
Aku … sebenarnya untuk apa aku datang ke sini?
Dua polisi itu terus berbicara.
“Kenapa ambulans masih belum sampai?”
“Mereka bilang ada yang sembarangan parkir di simpang dan menghalangi jalannya. Mobil ambulans terpaksa berhenti di luar jalan setapak, lalu berlari kemari sambil membawa tandu.”
Yudha masih memegangi Fino dengan erat. Seorang polisi berkata, “Kapten Yudha … tim medis akan segera sampai. Apa kamu bisa jalan? Ayo kita pergi dulu.”
“Matanya belum terpejam … “
Yudha mengulurkan tangannya yang tidak terluka untuk menutup mata Fino dengan pelan.
Lalu anak buahnya memapahnya ke bawah. Tidak ada yang memperhatikan aku. Mereka bahkan tidak tahu kalau aku ada di sini. Sebagian besar polisi pergi mengejar Philip.
Dengan bantuan tali evakuasi, aku turun dengan mengendap-endap ke genting di mana Philip kabur tadi. Namun, aku pergi dari arah lain.
Aku tidak pergi jauh, melainkan kembali ke jalan setapak.
Aku ingin melihat apakah Yudha baik-baik saja. Aku mengkhawatirkannya karena dia tertembak peluru.
Ini … ini bukan niat asliku.
Aku menyimpan topeng dan sarung tanganku sebelum bersembunyi di kerumunan manusia yang padat.
Ada aparat medis yang sedang berlari di jalan sambil membawa tandu. Yudha tidak naik tandu, melainkan berjalan menuju mobil ambulans.
Ekspresinya muram sekali.
Selama bertahun-tahun berkenalan, aku tidak pernah melihatnya menunjukkan ekspresi seperti ini.
Dia melintas di tengah orang ramai seolah-olah dia bukan orang dari dunia ini. Matanya masih merah.
Tiba-tiba dia berhenti dan menoleh pada toko yang tidak jauh dari sana.
__ADS_1
Itu adalah sebuah rumah makan.
Misel duduk di belakang kaca. Di bawah cahaya lampu yang romantis, dia yang berdandan tipis sedang memegangi segelas minuman. Dia sedang bercanda tawa dengan seorang pria.
Tiba-tiba aku teringat akan perkataan Almira sang ibu mertuaku, “Aku sudah mengaturkan kencan buta untukmu. Kalau tidak, hari ini kamu pergi saja. Keluarganya sangat kaya,”
Yudha melihatnya dengan tenang. Polisi di sampingnya menoleh pada rumah makan itu dengan heran. Lalu dia terbengong di tempat dan tidak tahu harus berbuat apa.
Misel yang wajahnya tersenyum berseri menoleh ke luar jendela, mungkin ingin melihat pemandangan di luar. Akan tetapi, dia bertatapan dengan Yudha.
Dia terbengong di tempat seperti gelas kaca cantik yang sedang dipeganginya. Sementara itu, Yudha sedang menimang lengannya yang terluka.
Bagai minuman yang tumpah di lantai saking paniknya, darah membasahi baju Yudha dan mengalir turun dari jarinya, menimbulkan percikan di jalanan.
Misel bergegas berlari keluar dari rumah makan dan mendekap mulutnya dengan kaget.
Orang-orang berjalan melewati mereka. Walau aku hanya seorang penonton, aku juga seolah-olah bisa merasakan keheningan dunia ini.
Polisi itu memanggil “Kakak Ipar“ dan “Kapten Yudha” dengan khawatir.
Yudha menggelengkan kepala dan memutar badan berjalan menuju mobil ambulans.
Aku tahu dia tidak pernah akan marah padanya.
Dia sangat mencintai gadis ini.
Namun, dia benar-benar tidak punya tenaga untuk berbicara. Dia memang selalu seperti ini. Semakin bersuasana hati buruk, semakin dia bersikap lembut pada orang lain karena khawatir akan membawa energi negatif pada mereka.
Saat dia tidak ingin berbicara dengan Misel, artinya dia benar-benar sangat lelah. Dia ingin bersembunyi di tempat yang hening agar tidak mendengar suara apa pun dan tidak melihat siapa pun. Dia hanya ingin mencerna semua perasaan negatifnya secara sendirian.
Dari dulu dia memang seperti ini.
Misel menangis tak tertahankan. Dia bergegas berlari mengejarnya dan berkata terisak, “Sebenarnya kamu kenapa? Mengapa kamu bisa terluka?”
Aku melihat Yudha naik ke mobil ambulans dan diikuti oleh Misel.
__ADS_1
Saat pintu mobil ambulans ditutup, aku mengakhiri pengintaianku.
Setelah pulang ke Jalan Asia II, Misel meneleponku setelah aku menyembunyikan pakaianku.
Dia berkata sambil menangis, “Kakak Ipar! Yudha terluka, banyak sekali darahnya … bisa tidak kamu datang ke rumah sakit?”
“Aku pergi ke sana sekarang juga.”
Setelah berganti pakaian, aku pergi ke rumah sakit dengan taksi.
Tidak hanya aku yang datang ke rumah sakit, tetapi juga Almira sang ibu mertuaku.
Yudha masih sedang dioperasi. Dokter bilang ada banyak pasir besi di dalam lengannya sehingga harus dikeluarkan secara saksama.
Saat Yudha dibawa ke ruang bangsal, Misel berkata sambil menyeka air mata, “Bajingan mana yang melukaimu seperti ini … akan kubunuh dia!”
Yudha menggelengkan kepala dan berkata pelan, “Aku tidak apa-apa.”
“Bagaimana mungkin tidak apa-apa? Kamu lihat, parah sekali lukamu … “ kata Misel dengan cemas. “Kalau bukan karena kebetulan berpapasan, mungkin kamu sama sekali tidak akan beri tahu aku!”
Yudha tidak berkata-kata. Misel menjadi cemas karena dia terdiam. Misel bergegas berkata, “Sebenarnya kamu kenapa? Ayo jawab! Masalah itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku sudah minta dia datang ke sini. Aku bisa jelaskan!”
Hhmm?
Pasangan kencan butanya diminta datang?
MIsel pergi membuka pintu. Lalu seorang pria berjalan masuk.
Parasnya lumayan tampan. Dia memakai setelan jas kasual yang eksklusif dan membuatnya tampak elegan.
“Halo, Pak Yudha. Aku khusus datang untuk menjelaskan … “ kata pria itu. “Aku Agus Wongso, pasangan kencan buta pacarmu … jangan keberatan ya, sebenarnya hari ini begitu ketemu, dia sudah jelaskan padaku. Dia datang ke kencan buta kali ini karena dipaksa oleh keluarganya. Dia terus membicarakan tentang kamu. Dia benar-benar sangat menyukaimu. Aku mendengar banyak hal tentangmu darinya. Aku sangat kagum padamu.”
Misel berkata, “Lihat, aku benar-benar tidak melakukan hal yang bersalah padamu. Jangan marah. Sekarang aku sangat mengkhawatirkanmu. Bicaralah denganku, oke?”
Akhirnya Yudha mendongakkan kepala dan memaksakan senyum di wajahnya. Dia berkata dengan sikap memohon, “Aku tidak marah padamu, aku hanya tidak ingin bicara untuk sementara ini … kalian keluar dulu, biar aku tenang sendirian, oke?”
__ADS_1