PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Wedding Dress


__ADS_3

Jean berkeliling di dalam butik. Melihat-lihat gaun-gaun cantik yang terpampang di depannya. Selma meminta Jean untuk mencari setidaknya tiga gaun untuk di coba oleh gadis itu. Nanti, Selma yang akan menilai apakah gaun itu terlihat cocok dan pas di tubuh anaknya.


Jean sudah menemukan tiga gaun yang di pilihnya, lalu melangkah menuju ruang ganti.


Selma menunggu di sofa dengan tenang. Tidak ada Shaka disana karena pria itu katanya sibuk hari ini. Ada rapat penting yang dimana dia harus hadir disana, dan tidak bisa di wakilkan oleh Delvin. Selma sebagai orang tua Jean mengerti, jadi hanya dia yang menemani anak gadisnya fitting baju sementara Haisa tengah sibuk reservasi gedung bersama Ivan.


Tirai terbuka menampilkan Jean disana dengan menggunakan gaun berwarna putih gading dengan model floor-length halter neck.


“Tidak. Gaun itu terlalu simple. Ganti.” Kata Selma tampak langsung tidak menyukai pilihan Jean.


Gadis itu menurut, “Baiklah.”


Tirai di tutup kembali. Jean berganti di dalam sementara Selma sibuk melihat-lihat katalog.


Lima belas menit kemudian, tirai kembali terbuka. Kali ini Jean mengenakan gaun bermodel mermaid dengan lapisan atas gaun di hiasi payet-payet.


Gelengan kepala kembali di berikan Selma, “Jangan ini. Nanti kau sulit berjalan, Ganti.”


Jean menghela napas. Sesungguhnya, berganti-ganti gaun cukup melelahkan baginya karena gaun-gaun ini terasa berat dan agak sulit memakainya.


Beberapa saat kemudian, tirai kembali terbuka. Menampilkan Jean dengan gaun A-Line dan Off Shoulder.


Tiba-tiba Selma bertepuk tangan, menatap Jean dengan takjub. “Bagus, sayang. Ini sangat cantik. Kau jadi terlihat tinggi.”


“Aku tidak pendek, Ma.” Ujar Jean.


“Ya, kau tidak pendek. Hanya kurang tinggi saja.” Sahut Selma.


Padahal Jean tidaklah se-pendek itu. Gadis itu memiliki tinggi 165 cm. Cukup tinggi menurutnya. Selma selalu menyebutnya pendek karena wanita itu sendiri memiliki tinggi badan 169 cm. berbeda 4 cm di bandingkan dirinya. Padahal biasanya seorang anak lebih tinggi dari orang tuanya, namun entahlah untuknya. Bahkan adiknya, Eshan memiliki tinggi 184 cm, dan mendiang Ayahnya memiliki tinggi sekitar 180 cm. Astaga, Jean jadi meragukan gen di dalam tubuhnya.


“Sebentar, Mama foto dulu.” Selma berdiri mendekati putrinya.


“Untuk apa, Ma?”


“Untuk Shaka.”


Cekrek..


Satu, dua, tiga foto telah di ambil oleh Selma, dan segera di kirim olehnya.


“Sudah. Gantilah, lalu kita pulang.” Tutur Selma pada Jean. Kemudian wanita itu melangkah mendekati pegawai butik untuk melakukan transaksi dan pemesanan.


Setelah semua sudah selesai di urus, mereka keluar dari butik dan memasuki mobil.


Jean duduk di kursi kemudi, sementara Selma duduk di sebelahnya tampak sibuk mengotak-atik ponselnya.

__ADS_1


“Sepertinya Shaka sangat sibuk. Dia tidak membaca pesan dari Mama.” Ujar Selma.


Jean melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. “Shaka orang penting, Ma. Sudah pasti dia sangat sibuk.”


“Wisudamu kapan?” tanya Selma.


“Bulan depan sepertinya.”


Dari kejauhan tampak rambu lalu lintas berwarna merah, menandakan waktunya untuk berhenti. Saat Jean menginjak pedal rem, mendadak dia panik karena rem tersebut tidak berfungsi. Jantungnya berdegup kencang sementara kurang dari 500 meter dia sampai di depan rambu.


“Ada apa, Jean?” tanya Selma melihat Jean yang panik.


“Remnya blong, Ma.” Ujarnya panik.


“Apa? Bagaimana bisa?” Selma ikut panik.


“Aku tidak tahu.” Jean hampir berteriak karena di liputi kepanikan. Kakinya terus berusaha menginjak pedal rem, namun tidak berfungsi sama sekali.


Jalanan sedang lenggang, dan sepi. Di seberang pun hanya ada beberapa mobil yang lewat.


Tepat saat sampai di perempatan jalur, Jean menutup ke dua matanya saat mobil yang di kendarainya di tabrak oleh mobil lain tepat mengenai sisinya.


BRAK


Mobil yang di kendara Jean terseret cukup jauh dengan lengikingan gesekan mobil yang terdengar cukup kencang. Darah mengalir dari kepala dan tubuh sebelah kanannya yang terhimpit pintu mobil, sementara Selma kepalanya berdarah dan ada beberapa luka di tubuhnya karena terbentur dan terkena pecahan kaca.


“Jeannie.” Panggil Selma lemah.


“Sayang, bangun, Nak.” Namun, Jean tidak menjawab. Selma yang merasa tenaganya sudah habis, mulai ikut memejamkan ke dua matanya.


*****


Di kantor, Shaka baru selesai rapat dan dia masih berada di ruangan itu sementara para divisi lain sudah keluar. Hanya ada dirinya dan juga Delvin, duduk di sebelahnya.


“Dia cantik, kan?” Shaka menunjukkan foto Jean yang menggunakan gaun pengantin yang dikirimkan oleh Selma satu jam yang lalu.


“Iya, Bos.” Jawab Delvin.


“Aku jadi tidak sabar untuk mengawininya.”


“Apa, Bos?” Delvin terkejut mendengar ucapan Shaka. Sejak kapan bosnya jadi se-mesum ini.


“Kawin. Kau tau kawin, kan?”


“Tau.”

__ADS_1


“Nah, itu. Kau pernah melakukannya? Ah, pasti tidak pernah. Kau kan pria kanebo kering.” Ujar Shaka santai dengan mata masih terfokus pada layar ponselnya. Delvin hanya mampu tersenyum tipis mendengar ucapan sang Bos. Biarlah, Bosnya sedang berbahagia. Pria itu mengajukan pertanyaan saja, di jawab sendiri olehnya.


Seperti bos pernah saja.


“Oh, ya. bos. Beberapa waktu lalu kau memintaku untuk mencari restaurant yang bagus dan romantis. Kenapa kau mencabutnya kembali?” tanya Delvin yang mengingat kala itu Shaka tidak jadi meminta Delvin untuk dicarikan restaurant yang bagus untuk melamar Jean.


Shaka menyenderkan tubuhnya di kursi. “Aku tunda. Saat itu aku berpikir ingin melamar Jean seperti kebanyakan pasangan lainnya, tapi mengingat aku dan dia di jodohkan sementara melamar adalah bentuk suatu kejutan dan kebahagiaan yang sesungguhnya, jadi aku rasa aku akan menundanya.”


“Kenapa di tunda?”


“Karena Jean belum mencintaiku. Aku hanya ingin saat aku melamar dirinya seperti pria lain, wanitaku juga akan merasakan kebahagiaan yang melimpah karena prianya menyatakan cinta sekaligus melamarnya untuk ke jenjang yang lebih serius dimana kami akan menua dan hidup bahagia bersama.” Kata Shaka dengan senyum di bibirnya sembari membayangkan Jean yang akan mencintainya.


“Jadi, bos akan menunggu sampai nona Jean mencintaimu?” tanya Delvin.


“Yap. Aku akan berjuang mengejar cinta istriku seperti pria lainnya yang mengejar cinta wanita pujaannya. Sampai saat itu, aku akan melamarnya dengan benar.” Ujar Shaka bersungguh-sungguh.


“Kalau Jean masih tidak mencitaimu?” tanya Delvin dengan raut datarnya seperti biasa mengundang Shaka memicingkan mata menatapnya. “Kau ini bukannya mendo’akan bosnya malah berkata seperti itu. Ingin ku pecat, huh?”


“Bercanda, Bos.”


“Pria kanebo kering sepertimu tidak cocok untuk bercanda. Buktinya aku tidak tertawa.” Kata Shaka sambil menunjuk-nunjuk Delvin.


“Aku bukan Pria kanebo kering.”


“Kata Aslan begitu.”


“Kata Aslan kita berdua, bos.”


“Tidak. Hanya kau. Saat itu mungkin kau salah dengar.” Sanggah Shaka tidak terima.


“Baiklah, hanya aku Pria kanebo kering. Tetapi bos pun punya sebutan lain.”


Shaka mengerutkan keningnya, “Apa?”


“Cupu.”


Shaka melotot protes, “Delvin, kau-”


Dering di ponsel Delvin menghentikan perseturuan mereka. Delvin mengeluarkan ponselnya, mengernyit melihat nomor tidak di kenal. Kemudian dia segera menjawab panggilan itu.


“Halo.”


Shaka menunggu dengan tenang. Dia kembali menatap layar ponselnya sembari tersenyum lebar. Betapa cantik dan indahnya Jean di sana. Shaka jadi ingin cepat-cepat melaksanakan akad dan menjadikan gadis itu miliknya.


“Bos.” Panggil Delvin tergesa sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku. “Jean kecelakaan saat pulang dari butik. Kita harus ke rumah sakit sekarang.”

__ADS_1


Ponsel yang di pegang Shaka seketika terjatuh. Raut wajahnya berubah panik. Dia segera berlari keluar dari ruang rapat dengan Delvin di belakangnya mengikuti.


...****************...


__ADS_2