
“Kapten Yudha! Kalau terjadi masalah …”
Yudha berteriak dengan suara rendah, “Aku yang akan bertanggung jawab!”
Seolah-olah tidak mendengar percakapan mereka, aku meletakkan lenganku di atas meja dan menopang dagu dengan satu tangan. Dengan tenang aku melihat foto pengantin Misel.
Dalam benakku teringat akan momen bersama dari kami berempat ketika dulu.
Dulu kami semua masih sangat muda.
Aku berkata pelan, “Yudha, usia kita sudah tidak muda lagi. Dipikir-pikir sekarang, sudah bertahun-tahun lamanya kita saling kenal.”
Dia duduk di sampingku dan berkata pelan, “Iya, sudah bertahun-tahun lamanya.”
Tepat ketika itu, sang pengantin pria tampil.
Agus yang lugu bahkan terbata-bata saat berbicara sambil memegangi mikrofon, “Selamat … selamat datang … di acara pernikahan aku dan Agus … ah, bukan, aku dan Misel …”
Aku tidak tahan untuk tertawa. “Suami Misel lumayan kocak.”
Yudha berkata, “Aku akan biarkan kamu menyaksikan acara pernikahannya sampai berakhir. Nanti kamu jangan melawan, nurut saja.”
Aku tidak jawab, hanya melihat ke arah panggung.
Dibandingkan denganku, Yudha sama sekali tidak tenang.
Napasnya menjadi sedikit cepat saat pembawa acara mempersilakan pengantin wanita masuk ke aula acara.
Seluruh lampu dipadamkan dan hanya ada cahaya lampu sorot di pintu masuk.
Pintunya perlahan dibuka. Misel yang memakai gaun pengantin pun muncul di hadapan semua orang.
Yudha meremas tangannya dengan lebih erat. Seiring dengan alunan musik yang romantis, Misel digandeng oleh ayah mertuaku berjalan menuju Agus selangkah demi selangkah.
Akhirnya Yudha melihat Misel dalam gaun pengantinnya, tapi Misel berjalan selangkah demi selangkah ke dalam pelukan pria lain dengan penantian terhadap kebahagiaan.
Bagi Yudha, setiap langkahnya sangat kejam.
Saat Misel sampai di depan Agus, mereka bertatapan dengan penuh cinta.
Sepertinya pembawa acara adalah orang tidak suka norak. Mungkin atas permintaan Misel, dia tidak banyak basa-basi dan langsung berkata, “Bapak Agus Wongso, apakah Anda bersedia menikahi Ibu Misel Patrisia sebagai istri Anda? Tidak peduli kelak …”
__ADS_1
Agus jelas sudah tidak sabar dan bergegas mengangguk. “Aku bersedia!”
Lalu pembawa acara bertanya pada Misel, “Ibu Misel Patrisia, apakah Anda bersedia memilih Bapak Agus Wongso sebagai suami Anda?”
Yudha bergumam pelan bersama pembawa acara …
Tidak peduli kelak dalam kondisi hidup atau mati, tua atau sakit.
Tidak peduli miskin atau kaya.
Tetap akan saling mencintai.
Hidup bersama selama sepanjang abad.
Yudha menatap erat pada Misel. Bibir Misel yang indah dibuka dan menuturkan kata “Aku bersedia” dengan suara yang merdu.
Akhirnya Yudha tidak tahan lagi. Dia terengah-engah dan badannya gemetaran.
Awalnya itu adalah gadis miliknya.
Itu adalah pacar yang telah menemaninya selama delapan tahun. Saat Misel mengangkat tangannya yang indah dan memakai cincin nikah, dia bahkan mengambil inisiatif untuk bersandar di dalam pelukan Agus. Mereka berciuman dengan mesra.
Yudha sudah tersedu-sedu.
Sekarang aku baru tahu saat melihat perempuan yang paling kamu cintai masuk ke dalam pelukan pria lain …
Saat tahu dia akan memanggil pria lain sebagai suami dalam seumur hidupnya …
Saat tahu dia akan melahirkan anak untuk pria lain …
Pada saat itu, benar-benar tidak akan bisa tersenyum.
Katanya selama dia bahagia, aku juga akan merasa senang untuknya secara tulus.
Itu adalah kebohongan …
Kalau sangat mencintainya, siapa yang rela memberikan orang yang paling dia cintai pada orang lain?
Suara tepuk tangan bergemuruh di dalam aula sebagai tanda doa untuk pernikahan Agus dan Misel. Saat ini, para anggota tim reskrim regu dua juga hanya bisa mengangkat tangan untuk bertepuk tangan.
Saat kedua pengantin menuruni panggung, Yudha bergumam, “Misel pernah bilang, dia berharap acara pernikahannya akan romantis. Dia bilang dia suka jalan utama yang penuh ditaburi dengan mawar putih. Dia ingin kedua sisi jalan utama dihiasi dengan bunga. Dia berharap dia dapat berjalan menuju pasangan hidupnya di bawah saksi mata orang-orang seperti seorang putri kerajaan.”
__ADS_1
“Hhmm?”
“Acara pernikahan ini, dia siapkan dengan segenap hatinya. Namun, aku tidak mengerti. Kemarin selain menangani kasus, aku juga berpikir semalaman, tapi juga tidak kunjung paham …” Yudha mengendus hidungnya dan merapatkan bibirnya. “Mengapa dia harus mengundang aku datang untuk menyaksikan momen ini? Mengapa dia bisa melakukan hal yang begitu kejam?”
Aku mengulurkan tangan dan menepuk bahunya. “Itu karena kamu pantas melihat adegan ini.”
“Lebih baik aku tidak melihatnya.”
Kami memutar badan. Aku melihat masakan di meja dan sama sekali tidak bermaksud untuk mengambil sumpit.
Yudha juga begitu.
Misel sudah berganti gaun untuk bersulang. Lalu pasangan pengantin itu mulai bersulang dengan para tamu.
Saat sampai di meja kami, Misel memaksakan senyum. “Halo.”
Mereka semua langsung berdiri. Misel menjulurkan lidah dan berpura-pura bertanya dengan usil, “Siapa dari kalian yang akan memberi ucapan selamat? Kakak Ipar ya?”
“Biar aku saja!”
Yudha berdiri dan membuatnya terbengong.
Tangannya yang memegangi gelas bir sedikit gemetaran. Pada akhirnya dia berkata, “Oke, silakan.”
Tadi Yudha sudah minum segelas bir denganku, jadi sekarang isi gelasnya adalah air mineral.
Kupikir … mungkin Yudha sama sekali tidak ingin minum bir pernikahan tersebut.
Dia mengangkat gelasnya dan berkata dengan tulus, “Aku doakan kamu … hidup sehat dan bahagia selama seumur hidup. Hari ini adalah hari gembira bagimu. Semoga kamu menemukan cinta sejatimu, hanya akan ditemani oleh kebahagiaan dalam setiap hari dan setiap tahun berikutnya.”
“Semoga kamu … langgeng sampai tua bersama pria di sisimu ini. Meskipun kelak kalian akan menjadi tua, mulai melupakan hal-hal, bahkan lupa akan satu sama lain, dia juga bisa memegangi tanganmu dan memelukmu, serta dengan pelan mengatakan dia telah mencintaimu selama bertahun-tahun.”
“Semoga kamu … benar-benar bisa seperti putri kerajaan yang ditimang dan disayangi. Misel, semoga kamu adalah gadis paling bahagia di dunia ini.”
Misel mengangguk pelan sambil memegangi gelas bir. Dia ingin berbicara, tapi tenggorokannya sedikit parau.
Dia berusaha menahan perasaannya, dan akhirnya hanya berkata, “Terima kasih.”
Yudha memegangi gelasnya dan langsung meneguk bir sampai habis.
Baginya, segelas air mineral itu sangat sulit ditelan daripada bir yang paling keras.
__ADS_1
Agus melihat Yudha dengan sedikit waspada. Setelah minum bir, mereka pergi ke meja lain.