PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Shaka Membunuh?


__ADS_3

Shaka duduk dengan kepala menunduk. Menunggu dokter memeriksa kondisi Jean.


Delvin kini sudah berada di samping sang Bos. Pria bule itu bukannya melalaikan tugasnya untuk berada di samping Shaka, tetapi ketahuilah bahwa Shaka yang saat itu sedang panik langsung menyambar kunci yang di pegang Delvin, meninggalkan pria itu disana, membuat Delvin kerepotan karena harus melacak sang Bos yang sudah melesat jauh menggunakan mobilnya.


Ketika Delvin sampai di lokasi, betapa terkejutnya pria itu mendapati sang Bos tengah memeluk Jean sambil menepuk-nepuk pipiya berusaha untuk menyadarkan Jean dari pingsannya. Belum lagi ada empat pria dalam keadaan babak belur mengenaskan tergeletak di jalan sementara Shaka bersih tanpa luka kecuali penampilannya yang berantakan.


“Kau sudah mengurus mereka?” tanya Shaka di tengah keheningan koridor rumah sakit.


“Beres, Bos.”


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki memenuhi koridor rumah sakit. Shaka menegakkan tubuhnya.


“Shaka, dimana Jean?” Selma bertanya dengan terburu.


Shaka berdiri, “Sedang di periksa di dalam, Ma.”


“Apa yang terjadi, Shaka? Kenapa penampilanmu sangat berantakan seperti ini, dan darah siapa ini?” Tanya Selma panik mendapati kemeja putih Shaka terdapat bercak darah.


Mengalirlah cerita singkat dari Shaka. Tentu saja hanya garis besarnya, tidak menyebut kelakuan bejat salah satu pria yang dengan berani menyobek baju atas Jean sehingga mengundang kemarahan Shaka hingga membuat mereka hampir saja mati.


Selma menggenggam ke dua tangan Shaka. “Terimakasih, Nak Shaka.”


Shaka mengangguk.  Terdengar pintu terbuka.


“Keluarga Nona Jeannie?” seru Dokter pria paruh baya.


Selma maju mendekati Dokter. “Saya Ibunya. Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya Selma khawatir.


“Anak Ibu baik-baik saja. Hanya terlalu lelah dan kurang istirahat. Tolong lebih di jaga pola makan dan waktu tidurnya.” Jelas sang Dokter.


Selma menghela nafasnya. Memang akhir-akhir ini Selma mendapati keadaan Jean yang lesu di pagi hari dengan ke dua kantung mata yang agak menghitam. Sepertinya Jean begadang mengerjakan skripsinya.


“Untuk membesuk, jangan terlalu ramai karena pasien sedang istirahat. Besok pasien sudah di perbolehkan pulang. Kami permisi.” Pamit Dokter.


“Terimakasih, Dokter.”


Dokter membalas dengan tersenyum kemudian pergi diikuti perawat di belakangnya.


Selma, dan Shaka masuk ke dalam ruang rawat Jean. Sementara Delvin menunggu di luar.


Selma, dan Shaka mendekati ranjang Jean dengan pelan. Tampak Jean disana terlelap sudah berganti pakaian menggunakan seragam pasien dengan selang infus menancap di salah satu pergelangan tangannya.


“Shaka, pulanglah biar Mama yang jaga disini.” Kata Selma pada Shaka.


“Tapi,”


“Ini sudah sangat larut. Kau pasti lelah baru saja pulang kerja dan langsung mencari Jean.” Selma tersenyum lembut pada Shaka.

__ADS_1


Shaka masih diam sambil memandangi Jean.


“Pulanglah, Nak. Istirahatlah dan terimakasih karena sudah membawa Jean pulang.” Selma masih membujuk.


Shaka menghela napas kemudian mengangguk patuh. “Baiklah, Ma. Kalau butuh sesuatu hubungi Shaka.”


“Iya. Jangan lupa salam untuk Ibumu. Maaf karena membuat anaknya keluar sampai tengah malam.”


Shaka tersenyum. “Akan aku sampaikan. Aku pulang Ma, besok aku usahakan akan kembali.” Pamitnya.


“Hati-hati, Shaka.”


Shaka menutup pintu ruang rawat Jean, dan segera pergi darisana. Delvin dengan sigap mengikuti sang Bos.


“Kau membawa mereka ke kantor polisi?” tanya Shaka.


“Ya, Bos.”


“Kau urus mereka, dan jangan sampai namaku terlibat.”


“Baik, Bos.” Ujar Delvin patuh.


***


Jean mengerjapkan ke dua matanya. Hal pertama yang ia dapati adalah langit-langit plafon berwarna putih dan aroma obat-obatan yang khas.


Sepertinya aku di rumah sakit.


“Anak Mama sudah bangun?” Selma muncul dengan membawa sebotol termos berukuran sedang.


“Ma, kenapa aku di rumah sakit?” tanyanya.


“Shaka menemukanmu pingsan di jalan kemarin.” Selma tiba-tiba memukul lengan Jean, “Kan Mama sudah bilang jangan terlalu sering begadang. Lihatlah, kau semalam pingsan, dan kemana ponselmu?” semprot Selma.


“Mama, jangan pakai kekerasan. Aku kan sedang sakit.” Jean mengelus lengannya dengan dramatis padahal pukulan Selma tidak sakit sama sekali.


“Jawab pertanyaan Mama, Jean. Dimana ponselmu, kenapa semalam Mama tidak bisa menghubungimu?”


“Ponselku mati dan sedang di charger di rumah Kayana. Aku lupa mengambilnya dan tertinggal disana.” Jean menjelaskan.


“Ya Tuhan, Jean.” Selma menatap Jean tidak habis pikir. “Mama sangat khawatir padamu, bahkan Mama sampai menghubungi Shaka untuk mencarimu.”


Jean teringat dengan Shaka. Bagaimana keadaan pria itu? Dia tidak membunuh para pria brengs3k itu kan..


“Ma, dimana Shaka?”


“Shaka semalam Mama suruh pulang.”

__ADS_1


“Bagaimana keadaannya?”


“Sepertinya baik-baik saja. Hanya penampilannya yang kacau.”


Jean terdiam. Ia mengingat penampilan dan keadaan Shaka semalam. Shaka dengan penampilannya yang berantakan dan tatapan mata yang sangat tajam membuat pria itu terlihat menyeramkan, seperti bukan Shaka yang biasa Jean lihat.


Mendadak Jean jadi takut, bagaimana jika Shaka benar-benar membunuh mereka mengingat betapa emosinya pria itu. Andaikan ia tidak pingsan, ia akan memastikan Shaka pulang bersamanya dan meninggalkan ke empat pria itu disana. Kalau begini, Jean bahkan tidak tahu keadaan Shaka dan juga kondisi ke empat pria bre3ngsek itu. Apakah mereka sudah mati di tangan Shaka atau belum.


“Apa yang kau pikirkan?” Selma bertanya sambil menuangkan sup dari dalam termos.


Jean tersadar dari lamunannya, “Kapan aku di perbolehkan pulang?”


“Hari ini, setelah infusmu habis.”


Jean melirik tabung infusnya yang tersisa setengah.


“Makanlah. Atau jangan bilang kau ingin Mama suapi?” tanya Selma sambil menyodorkan semangkuk sup telur.


Jean menggeleng, “Ke dua tanganku sehat.” Ujarnya lalu menyendokkan sup ke dalam mulutnya.


“Ngomong-ngomong Eshan masih di Apartemenku, Ma?” tanya Jean di sela-sela aktifitasnya.


“Jangan membahas anak badung itu. Mama masih marah padanya, biarkan dia tinggal di Apartemenmu dulu.” Selma berkata dengan bersungut-sungut.


“Jangan terlalu keras padanya, Ma. Mama memang tidak merindukannya?”


“Tidak.”


Jean tahu Mamanya sedang berbohong.


“Eshan sudah menjelaskan dan meminta maaf pada Mama. Dia disini hanya sebulan, loh, Ma. Ini sudah lewat hampir dua minggu. Mama yakin tidak ingin bertemu dengannya?”


Perkataan Jean membuat Selma termenung. Sesungguhnya Selma tidak begitu marah dengan Eshan. Percayalah, bahwa Selma sangat merindukan anak bungsunya itu. Namun, karena Selma masih merasa kesal pada Eshan yang tidak pernah mengabari dirinya setelah 7 bulan ke pergiannya ke Amerika, padahal Eshan berjanji akan sesering mungkin mengabari Selma.


Selma hanya sangat khawatir dan takut Eshan terperangkap pergaulan bebas di negeri Paman Sam.


Salahkah Selma marah dan kesal pada putranya itu?


“Ma?” panggil Jean menyadarkan Mamanya yang sempat termenung.


“Akan Mama pikirkan.” Ucap Selma.


Jean tersenyum meyakinkan Selma.


“Oh ya, aku pinjam ponsel Mama sebentar.”


“Untuk?”

__ADS_1


“Meminta Kayana mengantar ponselku.”


Aku harus memastikan Shaka tidak membunuh mereka.


__ADS_2