Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 1


__ADS_3

Saat istriku hendak melahirkan, aku sedang menjalankan tugas di luar untuk memeriksa pengendara yang berkendara dalam kondisi minum alkohol, lalu ibu mertua meneleponku barulah aku pulang dengan tergesa-gesa.


Aku sangat gugup, sebenarnya sangat bersalah jika mengatakan seperti ini. Saat itu aku sama sekali tidak mengkhawatirkan bayi, aku terus-menerus melihatnya, aku takut akan muncul masalah jika melahirkan bayi. Aku takut hidupku tidak ada dia.


Aku memikirkan banyak sekali hal yang kurang beruntung. Sebenarnya sebagai polisi tidak boleh percaya akan mitos, tapi saat aku memikirkan hal tersebut, aku masih diam-diam mengelaknya.


Ketika telah sampai di rumah sakit, rumah sakit pasti tidak ada tempat untuk parkir. Keberuntungan saat itu bisa dibilang lebih bagus, di seberang rumah sakit ada tempat parkir. Aku memarkirkan mobilnya dan istriku turun dari mobil terlebih dahulu.


Itu merupakan saat aku terakhir melihatnya.


Kecelakaannya sama sekali bukan saat dia menyebrang jalan, melainkan setelah dia turun dari mobil, berdiri di trotoar sambil mengulurkan tangannya untuk memintaku menggendongnya, alhasil ada sebuah mobil yang datang tiba-tiba.


Aku melihat dia masuk ke kolong mobil tersebut dengan kepala mataku sendiri, ekspresi awal dia yang memohon kepadaku tidak sempat berubah menjadi kesakitan, seluruh wajahnya mengekspresikan ketakutan.


Aku benar-benar menjadi gila.


Aku menjerit dengan keras seperti anjing di jalanan, berlutut di tanah ingin mengeluarkan istriku. Tubuhnya dipenuhi darah, mulutnya juga terus-menerus mengeluarkan darah.


Pengemudi itu dengan mabuk turun dari mobil, langsung muntah di jalanan. Aku tidak mempunyai waktu mengurusnya, saat itu otakku kosong.


Aku terus menjerit seperti boneka kayu yang tidak bisa berpikir, bahkan tidak tahu apa yang aku katakan saat itu. Aku menggendong istriku masuk ke rumah sakit sambil meneriaki dokter, tapi saat hendak mengatakannya, aku tidak bisa berkata-kata.


Sampai ketika suster menaruh istriku di tandu dan mendorongnya pergi, aku baru mulai bisa berpikir. Aku semakin takut, berjongkok di sudut rumah sakit, menggigil dan air mata tidak bisa berhenti mengalir.


Aku sebagai pria dewasa sama sekali tidak bisa tenang dan terus menangis di rumah sakit. Suara tangisan itu bahkan tidak bisa ditahan, pada akhirnya menangis lebih kencang.


Saat menelepon ibu mertua untuk datang, aku juga berbicara sambil menangis. Otakku dipenuhi dengan istriku, dan memikirkan hal yang sial.


Kemudian ibu mertuaku, saudara iparku beserta pacarnya datang. Pacarnya juga merupakan seorang polisi, setelah sampai dia langsung mencari pelakunya.


Pelaku yang mabuk sedang duduk di kursi dan muntah, setelah beberapa saat, rekan-rekan aku juga datang. Mereka bertanya kepada pelaku mengapa bisa jalan ke jalanan ini. Karena pada saat itu pelaku berbelok dan mundur. Jika dia tidak mundur, dia akan ditangkap oleh rekan kami yang sedang bertugas.


Dia mengatakan dia melihat di Internet bahwa sedang melakukan pemeriksaan berkendara dalam kondisi mabuk, jadi dia datang ke jalanan ini. Tapi begitu dia sampai di jalanan ini, dia melihat polisi yang membuatnya ketakutan sampai ingin kabur, kebetulan dia sedang mundur, kedua sisi juga ada mobil yang membuatnya tidak bisa kabur. Dia yang panik langsung mengarah ke trotoar.


Kapten kami langsung marah, mengatakan bahwa setiap kali memeriksa pengendara yang berkendara dalam kondisi mabuk, selalu ada orang bodoh seperti ini. Kemudian minta dia untuk memberi tahu orang yang menyebarkan informasi yang ada di Internet, lalu menghukum mereka bersama.


Akibatnya, sumber informasi tersebut membuat kami frustasi.


Informasi tersebut dikirim oleh ibu mertuaku.


Ketika dia menelponku, dia tahu aku sedang bertugas. Demi pamer, dia mengirim pesan di Internet untuk tidak mengambil jalur utama.


Pelaku itu melihat pesan dari ibu mertuaku, barulah memilih jalur yang lain.


Aku sangat emosi, tapi aku tidak memiliki niat untuk mengurus mereka. Aku hanya berharap istriku aman-aman saja.


Tapi tidak lama kemudian, dokter keluar dan berkata kepada kami bahwa dia menyesal tidak bisa menyelamatkan pasien.


Ibu mertua langsung menangis di tempat, menangis dengan mulut terbuka lebar. Ketika aku melihatnya, aku tidak bisa menekan kebencian di hatiku, istriku terbunuh karena orang tua ini.


Aku langsung meninju mulutnya dan mematahkan giginya. Dia terjatuh ke tanah dengan bunyi gedebuk, lalu aku mengangkat kakiku dan menendang kepalanya.


Aku menendang sambil berteriak bahwa kamulah yang membunuhnya.


Kapten dan lainnya segera datang melerai, aku mendengar pelaku itu sedang memberi tahu keluarganya di telepon bahwa dia sangat sial sehingga menabrak orang sampai meninggal, dan membiarkan keluarganya menyiapkan uang.


Aku langsung marah dan berjalan ke depannya. Dia sedikit gugup dan mengatakan padaku untuk jangan main-main, juga mengatakan dia sekarang dilindungi oleh hukum.


Aku langsung mendorong masuk kepalanya ke tong sampah.


Aku tahu aku adalah seorang polisi, tetapi aku benar-benar ingin membantai pelaku itu.


Dia ditekan ke dalam sampah olehku, berjuang di dalam plastik tong sampah. Rekan-rekan datang menarikku, aku terus menendang kepalanya, dan kapten menarik aku dengan sekuat tenaga, menyuruhku untuk tenang.

__ADS_1


Aku berkata aku tidak bisa tenang, dan tidak ingin menjadi polisi lagi.


Dia dibantu keluar dari tong sampah, menangis ketakutan dan berteriak agar polisi bisa melindunginya.


Aku meninju pelipisnya, menjatuhkannya ke tanah dan dia meludahkan sesuatu.


Rekan-rekan aku takut dia akan babak belur dibuat olehku, jadi segera menahanku. Mereka membawa ibu mertua aku dan pelaku pergi baru membebaskanku.


Aku menangis dan pergi melihat mayat istriku, dia bahkan meninggal tanpa menutup mata.


Istri tidak terselamatkan, bayi juga tidak terselamatkan.


Aku yang awalnya hidup dengan kegembiraan, dalam satu malam semuanya tiada hanya karena pengendara yang mabuk. Istriku hanya berdiri di trotoar, apa yang salah dengannya?


Aku menangis sepanjang malam di rumah sakit sambil memeluk mayat istriku, berharap dia bisa bangun kembali.


Keesokan paginya, rekan-rekan aku datang menemuiku. Saat mereka menghiburku, atasan menelepon berkata aku akan dihukum karena memukul orang. Kapten yang marah langsung berkata apa-apaan, kalau berani menghukumnya, aku akan membawa semua rekan untuk menghancurkan kantormu. Lalu langsung menutup teleponnya.


Semua orang sangat baik pada aku dan istriku, tetapi aku masih tidak melakukannya lagi.


Tidak bisa melakukannya.


Aku merasa aku juga bertanggung jawab atas kematian istriku. Karena ibu mertua tahu informasi pengecekan pengendara dalam kondisi mabuk dariku.


Bagaimanapun, aku tidak bisa lagi melanjutkan pekerjaan ini.


Setelah aku berhenti dari pekerjaan aku, aku berada di rumah sepanjang hari melihat foto-foto istriku. Mendengarkan apa yang dia kirimkan padaku dan menangis dalam pelukan bajunya.


Keesokan harinya, keluarga pelaku datang menghubungiku.


Istri pria itu yang datang, yang ironisnya juga sedang hamil. Begitu dia datang, dia meminta maaf kepadaku dan berkata bahwa berharap bisa ganti rugi dengan uang.


Dia berbicara sampai menangis, mengatakan bahwa hamil bukanlah hal yang mudah. Jika suaminya masuk ke penjara, maka dia dan bayi dalam kandungan tidak ada tempat bergantung lagi.


Aku memberi tahu dia, setidaknya kalian semua masih hidup.


Suaminya masih hidup, kamu juga masih hidup, kamu masih harus melahirkan anak tersebut.


Memangnya kenapa dengan anak kriminal, bukankah satu keluarga masih hidup dengan baik?


Daripada anakku.


Dia adalah perempuan, jelas-jelas akan segera lahir. Yang sudah tidak sabar untuk datang ke dunia ini untuk menjadi putri kecilku, tapi dia tidak memiliki kesempatan itu.


Istriku.


Dia adalah cinta dalam hidupku, orang yang ingin aku lindungi sepanjang hidupku, tapi aku malah kehilangannya.


Aku menyuruhnya pergi, dia melihatku tidak menyetujuinya malah menjadi marah, mengatakan bahwa kami telah meminta maaf, kami bersedia ganti rugi, apa lagi yang kamu inginkan.


Jika aku tidak melihatnya sebagai wanita hamil, aku sudah meninju wajahnya.


Wanita hamil itu marah, benar-benar kehilangan sikap yang dia miliki di awal. Dia berkata, aku sengaja memenjarakan suaminya, maka sama dengan aku ingin membunuh dia dan putranya. Aku telah kehilangan istri dan anakku, aku seharusnya lebih memahami pentingnya keluargaku. Tapi aku adalah orang yang tanpa hati nurani.


Dia juga mengatakan bahwa tidak masalah jika tidak menandatanganinya, dia punya cara untuk mengeluarkan suaminya.


Aku tidak ingin mendengarnya lagi, karena aku tahu aku sudah akan memukulnya.


Jadi aku mengusirnya, dia menyuruhku untuk tunggu saja.


Benar-benar satu keluarga.


Suaminya brengsek, istrinya juga.

__ADS_1


Namun, orang yang menjijikkan seperti itu akhirnya mendapat surat penerimaan maaf dari keluarga.


Karena ibu mertuaku telah menandatanganinya.


Ketika aku mendengar berita itu, aku benar-benar marah.


Aku pergi menggedor pintu rumah ibu mertua dan memintanya keluar untuk memberi penjelasan kepadaku.


Dia baru dipukuli aku sebelumnya, tidak berani berbicara denganku. Ayah mertua aku keluar dan meminta aku untuk memberinya wajah, karena keluarga akur adalah keberuntungan.


Aku berkata, sampai sekarang, wajah apa yang kalian miliki! Biarkan wanita tua itu keluar dan aku akan membunuhnya hari ini, dan kita semua akan mati bersama.


Aku sangat emosi sehingga mengeluarkan kalimat yang tidak enak didengar.


Ibu mertua takut aku akan masuk dan memukulinya, jadi dia memanggil pacar saudara ipar aku untuk datang. Lagi pula, dia juga seorang polisi.


Aku selalu memiliki hubungan yang baik dengannya, dulunya juga lulusan akademi polisi, kemudian aku menjadi polisi lalu lintas, dan dia menjadi polisi kriminal.


Istriku dan saudara ipar aku dikarenakan menyukai polisi dari kecil, dulunya sering berjalan di dekat sekolah kami, jadi baru bisa mengenal kami dan pacaran dengan kami.


Dia terus menarikku dan menasehatiku untuk tenang.


Aku langsung bertanya kepadanya, jika aku membunuh orang tua ini hari ini, apakah kamu langsung mengambil pistol dan membunuhku? Kebetulan aku sangat tidak sabar untuk bertemu istriku, setelahnya akan berkumpul bersama.


Dia menekanku ke pintu dan berkata kepadaku dengan sangat serius, “Dia tidak ingin dipersatukan kembali denganmu.”


Ibu mertua aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak di lantai atas bahwa pria mabuk yang menabrak mati istriku tidaklah kabur, dan pada awalnya dijatuhi hukuman kurang dari tiga tahun.


Dia merasa bahwa tiga tahun tidak ada artinya, dan keluarga tersebut punya uang dan bersedia ganti rugi 1.6 miliar. Lagi pula, si pembunuh tidak dijatuhi hukuman berat, mengapa tidak mengambil 1.6 miliar tersebut?


Dia menangis sambil berbicara, mengatakan bahwa membesarkan seorang putri bukanlah hal yang mudah. Sekarang setelah putri sulungnya pergi, dia hanya ingin mengambil uang tersebut untuk menambah lebih banyak mas kawin untuk putri bungsunya. Alangkah baiknya putri sulungnya masih hidup, maka dia akan melihat menantu memukuli mertua.


Aku memikirkan istriku kembali dan merasa sedih.


Saudara ipar juga sudah datang, dia dan istriku adalah kembaran, dia tampak persis seperti istriku.


Dia meraih lenganku dan menyuruhku jangan main-main. Perkataannya membuat aku sangat sedih, dia berkata, “Kakakku sudah pergi, tapi dia selalu mengawasi kami di surga, dan dia pasti tidak ingin melihat kamu seperti ini.”


Saudara ipar memang mirip dengan istriku, aku melihatnya seperti melihat istriku.


Aku dulu sangat pandai bertarung ketika berada di sekolah polisi, pada saat itu aku terlalu kekanak-kanakan karena suka membual padanya.


Pada saat itu, istri aku berkata padaku dengan serius bahwa tinju pria digunakan untuk perlindungan, baik untuk negara, atau untuk keluarga, atau untuk yang lemah yang perlu dilindungi. Jika seorang pria tidak melakukannya atas nama perlindungan, maka dia pasti gagal.


Dan alasan aku memukulnya karena melampiaskan emosi dalam hatiku, jika dia berada di surga, dia pasti akan merasa bahwa aku gagal.


Memikirkan istri aku, hatiku langsung lunak dan dibujuk oleh mereka untuk pulang.


Saudara ipar dan pacarnya juga mengambil cuti khusus untuk menemani aku sepanjang hari, sehingga aku tidak akan terlalu sedih.


Kemudian, pengadilan sudah memberi putusan.


Karena telah mendapat surat penerimaan maaf, pelaku dijatuhi hukuman percobaan, tidak perlu masuk ke penjara lagi.


Aku benci.


Jelas-jelas aku dulunya polisi lalu lintas, tapi baru pertama kali membenci undang-undang lalu lintas.


Saudara ipar juga menyarankanku untuk melepaskan kesedihanku dan hidup dari awal lagi. Tapi aku tidak mendengarkannya.


Aku menggunakan segala cara untuk memeriksa pelaku, ketika dia keluar, aku akan diam-diam menemuinya.


Dia saat itu makan di sebuah restoran, ketika aku memasuki ruangan, aku melihat dia mengajak segerombolan teman, sangat jelas ini merupakan perayaan.

__ADS_1


__ADS_2