Psikopat Sempurna dari Masa Depan

Psikopat Sempurna dari Masa Depan
Bab 44


__ADS_3

Aku tidak boleh salah karena hanya ada satu kali kesempatan!


Terjadi pengulangan ruang dan waktu. Aku kembali ke samping rumah Fernando. Aku langsung berlari ke pintu kunci sandi itu.


Polisi mengepungiku dari dua sisi. Yudha berlari kemari dari belakang. “Kepung dia! Dia sudah tidak bisa kabur lagi … bagaimana dia bisa membuka pintunya?”


Sebelum Fino sempat menyerbu keluar dan menunjukkan jurus tinjunya, aku sudah menutup pintu.


Ada seorang pria di dalam sana. Dia duduk di kursi rumahnya sambil memakai ****** *****, melihatku dengan bengong.


Aku naik ke lantai atas sambil mengangguk padanya. “Halo.”


Dia terbengong di tempat dan tidak tahu harus berbuat apa. Setelah aku naik ke atas, dia baru bertanya dengan panik, “Eh … bagaimana kamu bisa masuk?”


Aku naik ke balkon. Balkonnya ditutup sehingga tidak bisa naik ke sana, tetapi aku bisa naik tangga.


Di hadapan aparat kepolisian, aku membuka jendela dan melompat ke sisi luar tembok.


Akhirnya … aku berhasil kabur dari gang sialan itu.


Namun, aku tahu pelarianku belum berakhir. Sekarang tidak ada Fernando yang bisa membantuku menciptakan pengulangan ruang dan waktu. Jadi aku tidak boleh salah sedikit pun.


Langit sangat malam sehingga aku hanya bisa mencari arah secara kira-kira untuk kabur. Sirene mobil polisi berbunyi nyaring di luar. Aku tahu mereka sedang mencari cara untuk memblokir rute pelarianku.

__ADS_1


Untung aku sudah mencari tahu letak geografisnya terlebih dahulu. Aku berlari kencang di gang dan tahu betul harus lari ke mana. Aku sengaja lari ke dalam gang kecil. Jalan keluarnya sangat banyak. Mereka tidak mungkin bisa memblokir setiap jalan keluar karena keterbatasan jumlah anggota.


Aku keluar di jalan raya. Sesekali ada motor matic yang melaju di trotoar. Aku bergegas mencegat sebuah motor matic.


Pemilik motor matic melihatku dengan bengong. Dia berkata, “Astaga! Kamu si pemburu kriminal? Aku pernah melihat videomu! Kamu bukan yang palsu, ‘kan?”


Aku tidak punya waktu untuk basa-basi dengannya. Aku langsung mendorongnya. “Pinjam motormu.”


Mendengar sirene mobil polisi di kejauhan, dia berkata dengan semangat, “Ternyata benar! Kamu memang si pemburu kriminal! Aku ketemu si pemburu kriminal! Aku dukung kamu! Selama ini aku mendukungmu!”


Aku mendorongnya dengan lebih kuat sampai dia jatuh duduk di lantai. Aku berkata sambil merendahkan suara, “Jangan teriak. Bilang saja aku merampas motormu. Memangnya kamu mau ditangkap karena membela pelaku kriminal?”


Dia membiarkanku menaiki motornya. Setelah aku pergi jauh, samar-samar aku bisa mendengar dia berteriak dengan semangat di belakang, “Pemburu kriminal mengendarai motorku! Motorku dipakai pemburu kriminal!”


Sejujurnya, aku benar-benar tidak menyangka aku akan begitu populer …


Masalah kali ini sangat menggemparkan. Aku juga tidak tahu tindakan lanjutan seperti apa yang akan diambil oleh aparat kepolisian. Tidak tahu apakah aku akan menjadi sulit beraksi dalam beberapa hari setelahnya.


Di saat sekarang mereka memusatkan perhatian padaku, lebih baik aku langsung pergi menindak kakak beradik keluarga Leo. Menurutku, terkadang tindakan yang paling berbahaya adalah tindakan yang paling aman.


Tempat persembunyian mereka adalah kawasan perumahan tua.


Aku mengendarai motor matic melintasi gang di kawasan perumahan tua yang simpang siur. Kebetulan aku melewati rumah warga yang sedang menjemur pakaian di luar. Aku langsung mengambil satu baju untuk ganti baju.

__ADS_1


Aku tidak ganti celana aku merasa lumayan aneh untuk membuka celana di dalam gang. Celanaku juga sangat umum. Tidak ada yang akan memperhatikan celana orang lain. Fokus orang-orang ada pada baju.


Setelah ganti baju, aku memberhentikan motor matic di dalam gang. Lalu aku berjalan ke tempat tinggal kakak beradik keluarga Leo.


Jalanan masih sangat ramai di malam hari. Ada banyak pejalan kaki di luar sehingga dibuka sejumlah rumah makan dan kedai-kedai di kawasan perumahan tua ini. Sejalanan ini penuh dengan wangi makanan lezat.


Saat aku melewati sebuah rumah makan, aromanya membuatku tidak bisa memalingkan mata.


Ketika lewat, tiba-tiba aku berhenti dan menolehkan kepala pada seorang pria di dalam rumah makan.


Dia duduk sendirian di meja itu. Dia memakai kacamata tanpa bingkai. Pakaiannya bersih dan rapi, memberi kesan sopan dan tampan.


Aku mengambil ponsel untuk melihat poster buronan kakak beradik keluarga Leo di internet.


Benar, itu adalah Philip Leo!


Model rambutnya berbeda dengan yang ada di poster buronan. Kacamatanya mungkin juga hanya untuk penyamaran. Kalau bukan karena sasaran utamaku kali ini adalah dia, aku bahkan akan mengabaikannya di tengah lautan manusia walau sudah melihat poster buronannya.


Menarik sekali. Kali ini dia sendiri yang datang kepadaku.


Aku masuk ke rumah makan dan duduk di dekat pintu. Bos bertanya apa yang mau kupesan. Aku asal jawab, “Bungkus dua porsi nasi goreng.”


Tidak lama setelah memesannya, bos mengantarkan bungkusan nasi goreng padaku. Aku mengamati Philip dari sudut mata. Di saat bersamaan, tiba-tiba televisi menyiarkan berita, “Tadi, pemburu kriminal yang akhir-akhir ini lumayan terkenal di kota sekali lagi melakukan aksinya. Aparat kepolisian mengingatkan para warga untuk mengunci pintu dan jendela rumah di malam hari, serta jangan bepergian sendirian.”

__ADS_1


Hhmm? Sudah masuk berita secepat ini?


Para pelanggan menjadi heboh. Mereka semua berhenti makan dan sibuk menonton televisi.


__ADS_2