagi-lagi Jean merutuki ponselnya yang tertinggal. Kalau saja dia tidak melupakan ponselnya, tubuhnya pasti sudah tergeletak di kasur nyamannya dan mungkin sudah bermimpi indah.
Jean terduduk dengan tubuh yang menyender. Memejamkan matanya, merasakan kepalanya yang kini mulai berdenyut. Ikatan rambutnya di lepas berharap agar pusingnya berkurang.
Jean masih menutup ke dua matanya saat ada gerombolan pria asing ingin mendekatinya. Berdiri tidak jauh darinya dan saling berbisik lalu mendekati Jean.
Jean membuka sedikit matanya saat terdengar suara langkah kaki mendekat. Tersadar melihat beberapa pria berpakaian serba hitam dan aneh, Jean menegakkan tubuh lalu bergeser ke pojok, waspada.
Dua dari empat pria berjalan menuju ke arahnya. Dari tampang wajah mereka saja, Jean bisa menilai bahwa mereka bukanlah orang baik. Dengan segera, dia berdiri, menjauhi mereka.
"Eh-eh, mau kemana, cantik?" Salah satu pria berseru.
"Mau apa kalian?" tanya Jean masih berusaha tenang.
"Kami hanya ingin berkenalan. Sini cantik, jangan jauh-jauh." Salah satu pria berambut jabrik kini berani mendekatinya dan ingin menyentuhnya.
Jean reflek menjauh kemudian berlari dengan sekuat tenaga. Ke empat pria itu tentu saja tidak akan melepasnya, mereka mengejar.
"Yah kabur, kejar!"
__ADS_1
Jean terus berlari tanpa menengok ke belakang. Kepalanya yang masih berdenyut pusing dia tahan sekuat mungkin.
Suara-suara teriakan di belakangnya masih terdengar jelas padahal Jean sudah berlari cukup kencang. Ini sudah sangat jauh dan tenaganya hampir habis.
Jean yang panik tidak menyadari bahwa kakinya sudah menginjak lajur penyebrangan.
Tiin...
Bruk
Mobil berhenti tepat ketika dia hampir saja tertabrak. Beruntung sang pengemudi dengan cepat menginjak pedal rem.
Jean lemas. Dikejar oleh para pria hidung belang belum lagi keadaannya yang tidak fit membuat dirinya terjatuh begitu saja tepat di depan mobil itu.
"JEANNIE!"
Suara itu...
"Arshaka?" Jean mengangkat pandangannya dengan mata sayu.
"Jean, kau tidak apa-apa?" Shaka berujar cemas sambil memperhatikan tubuh Jean.
Tiba-tiba segerombolan pria datang membuat atensi Shaka beralih kepada mereka.
"Siapa kalian?"
Shaka merasa jika para pria di depannya ini bukan orang baik, mulai mencerna situasi. Sepertinya Jean habis di kejar para pria ini.
"Jean, masuk ke mobilku." ujar Shaka setelah membantu Jean berdiri.
Jean mengangguk lalu berjalan dengan sisa tenaganya menuju mobil Shaka. Salah satu pria maju hendak memukul Shaka namun dengan cepat di tangkis oleh Shaka. Shaka membalas dengan keras hingga membuat pria itu terjatuh.
Shaka yang lengah tidak menyadari bahwa salah satu dari mereka mendekati Jean. Jean yang sudah kehabisan tenaga, tidak mampu melawan dengan kuat.
"Akh!"
Shaka geram, dia berlari mendekati Jean kemudian menghajar pria itu sampai terjatuh. Semakin geram dirinya saat melihat blouse yang di pakai Jean robek di bagian dada hingga perut, beruntung Jean memakai singlet.
"Kurang ajar." Shaka menggeram, pandangannya menggelap. Jean bahkan bisa melihat aura Shaka terlihat sangat menyeramkan. Terlihat seperti bukan Shaka.
Shaka dengan mulut terkatup rapat membuka jasnya lalu memakaikan di tubuh Jean kemudian mengancingnya.
Shaka menuntun Jean masuk mobil. Menutup pintu mobil, dia beralih membuka pintu penumpang lalu meraih tongkat *bassbal*l di belakang jok.
Jean yang melihat itu langsung membulatkan ke dua matanya. Mau apa pria ini?
__ADS_1
Setelahnya, Shaka menutup pintu mobil. Meninggalkan Jean disana dengan perasaan cemas menatap Shaka.
Shaka menatap satu persatu pria di depannya dengan tongkat bassball di pundaknya. Ia berdecih,
"Siapa yang mau maju duluan?"
Para pria itu diam. Mereka menatap Shaka yang terlihat berbeda dan menyeramkan. Sangat berbeda ketika sebelum mendapati blouse wanitanya robek.
"Kau, yang menyentuh gadisku." Tunjuk Shaka pada pria yang menyobek blouse Jean.
"Tampaknya kau sudah ingin pergi menghadap Tuhan. Sini kau, biar ku kabulkan."
Pria itu diam.
"Kenapa kalian diam? Apa kalian hanya berani pada wanita? Cih, kalian bahkan tidak pantas disebut pria. Apa mau ku potong saja burung kalian?"
Shaka menatap mereka remeh.
Mereka mulai terpancing. Salah satu dari mereka menyerang Shaka. Shaka menampilkan smirknya. Dia mulai maju menghajar mereka menggunakan tongkatnya.
Kemarahan yang sudah begitu berapi-api membuat Shaka tidak dapat mengontrol emosinya. Dia memukul punggung, kaki, tangan bahkan wajah para pria itu dengan bringas.
Jean membulatkan matanya dari dalam mobil menyaksikan para pria itu tumbang akibat keganasan Shaka. Jelas saja, Shaka menggunakan tongkat bassball yang berat, belum lagi dengan Shaka yang emosinya berapi-api.
Para pria itu sudah tumbang di jalan. Namun, Jean belum melihat Shaka akan berhenti seolah kemarahannya tidak ada habisnya.
Jean dengan cepat keluar dari mobil berusaha menghentikan Shaka.
"Shaka, Arshaka!" Jean berteriak. Gadis itu bahkan melupakan kata 'Tuan' yang biasanya tersemat di depan nama Shaka.
Shaka seolah tuli. Saat tangan Shaka kembali terangkat ingin melayangkan pukulan yang ke sekian kalinya, Jean memeluk perut Shaka. "Berhenti, Shaka."
Shaka mematung. Napasnya masih memburu bahkan tangannya masih terangkat. "Lepas."
Jean mengeratkan pelukannya. "Tidak. Kau akan membuat mereka mati."
"Mereka menyentuhmu."
Jean menggeleng.
"Lepas, Jeannie."
Jean kembali menggeleng.
Perlahan tangan Shaka yang semula terangkat, kembali turun. Dia mulai menetralkan napasnya. Berusaha meredam emosinya.
__ADS_1
Belum sempat Shaka menyentuh lengan Jean, pelukan Jean terlepas di susul tubuh gadis itu yang merosot. Jatuh kebawah dengan ke dua mata tertutup rapat.
Shaka panik. Langsung mendekap tubuh Jean. "Jeannie!"