PROBLEM HUSBAND

PROBLEM HUSBAND
Tentang Restu


__ADS_3

“Aku paham. Bagaimana dengamu, apa kau keberatan?”


Mendapatkan pertanyaan seperti itu membuat Jean membisu. Jujur saja, Jean belum siap untuk menikah apalagi untuk mengurus anak. Terlebih lagi sebentar lagi dia baru saja akan lulus. Rencana setelah lulusnya adalah melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 karena dia ingin segera membuka klinik praktek psikolog.


Namun, jika Selma menginginkan dirinya untuk segera menikah, Jean bisa apa selain menurutinya. Selama hidupnya, Selma tidak pernah menuntut Jean apa-apa. Selalu mendengar pendapat Jean dengan baik dan membebaskannya sesuai keinginan Jean sendiri asal menurut Selma baik dan benar. Bagaimana mungkin ketika Selma untuk pertama kalinya meminta sesuatu padanya, Jean berani menolak sementara dia selalu di bebaskan dalam berpendapat dan meraih cita-citanya.


Walaupun Jean belum sempat mewujudkan cita-citanya, tetapi Jean bahkan sebentar lagi akan lulus. Bukankah sudah cukup baginya untuk mempelajari tentang psikologi?


“Jeannie.”


Jean membuyarkan lamunannya kala mendengar suara Shaka di sebelahnya.


“Ada apa?” tanya Shaka.


Jean tersenyum tipis, “Tidak ada. Hanya berpikir sebentar.”


Shaka menyenderkan tubuhnya di kursi. Kepalanya mendongak ke atas, menatap dahan pohon. “Kau keberatan, ya?”


“Soal?”


“Perjodohan,”


“Tidak.”


Shaka menegakkan tubuhnya. Kembali memusatkan perhatiannya kepada Jean. “Kau bilang apa barusan?” Shaka bertanya kembali seolah pendengarannya bermasalah.


“Tidak.” Ulang Jean.


“Jean, dengar. Aku tidak ingin kau terpaksa dengan perjodohan ini. Kau berhak memilih masa depanmu. Aku akan berbicara dengan Ibuku dan Mama Selma jika kau keberatan.” Ujar Shaka mencoba mengerti Jean.


Sejujurnya Shaka sangat berharap Jean menyetujui dan tidak menolak perjodohan ini. Tetapi Shaka harus ingat, Jean berhak atas pilihannya. Maka dari itu dia tidak ingin memaksa demi kebahagiaan Jean.


Bukan berarti Shaka akan melepaskan Jean. Shaka akan mendekati Jean secara perlahan dan alami tanpa bantuan oleh siapa pun. Sehingga saat Jean sudah menyukainya, Shaka akan maju secara perlahan. Mulai dari berkencan-bertunangan-hingga menikah.


Jean menarik napasnya dalam lalu menatap Shaka dengan senyuman di bibirnya. “Aku tidak terpaksa dan tidak keberatan, Shaka.” Ucapnya mantap.


Shaka menatap Jean dengan raut tidak percaya, “Kau serius?”

__ADS_1


Jean mengangguk masih dengan senyumannya.


Shaka yang melihat itu sontak membuat hatinya seakan di limpahkan berbagai macam bunga dan kupu-kupu saking bahagianya. Bahkan kalau bisa, dia akan meloncat kegirangan lalu memeluk Jean seerat mungkin.


Tahan. Calm down, Shaka. Sekali-sekali kau harus jadi pria cool.


Shaka menahan diri sekuat tenaga. Bibirnya bahkan berkedut saking dia tidak bisa menahan diri untuk tersenyum.


“Apa yang membuat dirimu menerima perjodohan ini?” tanya Shaka berusaha tenang.


Jean tampak terdiam sesaat lalu menjawab, “Karena restu.”


“Restu?”


"Sebelum membahas itu, aku ingin bertanya." Jean menatap Shaka.


"Katakan,"


"Apa Ayahmu memberikan restu padaku?" tanyanya.


Jean mengangguk dengan pandangan menerawang ke depan. “Menikah adalah sesuatu hal yang sakral. Menikah juga membutuhkan restu ke dua belah pihak. Keluargamu dan juga keluargaku.”


Jean menoleh, menatap Shaka lalu melanjutkan ucapannya, “Keluargamu dan keluargaku memberikan restu untuk kita berdua, ada do’a yang tentu saja akan mengiringi sepanjang pernikahan kita kelak, bukankah sudah cukup menjadi sebuah alasan untuk suatu pernikahan?”


Jawaban yang tidak pernah Shaka sangka dan duga akan di dengarnya dari bibir kecil Jean. Jean begitu mengartikan suatu pernikahan dengan sangat baik dan sakral membuat Shaka tertegun sesaat dengan pola pikir gadis itu yang begitu dewasa.


Betapa Shaka menyukai Jean saat ini. Tidak, Shaka sangat yakin dia sudah sangat terjatuh dengan cinta sebagai landasannya.


***


“Kau sudah kembali.” Sapaan Mamanya membuat Jean yang baru saja akan menaiki undakan tangga menuju kamarnya hampir terpeleset karena terkejut.


“Dimana calon menantuku?” Selma kembali bertanya.


“Apa sudah pulang?”


Jean menatap Selma dengan ke dua tangan terlipat di dada. “Sepertinya Mama sangat menyukai Shaka, ya?”

__ADS_1


“Tentu saja. Siapa yang tidak menyukai Shaka. Kau pun sudah menyukainya, kan?” Sahut Selma sembari berjalan menuju kulkas.


Jean mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Selma, “Tidak.”


“Bukan tidak, Jean. Tapi belum.”


“Kenapa Mama sepertinya yakin sekali kalau aku akan menyukai Shaka?” Jean menyenderkan tubuhnya di pegangan tangga.


“Karena kau akan menikah dengannya. Kau mungkin sekarang belum mencintainya, tapi Mama yakin kau tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk mencintai Shaka. Mama saja menyukai Shaka, masa kau tidak.” Ujar Selma panjang lebar sambil memakan buah strawberry yang dia ambil di kulkas tadi.


Sepertinya keputusan Jean tidak menolak perjodohannya dengan Shaka adalah hal yang tepat melihat bagaimana Selma begitu menyukai Shaka. Padahal, yang dia tahu, Selma baru mengenal Shaka. Bagaimana bisa Mamanya menyukai Shaka sampai seperti ini?


Jean akui Shaka berwajah tampan, tubuhnya tinggi proporsional. Shaka adalah CEO muda sukses nomor satu dengan kekayaan yang fantastis di negeri ini. Benar kata Mamanya, siapa yang tidak menyukai pria tampan dan kaya raya seperti Shaka.


Perihal kekayaan, Jean mengenal dengan baik Selma. Selma tidak pernah memandang seseorang dengan derajatnya. Tidak peduli kaya atau miskin. Selma tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Terbukti dengan circle pertemanan Jean sejak kecil tidak pernah di permasalahkan oleh Selma selama mereka baik. Bahkan sewaktu SMP hingga SMA beberapa teman baik Jean yang kekurangan finansial, diam-diam Selma membantunya bersama Zian, sang ayah.


Sungguh, mereka adalah ke dua orang tua ideal yang sangat di kagumi dan mungkin saja sangat di harapkan oleh beberapa anak 'brokenhome' di luar sana.


Bagaimana bisa Jean menolak perjodohannya jika ke dua orang tuanya sejak dulu sebaik ini. Jean pikir, ini hanyalah sebuah perjodohan. Toh, seperti yang dia ucapkan tadi saat bersama Shaka. Selma menyukai dan merestui Shaka sebagai calon menantunya begitu juga dengan ke dua orang tua Shaka yang memberikan restu kepadanya. Bukankah sudah cukup baginya untuk menerima perjodohan ini.


Lagipula, Jean belum pernah mengenalkan satu pun pria kepada Selma sebagai kekasihnya. Bagaimana jika suatu saat dia mengenalkan seseorang dan meminta restu pada Selma tetapi Selma tidak menyukainya. Dan lebih parahnya lagi, bagaimana jika Jean sangat mencintai pria itu sehingga dia akan bertindak gegabah demi seseorang yang di cintainya dan akan menyakiti Selma. Itulah mengapa restu sangat penting dalam hal pernikahan.


Jean memang belum mengenal Shaka dengan baik, namun dia percaya dengan pilihan Mamanya.


Selma tidak akan menyukai Shaka jika pria itu tidak baik, kan?


***


Shaka menutup pintu mobilnya kemudian mengambil ponselnya dari dalam saku jaket.


“Carikan aku restaurant yang bagus dan romantis. Aku akan melamar Jean dalam waktu dekat ini. Kau persiapkan dengan sebaik mungkin.”


Shaka menutup sambungan telfonnya. Kemudian menyenderkan tubuhnya di kursi sambil menghela napas dalam. Sebelah tangannya naik menyentuh dada kirinya. Bisa dia rasakan jantungnya masih berdegub dengan cepat. Kata demi kata Jean masih terngiang-ngiang di benaknya.


Betapa Shaka mencintai Jean saat ini. Biarlah Jean belum mencintainya. Shaka berjanji akan memperlakukan Jean sebaik mungkin, dengan begitu Shaka berharap Jean akan juga mencintainya di kemudian hari.


Semoga saja.

__ADS_1


__ADS_2