
"Ini."
Jean meletakkan sebuah benda berbentuk bulat berisi bedak padat kepada Ola. Saat itu Shaka yang memintanya untuk mengembalikan bedak padat Ola yang di tinggalkan oleh wanita itu.
Ola mengambil bedak padat miliknya, "Terimakasih." jawabnya dengan tersenyum.
"Sama-sama."
Saat ini mereka berdua tengah berada di salah satu restaurant cepat saji di tengah kota.
"Bagaimana lukamu?" tanya Jean karena ini sudah seminggu sejak kecelakaan waktu itu.
"Sudah membaik." Ola menunjukkan lengannya, "Aku bahkan sudah bisa memakai Jeans sekarang."
"Syukurlah."
"Kau masih kuliah?" Ola bertanya karena melihat Jean membawa ransel dan beberapa buku di meja.
"Iya. Semester akhir."
"Aku tidak menyangka kau masih sangat muda. Berapa umurmu, Jean?" tanya Ola dengan raut penuh tanda tanya.
"Dua puluh dua." Jawab Jean singkat.
Raut wajah Ola tampak berubah saat mendengar ucapan Jean. Seperti tatapan tidak percaya.
"Jadi sebelum lulus kau lebih dulu akan menikah, ya?"
"Iya."
Ola menatap Jean dengan prihatin. "Pasti akan sulit mengasuh anak sambil berkuliah. Apalagi kau pasti sedang skripsi, kan?"
Jean diam mendengarkan.
"Semangat, ya." Ola memberikan semangat dengan menampilkan senyum manisnya.
"Terimakasih." ucap Jean dengan tulus. "Ngomong-ngomong aku ingin tahu bagaimana kau dan Shaka bisa menjadi sepasang kekasih dulu."
Ola menopang dagunya mencari posisi nyaman untuk bercerita. "Saat itu kami bertemu di club Firezone. Aku yang saat itu sedang party dengan teman-temannku tiba-tiba Shaka mendatangiku lalu menyatakan perasaannya padaku di depan teman-temanku."
Senyum Ola terkembang seolah sedang mengenang masa lalu yang paling membahagiakan. "Awalnya aku bingung tiba-tiba ada pria yang menyatakan perasaannya padaku, namun karena teman-temanku mendesakku untuk menerimanya, kemudian kami menjadi sepasang kekasih lalu kami party bersama sampai pagi."
"Kapan?"
"Empat tahun yang lalu."
Jean mengangguk mendengar cerita Ola.
Ola tampak menampil raut sungkan karena sudah bercerita banyak. "Emm... Maaf aku tidak seharusnya bercerita sepanjang ini—"
__ADS_1
"Tidak, tidak apa-apa. Aku yang memintamu untuk bercerita." ucap Jean menyela. "Kudengar hubungan kalian hanya sebentar?" imbuhnya gamblang.
Ola yang mendengar itu sontak wajah yang semula berseri menjadi sedikit redup, namun cepat-cepat dia merubah ekspresi wajahnya kembali. "Iya, hubungan kami kurang dari sebulan. Meskipun begitu, Shaka memperlakukanku dengan sangat baik."
Dan kau pun masih terjebak cinta masa lalumu.
Jean tersenyum tipis.
"Kalau boleh tahu kalian kenapa bisa berpisah?" tanyanya yang lagi-lagi tanpa keraguan sedikitpun.
"Saat itu Shaka sedang fokus akan kenaikan jabatannya sebagai CEO, dan kami akhirnya berpisah karena aku tidak ingin mengganggu Shaka." kata Ola dengan masih nada entengnya.
Penyebutan Cinta Lama Belum Kelar yang di ucapkannya pada Shaka saat itu rupanya benar. Mereka putus karena Shaka yang sibuk dan sekarang Ola belum selesai dengan perasaannya.
Well, walaupun Jean tidak mengerti tentang cinta karena dia pun belum pernah merasakannya, namun yang di pikirkannya adalah apakah setelah empat tahun seseorang yang hanya menjalani kasih dalam waktu singkat masih ada perasaan yang tersisa?
"Shaka berhasil menjadi CEO satu tahun kemudian menggantikan posisi Tuan Ivan. Setidaknya, pengorbananku tidak sia-sia, kan." kata Ola tersenyum tipis.
Jean hanya membalas tersenyum tipis.
"Kami juga sering makan siang bersama disini. Ini restaurant kesukaan Shaka." ujar Ola lagi. Sepertinya wanita ini sangat suka ketika membicarakan Shaka
"Begitu, ya." Jean menanggapi seadanya.
"Aku tidak menyangka, loh, saat itu bertemu dengan Shaka. Penampilannya terlihat berbeda tidak seperti empat tahun lalu."
"Oh, ya?"
"Benarkah?" Sahut Jean.
"Aku agak pangling saat pertamakali melihatnya waktu itu."
"Terlihat sangat berbeda, ya?"
Jean lagi-lagi hanya menanggapi seadanya mendengar cerita Ola tentang Shaka seolah cerita kenangan mereka sangat berarti dan membahagiakan yang patut orang-orang dengar. Ola masih asik bercerita dengan Jean yang setia mendengarkan bagaimana calon suaminya di puji-puji di depan wanita lain yang dimana wanita itu adalah masa lalu calon suaminya.
Apakah aku harus cemburu sekarang?
***
Delvin mengetuk ruangan yang bertuliskan Direktur Utama. Setelah terdengar suara 'masuk', dia membuka pintu kemudian menghampiri Shaka seraya membawa makan siang untuk pria itu.
"Katakan yang kemarin ingin kau katakan." ujar Shaka tanpa basa-basi.
Pria itu tengah duduk bersandar di sofa hitam yang ada di ruangannya. Delvin meletakkan nampang makan siang Shaka di hadapannya kemudian duduk di seberang Shaka.
Delvin merogoh saku jas abunya, mengeluarkan beberapa lembar foto kepada Shaka.
"Dari informasi yang kami dapatkan dari petugas rumah sakit, Karen mengalami depresi berat karena kehilangan anaknya."
__ADS_1
"Anak?" Shaka bertanya dengan mulut penuh dengan makanan yang baru saja di suapnya.
"Iya. Beberapa minggu sebelum di masukkan ke rumah sakit jiwa, Karen melahirkan anak dan di nyatakan meninggal."
"Suaminya?"
"Kami tidak pernah melihat pria di sisi Karen. Hanya Ola yang sesekali mengunjunginya. Namun, beberapa kerabat Karen di kampungnya berkata bahwa wanita itu sudah menikah. Kami belum memastikannya dengan jelas karena informasi tentang Karen sangat minim seolah wanita itu sedang bersembunyi." jelas Delvin.
"Kau bilang hubungan Karen dan Ola renggang dua tahun yang lalu?" tanya Shaka.
Delvin mengangkat bahunya, "Saya belum mendapatkan informasi tentang itu. Bisa saja mereka bersitenggang karena hubunganmu dengan Ola. Bagaimana pun Ola dan Karen masih dalam lingkup keluarga, kan, Bos."
Shaka menjentikan jarinya, "Bisa jadi." ucapnya lalu menggeser piring kecil berisi berbagai buah. "Makanlah."
****
Jean memarkirkan motor besarnya di parkir basement lalu berjalan dengan santai.
Ponselnya bergetar di sakunya dengan segera dia mengambil ponselnya.
"Halo."
"Kau dimana? Aku di depan unitmu."
"Sedang apa kau disana?" tanya Jean dengan raut terkejut sambil mempercepat labgkahnya.
"Main. Cepatlah kesini, aku lapar."
"Kenapa kau main di Apartemenku?"
"Cepatlah, ada Ibuku disini."
"Apa? Tunggu, aku sebentar lagi sampai."
Jean menutup panggilannya lalu berlari, menghampiri lift kemudian memencet tombol lift dengan tergesa. Mengetahui ada Haisa dia tidak bisa berjalan santai. Bagaimana pun calon mertuanya ada di depan unitnya.
Sejak empat hari yang lalu, Jean memang sudah tinggal di Apartemennya atas ijin Selma karena jarak dari kampus menuju Apartemennya lebih dekat dengan janji satu minggu sekali dia akan pulang ke kediaman keluarga.
Sampai di lantai dua puluh satu tempat unit Jean berada, dia berlari. Mendapati Shaka tengah berdiri di samping pintu unitnya dengan sebelah tangan memainkan ponsel, dan satu tangannya lagi menenteng kantung plastik besar.
"Shaka." Jean berhenti di depan Shaka dengan napas memburu habis berlari.
Shaka memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Kau berlari?"
"Dimana Nyonya Haisa?" tanya Jean mencari keberadaan Ibu Shaka.
"Di mansion. Cepat buka pintunya, aku lapar."
A-apa?!
__ADS_1
......................