
"Shaka."
Guncangan di bahunya membuat ke dua mata Shaka terlonjak pelan. Mendapati presensi Ibunya tengah berdiri di hadapannya dengan raut wajah prihatin.
Bagaimana tidak, saat ini Shaka terlihat seperti Pria tidak terurus. Wajahnya berminyak, rambutnya berantakan, dan ada kantung hitam di ke dua matanya walaupun terlihat samar.
"Pulang lah, Nak. Istirahatlah, kau sudah berjaga disini selama tiga hari."
"Jean belum sadar, Bu." Shaka berujar sendu.
Tangan Haisa terulur, mengusap kepala Shaka lembut. "Ibu akan berjaga disini, dan akan memberitahumu kalau Jean sudah sadar."
"Tapi, Bu..."
"Pulanglah, Nak. Makanlah yang banyak. Wajahmu kurusan dan sudah tidak terlihat tampan lagi. Kau mau, ketika Jean sadar kau terlihat jelek, hm?" Tanya Haisa di selingi candaan agar Shaka bisa lebih rileks.
"Benarkah?" Shaka mengambil ponselnya, lalu bercermin di depan kamera. Haisa yang melihat itu tersenyum. Putranya tidak pernah berubah. Selalu mudah merespon guyonan dengan baik.
Shaka meringis, "Wah, aku bahkan terlihat tampan saat ini. Berewokku tumbuh sedikit, apa aku harus memanjangkannya agar terlihat seperti orang timur tengah?"
Haisa terkekeh, "Dan Jean tidak akan mengenalimu nanti."
"Lalu dia akan bertanya, 'Wah! Siapa pria yang sangat tampan ini?'" Imbuh Shaka sembari terkekeh.
Haisa tertawa, tangannya memukul pelan pundak Shaka, "Sudah-sudah. Pulang sana!"
Pria itu masih bergeming, "Ibu berjaga disini, bagaimana dengan Mama Selma?" tanyanya mengingat Delvin berada di Perusahaan.
"Mama Selma di temani Bik Tina, kepala pelayan dari rumahnya."
"Oh gitu." Kata Shaka yang terdengar seperti gumaman.
Haisa mengangkat alis, melihat putranya masih bergeming. Wanita itu menaikkan dagunya, mengarahkan kesamping. Isyarat menyuruh Shaka untuk segera bergegas pulang.
"Oke, aku pulang." Shaka akhirnya menurut. Berjalan meninggalkan ruang ICU dengan langkah gontai.
"Shaka."
Langkahnya terhenti saat mendengar Haisa memanggil namanya. Memutar tubuhnya untuk melihat sang Ibu.
"Jangan menumbuhkan berewok. Nanti Jean takut."
"Takut akan ketampananku, ya. Baiklah aku akan melebatkan berewokku." Ucap Shaka sembari mengusap dagunya yang sudah tumbuh rambut-rambut kecil.
Haisa menggeleng melihat tingkah konyol anaknya. Wanita itu sedikit bersyukur karena walaupun anaknya tengah di rundung kecemasan, namun masih bisa di ajak bercanda. Kepribadian yang membuat Haisa sangat bersyukur sekali karena Shaka bukan tipe orang yang sangat serius sehingga mudah baginya untuk menyesuaikan sikap dimana situasinya berada.
Pandangan Haisa mengarah pada Jean yang masih terbaring di brankar dengan ke dua mata tertutup. Ini sudah dua hari ketika terakhir kali Jean kehilangan ke sadarannya kembali.
Dokter mengatakan bahwa Jean kekurangan elektrolit sehingga mual bisa saja terjadi, dan juga kondisinya yang tiba-tiba drop membuat dirinya pingsan dan belum terbangun setelah semalaman.
Haisa mendekat saat melihat ke dua mata Jean mengerjap.
"Jean.."
Jean menoleh, memandang Haisa dengan sayu. "Ibu.."
__ADS_1
"Iya, ini Ibu, sayang. Apa ada yang sakit?" Tanya Haisa sembari menggenggam telapak tangan gadis itu.
"Aku tidak apa-apa." Jean menjawab dengan lemah.
"Ibu panggil Dokter dulu, ya."
Haisa segera memanggil Dokter dengan memencet tombol di atas kepala ranjang.
Tidak lama Dokter datang diikuti perawat. Haisa segera menyingkir membiarkan mereka memeriksa kondisi Jean.
Dia teringat akan Shaka. Apakah dia harus menghubungi Putranya tentang Jean yang sudah membaik. Putranya itu baru saja pergi beberapa menit yang lalu. Sepertinya bukan waktu yang tepat untuk memberitahu Shaka. Haisa pikir, Shaka harus membersihkan dan mengistirahatkan diri lebih dulu. Mungkin dia akan menghubunginya nanti.
...****************...
"Apa kau menemukan sesuatu tentang Ola?" tanya Shaka sembari memakan makan malamnya di rumah. Ada Delvin di seberangnya.
Shaka baru saja terbangun dari tidurnya. Pria itu tidur dalam waktu yang cukup lama setelah membersihkan diri. Tidak sempat mengisi perutnya, dan langsung ketiduran setelah tubuhnya menyentuh kasur.
"Wanita itu hanya datang berkunjung kembali ke Rumah Sakit Jiwa Harapan Abadi." Kata Delvin lalu menyuap nasi ke dalam mulutnya.
"Bukankah Karen berada disana?"
"Ya, Bos."
Shaka mengangguk. Dia terdiam, berpikir dengan kening berkerut mengingat tentang Karen. "Nama panjang Ola siapa?"
"Cintya Fayyola." Jawab Delvin.
"Karen?"
"Err... Mei..."
"Mei?" Shaka menaikkan alisnya mendengar nama depan Karen di ucapkan.
"Kalau tidak salah Meinanda Tatiana Karen." Ucap Delvin dengan nada sedikit ragu.
"Kenapa susah sekali namanya?"
Delvin mengangkat bahu, "Mana aku tahu, Bos."
"Selidiki dia, juga."
Delvin menaruh sendoknya di piring. "Ada apa dengannya, Bos?"
Shaka ikut menaruh alat makannya di piring. "Kepintaranmu menurun, ya, Vin?"
Delvin terdiam. Sibuk berpikir.
"Kau bilang saat itu para Bajing4n itu pergi menuju rumah sakit jiwa Harapan Abadi. Disana juga tempat Karen di rawat. Bukankah sudah terlihat jelas kejanggalannya?"
Delvin mengangguk mulai mengerti.
"Meinanda ... Karen..."
Shaka melipat ke dua tangannya di dada. Menatap lurus Delvin di seberangnya.
__ADS_1
Delvin yang paham, tersenyum miring. "Meinka. Meinanda Karen."
Shaka menampilkan smirknya. Lalu dia kembali mengambil alat makannya, dan kembali menyuap nasinya yang masih tersisa di piring. "Bagaimana dengan para Bajing4n itu?"
"Masih hidup. Aku belum menemukan informasi lagi dari mereka."
"Setelah dua minggu, ringankan hukumannya. Mereka tidak mengetahui apapun dan hanya dijadikan alat oleh wanita-wanita jahanam itu...," Kata Shaka. "... Beri mereka makan dua hari sekali, dan jangan sampai lolos dari kurungannya sebagai hukuman karena telah menyakiti calon istriku."
"Baik, Bos."
"Kau tetap awasi Ola, dan Karen. Selidiki lebih lanjut apakah Karen benar-benar tidak waras atau hanya sebagai alibi untuk bersembunyi." Perintah Shaka pada Delvin.
"Siap, Bos."
Untuk beberapa saat, mereka sibuk menyelesaikan makan malam. Shaka lebih dulu selesai. Dia mengambil gelas berisi air putih lalu menenggaknya.
Ponsel di atas meja bergetar, nama kontak sang Ibu tertera di layar.
"Halo, Ibu." Sapa Shaka.
"Sudah makan?"
"Baru selesai. Ada apa, Bu?"
"Sudah mandi dan tidur, kan?"
"Iya, sudah." Shaka meminum kembali air putih di gelas yang masih di pegangnya.
"Jean sudah sadar. Kau kesinilah, jangan ngebut, ya."
Uhukk... Uhukkk...
Mendengar Jean telah sadar membuat dirinya yang tengah minum, tersedak.
"Shaka, Nak? Kau tidak apa-apa?" Haisa terdengar khawatir disana.
"Oh, tidak.. Uhukk... Tidak apa-apa. Aku akan segera kesana." Ucap Shaka dengan terbata. Wajahnya kini memerah, menahan sesak karena tersedak. Bahkan hidungnya terasa sedikit perih.
"Ingat, jangan ngebut."
"Iya, Bu." Jawab Shaka masih kalem. Padahal dia ingin sekali cepat pergi dan bergegas menuju rumah sakit untuk bertemu pujaan hatinya.
"Oke."
Panggilan terputus. Shaka segera berlari menuju lantai dua. Mengambil jaket secepat kilat dan segera turun kembali mengambil kunci mobil di meja.
Langkahnya terhenti, menatap Delvin yang kini tengah minum dengan santai.
"Kau mau ikut tidak?" tanya Shaka padanya.
"Apa kalau aku tidak ikut Bos akan berkendara dengan normal?"
Shaka melongos, melempar kunci mobil pada Pria itu.
"Cepatlah!"
__ADS_1
...****************...